Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
15. Ibu Euis sakit


__ADS_3

Haifa sibuk berkutat di dapur sedang menyiapkan makan malam. Tiba-tiba Bi Siti menghampiri Haifa.


“Haifa, hp kamu dari tadi bunyi terus tuh di kamar,” kata Bi Siti.


Haifa menoleh kea rah Bi Siti.


“Biarkan saja, Bi. Paling juga teman-teman Haifa yang menelepon,” jawab Haifa yang masih sibuk memanaskan makanan.


“Dijawab dulu teleponnya. Siapa tau penting. Karena dari tadi bunyi terus tidak berhenti,” kata Bi Siti.


Haifa menghela nafas panjang.


Siapa sih yang iseng jam segini menelepon? Sudah tau aku lagi sibuk, gerutu Haifa di dalam hati.


“Kalau begitu Haifa titip ya, Bi. Haifa mau ke kamar dulu,” kata Haifa.


“Iya,” jawab Bi Siti.


Haifa meninggalkan masakannya agar diteruskan oleh Bi Siti. Kemudian Haifa kembali ke kamar untuk mengangkat telefon yang terus menerus berdering.


Ketika Haifa kembali ke kamarnya Ibu Deswita masuk ke dapur.


“Loh, Haifa mana?” tanya Ibu Deswita kepada Bi Siti yang sedang memanaskan sayur.


“Anu, Bu. Haifa sedang ke kamar karena dari tadi hp nya terus saja berdering,” jawab Bi Siti.


“Oh..ya sudah. Nanti kalau sudah beres masaknya tolong bawa makanannya ke meja makan, ya!” kata Ibu Deswita.


“Baik, Bu,” jawab Bi Siti.


.


.


Haifa masuk ke dalam kamarnya dengan terburu-buru. Benar saja kata Bi Siti ponsel Haifa teru menerus berdering. Di layar ponselnya nampak tertulis nama Dody adiknya. Cepat-cepat Haifa menjawab teleponnya.


“Assalamualaikum,” ucap Haifa.


“Waalaikumsalam,” jawab Dodi.


“Teteh lama sekali sih angkat teleponnya,” kata Dodi.


“Teteh lagi masak untuk makan malam majikan Teteh. Ada apa kamu telepon Teteh?” tanya Haifa.


“Mamah darah rendahnya kambuh lagi,” jawab Dodi.


“Mana Mamahnya? Kasihkan teleponnya ke Mamah, Teteh mau bicara sama Mamah,” kata Haifa.


“Mah….nih Teteh mau ngomong. "


Terdengar suara Dodi memanggil Mamahnya.


“Assalamualaikum.” Terdengar suara Ibu Euis yang lemas.


“Waalaikumsalam. Mamah kenapa?” tanya Haifa dengan khawatir karena suara Ibu Euis terdengar lemas sekali.


“Mamah tidak apa-apa. Mamah hanya kecapean saja,” jawab Ibu Euis.


“Mamah sudah minum vitamin, belum?” tanya Haifa.


“Sudah. Tadi siang Mamah ke puskesmas, sama dokter Mamah dikasih vitamin penambah darah dan disuruh  istirahat,” jawab Ibu Euis.

__ADS_1


“Nanti Haifa minta ijin ke Ibu Deswita untuk pulang ke rumah. Siapa tau diijinkan,” kata Haifa.


“Nggak usah, Mamah tidak apa-apa. Mamah khawatir kalau kamu pulang ke Sumedang sendiri. Pulangnya nanti saja bareng sama Bi Nani,” kata Ibu Euis.


“Haifa sudah besar, Mah. Haifa bisa pulang sendiri. Nanti Haifa tanya ke Bi Nani kendaraan umum yang ke Sumedang,” kata Haifa.


“Sekarang Haifa minta ijin dulu ke Ibu Deswita. Mudah-mudahan diijinkan untuk pulang,” kata Haifa.


“Tapi Mah, Haifa belum bisa kasih Mamah uang. Haifa kan baru kerja beberapa hari, jadi belum digaji,” kata Haifa.


“Iya, nggak apa-apa,” jawab Ibu Euis.


“Sudah dulu, ya Mah. Haifa masih ada pekerjaan. Assalamualaikum,” ucap Haifa.


“Waalaikumsalam,” balas Ibu Euis.


Haifa menutup teleponnya dan kembali ke dapur. Ketika Haifa keluar dari kamarnya, Haifa melihat Wisnu sedang berdiri di depan pintu dapur. Haifa bergesas turun dan menghampiri Wisnu.


“Mas Wisnu,” sapa Haifa.


“Telepon dari siapa, Fa?” tanya Wisnu dengan penuh sidik.


“Dari Dodi, Mas,” jawab Haifa.


“Kata Dodi, tekanan darah Mamah turun. Dodi menyuruh Haifa pulang. Padahal kata Mamah nggak usah pulang ke Sumedang, Mamah tidak apa-apa,” kata Haifa.


Haifa masuk ke dapur dan menghampiri Bi Siti yang sedang mencuci peralatan masak.


“Biar saya teruskan mencuci peralatannya,” kata Haifa kepada Bi Siti.


