
Haifa berjalan menuju ke rumahnya. Haifa baru saja pulang dari rumah Bi Ros untuk menggantikan uang Bi Ros yang telah terpakai untuk memasak buat Wisnu. Tiba-tiba ada sebuah motor berhenti di seberang jalan dan pengemudi motor tersebut memanggil namanya.
“Haifa!”
Haifa menoleh ke arah pengemudi motor itu. Pengemudi itu tersenyum kepada Haifa.
“Eh…Aa Syaiful,” kata Haifa.
“Kapan datang?” tanya Syaiful.
“Tadi siang, A,” jawab Haifa namun suara Haifa tidak terdengar oleh Syaiful.
“Haifa sini dong! Jangan jauh-jauh, Aa tidak ke dengaran,” kata Syaiful.
Haifa menengok ke kanan dan ke kiri hendak menyeberang. Setelah dirasakan aman Haifa langsung menyebrang menghampiri Syaiful. Syaiful membuka helmnya agar bisa melihat Haifa dengan jelas.
“Kapan datang?” tanya Syaiful sekali lagi.
“Tadi siang, a,” jawab Haifa.
“Pulangnya sendiri? Kenapa nggak bilang ke Aa, biar Aa jemput ke Jakarta,” kata Syaiful.
“Pulangnya diantarin kok. Lagipula pulangnya mendadak karena Mamah darah rendahnya kambuh,” jawab Haifa.
“Diantar siapa?” tanya Syaiful sambil mengerut kening.
“Diantar Mas Wisnu,” jawab Haifa.
“Dari Jakarta ke Sumedang kalian hanya berdua saja?” tanya Syaiful dengan curiga.
“Nggak berdua, kok. Bertiga dengan Pak Tono supir Mas Wisnu,” jawab Haifa.
“Oh..”
“Sudah, ya A. Sudah mau magrib,” kata Haifa.
“Eh..tunngu dulu! Kapan-kapan kita jalan, ya?” kata Syaiful.
Haifa diam sebentar. Haifa mencari cara untuk menolak ajakan Syaiful dengan cara halus.
“Maaf A, Haifa tidak bisa. Haifa harus menjaga Mamah,” kata Haifa.
“Kita perginya kalau Dodi dan Bapakmu sudah pulang,” kata Syaiful.
“Tidak bisa, A. Haifa tidak boleh pergi malam-malam,” jawab Haifa.
“Atau kita pergi hari sabtu. Kebetulan hari sabtu besok Aa sedang off, jadi kita bisa pergi nonton,” kata Syaiful.
Haifa menghela nafas.
“Lihat nanti, ya A. Haifa tidak bisa janji,” jawab Haifa.
“Oke, nanti Aa hubungi Haifa lagi,” kata Syaiful.
“Aa pulang, ya. Assalamualaikum,” ucap Syaiful.
“Waalaikumsalam.”
Syaiful mengendarai motornya dan meninggalkan Haifa. Haifa langsung menuju ke rumahnya.
****
Haifa melipat mukenahnya setelah selesai sholat isya, sambil melirik ke ponselnya yang tergeletak di atas meja. Belum ada notifikasi pesan yang masuk.
“Kenapa Mas Wisnu belum mengasih kabar, ya?” tanya Haifa pada dirinya sendiri.
Haifa merasa khawatir belum ada kabar dari Wisnu. Ia takut terjadi sesuatu pada Wisnu.
__ADS_1
“Astagfirullahaladzim,” ucap Haifa sambil mengusap wajahnya.
“Semoga tidak terjadi sesuatu,” kata Haifa.
Haifa melanjutkan melipat mukenahnya kemudian menyimpannya di bawa meja. Tiba-tiba terdengar suara nada panggilan masuk dari ponselnya. Dengan cepat Haifa mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dilayar ponsel tertulis Mas Wisnu.
“Alhamdullilah akhirnya nelepon juga,” kata Haifa pada dirinya sendiri.
Haifa menjawab panggilan Wisnu.
“Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Waalaikumsalam,” ucap Wisnu.
“Lagi apa?” tanya Wisnu.
“Baru selesai sholat,” jawab Haifa.
“Sudah makan belum?” tanya Wisnu.
“Belum baru mau makan,” jawab Haifa.
“Mas, sekarang dimana?” tanya Haifa.
“Sudah sampai di rumah. Ini baru selesai sholat isya,” jawab Wisnu.
“Sampai di rumah jam berapa?” tanya Haifa.
“Pas adzan magrib,” jawab Wisnu.
“Syukurlah kalau sudah sampai,” kata Haifa.
“Sekarang kamu makan. Saya juga mau makan sudah lapar,” kata Wisnu.
“Sekalian bilang ke Bi Ros kacang rebus dan ketimusnya enak. Sudah habis dimakan berdua dengan Pak Tono,” kata Wisnu.
“Kamu makan, ya. Assalamualaikum,” ucap Wisnu mengakhiri pembicaraannya.
“Waalaikumsalam,” ucap Haifa.
Haifa menyimpan ponselnya di atas meja lalu ia keluar dari kamarnya untuk makan malam
*****
Hari terus berlalu tak terasa sekarang hari Sabtu. Kesehatan Ibu Euis sudah mulai membaik. Haifa berencana untuk kembali ke Jakarta. Tadi malam Bi Nani menelepon Ibu Euis untuk menanyakan keadaan Ibu Euis. Haifa bilang ke Bi Nani kalau ia hendak kembali ke Jakarta karena kesehatan Mamanya sudah membaik. Namun Bi Nani melarang Haifa pergi sendiri, disuruh menunggu sampai dijemput. Haifa tidak ingin merepotkan Bi Nani dan Wisnu, ia bisa berangkat sendiri. Ia akan cari tahu bis dan travel yang menuju ke Jakarta.
