
Hari ini adalah hari ketujuh Wisnu meninggal dunia. Haifa sudah bersiap-siap hendak ke makam suaminya. Ia akan pergi ke makam bersama dengan Wina.
“Ayo, Mbak kita pergi sekarang,” kata Haifa yang sudah siap untuk berangkat.
Namun Wina hanya duduk samtai sambil memainkan ponselnya.
“Mbak Wina, jadi ikut ke makam tidak?” tanya Haifa.
Wina menghentikan memainkan ponselnya.
“Jadi ikut. Lagi nunggu Fikri dan Fahri mereka mau ikut ke makam,” jawab Wina.
“Mau ngapai mereka ikut?” tanya Haifa dengan penuh sidik.
“Mereka mau ziara ke makam Mas Wisnu,” jawab Wina.
“Ya sudah. Kita tunggu mereka datang,” kata Haifa.
Haifa langsung duduk di sebelah Wina.
Tiba-tiba Pak Tono nongol di pintu menuju garasi.
“Non Wina, ada teman-teman Non Wina di depan,” kata Pak Tono.
“Suruh tunggu, Pak,” kata Wina.
“Ya, Non,” kata Pak Tono.
Pak Tono kembali ke depan.
“Ayo Haifa. Mereka sudah datang,” kata Wina yang langsung berdiri.
“Iya.”
__ADS_1
Wina dan Haifa keluar melalui garasi. Di depan rumah ada Fikri dan Fahri yang sedang menunggu mereka.
“Kita berangkat sekarang,” kata Wina kepada Fikri dan Fahri.
Wina berjalan menuju ke mobil Fahri yang diparkir di depan rumah.
“Mbak Wina, mau kemana? Ini mobilnya,” tanya Haifa sambil menunjuk ke mobil milik almarhum Wisnu.
“Kita naik mobil Fahri,” jawab Wina.
Haifa teringat kursi lipatnya yang disimpan di bagasi mobil.
“Pak, tolong buka bagasinya,” kata Haifa kepada Pak Tono.
Pak Tono langsung membuka bagasi mobil. Haifa mengambil kursi lipat dari dalam bagasi lalu membawanya ke mobil Fahri.
“Apa itu?” tanya Fahri yang masih menunggu Haifa.
“Kursi lipat untuk duduk di makam,” jawab Haifa.
Dengan ragu-ragu Haifa memberikan kursi lipat kepada Fahri. Fahri membawa kursi lipat menuju ke mobilnya lalu ia masukkan ke dalam bagasi.
Haifa langsung masuk ke dalam mobil. Ketika ia hendak menutup pintu mobil, Fahri membantu menutupkan pintu mobilnya. Kemudian Fahri masuk ke dalam mobil dan menyalakan mobil. Mobilpun meluncur meninggalkan kediaman Pak Broto.
“Dimana makam Mas Wisnu?” tanya Fahri.
“Di Tanah Kusir,” jawab Haifa.
“Kamu tau tempatnya, nggak?” tanya Wina.
“Tau, Mbak,” jawab Haifa.
Fahri menyetir mobilnya menuju ke TPU tanah Kusir.
__ADS_1
Sepanjang jalan Haifa hanya melamun sambil melihat jalan. Sedangkan Wina berbicara dengan Fikri dan Fahri.
Akhirnya sampai juga mereka di TPU Tanah Kusir. Fahri memarkirkan mobilnya. Merekapun keluar dari mobil Fahri. Fahri mengambil kursi lipat dari bagasi mobil.
“Biar saya bawa sendiri,” kata Haifa hendak mengambil kursi lipat dari tangan Fahri.
“Jangan! Biar saya yang bawa,” kata Fahri.
Wina menghampiri keduanya.
“Kamu bawa apa Haifa?” tanya Wina.
“Bawa kursi lipat, Mbak. Disuruh Mas Wira. Biar kakinya tidak kesemutan,” jawab Haifa.
“Oh…”
Haifapun berjalan menuju ke makam Wisnu diikuti oleh Wina dan teman-teman Wina dari belakang. Mereka pun sampai di makam Wisnu. Fahri memasangkan kursi lipat di tempat yang datar.
“Terima kasih,” ucap Haifa.
Haifa pun duduk di atas kursi, kemudian ia mulai membaca Al Qur’annya. Haifa tidak lama membaca Al Qu’an, karena tidak enak kepada teman-teman Wina kalau harus menunggu lama. Haifa menutup Al Qur’an dan dimasukan ke dalam tasnya. Ia melihat Wina masih mendoakan Mas Wisnu. Haifa menunggu sampai Wina selesai berdoa.
“Sudah?” tanya Wina ketika melihat Haifa yang sudah selesai membaca Al Qur’an.
“Sudah, Mbak,” jawab Haifa.
Haifa berdiri lalu melipat kursinya.
“Saya bawakan,” kata Fahri sambil mengambil kursi lipat dari tangan Haifa.
“Terima kasih,” ucap Haifa.
.
__ADS_1
.
ntar sore diterusin lagi. Deche mau tidur dulu. nggak kuat, ngantuk banget.