
Haifa bangun tidur dengan ceria, karena ia bisa bebas melakukan apa saja tanpa ada yang melarangnya. Setelah selesai sholat subuh Haifa beranjak ke dapur. Kemarin Bi Nani mengatakan kalau di dalam kulkas ada banyak bahan makanan. Haifa membuka kulkas di dalam kulkas penuh dengan bahan makanan, semuanya lengkap. Lalu Haifa membuka lemari yang menggantung di dapur, di dalamnya banyak mie instant dan bahan makanan kering lainnya. Bi Nani menyiapkan semuanya dengan baik.
Haifa mengambil baskom lalu di isinya dengan beras. Ketika Haifa hendak membuka keran air, tiba-tiba….
“Kamu lagi apa, Haifa?” tegur Ibu Euis ketika melihat Haifa hendak mencuci beras.
“Haifa mau memasak nasi,” jawab Haifa.
“Nggak usah, biar Mamah yang memasak nasi.” Ibu Euis mengambil baskom dari tangan Haifa.
“Tapi, Mah….”
“Nggak usah tapi-tapi! Biar Mamah yang masak, kamu duduk saja,” kata Ibu Euis.
“Haifa juga ingin membantu Mamah masak,” kata Haifa.
“Jangan! Calon pengantin duduk saja yang manis,” kata Ibu Euis.
Haifa meninggalkan dapur sambil cemberut, kemudian ia duduk di sofa yang berada di depan televisi. Bi Ros keluar dari kamarnya dan melihat Haifa memencet remote televisi dengan wajah ditekuk. Bi Ros menghampiri Ibu Euis yang sedang mencuci beras.
“Haifa kenapa, Ceu?” tanya Bi Ros.
“Ngambek, karena tidak boleh masak,” jawab Ibu Euis.
“Oh….kirain marahnya kenapa,” kata Bi Ros.
Kemudian Bi Ros membantu Ibu Euis memasak untuk sarapan.
Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari layar laptop sambil menahan tawa. Dia adalah Wisnu. Wisnu sedang asyik memperhatikan kegiatan keluarga itu melalui CCTV yang terhubung ke laptop miliknya. Wisnu menahan tawanya ketika melihat Haifa yang kesal sambil menekan-nekan remote televisi.
“Haifa, remote tv nya jangan ditekan-tekan seperti itu! Nanti rusak,” tegur Pak Yayat.
Haifa menyimpan remote tv di meja.
“Bikinin kopi buat Bapak dan Mang Tedi, gih!” kata Pak Yayat.
Wajah Haifa langsung ceria.
“Iya.” Haifa langsung beranjak menuju dapur.
Haifa mencari cangkir di dalam lemari.
“Kamu lagi cari apa?” tanya Ibu Euis ketika melihat Haifa membuka lemari satu persatu.
“Lagi cari cangkir buat bikin kopi,” jawab Haifa sambil melihat isi lemari satu persatu.
“Nanti Mamah bikinkan. Sekarang kamu nonton tv aja.” Ibu Euis menggiring Haifa untuk kembali ke ruang tv.
Haifa kembali ke tempat duduknya sambil cemberut.
“Loh, mana kopinya?” tanya Pak Yayat melihat Haifa kembali tanpa membawa kopi.
“Haifa nggak boleh bikin kopi sama Mamah,” jawab Haifa.
“Mamah mah sama aja sama Mamah Deswita, tidak memperbolehkan Haifa melalukan apa-apa,” kata Haifa sambil cemberut.
Tak lama kemudian Ibu Euis membawa dua cangkir kopi.
“Haifa dilarang bekerja oleh Ibu Deswita. Beliau takut Haifa kenapa-kenapa,” kata Ibu Euis.
“Tapikan Mamah Deswita tidak ada di sini,” ujar Haifa.
“Kalau kamu lecet sedikit, Mamah yang dimarahin Ibu Deswita,” jawab Ibu Euis. Lalu Ibu Euis kembali ke dapur.
Pak Yayat menghela nafas.
“Sudah ikuti saja apa dikatakan calon mertuamu! Kamu ada kesempatan untuk beristirahat,” kata Pak Yayat.
“Tapi Haifa bosan, Pak,” jawab Haifa.
“Sabar, nanti kalau sudah menikah tidak akan bosan lagi,” kata Pak Yayat.
__ADS_1
“Mudah-mudahan, Pak,” kata Haifa.
Siang harinya Haifa menemani Dodi, Arif dan Alit berenang di kolam renang. Walaupun tidak boleh renang namun Haifa cukup terhibur melihat Dodi dan sepupu-sepupu berenang sambil bercanda.
****
H minus empat Ibu Deswita menelepon Haifa.
“Assalamualaikum, Haifa,” ucap Ibu Deswita.
“Waalaikumsalam, Mah,” jawab Haifa.
“Nanti malam kita makan malam di luar, ya! Kebetulan Wina dan Wira sudah datang, kita kumpul bareng-bareng,” kata Ibu Deswita.
“Keluarga Haifa kan belum kenal dengan adik-adiknya Wisnu,” kata Ibu Deswita.
“Nanti Pak Tono jemput setelah sholat magrib.”
“Iya, Mah,” jawab Haifa.
“Jangan lupa beritahu orang tua kamu!” pesan Ibu Deswita.
“Baik, Mah,” jawab Haifa.
“Udah, ya! Mamah cuma mau kasih tau itu saja. Assalamualaikum,” ucap Ibu Deswita.
