Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
74. Extra Bed


__ADS_3

Setelah pulang berbelanja Wira dan Haifa langsung sholat isya. Baru saja mereka menyelesaikan sholat isya terdengar suara pintu kamar ada yang mengetuk.


“Jangan dibuka dulu mukenanya,” kata Wira ketika hendak membuka pintu kamar.


Haifa tidak membuka mukenahnya. Wira membuka pintu. Tak lama kemudian masuklah dua orang pegawai hotel membawa dua buah kasur ekstra bed.


“Taruh dimana, Pak?” tanya pegawai itu.


“Taruh di sebelah tempat tidur,” jawab Wira.


Setelah kedua pegawai itu menyimpan kasur, mereka pun keluar dari kamar Wira.


Wira mengatur letak ekstra bed itu.


“Mas, ekstra bed untuk apa?” tanya Haifa bingung.


“Untuk kita main. Agar tidak mengganggu Alifa,” jawab Wira.


Haifa kaget mendengarnya, suaminya benar-benar niat untuk menidurinya.


“Cepat buka mukenahnya sebelum Alifa bangun,” kata Wira sambil membuka sarungnya lalu tidur di atas extra bed.


Haifa membuka mukenahnya. Mau tidak mau ia harus menuruti keinginan suaminya dan tidak boleh menolak.


“Sini,” Wira menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.


Haifa mengikuti perintah Wira, ia tidur di sebelah Wira. Wira langsung memeluknya dan mengecup keningnya.


“Akhirnya kau menjadi milikku,” bisik Wira.


“Aku sudah lama menunggu saat-saat seperti ini,” bisik Wira lagi.


Wira menci-um bi-bir Haifa dan me-lu-matnya. Wira begitu menikmati bi-bir istrinya. Tangannya bergerilya mulai dari rambut, punggung hingga bagian-bagian yang ingin Wira sentuh. Wira melepaskan ci-umannya.


“Mas, Haifa belum pasang kb,” kata Haifa.


“Tidak usah pasang kb,” jawab Wira.


“Tapi Alifa masih kecil,” kata Haifa.


“Nggak apa-apa, kita Kasih Alifa adik biar Alifa tidak kesepian,” jawab Wira.


“Kalau Haifa hamil, Haifa tidak bisa menyusui Alifa lagi,” kata Haifa.


“Nanti kita cari susu formula yang hampir mendekati ASI. Mahal juga tidak apa-apa,” jawab Wira.


Haifa menghela nafas. Bagaimanapun juga Wira berhak untuk mempunyai anak darinya.


“Ayo kita main mumpung Alifa lagi tidur,” bisik Wira.


Wira mulai melakukan aksinya. Tangannya bergerilya dan mulutnya mengekplore tubuh Haifa. Membuat Haifa melayang akibat aksi yang dilakukan oleh Wira.


Usai main Wira tidur dengan nyenyak sambil memeluk istrinya. Sayup-sayup ia mendengar suara Alifa menangis. Wira langsung bangun dan melihat ke atas tempat tidur. Alifa sedang menangis mencari Mamahnya. Wira langsung membangunkan Haifa.


“Haifa, bangun. Alifa nangis,” kata Wira sambil menepuk-nepuk bahu Haifa.


Namun Haifa belum bangun juga.


“Haifa, bangun sayang. Kasihan Alifa menangis,” Wira terus menepuk-nepuk bahu istrinya.


Haifa tidak bangun juga. Haifa kecapean karena sudah melayani Wira yang sangat bernaf-su ketika melihat kemo lekan tubuh Haifa.


Wira menci-um wajah Haifa dan Haifa bangun karena terusik tidurnya.


“Haifa masih cape Mas, nanti lagi mainnya,” kata Haifa.

__ADS_1


Wira tersenyum ketika melihat istrinya bangun. Ternyata ci-umannnya mampu mengusik tidur Haifa.


“Bukannya Mas mau mengajak main. Tapi Alifa bangun dan menangis,” kata Wira.


Mendengar Alifa menangis, Haifa langsung bangun.


“Baju Haifa mana, Mas?” tanya Haifa sambil mencari bajunya.


“Nggak usah pakai baju dulu. Nanti Alifa nangisnya tambah kencang. Pakai selimut saja,” kata Wira.


Haifa menutupi tubuhnya dengan selimut lalu naik ke atas tempat tidur dan mendekati Alifa.


Melihat Haifa tidur di sebelahnya, Alifa langsung mengarahkan wajahnya ke dada Mamahnya dan langsung melahap puncak dada Mamahnya. Bayi itu pun menyedot ASI nya dengan kuat.


Wira menggunakan pa-kaian da-lam dan celana pendek lalu menyusul istri dan anaknnya tidur di atas tempat tidur. Wira tidur di sebelah Alifa. Wira membetulkan letak selimut yang menyelimuti istri dan anaknnya. Wira pun tidur sambil memeluk istri dan anaknya.


****


Pagi ini Haifa dan Wira bergabung dengan keluarganya sarapan di dining room.


“Kalian tidak sarapan di kamar?” tanya Ibu Deswita ketika Haifa dan Wira datang menghampirinya.


