
Wira memandangi kakak iparnya yang sedang duduk di atas karpet. Haifa terlihat meringis kesakitan sambil mengusap perutnya. Wira pemendekati Haifa.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Wira dengan khawatir.
“Saya tidak apa-apa,” jawab Haifa.
“Tapi mengapa kamu seperti meringis kesakitan?” Tanya Wira.
“Perut Haifa terasa kencang. Rasanya sakit sekali,” jawab Haifa sambil mengusap perutnya.
“Kita ke dokter, ya,” kata Wira dengan khawatir.
“Tidak usah, nanti juga akan berkurang,” jawab Haifa sambil menahan sakit.
“Kalau kamu nggak kuat, bilang ke aku, ya! Kita ke dokter,” kata Wira.
Haifa menjawab dengan mengangguk.
Wira membiarkan Haifa sendirian. Wira mendekati Bi Nani dan Ibu Euis yang sedang menyiapkan kue untuk pengajian.
“Tante, perut Haifa terasa kencang dan sakit,” kata Wira kepada Ibu Euis.
Ibu Euis menoleh ke Haifa yang sedang mengusap-usap perutnya.
“Mungkin perutnya sakit akibat kontraksi palsu,” jawab Ibu Euis.
“Hah? Kontraksi palsu? Berarti Haifa mau melahirkan,” kata Wira dengan kaget.
“Ya nggak, Den. Namanya juga kontraksi palsu. Mungkin Haifa kurang banyak minum. Seharian dia cuma menangis,” sahut Bi Nani.
Bi Nani mengambil gelas dan piring kecil dari lemari. Kemudian gelas diisi air dari dispenser dan piring kecil diisi beberapa potong kue.
“Itu buat siapa, Bi?” Tanya Wira.
“Untuk Haifa,” jawab Bi Nani.
“Biasanya untuk mengurasi kontraksi palsu, harus banyak minum dan makan camilan,” kata Bi Nani.
“Biar Wira yang bawa,” kata Wira.
Bi Nani memberikan gelas dan piring kecil kepada Wira. Wira menghampiri Haifa lalu menaruh gelas dan piring kecil di depan Haifa.
“Kata Bi Nani kamu kurang minum, makanya perut kamu kencang. Sekarang minum dulu biar perutnya tidak kencang lagi,” kata Wira.
“Terima kasih,” ucap Haifa.
Haifa minum sampai gelasnya kosong.
“Sekalian dimakan kuenya!” kata Wira.
Haifa mengambil satu potong kue lalu memakannya sedikit demi sedikit.
“Aku isi lagi air minumnya.” Wira mengambil gelas minum
Haifa.
“Tidak usah, Mas! Haifa bisa ambil sendiri,” kata Haifa.
“Kamu duduk saja! Sambil makan kue,” kata Wira.
Wira mengisi gelas minum Haifa dengan air dari dispenser. Setelah itu ditaruhnya gelas itu di depan Haifa.
“Habiskan kuenya! Kalau masih mau nambah, nanti aku ambilkan lagi,” kata Wira.
“Terima kasih, Mas. Ini sudah cukup,” ucap Haifa.
“Kalau begitu aku tinggal dulu, ya,.” Wira pergi ke depan rumah untuk menyambut tamu yang akan mengikuti pengajian.
__ADS_1
Pengajian dimulai pukul setengah delapan malam. Tamu yang hadir kebanyakan dari keluarga, tetangga terdekat serta teman-teman almarhum Wisnu.
Selama pengajian air mata Haifa terus saja mengalir. Ia masih sedih ditinggalkan oleh suaminya. Namun ia harus ikhlas dan rido agar Wisnu tenang di alam kuburnya.
Setelah selesai pengajian keluarga Pak Broto dan keluarga Pak Yayat berkumpul di ruang tengah.
“Haifa, kapan kamu harus periksa ke dokter lagi?” Tanya Ibu Deswita kepada Haifa.
“Tanggal sembilan, Mah,” jawab Haifa.
“Berarti besok ya?” ujar Ibu Deswita.
“Iya, Mah,” jawab Haifa.
Lalu Ibu Deswita beralih ke Ibu Euis.
“Enin, pulang ke Sumedang kapan?” Tanya Ibu Deswita kepada Ibu Euis.
“Nanti kalau sudah hari ke tujuh. Aki dan Ros pulangnya besok karena harus kerja dan anak-anak harus masuk sekolah,” kata Ibu Euis.
“Kalau begitu kita bisa mengantar Haifa ke dokter. Kita lihat cucu kita di USG,” kata Ibu Deswita dengan senang.
“Iya, Uti,” jawab Ibu Euis.
“Wira, kapan kamu pulang ke Bangkok?” Tanya Pak Broto.
“Hari ketiga, Pah,” jawab Wira.
“Kapan kontrak kerjamu selesai?” Tanya Pak Broto.