“Waalaikumsalam,” balas Haifa.
Ibu Deswita menutup teleponnya.
Pukul setengah tujuh malam Haifa dan keluarganya sudah bersiap-siap untuk pergi makan malam. Mereka sedang menunggu Pak Tono menjemput mereka.
Assalamualaikum….
Terdengar suara bel berbunyi. Pak Yayat membuka pintu. Ternyata bukan Pak Tono yang datang namun seorang laki-laki yang wajahnya agak mirip dengan Wisnu yang berdiri di depan pintu
“Assalamualaikum,” ucap laki-laki itu.
“Waalaikumsalam,” balas Pak Yayat.
Pak Yayat menjabat tangan Wira.
“Saya Pak Yayat, Bapaknya Haifa,” kata Pak Yayat.
“Saya ditugaskan untuk menjemput Haifa dan keluarganya,” kata Wira.
“Loh? Pak Tononya kemana?” tanya Pak Yayat bingung.
“Tadi siang dia ijin pulang, karena ada keluarganya yang sakit,” jawab Wira.
“Oh….”
“Silahkan masuk Den Wira,” kata Pak Yayat.
“Terima kasih, Om.” Wira masuk ke dalam apartement.
“Haifa!” panggil Pak Yayat.
“Iya, Pak.” Haifa keluar dari kamarnya.
Haifa melihat laki-laki yang berdiri di sebelah Bapaknya. Sepertinya Haifa mengenal wajahnya. Laki-laki itu agak mirip dengan Wisnu.
“Loh? Mas Wira? Kok ada di sini?” tanya Haifa.
“Hai, Haifa,” sapa Wira.
“Hai,” balas Haifa.
Wira mengulurkan tangannya kepada Haifa. Namun Haifa membalasnya dengan menangkubkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.
“Oh…maaf,” ucap Wira seolah Wira mengerti mengapa Haifa membalasnya dengan demikian.
__ADS_1
“Pak, siapa yang datang?” tanya Ibu Euis ketika keluar dari kamarnya.
Ibu Euis tercengang melihat Wira.
“Ini siapa, Pak?” tanya Ibu Euis.
“Ini Den Wira, adik Den Wisnu,’ jawab Pak Yayat.
“Oh…” Ibu Euis menyalami Wira dengan salam ala orang Sunda.
Semua keluarga Haifa menghampiri Wira dan menyalami Wira.
“Sudah siap semuanya?” tanya Wira ketika melihat keluarga Haifa sudah bersiap-siap untuk berangkat.
“Sudah, Mas,” jawab Dodi dan Arif.
“Ayo kita berangkar sekarang,” ajak Wira.
Merekapun bersama-sama menuju ke tempat parkir mobil. Sesampai di tempat parkir Wira langsung menyalakan mobil dan membukakan pintu belakang. Semua keluarga Haifa masuk ke dalam mobil.
“Sudah masuk semua?” tanya Wira sambil menolehkan kepalanya ke belakang.
“Sudah,” jawab Dodi dan Arif.
Wira menoleh ke belakang jok supir. Ia melihat Dodi dan Arif duduk di bawah dan menghadap ke belakang.
“Kenapa duduk di bawah?” tanya Wira.
“Nggak muat, Mas. Jadi duduk di bawah aja sambil selonjoran,” jawab Dodi.
“Waktu dari Sumedang juga duduk di bawah?” tanya Wira.
“Waktu dari Sumedang cukup, Mas. Tapi karena ada Teteh jadinya nggak cukup,” jawab Dodi.
“Kalau nggak ada Teteh Haifa, kita nggak bisa naik mobil seperti ini dan tidak bisa ke Jakarta,” sahut Arif.
“Tuh, dengerin,” sahut Haifa sambil mencibir ke Dodi.
Wira turun dari mobil melihat keadaan di belakang.
“Kursinya penuh, ya?” tanya Wira.
“Iya, Mas,” jawab Dodi.
Wira berpikir sejenak.
“Kamu bisa nggak pangku dia ?” tanya Wira ke Haifa sambil menunjuk ke arah Alit.
“Siapa nama adik kamu?” tanya Wira kepada Arif.
“Alit,” jawab Arif.
“Kamu bisa nggak pangku Alit?” tanya Wira sekali lagi ke Haifa.
“Pasti bisa, Mas. Alit kan hampang.” Arif yang menjawab.
“Apa itu hampang?” tanya Wira ke Arif.
“Maksudnya ringan, Mas,” jawab Dodi.
“Oh…ringan,” ulang Wira.
“Bisakan?” tanya Wira ke Haifa untuk ketiga kalinya.
“Bisa, Mas,” jawab Haifa.
“Kalau bisa, kamu pindah ke depan sambil pangku Alit. Om pindah ke sini,” kata Wira.
“Dan kalian berdua duduk di belakang,” kata Wira.
“Nanti kamu dipangku Dodi,” kata Wira kepada Arif.
__ADS_1
“Atau terserah kalian berdua, deh. Asalkan kalian tidak boleh duduk di sini! Nanti kepala kalian pusing dan perut kalian mual. Dan kalian tidak bisa makan enak,” kata Wira.
Akhirnya Pak Yayat pindah ke belakang dan Haifa pindah ke depan, duduk di sebelah Wira sambil memangku Alit. Dodi dan Arif pindah ke kursi paling belakang bersama dengan Mang Tedi dan Bi Ros. Arif duduk di atas pangkuan Dodi. Setelah semua beres, Wira menutup pintu mobil dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan areal parkir.