“Tidak ah, Mah. Sepi cuma bertiga,” jawab Haifa.


“Bukannya kalau sepi malah enak?” goda Wina.


“Bosen, Mbak. Lagi pula hari ini kan mau pulang,” jawab Haifa.


“Tidak diperpanjang menginapnya?” tanya Ibu Euis.


“Tidak ah, Mah. Besok Mas Wira harus masuk kantor,” jawab Haifa.


“Kantor milik papah sendiri. Tidak akan ada yang menegur,” ujar Wina.


“Walaupun milik papah sendiri, tidak boleh bekerja sesuka hati,” kata Wira sambil menngacak-acak rambut Wina.


Ibu Euis mengambil Alifa dari Haifa.


“Alifa sama Enin. Biar Mamahnya sarapan dulu,” kata Ibu Euis.


Alifa tidak menangis ketika digendong enin, ia sedang anteng menggigit-gigit mainannya.


Haifa dan Wira mengambil sarapan mereka dan mereka pun makan dengan tenang.


Setelah selesai sarapan merekapun bersiap-siap untuk check out dari hotel. Mereka berpisah di depan lobby hotel. Pak Yayat dan rombongan pulang ke Sumedang. Sedangkan Pak Broto dan keluarga pulang ke Jakarta.


Ketika Wira masuk ke dalam mobil, ia melihat Haifa menguap.


“Kenapa? Masih ngantuk? Tidur saja. Nanti kalau sudah sampai di rumah Mas bangunin,” kata Wira.


“Iya, Mas,” jawab Haifa lalu menguap lagi.


“Alifa ditaruh di kursi bayi saja. Biar kamu bisa tidur dengan enak,” kata Wira.


“Alifa mau duduk di belakang sama Mbak Sri?” tanya Haifa kepada Alifa.


“Mamahnya ngantuk,” kata Haifa.


“Kasih dia mainan biar anteng,” ujar Wira.


Haifa keluar dari mobil dan membuka pintu belakang. Haifa


meletakkan Alifa di kursi bayi.


“Main sama Mbak Sri, ya,” kata Haifa.

__ADS_1


Haifa memberikan Alifa mainan, sehingga bayi itu anteng dengan mainannya. Haifa menutup pintu mobil dan kembali ke depan.


“Nggak nangis kan Alifanya?” tanya Wira.


“Nggak, Mas,” jawab Haifa sambil memasang seat beltnya.


“Sekarang kamu bisa tidur dengan nyenyak,” kata Wira.


Wirapun mulai menjalankan mobilnya. Selama di perjalanan Haifa tidur dengan nyenyak. Bagaimana Haifa tidak ngantuk berat, dini hari tadi Wira membangunkannya dan mengajaknya main lagi. Setelah sholat subuhpun Wira mengajaknya main lagi.


“Mumpung Alifa belum bangun,” begitu kata Wira.


Sekarang Haifa merasa lelah dan mengantuk karena terus saja melayani suaminya. Sedangkan Wira nampak segar bugar karena beberapa kali dichanger.


Mereka sampai di Jakarta pukul setengah dua belas siang. Ketika Wira membuka jendela untuk membayar tol Haifa terbangun.


“Sudah sampai dimana?” tanya Haifa sambil menguap.


“Sudah sampai Jakarta,” jawab Wira sambil menutup jendela kembali.


“Kita mau makan siang dimana?” tanya Wira.


“Terserah Mas Wira,” jawab Haifa.


“Kita makan di café Selera Kita. Mau nggak?” tanya Wira.


“Boleh. Di sana makanannya enak-enak. Mas Wira pintar mengatur resepnya,” puji Haifa.


Wira menoleh ke Haifa.


“Kamu tau darimana kalau Mas yang mengatur resepnya?” tanya Wira.


“Dari Wina,” jawab Haifa.


“Kapan-kapan Haifa juga mau dimasakin sama Mas Wira,” kata Haifa.


“Oke, siapa takut,” jawab Wira.


Wira kembali fokus menyetir mobilnya.


“Mas,” panggil Haifa.


Wira melirik sebentar ke samping.


“Kenapa?” tanya Wira.


“Boleh nggak kalau Haifa mampir sebentar ke makam Mas Wisnu?” tanya Haifa.


“Tentu saja boleh,” jawab Wira.


“Haifa kan sudah jadi istri Mas Wira, jadi Haifa harus ijin dulu ke Mas Wira,” kata Haifa.


“Iya, Mas Wira mengerti. Kapan mau ke makam Mas Wisnu?” tanya Wira sambil fokus menyetir.


“Kalau sekarang boleh, nggak?” tanya Haifa.


“Boleh. Kita ke makam Mas Wisnu dulu, baru ke café,” jawab Wira.


“Terima kasih, Mas,” ucap Haifa.


“Sama-sama, sayang,” jawab Wira.


Mendengar kata sayang Haifa langsung melotot ke Wira.


“Mas, ada Sri di belakang,” bisik Haifa.

__ADS_1


“Nggak apa-apa. Kita kan sudah menikah,” jawab Wira dengan tenang.


Haifa menghela nafas.


__ADS_2