“Sebulan lagi, Pah,” jawab Wira.
“Apa rencanamu setelah selesai kontrak kerjamu selesai?” Tanya Pak Broto.
“Wira kembali ke Indonesia, bantu Papah,” jawab Wira.
“Wira yakin, Pah,” jawab Wira.
“Alhamdullilah, akhirnya anak Mamah kembali ke rumah,” ucap Ibu Deswita.
“Tinggal Wina yang yang belum bisa kembali. Karena strata duanya belum selesai,” kata Ibu Deswita.
Malam ini walaupun mereka sedang berduka, namun mereka senang karena bisa berkumpul bersama dengan keluarga mereka.
*****
Pagi-pagi sekali Haifa sudah berpakaian rapih. Ia langsung menemui Mamahnya yang sedang memasak di dapur.
“Mah. Haifa ke makam Mas Wisnu, ya,” pamit Haifa.
“Loh kok pagi-pagi sekali? Kamu belum sarapan,” kata Ibu Euis.
“Sarapannya nanti saja. Haifa sudah kangen sama Mas Wisnu,” ujar Haifa.
Ibu Euis menghela nafas.
“Kamu berangkat sama siapa?” Tanya Ibu Euis.
“Sama Pak Tono,” jawab Haifa.
“Ya sudah, hati-hati di jalan,” kata Ibu Euis.
“Assalamualaikum,” ucap Haifa lalu mencium tangan Mamahnya.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Euis.
Haifa keluar dari dapur dan bertemu dengan Wira yang hendak lari pagi.
__ADS_1
“Kamu mau pergi kemana?” Tanya Wira.
“Mau ke makam Mas Wisnu,” jawab Haifa.
“Pergi sama siapa?” Tanya Wira.
“Diantar Pak Tono,” jawab Haifa.
“Aku antar. Aku mandi dulu,” kata Wira.
“Tidak usah, Mas. Saya diantar Pak Tono saja. Mas Wira kan mau olah raga,” tolak Haifa.
“Tidak apa-apa. Aku juga belum ke makam Mas Wisnu. Kasih aku waktu sepuluh menit untuk mandi,” kata Wira.
Wira langsung lari ke kamarnya. Haifa menghela nafasnya lalu duduk di kursi makan.
“Sambil menunggu Wira kamu sarapan dulu,” kata Ibu Euis sambil menaruh makanan di atas meja.
“Tidak usah, Mah. Mas Wira mandinya hanya sebentar,” kata Haifa.
“Kalau begitu bekal saja, ya? Sebentar Mamah siapkan bekalnya.” Ibu Euis kembali ke dapur untuk menyiapkan bekal.
Tak lama kemudian Ibu Euis datang sambil membawa kotak makan.
“Ini untuk sarapanmu dan Wira. Yang satu lagi isinya kue sisa semalam. Sudah Mamah panaskan,” kata Ibu Euis.
“Terima kasih, Mah,” ucap Haifa.
Tiba-tiba Wira turun dari tangga dengan terburu-buru.
“Kunci mobilnya, mana?” Tanya Wira.
Haifa memberikan kunci mobil kepada Wira.
“Tante, Wira pergi dulu. Assalamualaikum,” pamit Wira.
“Waalaikumsalam. Titip Haifa, ya,” kata Ibu Euis.
“Baik, Tante.”
Wira dan Haifa keluar melalui pintu garasi.
“Mau kemana Haifa dan Wira?” Tanya Ibu Deswita yang melihat Wira keluar bersama dengan Haifa.
“Mau ke makam Wisnu. Katanya Haifa kangen sama Wisnu,” jawab Ibu Euis.
“Kasihan Haifa, ia masih masih muda sudah ditinggal Wisnu,” kata Ibu Deswita.
“Memang sudah jalannya Haifa harus hidup tanpa suaminya,” kata Ibu Euis.
Ibu Euis kembali ke dapur membereskan bekas masak.
****
Haifa memandangi sekeliling mobil sambil meneteskan air mata. Ia teringat kenangan bersama suaminya di dalam mobil ini. Wira merasa Haifa seperti sedang menangis. Wira pun menoleh ke samping.
“Kamu kenapa?” Tanya Wira.
“Tidak apa-apa,” jawab Haifa.
Wira menghela nafas.
“Kamu teringat Mas Wisnu, ya?” Tanya Wira tanpa menoleh ke samping.
“Saya kangen sama Mas Wisnu,” jawab Haifa.
“Aku juga kangen sama Mas Wisnu. Tapi aku harus tetap tegar. Masih ada orang-orang yang yang harus aku jaga. Mamah, Papah, Wina dan kamu serta bayi dalam kandunganmu,” kata Wira.
__ADS_1
Mendengar perkataan Wira, Haifa langsung menoleh ke arah Wira dan tak sengaja pandangan mereka bertemu. Kemudian Wira fokus lagi ke depan.