Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
44. Teman-Teman Wina.


__ADS_3

Wira turun dari lantai atas sambil membawa koper. Di ruang keluarga, keluarganya sudah berkumpul untuk melepas kepergiannya.


“Selesaikan baik-baik semua urusanmu,” kata Pak Broto kepada Wira.


“Iya, Pah,” jawab Wira.


Wira mencium tangan Pak Broto, kemudian Wira mendekati Ibu Deswita.


“Mamah tunggu kepulanganmu,” kata Ibu Deswita.


“Iya, Mah,” jawab Wira.


Wira mencium tangan Ibu Deswita. Lalu Wira menghampiri Haifa.


“Baby, jangan nakal! Jangan menyusahkan Mamah! Jaga Mamah baik-baik! Om berangkat kerja dulu, ya,” kata Wira kepada bayi di dalam kandungan Haifa.


“Aku pergi dulu. Jaga diri baik-baik! Kalau ada apa-apa telepon, ya!” kata Wira kepada Haifa.


“Ya, Mas,” jawab Haifa.


“Hari ini Wina pulang. Dia libur panjang. Kamu tidak akan kesepian lagi,” kata Wira.


“Iya, Mas.”


Lalu Wira menghampiri Ibu Euis.


“Tante, Wira pergi dulu, ya,” pamit Wira.


“Hati-hati di jalan,” kata Ibu Euis.


Wira menyalami Ibu Euis.


Kemudian Wira menarik kopernya menuju ke depan rumahnya. Di depan rumah sudah ada Pak Tono yang siap mengantar Wira ke bandara. Dengan sigap Pak Tono mengambil koper Wira dan dimasukkan ke dalam bagasi.


“Assalamualaikum,” ucap Wira sebelum masuk ke dalam mobil.


“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.


Wira masuk ke dalam mobil, lalu mobilpun melaju meninggalkan rumah Pak Broto.


****


Keesokan paginya rumah menjadi heboh karena kedatangan Wina. Wina baru datang kemarin malam ketika orang-orang sudah tidur lelap. Ibu Deswita dan Wina saling berpelukan. Ibu Deswita menangisi Wisnu.


“Wina,  Wisnu pergi meninggalkan Mamah,” kata Ibu Deswita sambil menangis.


“Sudahlah, Mah. Ikhlaskan Mas Wisnu. Dia sudah tenang di sana,” kata Wina sambil mengusap punggung Mamahnya.


“Kasihan Wisnu, dia tidak bisa melihat anaknya,” kata Ibu Deswita.


Ibu Deswita melepas pelukannya.


“Cucu Mamah sekarang sudah besar dan dalam keadaan sehat. Kemarin Mamah dan Tante Euis lihat cucu Mamah waktu diUSG,” kata Ibu Deswita.


Wina tersenyum, Mamahnya langsung berhenti menangis ketika menceritakan keadaan cucunya.


Haifa datang dan menghampiri Wina, Wina langsung memeluk Haifa. Namun Wina langsung melepaskan pelukkannya karena ia merasa ada yang menendang perutnya.


“Apa itu?” Tanya Wina kaget.


Haifa tersenyum.


“Ada yang kangen sama tantenya,” jawab Haifa sambil mengusap perutnya yang sudah membesar.


“Oh….Baby sudah pintar menendang, ya!” Kata Wina.


Wina mengusap perut Haifa.

__ADS_1


“Apa kabar, Baby? Tante kangen sama Baby,” sapa Wina.


Bayi di dalam perut Haifa menjawab dengan sebuah tendangan.


“Aduh…kamu nendang Tante terus, ya,” kata Wina.


“Baby senang karena Tantenya yang cerewet pulang,” kata Haifa sambil tersenyum.


“Oh…kangen sama Tante, ya,” kata Wina sambil mengusap perut Haifa.


“Haifa, nanti siang teman-teman Wina mau ke sini. Mereka mau melayat,” kata Wina.


“Berapa orang yang mau datang?” Tanya Haifa.


“Nggak banyak. Cuma tiga orang,” jawab Wina.


“Nanti Haifa siapkan untuk menjamunya,” kata Haifa.


“Nggak usah repot-repot! Kan mereka ke sini hanya untuk melayat,” kata Wina.


“Nggak enak kalau ada tamu tidak dijamu apa-apa. Haifa akan menyuruh Mbak Iroh membeli kue,” kata Haifa.


****


Pukul sebelas siang teman-teman Wina pun datang. Untung Haifa sudah menyiapkan semuanya untuk menjamu tamu Wina. Teman-teman Wina akan diajak makan siang bersama.


“Haifa, sini. Teman-teman Wina mau bertemu denganmu,” kata Wina yang menghampiri Haifa di ruang makan.


Wina menarik tangan Haifa dan membawanya ke ruang tamu. Teman-teman Wina sedang bercakap-cakap dengan Ibu Deswita.


