Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
73. Menagih Janji


__ADS_3

Haifa keluar dari kamar mandi dengan mengenakan daster. Daster yang ia gunakan berbeda dengan daster yang biasa ia pakai di rumah. Di rumah ia biasa menggunakan daster yang panjang, namun kali ini ia menggunakan biasa dengan lengan pendek. Rambutnya yang basah dibiarkan tergerai tanpa disisir terlebih dahulu. Wira memperhatikan perhatikan penampilan Haifa.


Haifa mengambil mukenah dan sajadah dari dalam kopernya.


“Ayo Mas, kita sholat dulu,” kata Haifa sambil menggunakan mukenah.


“Kamu ngajak sholat atau lagi menggoda Mas?” tanya Wira sambil memandang ke Haifa.


Haifa memandang suaminya sambil mengerut keningnya.


“Maksud Mas apa?” tanya Haifa.


Wira mendekati Haifa.


“Baju kamu itu berbeda dengan yang biasa kamu pakai,” jawab Wira.


“Haifa biasa memakai baju ini kalau di rumah,” jawab Haifa.


“Masa? Kok Mas tidak pernah lihat?” tanya Wira.


“Dipakainya kalau sedang di dalam kamar,” jawab Haifa.


“Oh….,” ujar Wira.


“Ayo Mas kita sholat dulu, nanti keburu magrib. Lagi pula ASI merembes terus,” kata Haifa dengan tidak sabaran.


“Oh, kamu mau Mas membantu pompa ASi?” tanya Wira dengan wajah gembira.


“Bukan. Haifa mau ne-nenin Alifa,” jawab Haifa.


“Yah, Mas kira kamu minta di bantu memompa ASI,” kata Wira dengan kecewa.


“Nggak ah, nanti Haifa harus mandi lagi,” jawab Haifa.


“Tapikan jadi pahala,” kata Wira.


“Sudah ah nggak selesai-selesai bicaranya. Keburu adzan magrib,” ujar Haifa.


“Baik, Ibu Bos,” kata Wira.


Wira dan Haifa memulai sholatnya. Setelah selesai sholat Haifa menelepon Sri.


“Sri, tolong bawa Alifa ke sini,” kata Haifa.


“Baik, Bu,” jawab Sri.


Tak lama kemudian Sri datang sambil menggendong Alifa.


“Alifanya sudah ngantuk, Bu,” kata Sri.


Haifa mengambil Alifa dari tangan Sri.


“Aduh kasihan anak Mamah sudah ngantuk, ya? Kita ne-nen dulu, ya,” kata Haifa.


“Sri, kamu kembali saja ke kamar,” kata Haifa.


“Baik, Bu.”


Sri pun keluar dar kamar Haifa.


Haifa membuka kancing dasternya dan mengeluarkan da-danya dan Alifa mulai ne-nen. Wira memandangi Haifa yang sedang menyu-sui anaknya. Haifa sudah berani memperlihatkan da-danya di depan Wira. Alifa menyedot ASI nya dengan kencang sehingga ASI yang sebelehpun mulai merembes.


“Mas, tolong ambilkan pompa ASi,” kata Haifa kepada Wira.


“Ditaruh mana pompanya?” tanya Wira.


“Di tas Alifa,” jawab Haifa.


Wira membuka tas yang berwarna biru langit kemudian mengambil pompa dari dalam tas. Wira memberikan pompa kepada Haifa.


“Terima kasih, Mas,” ucap Haifa.


Haifa mengeluarkan bu-ah da-da yang sebelah kanan lalu dipasangkan pompa lalu Haifa memompanya hingga ASI keluar.


Wira menelan ludah melihat da-da istrinya yang tidak tertutup apapun juga.


Sabar Wira, sabar. Biarkan Alifa tidur dulu, kata Wira di dalam hati.


Setelah selesai mengompa ASi, Haifa memberikan pompanya kepada Wira.


“Mas, tolong masukkan ke dalam botol. Terus taruh botolnya di dalam kulkas,” kata Haifa.


Wira mengambil pompa dari tangan Haifa kemudian Wira memasukkan ASI ke dalam botol yang sudah Haifa siapkan. Setelah itu ASI yang berada di dalam botol dimasukkan ke dalam kulkas.


