Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
30. Misteri Hilangnya Peralatan Makan.


__ADS_3

Setelah Wira dan Wina kembali ke tempat kerja di Thailand dan kampusnya di USA, rumah menjadi sepi. Kini Haifa hanya tinggal berempat bersama dengan Wisnu dan kedua orang tuanya, serta ditemani oleh para ART.


Seperti biasa setiap siang Haifa mengantarkan makanan ke kantor untuk suami dan mertuanya. Haifa berangkat ke kantor dengan menyetir mobil sendiri. Wisnu menghadiahkan Haifa sebuah mobil ketika Haifa berhasil mendapatkan SIM.


Ada yang berbeda ketika Haifa datang ke kantor suaminya.Biasanya ketika Haifa menyapa para karyawan di kantor itu hanya ditanggapi biasa-biasa saja. Namun kali ini kedatangan Haifa kali ini mereka menanggapinya dengan rasa hormat. Mereka tidak menyangka jika ART yang selama mengantarkan makanan untuk bos mereka, sekarang menjadi menantu bos mereka.


“Selamat siang, Mbak Ira,” sapa Haifa ketika melewati meja resepsionis.


Ira langsung berdiri.


“Selamat siang, Bu,” jawab Ira.


“Saya langsung ke atas, ya,” kata Haifa.


“Silahkan, Bu,” jawab Ira.


Ketika Haifa hendak menuju ke liff, Haifa bertemu dengan Zulkifi dan seorang office girl yang sedang membersihkan ruangan di dekat liff.


“Selamat siang, Bu,” sapa Zulkifli.


“Selamat siang Zulkifli,” balas Haifa.


Ketika Haifa hendak masuk ke dalam liff, ekor mata Haifa melihat si office girl membisikkan sesuatu kepada Zulkifli. Entah dia mengatakan apa ke Zulkifli namun ketika pintu lift akan tertutup Haifa mendengar Zulkifli mengatakan, ”Kalau Bapak mendengar, Mbak bisa dipecat loh.”


Haifa menghela nafas panjang, sepertinya ada gosip yang tidak enak tentang dirinya yang beredar di kantor ini. Haifa menekan angka tujuh. Seperti biasanya Haifa lebih dahulu mengantarkan makanan untuk Pak Broto.


Sesampai di lantai tujuh Haifa langsung menuju ke meja sekrertaris Pak Broto.


“Selamat siang, Mbak Maya,” sapa Haifa.


Maya yang sedang mengetik langsung berdiri.


“Selamat siang, Bu Haifa,” balas Maya.


“Saya mengantarkan makan siang untuk Bapak,” kata Haifa.


Haifa seperti biasa menaruh rantang di meja Maya.


“Terima kasih, Mbak Maya,” ucap Haifa.


Haifa pun langsung menuju ke liff. Haifa turun ke lantai enam tempat ruangan suaminya berada. Haifa langsung menuju ke ruangan suaminya.


“Selamat siang, Mbak Rita,” sapa Haifa ketika berdiri di depan meja sekretaris Wisnu.


“Siang, Bu Haifa,” balas Rita.


“Bapak ada?” tanya Haifa.

__ADS_1


“Ada, Bu,” jawab Rita.


Haifa membuka pintu ruangan Wisnu.


“Assalamualaikum,” ucap Haifa.


“Waalaikumsalam,” jawab Wisnu.


Haifa masuk ke dalam ruangan Wisnu kemudian menutup pintu kembali. Haifa duduk di kursi sofa seperti bisa sambil menunggu suaminya bekerja. Tak lama kemudian terdengar sayu-sayup suara adzan berkumandang dari masjid yang berada di belakang kantor.


“Mas, sudah waktunya sholat,” kata Haifa.


Wisnu meletakkan dokumen yang berada di tangannya. Lalu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Setelah keluar dari kamar mandi Wisnu pamit untuk berangkat ke masjid.


“Mas ke masjid dulu, ya,” pamit Wisnu.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


“Assalamualaikum,” ucap Wisnu ketika hendak menutup pintu ruangannya.


“Waalaikumsalam,” ucap Haifa.


Setelah Wisnu berangkat ke masjid, Haifa pun sholat di ruangan Wisnu. Setelah selesai sholat Haifa mulai menyiapkan untuk makan siang Wisnu dan dirinya.


Haifa pun menuju ke dapur bersih yang berada di lantai enam.. Haifa masuk ke dalam dapur. Nampak ada dua office girl yang sedang asyik berbicara.


“Permisi,” sapa Haifa ketika masuk ke dalam dapur.


Kedua office girl itu menoleh ke Haifa.


“Bu Haifa, ada perlu apa?” Tanya office girl yang bernama Aida.


“Saya mau ambil piring, sendok dan gelas,” jawab Haifa.


“Piring, gelas dan sendok untuk di ruangan Pak Wisnu sudah saya simpan di pantry ruangan Bapak, Bu,” kata Aida.


“Sudah saya cari tidak ada, Mbak,” kata Haifa.


“Kok nggak ada? Kemana, ya?” kata Aida kepada dirinya sendiri.


“Barang kali kamu lupa naruh,” kata office girl yang bernama Isti.


“Nggak, ah. Saya masih ingat sudah menyimpannya,” jawab Aida.


Aida membuka pantry satu persatu, ia menemukan peralatan makan itu di salah satu lemari pantry tersebut.

__ADS_1


“Kok bisa ada di sini?” Tanya Aida bingung.


“Sewaktu Bapak cuti sudah saya simpan di pantry ruangan Bapak,” kata Aida sambil kebingungan.


“Tidak apa-apa, yang penting barangnya ada,” kata Haifa.


“Sini saya bawa sendiri,” kata Haifa.


“Jangan, Bu. Biar saya yang bawa,” kata Aida.


Aida membawa empat buah piring beserta dengan sendok dan garpunya menuju ke ruangan Wisnu. Haifa mengikuti Aida dari belakang. Namun ketika Haifa hendak keluar dari dapur, Haifa melihat Isti tersenyum mengejek ke Haifa.


Itu kan office girl yang tadi berbicara dengan Zulkifli, bisik Haifa di dalam hati.


Namun Haifa membuang jauh pikiran negatifnya.


Ketika Haifa hendak menuju ke ruangan Wisnu, Haifa berpas-pasan dengan Wisnu yang baru ke luar dari liff.


“Haifa, kamu darimana?” Tanya Wisnu.


“Dari dapur Mas, minta piring, gelas dan sendok,” jawab Haifa.


“Loh, memangnya di pantry ruangan Mas tidak ada?” Tanya Wisnu.


“Ada, Mas. Tapi cuma ada satu,” jawab Haifa.


Aida keluar dari ruangan Wisnu.


“Sebentar, Bu. Saya ambilkan gelasnya,” kata Aida.


Aida kembali ke dapur untuk mengambil gelas lalu lalu ia antarkan ke ruangan Wisnu. Ketika Aida hendak ke luar dari ruangan Wisnu, Haifa memanggilnya.


“Aida.”


”Iya, Bu.” Aida membalikkan badannya.


“Hati-hati menyimpan kunci ruangan Bapak. Kalau ada apa-apa, nanti kamu yang disalahkan,” kata Haifa.


“Iya, Bu,” jawab Aida.


“Saya permisi dulu, Bu,” pamit Aida.


“Hmm.”


Aida keluar dari ruangan itu.


“Sebetulnya ada apa?” Tanya Wisnu.

__ADS_1


“Nggak ada apa-apa, kok Mas. Hanya mungkin Aida sedang lupa saja,” jawab Haifa.


__ADS_2