Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
65. Kekacauan Kecil.


__ADS_3

Setelah Dodi pergi Pak Broto melanjutkan pembicaraannya.


“Kapan kalian akan menikah?” tanya Pak Broto kepada Wira dan Haifa.


“Wira maunya seminggu lagi, Pah,” jawab Wira.


“Mas!” Haifa melotot ke Wira.


Wira hanya tersenyum ketika diplototin Haifa.


“Kenapa mesti cepat-cepat?” tanya Pak Yayat.


“Supaya tidak ada yang merebut Haifa, Om,” jawab Wira.


“Kalian kan tinggal serumah. Siapa yang berani merebut Haifa? Sedangkan kamu selalu berada di dekat Haifa,” kata Pak Yayat.


“Banyak, Om. Salah satunya teman Wina yang bernama Fahri,” jawab Wira.


Pak Yayat diam sebentar sambil berpikir.


“Oh…. yang mengirim bunga untuk Haifa dan kado untuk Alifa?” tanya Pak Yayat.


“Iya, Om,” jawab Wira.


“Belum lagi temannya Haifa yang bernama Sya….Sya….” Wira tidak melanjutkan perkataannya karena ia lupa nama teman Haifa.


“Oh…Syaiful,” kata Pak yayat.


“Betul, Om,” jawab Wira.


“Kamu jangan takut dari dulu Haifa tidak menaruh perasaan apa-apa pada Syaiful,” kata Pak Yayat.


“Tapi dia terus berusaha mendekati Haifa,” ujar Wira.


Pak Yayat menghela nafas, calon menantunya ini benar-benar cemburuan.


“Maklumi saja, Ki. Orang kalau sudah jatuh cinta otaknya suka tumpul. Yang ada di kepalanya adalah bagaimana caranya bisa bersatu dengan pujaan hatinya,” kata Pak Broto.


“Saya mengerti, Kung. Tapi kalau seminggu lagi waktunya terlalu mepet,” kata Pak Yayat.


“Kalian mau menikah dimana?” tanya Pak Yayat.


“Di Bandung, Om. Biar tamu dari Sumedang tidak akan merasa kejauhan,” jawab Wira.


“Tapi Wira tetap menyediakan bis untuk mengangkut tamu dari Sumedang,” kata Wira.


“Om dan tante sekeluarga akan dijemput dengan mini bis beberapa hari sebelumnya. Om dan Tante akan ditempatkan di hotel,” kata Wira lagi.


“Bagaimana, Haifa? Apakah kamu setuju dengan rencana Wira?” tanya Pak Yayat.


“Haifa ikut apa kata Mas Wira,” jawab Haifa


“Alhamdullilah,” ucap Wira.

__ADS_1


“Tapi nikahnya jangan minggu depan, bulan depan aja,” kata Haifa.


“Dengerin tuh, Wira,” sahut Pak Broto.


“Iya, kita nikahnya bulan  depan saja,” kata Wira kepada Haifa.


“Alhamdullilah. Akhirnya semuanya setuju, Wira dan Haifa menikah bulan depan di Bandung,’ ucap Pak Broto.


*****


Setelah resmi melamar Haifa, setiap hari Wira menyuruh Haifa untuk mengantarkan makan siang ke kantor.


“Biar Bi Nani yang memasak makanannya. Kamu cukup mengantarkan ke kantor," kata Wira sebelum berangkat ke kantor.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


“Aku berangkat dulu, ya,” pamit Wira.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


“Alifa, Ayah kerja dulu,” kata Wira sambil mengusap kepala Alifa.


“Assalamualaikum,” ucap Wira.


“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.


Wira pun berangkat ke kantor.


Siang harinya setelah Bi Nani selesai memasak, Haifa pergi ke kantor untuk mengantar makanan untuk Pak Broto dan Wira. Haifa berjalan masuk ke dalam lobby sambil menggendong Alifa dan membawa rantang. Seperti biasa sebelum menuju ke pintu liff Haifa menyapa Ira. Namun Haifa tidak menyadari kalau ada seorang perempuan duduk di lobby kantor.


“Selamat siang, Bu Haifa,” balas Ira.


“Mau mengantarkan makanan, ya?” tanya Ira.


“Iya, Mbak,” jawab Haifa.


“Silahkan, Bu. Langsung saja ke ruangan Pak Broto dan Pak Wira,” kata Ira.


“Terima kasih,” ucap Haifa.


Haifa langsung berjalan menuju liff. Namun ketika hendak berjalan ada seorang perempuan memanggilnya.


“Hei, tunggu!”


Haifa membalikkan badannya. Perempuan itu mendekati Haifa.


“Kamu istrinya Wisnu, ya?” tanya perempuan itu.


