
Haifa memasuki ruangan Wira.
“Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Waalaikumsalam,” jawab Wira.
Wira beranjak dari meja kerjanya dan menghampiri Haifa dan mengintip ke dalam gendongan Haifa.
“Alifa tidur?” tanya Wira.
“Iya, tadi waktu berangkat dari rumah dia sudah mengantuk,” jawab Haifa.
Haifa menyimpan rantang di atas meja lalu ia duduk di sofa dan melepaskan tali gendongannya.
“Kemana dulu? Kok lama sekali datangnya?” tanya Wira sambil duduk di sebelah Haifa.
“Tadi ngobrol dulu dengan Ira di bawah,” jawab Haifa.
Haifa menaruh Alifa di atas sofa, Alifa terbangun dan menangis. Cepat-cepat Haifa menepuk badan bagian belakang Alifa sehingga bayi itu berhenti menangis dan tidur kembali.
“Kalian membicarakan apa?” tanya Wira curiga.
Tidak biasanya Haifa berbicara dengan para pegawai di sini.
“Biasalah tentang gosip yang beredar di kantor ini,” jawab Haifa.
“Mas Wira mau makan sekarang?” tanya Haifa.
“Nanti saja, aku mau sholat dzuhur dulu,” jawab Wira.
Ternyata kakak dan adik sama saja, makannya setelah sholat dzuhur, kata Haifa di dalam hati.
“Mas, Haifa mau bertanya. Kenapa kalau teman-teman perempuan Mas Wita datang ke kantor ini, Ira dan Rita akan dipecat? Padahal kan mereka datang ke kantor ini atas keinginan mereka bukan disuruh sama Ira dan Rita,” tanya Haifa.
“Kamu tau darimana? Pasti Ira yang mengadu, ya?” tanya Wira dengan penuh sidik.
“Haifa mau cerita pada Mas Wira. Tapi Mas Wira harus janji tidak boleh memecat Ira dan Rita!” kata Haifa.
“Mau cerita apa, sih? Cerita aja,” ujar Wira.
“Haifa tidak akan cerita kalau Mas Wira belum janji,” jawab Haifa.
“Iya, aku janji,” kata Wira.
Akhirnya Haifa menceritakan semua kejadian di lobby kantor.
Wira menghela nafas panjang ketika mendengar cerita Haifa.
“Mas, lebih baik Mas beri kepastian kepada mereka. Agar mereka tidak terus menerus datang ke sini,” kata Haifa.
“Kepastian apa? Mas tidak pernah menjanjikan apa-apa pada mereka. Merekanya saja yang ge-er,” jawab Wira.
“Mas juga jangan suka ngancem-ngancem Ira dan Rita, hanya karena perempuan-perempuan penggemar Mas datang ke sini,” kata Haifa.
“Mas cuma menggertak mereka saja, agar mereka lebih berhati-hati lagi,” jawab Wira.
Haifa menghela nafas.
“Mas Wira yang punya masalah, kenapa harus mereka yang dijadikan tameng?” tanya Haifa.
“Sudahlah. Aku menyuruhmu ke sini untuk menemaniku, bukan mengajakku untuk berdebat,” kata Wira.
__ADS_1
“Besok kita ada pertemuan dengan WO. Besok kamu ke sini lagi, ya,” kata Wira.
“Iya,” jawab Haifa.
“Berangkatnya bareng dengan aku pagi-pagi,” kata Wira.
Haifa langsung menoleh ke Wira.
“Ngapain pagi-pagi sekali? Pegawai WO ya juga baru berangkat kerja,” tanya Haifa.
“Temani aku kerja,” jawab Wira.
“Tapi bawa bayi kan repot, Mas. Tidak bisa buru-buru,” kata Haifa.
“Apanya yang repot? Kamu tinggal masukkan keperluan Alifa ke dalam tas dan bawa stoller. Dia kan masih ASI jadi nggak usah repot-repot bawa susu dan makanannya,” ujar wira.
“Terserah Mas Wira aja, deh,” jawab Haifa.
“Nah begitu, dong. Kan enak kalau nurut sama calon suami,” kata Wira.
“Baru calon, Mas. Belum jadi suami. Jadi nggak perlu menuruti kata Mas Wira,” ujar Haifa.
“Iya sudah. Besok kita akad nikah saja, biar kamu nurut sama aku,” kata Wira sambil senyum-senyum ke arah Haifa.
“Mas!” Haifa melotot kepada Wira.
****
Keesokan harinya pagi-pagi Haifa ikut Wira ke kantor. Ia membawa semua keperluan Alifa termasuk stoller milik Alifa.
“Sudah tidak ada yang ketinggalan lagi?” tanya Wira sebelum mereka berangkat.
“Tidak ada, Mas. Semuanya sudah dibawa,” jawab Haifa.