Seperti biasa dari pagi Haifa sibuk berkutat di dapur. Mencuci baju dan memasak. Biasanya kalau hari sabtu Bapaknya kerja hanya setengah hari dan Dodi libur sekolahnya, jadi Haifa memasak agak banyak untuk keluarganya.
Ketika Haifa sedang mencuci sayuran terdengar suara Dodi yang memanggil Mamahnya dengan kencang.
“Mamah, ada Mang Diman,” teriak Dodi.
Haifa langsung menghentikan pekerjaannya.
Mang Diman? Kok ke sini? Tadi malam Bi Nani tidak bilang kalau Mang Diman akan ke Sumendang, kata Haifa di dalam hati.
Salah lihat kali Dodi. Setiap ada mobil berhenti di depan rumah pasti dibilang Mang Diman datang, kata Haifa di dalam hati.
Haifa mematikan kompor dan keran air di wastafel tempat cuci piring, lalu Haifa pergi ke ruang tamu untuk melihat apakah benar Mang Diman datang. Ketika sampai di ruang tamu Haifa melihat Dodi sedang bengong di depan pintu dengan pandangan melihat ke jalan.
“Dodi kamu lihat apa?” tanya Haifa sambil melihat keluar melalui jendela kaca.
Seketika Haifa langsung kaget. Haifa melihat Mang Diman sedang berdiri di sebelah pintu mobil MPV Premium milik keluarga Broto dan terlihat Pak Broto hendak keluar dari mobil. Dengan secepat kilat Haifa masuk ke dalam kamarnya untuk memakai jilbab instant dan hampir menabrak Mamahnya.
“Haifa, kamu kenapa? Seperti orang yang lari ketakutan,” tegur Ibu Euis.
“Ada Pak Broto di luar,” jawab Haifa dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Haifa, Ibu Euis juga langsung masuk ke kamarnya untuk memakai jilbab instant.
“Mamah…..Teteh…..ada tamu tuh,” panggil Dodi.
Haifa langsung keluar dari kamarnya dan menyambut kedatangan keluarga Broto. Ketika Haifa berdiri di depan pintu Haifa melihat Ibu Deswita berdiri di sebelah Pak Broto di samping kiri Ibu Deswita ada Wisnu yang sedang tersenyum manis kepadanya.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Broto ketika memasuki halaman rumah Haifa.
“Waalaikumsalam,” ucap Haifa.
Haifa menghampiri Pak Broto lalu mencium tangan Pak Broto dan Ibu Deswita serta menyalami Wisnu.
“Bagaimana keadaan ibumu?” tanya Pak Broto.
“Alhamdullilah sudah sehat, Pak,” jawab Haifa.
“Syukurlah.”
Dody juga ikut mencium tangan Pak Broto dan Ibu Deswita serta mencium tangan Wisnu.
“Ini siapa?” tanya Pak Broto.
“Ini adik saya Dodi,” jawab Haifa.
“Dodi sudah kelas berapa?” tanya Pak Broto.
“Kelas sembilan,” jawab Dodi.
Pak Broto langsung mengerutkan keningnya.
“Apa itu kelas sembilan?” tanya Pak Broto.
“Maksud Dodi kelas tiga SMP. Kalau sekarang disebutnya kelas sembilan,” jawab Wisnu.
“Oh kelas tiga SMP. Nanti kalau sudah tamat mau masuk SMA mana? SMA favorit?” tanya Pak Broto.
“Mau masuk SMK, Pak,” jawab Dodi.
“Kenapa masuk SMK? Bukan SMA?” tanya Pak Broto.
“Biar cepat kerja. Karena tidak punya biaya untuk kuliah,” jawab Dodi.
“Mau masuk SMA atau SMK tetap harus kuliah! Nanti kamu minta sama Mas Wisnu untuk biaya sekolah kamu,” kata Pak Broto sambil menunjuk ke Wisnu yang sedang berdiri di belakang Pak Broto.
Dodi langsung bengong mendengar perkataan Pak Broto. Dodi langsung menoleh ke Haifa seolah meminta penjelasan, namun Haifa pura-pura tidak tahu.
“Silahkan masuk, Pak,” kata Haifa dengan sopan.
Pak Broto masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Broto ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” balas Ibu Euis yang langsung menyalami Pak Broto, Ibu Deswita dan Wisnu.
“Silahkan duduk, Pak, Bu, Den Wisnu,” kata Ibu Euis.
Pak Broto, Ibu Deswita dan Wisnu duduk di kursi di ruang tamu rumah Haifa.
Dodi dan Haifa mencium tangan Bi Nani yang masuk ke dalam rumah. Dengan cepat Bi Nani menarik Dodi keluar rumah. Sedangkan Haifa langsung masuk ke dalam untuk membuatkan minuman untuk Pak Broto dan keluarga.
“Kamu telepon Bapak! Suruh Bapak pulang sekarang juga! Bilang ada tamu dari Jakarta yang mau ketemu Bapak,” kata Bi Nani.
“Iya, Bi,” jawab Dodi.
“Sekalian kamu ke rumah Bi Ros untuk mengambil kue!” kata Bi Nani.
“Iya, Bi.” Dodi pun keluar menuju rumah Bi Ros sambil menelepon Bapaknya.
__ADS_1