
Suasana penuh kebahagiaan nampak terlihat di ruang tempat Haifa dirawat. Wira menempatkan Haifa di kamar VVIP. Sengaja di tempatkan di VVIP agar orang tuanya dengan leluasa menjenguk Haifa. Para nenek tidak berhenti-hentinya menimang-nimang cucu pertama mereka.
“Haifa, siapa nama bayinya?’ tanya Bi Nani.
“Belum tau, Bi. Haifa masih mencari namanya,” kata Haifa.
“Bagaimana kalau namanya Alifa Wisnu Hutama?” usul Wira.
“Alifa nama yang bagus,” kata Haifa.
“Tapi kenapa harus disertakan nama Mas Wisnu dengan lengkap dibelakangnya?” tanya Haifa.
“Untuk mengingatkan bahwa Alifa adalah anak Wisnu Hutama,” jawab Wira.
“Bagaimana, Mah?” tanya Haifa kepada Ibu Euis.
“Mamah setuju saja. Bagaimanapun seorang anak harus disertakan dengan nama Ayahnya,” jawab Ibu Euis.
“Kalau menurut Mamah, bagaimana?” tanya Haifa kepada Ibu Deswita.
“Nama yang bagus. Mamah setuju,” jawab Ibu Deswita.
“Menurut Papah, bagaimana?” tanya Haifa.
“Papah setuju,” jawab Pak Broto.
“Jadi semua setuju nama nya Alifa?” tanya Wira.
Semua orang mengangguk.
“Oke, nanti Wira urus akte kelahirannya,” kata Wira.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Wira membuka pintu, seorang kurir berdiri di depan pintu.
“Dengan kamar Ibu Haifa?” tanya kurir.
“Iya, betul,” jawab Wira.
“Ada kiriman untuk Ibu Haifa,” kata kurir.
“Dari siapa?” tanya Wira.
“Dari Pak Fahri,” jawab kurir.
“Bapak tolong tanda tangan di sini.”
Kurir memberikan kertas yang harus ditanda tangan oleh Wira. Wira langsung menanda tangan kertas tersebut. Kemudian kurir itu memberikan rangkaian bunga dan bingkisan kado kepada Wira.
“Terima kasih,” ucap Wira.
Wira membawa masuk rangkaian bunga dan bingkisan kado.
“Dari siapa, Wir?” tanya Ibu Deswita.
“Dari Pak Fahri,” jawab Wira.
Wira menaruh karangan bunga dan bikisan di atas meja.
“Siapa Pak Fahri?” tanya Pak Broto.
“Loh, Papah tidak kenal? Wira kira relasi Papah,” kata Wira kaget.
“Papah tidak punya relasi namanya Fahri,” jawab Pak Broto.
“Apa dari Mas Fahri temannya Mbak Wina?” tanya Haifa.
Wira menoleh ke Haifa.
__ADS_1
“Kamu kenal dengan temannya Wina?” tanya Wira.
“Dikenalin sama Mbak Wina,” jawab Haifa.
“Waktu pengajian tujuh hari Mas Wisnu dia datang,” kata Haifa.
“Oh…,,” kata Wira dengan rawut muka yang datar.
Wira teringat dengan perkataan Ekky bahwa Haifa dan Wina datang ke café Selera Kita bersama dengan dua orang laki-laki.
Apa dari kedua laki-laki itu salah satunya bernama Fahri? tanya Wira di dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel Haifa. Wina mengajak video call.
“Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Waalalikumsalam,” balas Wina.
“Mana keponakanku yang cantik?” tanya Wina.
“Ada lagi digendong sama Mamah,” jawab Haifa.
“Mau lihat dong,” kata Wina.
“Mah, Mbak Wina mau lihat Alifa,” Haifa memangil Ibu Deswita.
Ibu Deswita menghampiri Haifa sambil menggendong Alifa. Haifa menghadapkan layar ponselnya ke Alifa.
“Ih….lucu banget. Jadi pengen cepat lulus biar bisa main sepuasnya sama Baby,” kata Wina.
“Siapa namanya?” tanya Wina.
“Namanya Alifa. Alifa Wisnu Hutama,” jawab Haifa.
“Nama bapaknya diborong semua. Siapa yang memberi nama?” tanya Wina.
“Mas Wira yang memberi nama,” jawab Haifa.
“Kalau Tante Wina yang memberi nama, Tante Wina juga yang harus buat akte kelahirannya,” sahut Wira.