Kemudian Bi Siti menghentikan mencucinya dan keluar dari dapur memberi luang Haifa dan Wisnu berbicara.


Wisnu berdiri di samping Haifa dan memperhatikan Haifa yang sedang mencuci peralatan masak.


“Kata Mamah sudah ke puskesmas dan sudah diberi vitamin oleh dokter,” jawab Haifa sambil mencuci peralatan.


“Kamu mau pulang?” tanya Wisnu.


“Kalau diijinkan sama Ibu, saya akan pulang. Tapi kalau tidak juga tidak apa-apa,” jawab Haifa sambil menggosok wajan dengan sabun.


“Saya ijinkan kamu pulang. Nanti saya antar. Kapan kamu pulang?” tanya Wisnu.


Haifa langsung kaget mendengar perkataan Wisnu. Haifa menoleh ke Wisnu.


“Eh…nggak usah diantar, Mas. Saya bisa pulang sendiri, kok, " kata Haifa sambil mematikan keran air dan menghentikan mencuci peralatan.


“Kalau kamu tidak mau diantar, kamu tidak boleh pulang!” kata Wisnu sambil menatap Haifa dengan tajam.


“Kok gitu sih, Mas?” yanya Haifa kaget.


“Saya takut ada apa-apa di jalan. Kamu kan belum pernah naik bis sendirian ke Sumedang,” jawab Wisnu.


“Tapi nanti jadi merepotkan Mas Wisnu,” kata Haifa.


“Tidak apa-apa. Saya sekalian jalan-jalan ke Sumedang,” jawab Wisnu.


“Kapan kamu pergi ke Sumedang?” tanya Wisnu.


“Besok pagi, Mas,” jawab Haifa.


“Kalau begitu saya hubungi Pak Tono, agar ia bersiap-siap untuk menyetir ke luar kota,” kata Wisnu.

__ADS_1


“Saya makan dulu. Kamu kalau sudah selesai kerjanya, langsung makan, ya!” kata Wisnu.


"Iya, Mas," jawab Haifa.


Kemudian Wisnu masuk ke dalam rumah dan Haifa melanjutkan pekerjaannya.


*****


Pagi-pagi sekali seperti biasa Haifa berkutat di dapur membantu Bi Nani menyiapkan sarapan pagi. Ketika Bi Nani datang ia langsung menghampiri Haifa.


“Semalam Mamahmu menelepon, katanya kamu mau pulang ke Sumadang. Apa betul?” tanya Bi Nani.


“Iya, Bi. Tekanan darah Mamah sedang turun,” jawab Haifa sambil mengupas bawang.


“Tapi Bibi khawatir kalau kamu pergi sendiri,” kata Bi Nani.


“Haifa diantar Mas Wisnu, Bi,” jawab Haifa.


Bi Nani langsung kaget mendengarnya.


“Den Wisnu mau mengantar kamu?” tanya Bi Nani dengan tidak percaya


“Iya, Bi. Malah Haifa tidak boleh pulang kalau tidak diantar Mas Wisnu,” jawab Haifa.


“Kamu sudah minta ijin ke Ibu Deswita?” tanya Bi Nani.


“Sudah, Bi,” jawab Haifa.


Kemarin malam Haifa meminta ijin kepada Ibu Deswita setelah Ibu Deswita selesai makan malam.


“Ibu Deswita tau kalau kamu diantar Den Wisnu?” tanya Bi Nani.


“Tau. Katanya Mas Wisnu yang bilang ke Mamahnya,” jawab Haifa.


“Ya sudah. Biar Bibi yang teruskan pekerjaannya. Kamu mandi dulu, terus langsung sarapan,” kata Bi Nani.


“Iya, Bi.”


Haifa pun meninggalkan dapur menuju ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap. Setelah selesai Haifa kembali lagi untuk sarapan di dapur. Di meja dapur sudah tersedia sepiring nasi goreng dan segelas teh manis yang Bi Nani siapkan untuk Haifa. Haifa langsung memakan sarapannya. Ketika Haifa sedang makan Wisnu masuk ke dalam dapur.


Wisnu tersenyum ketika melihat Haifa sedang makan. Sengaja ia ke dapur untuk mengecek apakah Haifa sudah makan atau belum.


“Habiskan sarapannya!” kata Wisnu ketika melihat Haifa sedang makan.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


“Mas Wisnu sudah sarapan?” tanya Haifa.


“Ini baru mau sarapan,” jawab Wisnu.


“Bi Nani, Pak Tono sudah dikasih sarapan?” tanya Wisnu kepada Bi Nani.


“Sudah, Den. Pak Tono lagi makan di pos penjaga,” jawab Bi Nani.


“Baguslah,” kata Wisnu.


Lalu Wisnu beralih ke Haifa.


“Kamu sudah bereskan barang-barangmu?” tanya Wisnu.


“Sudah, Mas,” jawab Haifa.

__ADS_1


“Kalau begitu saya sarapan dulu. Setelah itu baru kita berangkat,” kata Wisnu lalu masuk ke dalam rumah.


__ADS_2