Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
56. Pergi Ke Sumedang.


__ADS_3

Sejak kejadian malam itu Haifa berusaha menghindari Wira. Pagi ini Haifa sarapan lebih dahulu, ia menghindari untuk makan bersama dengan Wira. Kebetulan kalau weekend Wira suka lari pagi.


“Tumben pagi-pagi sekali sudah sarapannya,” tegur Bi Nani sambil menghindangkan sarapan.


“Haifa sudah lapar sekali, Bi,” jawab Haifa yang sedang mengunyah makanan.


“Memang ibu menyusui bawaannya lapar terus,” kata Bi Nani.


“Oh iya, Haifa. Besok Bibi mau pulang ke Sumedang, kamu mau menitip sesuatu?” tanya Bi Nani.


Haifa berpikir sejenak. Sepertinya Haifa punya jalan untuk menjauh dari Wira.


“Haifa mau ikut ke Sumedang. Haifa sudah lama tidak Sumedang,” jawab Haifa.


“Boleh ikut. Tapi harus ijin dulu dengan mertuamu,” kata Bi Nani.


“Iya, Bi. Nanti Haifa minta ijin dulu sama Mamah dan Papah,” jawab Haifa.


Siang harinya ketika Wira sedang tidak ada di rumah, Haifa punya kesempatan untuk berbicara dengan Ibu Deswita dan Pak Broto. Haifa menghampiri mertuanya di ruang keluarga.


“Mah, Haifa minta ijin mau ikut dengan Bi Nani ke Sumedang,” kata Haifa.


“Kamu mau ngapai ke sana?” tanya Ibu Deswita dengan penuh sidik.


“Sudahlah, Mah. Ijinkan saja Haifa ke Sumedang. Mungkin dia sudah kangen dengan kampung halamannya dan teman-temannya,” kata Pak Broto.


Ibu Deswita menghela nafas.


“Iya, boleh. Tapi Mang Diman biasanya bawa mobil MPV biasa. Kasihan Alifa kalau naik mobil itu karena kurang nyaman. Kalau naik mobilmu atau mobil Wisnu tidak akan muat untuk kalian bertujuh,” jawab Ibu Deswita.


“Gampang, pakai mobil MPV premium saja kan muat untuk tujuh orang. Lagi pula Mang Diman yang menyetir. Jadi Mamah tidak usah khawatir,” sahut Pak Broto.


“Kapan kalian berangkatnya?” tanya Ibu Deswita.


“Besok subuh, Mah,” jawab Haifa.


“Jaga diri baik-baik selama di sana. Hindari hal-hal yang akan mengakibatkan orang lain salah paham,” nasehat Ibu Deswita.

__ADS_1


“Iya, Mah. Haifa mengerti,” jawab Haifa.


“Ya sudah, kamu siap-siapkan barang-barangmu. Mamah mau beli oleh-oleh untuk orang tuamu,” kata Ibu Deswita.


“Ayo, Pah. Antarin Mamah beli oleh-oleh untuk besan,” ajak Ibu Deswita.


“Iya,” jawab Pak Broto.


Ibu Deswita dan Pak Broto beranjak menuju kamar mereka.


“Alhamdullilah. Mamah mengijinkan,” ucap Haifa.


“Sekarang lebih baik aku siap-siap dulu,” kata Haifa kepada dirinya sendiri.


*****


Keesokan harinya setelah sholat subuh Mang Diman dan Bi Nani beserta anak-anaknya sudah datang di kediaman Pak Broto. Ketika mereka sedang memasukkan barang-barang mereka ke mobil, datanglah Pak Broto dan Wira yang baru pulang dari masjid.


“Wah, sudah pada siap nih,” kata Pak Broto ketika melihat Suci dan Teguh.


Suci dan Teguh langsung mencium tangan Pak Broto dan tangan Wira. Sri datang sambil membawa tas travel milik Haifa dan milik Alifa lalu diberikan ke Mang Diman untuk dimasukkan ke dalam mobil. Wira diam ketika melihat tas Haifa dan tas Alifa masuk ke dalam mobil.


Tak lama kemudian Haifa keluar bersama dengan Ibu Deswita yang menggendong Alifa.


“Mas, Haifa pergi dulu,” pamit Haifa kepada Wira.


“Hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa telepon aku,” kata Wira.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


“Pah, Haifa berangkat. Assalamualaikum,” ucap Haifa lalu mencium tangan Pak Broto.


“Waalaikumsalam,” jawab Pak Broto.


“Alifa, nanti kalau Uti kangen bagaimana?” tanya Ibu Deswita lalu mencium pipi Alifa.


“Bukan cuma Uti yang kangen, Eninnya juga kangen sama Alifa. Biar dia ketemu sama Enin dan Akinya dulu,” sahut Pak Broto.

__ADS_1


Ibu Deswita cemberut mendengat perkataan Pak Broto.


“Papah tidak mengerti perasaan Mamah,” kata Ibu Deswita sambil cemberut.


Ibu Deswita memberikan Alifa ke pada Haifa.


“Haifa pergi dulu, Mah. Assalamualaikum,” ucap Haifa lalu mencium tangan Ibu Deswita.


“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan,” jawab Ibu Deswita.


“Iya, Mah,” kata Haifa.


Kemudian Haifa masuk ke dalam mobil dan pintu mobilpun tertutup secara otomatis. Mobil MPV premium itu pun meninggalkan kediaman Pak Broto.


Wira memandangi terus mobil yang membawa Haifa pergi. Pak Broto menepuk bahu Wira.


“Sudah, kasih dia waktu untuk berpikir. Jangan terlalu kau paksa semaumu,” kata Pak Broto.


“Ayo masuk! Kita sarapan, Papah sudah lapar,” ajak Pak Broto.


Pak Broto pun masuk ke dalam rumah. Wira menoleh ke Papahnya.


Darimana Papah tau? tanya Wira di dalam hati.


Selama di perjalanan Haifa lebih banyak diam, ia seperti tidak antusias pulang ke kampung halamannya. Padahal ia sudah lama sekali tidak ke Sumedang. Haifa menepuk-nepuk kaki Alifa yang tertidur di dalam pelukannya.


Tiba-tiba terdengar suara pesan masuk di ponselnya. Haifa membuka ponselnya.


Mas Wira:


Mengapa kamu tiba-tiba pergi? Kamu mau menghindariku?


Haifa menghela nafas. Ia tidak membalas pesan dari Wira. Ia masukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


“Pesan dari siapa?” tanya Bi Nani.


“Bukan pesan dari siapa-siapa, Bi. Cuma iklan dari provider,” jawab Haifa.

__ADS_1


Haifa menempelkan kepalanya ke kaca mobil lalu memejamkan matanya. Bi Nani menatap Haifa dengan penuh sidik.


Apa dia sedang ada masalah sehingga ia mau ikut ke Sumedang? tanya Bi Nani di dalam hati.


__ADS_2