“Kok ada suara Mas Wira? Memang ada Mas Wira?” tanya Wina.
“Ada. Baru datang dari Bangkok,” jawab Haifa.
“Enak, Mas Wira sudah kembali ke Indonesia. Wina masih lama pulang ke Indonesia,” ujar Wina.
“Makanya belajar yang rajin biar cepat lulus,” celetuk Wira.
“Mas Wira jelek,” sahut Wina dengan kesal.
Wina menoleh ke orang yang berada di sebelahnya. Sepertinya orang itu mengatakan sesuatu.
“Haifa, ini ada yang mau bicara,” kata Wina.
Wina memberikan ponselnya kepada Fahri.
“Assalamualaikum, Haifa,” ucap Fahri.
“Waalaikumsalam, Mas Fahri,” balas Haifa.
“Haifa, selamat ya atas kelahiran babynya. Semoga menjadi anak yang sholeha, berahlak mulia dan cantik seperti Mamahnya,” ucap Fahri.
Deg….Haifa merasa tidak enak Fahri mengatakan hal itu. Karena didengar oleh mertuanya. Ponselnya sedang diloudspeaker, sehingga terdengar oleh semua orang di ruangan itu.
“Aamiin ya robilalamin. Terima kasih Mas Fahri atas doanya,” ucap Haifa mau tidak mau.
Tanpa Haifa sadari semua orang di ruangan itu memperhatikan percakapan Haifa dengan Fahri. Wira berdiri di sebelah Haifa dengan tangan di lipat dan wajahnya begitu serius mendengarkan percakapan Haifa dengan Fahri.
__ADS_1
Apalagi laki-laki itu mengatakan “Cantik seperti Mamahnya,” Entah mengapa ada rasa kesal di hati Wira mendengar laki-laki lain mengatakan hal itu kepada Haifa.
“Nama babynya siapa?” tanya Fahri.
“Namanya Alifa. Alifa Wisnu Hutama,” jawab Haifa.
“Nama yang cantik,” puji Fahri.
“Boleh dong lihat babynya,” kata Fahri.
“Boleh,” jawab Haifa.
“Mah,” Haifa memanggil Deswita.
Ibu Deswita menghampiri Haifa sambil menggendong Alifa. Kemudian Haifa menghadapkan layar ponselnya ke Alifa.
“Cantik. Persis seperti Mamahnya,” puji Fahri.
“Mas Fahri, terima kasih juga atas bingkisan kado serta rangkaian bunganya,” ucap Haifa.
“Kamu sudah terima?” tanya Fahri.
“Sudah, Mas,” jawab Haifa.
“Cepat juga kurirnya,” kata Fahri.
“Wina mau ngomong lagi, nih.”
Fahri mengembalikan ponselnya kepada Wina.
“Haifa, babynya mau dikasih hadiah apa?” tanya Wina.
“Apa, ya? Bingung ah. Karena masih kecil jadi bingung mau apa,” jawab Haifa.
“Kadonya Tante Wina cepat lulus dan cepat kembali ke Indonesia,” kata Haifa.
“Bereslah. Tante Wina akan segera lulus dan kembali ke Indonesia,” ujar Wina.
“Sudah dulu, ya. Tante Wina mau ke perpustakaan. Assalamualaikum. Dadah Baby.”
“Waalaikumsalam.”
Wina mengakhiri video callnya.
Haifa menarik nafas lega.
“Jadi dia yang mengirim bunga dan bingkisan?” tanya Ibu Deswita.
“Iya, Mah,” jawab Haifa.
“Ganteng juga orangnya,” puji Ibu Deswita.
“Sudah malam, sudah waktunya pulang. Kasihan Haifa dan Alifa mau istirahat,” kata Pak Broto mengalihkan perhatian.
“Sebentar lagi, Pah. Mamah masih mau gendong Alifa,” protes Ibu Deswita.
“Besok lagi gendongnya. Tuh kasihan Ibu Euis juga sudah cape mau istirahat.”
Pak Broto menunjuk ke arah Ibu Euis yang sudah mengantuk.
Akhirnya Ibu Deswita meletakkan Alifa ke box bayi. Satu persatu pamit pulang.
“Aku pulang dulu. Kalau perlu apa-apa telepon, ya!” kata Wira.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
“Assalamualaikum,” ucap Wira.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.
Wirapun meninggalkan kamar inap Haifa. Tinggal Ibu Euis menginap di sana untuk menemani Haifa dan Alifa.