Wira mengendarai mobilnya dan meninggalkan halaman rumah keluarga Broto. Dalam waktu tiga puluh menit mereka sampai di kantor milik Pak Broto.
“Ayo kita turun,” ajak Wira ketika mereka sampai di tempat parkir kantor.
Wira membuka bagasi mobil kemudian mengeluarkan stoller Alifa. Kemudian mengambil tas Alifa yang di simpan di jok belakang. Ditaruhnya tas Alifa di atas stoller, lalu Wira mendorong stoller itu masuk ke dalam gedung kantor. Haifa mengikuti Wira dari belakang. Ketika memasuki area lobby banyak pegawai yang berlalu lalang.
“Selamat pagi, Pak,” sapa para karyawan ketika berpas-pasan dengan Wira.
“Pagi,” jawab Wira sambil mendorong stoller milik Alifa.
“Selamat pagi, Bu,” sapa para karyawan ke Haifa yang berjalan di belakang Wira.
“Pagi,” jawab Haifa.
Setelah Wira dan Haifa masuk ke dalam liff, para karyawan mulai bergunjing. Mereka membicarakan Haifa datang ke kantor pagi-pagi.
Sementara itu yang sedang digunjingkan sudah sampai di ruangan Wira. Haifa duduk di sofa sambil melepaskan tali kain gendongan lalu meletakkan Alifa di kursi sofa yang sudah di beri alas kain flannel. Alifa memperhatikan ruangan kerja Wira.
“Dimana ini, Nak?” tanya Haifa kepada Alifa.
Alifa terus saja memperhatikan sekitarnya.
“Alifa bangun?” tanya Wira lalu menghampiri Alifa.
“Iya,” jawab Haifa.
“Ini kantor Ayah. Alifa ikut Ayah kerja,” kata Haifa kepada Alifa.
__ADS_1
“Ayah kerja dulu, ya. Alifa main sama Mamah,” kata Wira lalu mengusap-usap kepala Alifa.
Wira kembali ke meja kerjanya. Alifa mulai anteng mengoceh sendiri sambil menggerakkan tangan dan kakinya. Sedangkan Haifa menonton tv yang berada di ruangan Wira. Lama kelamaan Alifa cape dan ia pun menangis
“Oeekkkk.”
“Cup-cup, sayang. Cape, ya.’
Haifa menggendong Alifa. Haifa kebingungan mencari tempat untuk menyusui Alifa. Sebenarnya Haifa membawa ASI di dalam dot, tapi ASI di dadanya sudah penuh. Daripada terbuang karena merembes ke baju lebih baik Haifa menyusui Alifa langsung. Haifa duduk di sofa yang membelakangi meja kerja Wira.
“Mas, jangan ke sini ya!” kata Haifa kepada Wira.
“Kenapa?” tanya Wira.
“Haifa mau menyusui Alifa,” jawab Haifa.
“Oh…..”
Wira melanjutkan pekerjaannya. Haifa bisa menyusui Alifa dengan tenang. Tak lama kemudian Alifa pun tertidur. Haifa menidurkan Haifa di stoller, karena sebentar lagi WO akan datang. Tiba-tiba intercom Wira berbunyi, Wira mengangkatnya.
“Pak ada tamu dari Wedding Organizer mau ketemu Bapak dan Ibu Haifa. Katanya sudah buat janji sama Bapak dan Ibu Haifa,” kata Rita.
“Suruh mereka masuk,” jawab Wira.
Wirapun menutup intercomnya.
“WO sudah datang,” kata Wira ke Haifa.
“Alifa sudah tidur?” tanya Wira.
“Sudah. Tuh.” Haifa menunjuk ke stoller.
Wira menghampiri stoller dan memandangi Alifa yang sedang nyenyak tidur.
“Alifa kalau sedang tidur lucu sekali. Menggemaskan,” kata Wira yang sedang asyik memandangi Alifa sambil mecolek pipi Alifa yang menggemaskan.
Tok.
Tok.
Tok.
Terdengar suara pintu diketuk.
“Masuk!” seru Wira.
Rita membuka pintu ruangan Wira.
“Pak, WO sudah datang,” kata Rita.
“Suruh mereka masuk,” jawab Wira.
Rita mempersilahkan para petugas WO masuk ke dalam ruangan Wira. Para petugas WO menyalami Wira.
“Ini Haifa, calon istri saya,” Wira memperkenalkan Haifa kepada petugas WO.
Mereka menyalami Haifa. Rita yang masih berada di ruangan itu kaget mendengarnya.
“Rita, tolong buatkan minum untuk tamu,” kata Wira kepada Rita.
“Baik, Pak,” jawab Rita.
__ADS_1
Lalu Rita keluar dari ruangan Wira dengan membawa gosip terbaru yang akan membuat gempar karyawan di kantor ini.