“Kenalkan ini istri almarhum Mas Wisnu. Namanya Haifa,” kata Wina kepada teman-temannya.


“Ini namanya Asri.” Wina menunjuk ke teman perempuannya.


Haifa menyalami Asri dengan salaman ala orang sunda.


“Dan ini namanya Fahri,” Wina menunjuk ke temannya yang berparas tampan yang berdiri di sebelah Fikri.


“Tante ke dalam dulu, ya. Kalian ngobrol saja sama Haifa dan Wina,” kata Ibu Deswita.


“Iya, Tante,” jawab teman-teman Wina.


Haifa duduk di sebelah Wina.


“Haifa masih muda sekali,” kata Asri.


“Iya. Ketika menikah dengan Mas Wisnu, Haifa baru tamat SMA,” kata Wina.


“Lebih pantes jadi adiknya Wina,” sahut Fikri.


“Biarin, dia memang adikku,” kata Wina sambil mengusap punggung Haifa.


Tiba-tiba Iroh datang.


“Non, makan siangnya sudah siap,” kata Iroh.


Haifa langsung berdiri.


“Mbak Mas-Mas, ayo makan siang dulu,” ajak Haifa.


“Aduh, kita jadi ngerepotin Haifa,” kata Asri.


“Nggak kok, Mbak,” kata Haifa.


“Ayo Mbak, kita makan,” kata Haifa.


Haifa masuk ke dalam rumah, sedangkan Wina mengajak teman-temannya makan. Haifa mengecek lagi hidangan yang di sediakan.

__ADS_1


Tak lama kemudian Wina datang bersama dengan teman-temannya. Mereka duduk di meja makan. Haifa tidak ikut makan bersama dengan teman-temannya Wina. Haifa memilih bergadung dengan Ibu Deswita dan Ibu Euis yang sedang menonton di ruang keluarga.


“Wina, Haifa tidak ikut makan dengan kita?” Tanya Fahri.


“Dia harus jajan dulu, baru mau makan nasi,” jawab Wina.


Wina melihat Bi Iyah masuk dari garasi menuju ke ruang keluarga sambil membawa kantong plastik.


“Tuh! Jajanannya sudah datang.” Wina menunjuk ke arah Bi Iyah.


Semuanya menengok ke Bi Iyah.


“Haifa setiap hari jajan?” Tanya Fahri.


“Iya, semenjak hamil dia jadi suka jajan,” jawab Wina.


“Nggak dilarang? Nanti sakit kebanyakan jajan,” kata Fahri.


“Orang hamil itu beda, Fahri! Kalau dilarang dia malah nggak mau makan sama sekali,” kata Asri.


“Tuh! Betul kata Asri,” ujar Wina.


“Ntar kalau kamu udah punya istri baru tahu, betapa membingungkannya wanita kalau sedang hamil,” kata Asri.


“Dengerin tuh! Kata Asri,” ujar Wina.


Tiba-tiba Haifa melewati meja makan sambil membawa kantong plastik.


“Apa itu Haifa?” Wina menunjuk kantong plastik yang dibawa oleh Haifa.


“Baso, Mbak. Mbak mau?” Tanya Haifa.


“Nggak. Buat kamu aja,” jawab Wina.


Haifapun masuk ke dapur dan tak lamapun Haifa kembali sambil membawa mangkok berisi baso.


“Haifa, makannya bareng dong di sini,” ajak Asri.


“Nggak ah. Makannya sama Mamah aja.” Haifa menunjuk ke ruang keluarga.


“Makannya di sini saja. Duduk sini.” Fahri menunjuk ke kursi kosong yang berada di sebelahnya.


Mau tidak mau akhirnya Haifa ikut bergabung makan bersama dengan Wina dan teman-temannya.


“Mbak coba kuahnya, ya.”


Wina mengambil kuah baso dari mangkok Haifa lalu menyicipinya.


“Pedes sekali.” Wina langsung meneguk air minum.


“Berapa sendok sambelnya?” tanya Wina.


“Tiga sendok makan,” jawab Haifa dengan tenang.


“Ya ampun, Haifa…..Kamu nggak kira-kira kasih sambelnya,” ujar Wina.


“Habis enak sih, Mbak,” jawab Haifa.


“Kata kamu enak, tapi kasihan bayinya. Lain kali dikurangi sambelnya,” kata Wina yang masih kepedasan.


“Iya, Mbak,” jawab Haifa.


Akhirnya merekapun makan bersama-sama. Fahri mengunyah makanannya sambil sesekali memperhatikan Haifa yang sedang makan bakso.


Haifa cantik sekali. Tapi kasihan masih muda sudah menjadi janda, bisik Fahri di dalam hati.


Wina melihat Fahri yang sedang memperhatikan Haifa.

__ADS_1


Mudah-mudahan Haifa mendapatkan pengganti Mas Wisnu, kata Wina di dalam hati.


__ADS_2