Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
75. Wira Yang Curiga.


__ADS_3

Wira menyetir mobilnya menuju ke TPU Tanah Kusir. Siang itu TPU Tanah Kusir cukup ramai mungkin karena hari Minggu jadi banyak orang yang datang berziarah. Wira memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang disediakan.


“Ayo Alifa kita ke Papah dulu,” kata Wira kepada Alifa.


Haifa menggendong Alifa dan memakaikan Alifa topi agar tidak kepanasan. Wira mengambil payung untuk memayungi istri dan anaknya agar tidak kepanasan. Haifa mampir dulu ke penjual bunga dan membeli beberapa tangkai bunga untuk diletakkan di atas makam Wisnu. Setelah itu merekapun berjalan menuju ke makam Wisnu. Sri mengikuti mereka dari belakang.


Haifa berjongkok di sebelah makam Wisnu sambil menggendong Alifa. Ia meletakkan bunga yang tadi dibelinya di atas pusaran Wisnu. Wira berjongkok sambil memayungi istri dan anaknya.


“Mas. Haifa datang bersama dengan Mas Wira suami Haifa dan putri kita Alifa,” kata Haifa yang seolah-olah jenasah Wisnu mendengar perkataan Haifa.


Haifa mulai membacakan surat-surat pendek. Air matanya terus saja mengalir ketika ia membacakan surat-surat pendek. Bagaimanapun juga Haifa masih merasakan kehilangan Wisnu.


Wira membiarkan Haifa terisak menangis ketika sedang membacakan surat-surat. Bagaimanapun juga almarhum kakaknya masih berada di hati istrinya.


“Kalau sudah besar Alifa doakan Papah ya, Nak,” kata Haifa sambil menahan rasa sedihnya.


Wira mengusap-usap kerudung istrinya agar istrinya merasa tenang.


“Maafkan Haifa menangisi Mas Wisnu di depan Mas Wira,” kata Haifa sambil terisak.


“Tidak apa-apa, Mas mengerti kok,” jawab Wira.


Haifa mengambil tissue dati tasnya dan mengelap air matanya.


“Ayo, Mas kita ke café. Haifa sudah lapar,” ajak Haifa.


Wira menahan tawanya.


“Kok yang sedih masih ingat lapar,” ujar Wira.


“Ini kan sudah waktunya makan siang, Mas,” jawab Haifa.


“Iya, ayo kita makan,” kata Wira.


Wira pun berdiri dan membantu Haifa berdiri. Mereka pun berjalan menuju ke tempat parkir. Ketika mereka masuk ke dalam mobil Wira bertanya, “ Nggak mau makan bubur ayam dulu?”


“Bubur ayam? Mana?” tanya Haifa.


“Tuh,” Wira menunjuk ke penjual bubur ayam yang berada di depan pos kamling.


“Itukan penjual bubur ayam yang waktu itu,” kata Haifa.


“Iya. Makanya Mas nanya, mau makan bubur ayam dulu nggak?” kata Wira.


“Nggak ah. Kan mau makan di café,” jawab Haifa.


“Kalau mau makan bubur dulu juga nggak apa-apa. Nanti makan lagi di café,” kata Wira.


“Nggak ah. Lagipula ini sudah siang pasti buburnya sudah habis,” jawab Haifa.


“Ya sudah, kalau nggak mau. Sekarang kita ke café,” kata Wira.


Wirapun mengendarai mobilnya keluar dari TPU Tanah Kusir. Alifa mulai merengek meminta ne-nen. Ia menempelkan wajahnya di dada mamahnya.


“Haus ya. Habis kepanasan,” kata Haifa.


Haifa membuka kancing bajunya dan mengeluarkan da-danya. Dengan cepat Alifa melahap da-da Mamahnya. Bayi itu menge-nyot dengan kuat. Wira menoleh sebentar ke Alifa lalu diusapnya kepala Alifa.


“Kasihan, lapar ya. Sebentar lagi sampai sampai ke café. Biar diisi lagi ne-nennya,” kata Wira.

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai juga di café Selera Kita.


“Copot dulu ne-nennya. Mamah malu kalau ne-nennya kelihatan,” kata Haifa.


Ketika dicopot ne-nennya Alifa tidak menangis. Bayi itu terlihat ceria. Haifa dan Wira turun dari mobil. Sri mengikuti majikannya dari belakang sambil mendorong stoller milik Alifa.


Siang itu café ramai oleh pengunjung yang sedang makan siang. Para pegawai café kaget ketika melihat bos mereka datang.


“Selamat siang, Pak Bu,” ucap mereka ketika Wira masuk ke dalam café.


“Siang,” jawab Wira dan Haifa.


Wira dan Haifa langsung menuju area no smoking.


“Mau duduk di teras belakang, nggak?” tanya Wira kepada Haifa.