“Iya. Mbak siapa, ya?” tanya Haifa.


“Saya Susan, kekasihnya Wira,” jawab perempuan itu.


“Ada apa, Mbak Susan?” tanya Haifa.

__ADS_1


“Saya peringatkan kamu jangan suka mengganggu Wira kekasih saya!!! Gara-gara kamu dan anakmu, Wira jadi mengacuhkan saya,” kseru Susan.


“Maksud, Mbak?” tanya Haifa sambil mengerut keningnya.


“Iya, gara-gara kamu Wira jadi sering menghindar dari saya. Alasannya ada saja. Mau mengantar anak kamu ke rumah sakitlah. Mau mengajakmu makan malamlah. Mau menjemput kalian ke Sumedanglah. Pokoknya semua gara-gara kamu dan anakmu itu!” seru Susan.


Haifa menarik nafas, mencoba bersabar.


“Kalau begitu saya dan anak saya minta maaf,” ucap Haifa.


“Minta maaf saja tidak cukup. Kamu sekarang harus mengantarkan saya ke ruangan Wira,” kata Susan.


Haifa melihat Ira berdiri di belakang Susan sambil menyilangkan tangannya di atas kepalanya. Seolah Susan dilarang masuk ke kantor itu.


“Sebentar ya, Mbak Susan. Saya harus menelepon Mas Wira. Saya tidak bisa memberi ijin Mbak Susan masuk begitu saja ke kantor ini. Setiap tamu yang datang harus dapat ijin dari pemilik perusahaan,” kata Haifa.


Haifa menyimpan rantangnya di atas meja resepsionis. Lalu mengambil ponselnya dari dalam tas. Ketika Haifa hendak menele[on Wira, Ira langsung mendekati Haifa.


“Bu, jangan telepon Pak Wira. Kalau Ibu telepon Pak Wira, saya bisa dipecat,” kata Ira dengan memohon.


Haifa mengerut keningnya.


“Maksud Mbak Ira apa?” tanya Haifa dengan tidak mengerti.


“Pak Wira sudah lama, melarang teman-teman perempuannya masuk ke dalam kantor. Kalau tidak saya dan Mbak Rita akan dipecat,” kata Ira.


“Sampai segitunya Mas Wira melarang mereka masuk?” tanya Haifa.


“Iya, Bu. Kalau Pak Wira tau ada teman-teman perempuannya di kantor, saya dan Mbak Rita akan dipecat,” jawab Ira.


Haifa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


“Maaf, Mbak Susan. Saya tidak bisa membawa Mbak Susan ke ruangan Mas Wira. Nanti Ira dan Rita dipecat oleh Mas Wira,” kata Haifa.


“Itu cuma gertak sambel Wira aja,” ujar Susan.


“Mbak Susan saja yang telepon Mas Wira, biar Mas Wira untuk menjemput Mbak Susan di lobby,” kata Haifa.


“Saya permisi dulu. Saya sudah ditunggu Papah dan Mas Wira.”


Haifa membawa rantang lalu berjalan menuju liff. Susan cepat-cepat mengikuti Haifa, namun dengan sigap Ira menghalang-halangi Susan supaya tidak mengikuti Haifa. Namun cepat-cepat Susan menginjak sepatu Ira dengan hak sepatunya. Ira merasa kesakitan. Susan langsung berlari menuju liff. Untung liff yang dinaiki oleh Haifa sudah naik ke atas.


“Silahkan saja Mbak masuk ke dalam liff. Saya akan panggilkan teknisi untuk mematikan liffnya biar Mbak terjebak di dalam liff,” seru Ira.


Mendengar perkataan Ira, Susan langsung berhenti tidak jadi masuk ke dalam liff. Susan mendekati Ira.


“Berani kamu sama saya! Kalau saya jadi menikah dengan Wira, kamu yang pertama saya pecat,” seru Susan.


“Kalau Mbak Susan menikah dengan Pak Wira, saya akan mengundurkan diri. Karena kantor ini pasti tidak akan tenang lagi. Setiap harinya pasti diwarnai oleh pertengkaran Pak Wira dengan Mbak Susan,” kata Ira.


“Kamu! Awas kamu, ya! Berani kamu melawan saya,” seru Susan.


“Lebih baik Mbak pergi saja. Sebelum Pak Wira mengetahui Mbak ada di sini. Mbak bakalan diusir dengan tidak hormat. Mbak sendiri yang akan malu,” kata Ira.

__ADS_1


“Awas kamu! Saya adukan kamu ke Wira,” seru Susan.


Kemudian Susan pergi meninggalkan kantor Wira. Ira langsung duduk di kursi kerjanya sambil bernafas lega.


__ADS_2