“Nggak ah, nanti ada yang merokok,” jawab Haifa.


“Ya sudah, kita duduk di tempat biasa saja,” kata Wira.


Wira mencari tempat yang nyaman untuk duduk.  Haifa menaruh Alifa di atas stoller dan memberikan Alifa mainan agar bayi itu anteng. Lalu mereka pun memesan makanan. Ketika mereka sedang melihat buku menu Ekky datang menghampiri.


“Bos, kok sudah ada di Jakarta? Tidak bulan madu?” tanya Ekky.


“Tidak, di kantor banyak kerjaan,” jawab Wira.


“Ternyata bos juga tidak boleh ijin lama-lama,” kata Ekky.


“Ya, iyalah. Bisa bangkrut perusahaan kalau bosnya bekerja sesuka hati,” jawab Wira.


Wira memandangi sekeliling nya.


“Seperti biasa, Bos. Kalau weekend selalu penuh,” jawab Ekky.


“Alhamdullilahirobbilalamin. Rejeki anak dan istri,” ucap Wiira.


“Coba Bos nikah dari dulu, pasti sekarang sudah jadi konglomerat,” kata Ekky.


“Mau nikah sama siapa? Ketemu jodohnya baru sekarang,” jawab Wira.


“Iya juga ya, Bos,” kata Ekky.


“Bos, saya permisi dulu. Saya masih ada pekerjaan,” pamit Ekky.


“Iya gih sana. Kerja yang rajin, ya,” jawab Wira.


Ekky pergi meninggalkan tempat. Wira dan Haifa melanjutkan memesan makanannya. Ketika mereka sedang menunggu pesanan Haifa melihat Wina masuk ke dalam café.


“Mas, itu Wina,” kata Haifa sambil menunjuk kearah Wina.


“Mana?” tanya Wira.


“Itu,” Haifa menunjuk ke Wina.


Wina masuk ke dalam ruangan Ekky.


“Mau ngapain dia masuk ke ruangan Ekky?” tanya Wira dengan curiga.


“Ada yang nggak beres, nih,” Wira berdiri dari tempat duduknya dan hendak menghampiri ke ruangan Ekky.

__ADS_1


“Mas, jangan begitu! Mungkin Wina ada perlu dengan Ekky,” kata Haifa.


Wira duduk kembali.


“Lagipula Mas seperti tidak pernah muda saja,” kata Haifa.


Wira menoleh ke Haifa.


“Memang Mas kelihatan sudah tua, ya?” tanya Wira.


“Itu sudah ada ubannya,” jawab Haifa sambil menunjuk ke rambut Wira.


“Ada kaca, nggak?” tanya Wira.


Haifa memberikan tempat cushion kepada Wira. Wira berkaca dengan menggunakan kaca cushion. Wira memperhatikan rambutnya. Dan menghitung ubannya.


Wira menghela nafas.


“Banyak juga ubannya,” kata Wira.


Haifa menahan tawanya.


“Baru sadar ya, kalau sudah tua?” tanya Haifa sambil menahan tawanya.


Haifa melihat Wina keluar dari ruangan Ekky lalu berjalan ke arah mereka.


“Mas, Wina menuju ke sini,” kata Haifa.


Wina menghampiri Wira dan Haifa.


“Makan di sini kok nggak ngajak-ngajak?” Wina protes.


“Tadikan kita jalannya paling belakang. Mau nyusul juga susah, yang lain ngebut jalannya. Mas Wira kan bawa bayi jadi nggak bisa ngebut.,” jawab Wira.


“Tapi kan bisa ditelepon,” kata Wina.


“Percuma ditelepon juga, pasti sudah sampai rumah,” jawab Wira.


“Lagi pula tadi kita ke makam Mas Wisnu dulu, baru ke sini,” kata Wira.


“Kamu ngapain ke sini?” tanya Wira.


“Diajak Ekky makan siang di sini,” jawab Wina.


“Mau apa dia ajak kamu makan siang di sini?” tanya Wira dengan curiga.


“Sudah biarkan saja, Mas. Namanya juga anak muda,” kata Haifa sambil mengusap punggung Wira agar tenang.


Tak lama kemudian pesanan Wira pun datang.


“Kamu pesan saja! Mas yang bayar,” kata Wira ke Wina.


“Nggak ah, nanti saja Wina makannya bareng sama Ekky,” jawab Wina.


Wira memandang Wina dengan curiga.


“Sudah, Mas. Biarkan saja mereka makan bersama,” kata Haifa.


Mungkin karena Wira bekas seorang perayu wanita, jadi ia tidak percaya pada semua laki-laki yang mencoba untuk mendekati adiknya. Wira menganggap semua laki-laki sama, sama-sama bajingan dan sama-sama berengsek seperti dirinya.

__ADS_1


__ADS_2