Wira kembali lagi duduk di sebelah Haifa.


“Sudah tidur?” tanya Wira.


“Sudah, Mas,” jawab Haifa.


Haifa melepas ne-nen dari mulut Alifa. Bayi itu tidak terbangun ketika ne-nennya dicopot. Lalu Haifa meletakkan Alifa di atas tempat tidur. Bayi itu tidur dengan nyenyak.


“Kita sholat magrib dulu,” kata Wira.


“Iya, Mas.”


Wira ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, setelah itu Haifa juga wudhu. Lalu mereka melakukan sholat magrib berjamaah. Ketika mereka selesai sholat, ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Wira membukakan pintu. Ternyata tamunya adalah Dodi dan sepupu-sepupunya.


“Mas Wira, kapan kita mau dibelikan hadiahnya?” tanya Arif.

__ADS_1


“Sekarang. Sekalian kita makan malam,” jawab Wira.


“Asyikkkk,” seru semuanya.


“Sssttt!!!! Diam jangan berisik!!!!!Alifa lagi bobo,” kata Wira dengan suara pelan.


Dodi dan sepupunya langsung menutup mulut mereka dengan telapak tangan.


“Sekarang kalian pamit dulu sama orang tua kalian. Biar mereka tidak mencari kalian,” kata Wira.


“Kami sudah pamit, Mas. Kami bilang mau ke kamar Mas Wira,” jawab Dodi.


“Ya beda. Kalau sekarang kan pamit mau ke mall sama Mas Wira dan Teteh Haifa,” kata Wira.


“Iya, deh,” jawab anak-anak itu.


Merekapun kembali ke kamar mereka masing-masing. Wira kembali masuk ke dalam kamar.


“Siapa, Mas?” tanya Haifa.


“Biasa, adik-adik kamu,” jawab Wira.


“Mau apa mereka ke sini?” tanya Haifa.


“Menagih janji,” jawab Wira dengan tenang.


“Janji apa?” tanya Haifa.


Wirapun menceritakan semuanya kepada Haifa. Haifa menghela nafas berat.


“Mas curigaan sekali sama Haifa,” kata Haifa.


“Bukannnya Mas curuga sama kamu. Tapi Mas curiga sama laki-laki yang naksir kamu,” jawab Wira.


“Mas menyuruh adik-adik untuk menjaga kamu dari gangguan laki-laki yang naksir kamu,” kata Wira.


“Fahri dan Syaiful tidak akan mengganggu kalau Haifa tidak meladeni mereka,” kata Haifa.


“Ya sudah, Mas minta maaf,” ucap Wira.


“Sekarang Mas Wira jadi rugi sendiri karena harus membelikan mainan untuk mereka,” kata Haifa.


“Nggak apa-apa. Sekali-sekali membelikan mereka mainan. Dinikmati saja punya adik banyak,” jawab Wira.


“Kamu ikut, ya! Sekalian makan malam,” kata Wira.


“Tapi Alifa sudah tidur, Mas,” kata Haifa.


“Nggak apa-apa. Bawa saja Alifa,” kata Wira.


“Ajak Sri juga. Kasihan dia kalau tidak diajak. Dia bisa kelaparan,” kata Wira.


“Ayo kita siap-siap. Sebentar lagi mereka datang,” kata Wira.


Haifa dan Wirapun bersiap-siap untuk pergi.


Malam itu mall cukup ramai, mungkin karena hari minggu banyak orang yang jalan-jalan ke mall.


“Mas, kita makan dulu atau beli mainan dulu?” tanya Dodi.


“Terserah kalian. Kalian mau apa dulu,” jawab Wira.


“Kita mau beli mainan dulu,” kata Arif.


“Boleh,” kata Wira.


Merekapun bejalan menuju toko mainan. Dodi dan sepupu-sepupunya langsung berpencar ketika masuk ke dalam mainan. Haifa mengambil salah satu mainan yang terdapat di toko itu dan ketika dilihat harganya Haifa langsung terkejut.


“Mas, sini,” Haifa memanggil Wira.


Wira menghampiri Haifa.


“Kenapa?” tanya Wira.


“Harganya mahal semua,” bisik Haifa.


“Nggak apa-apa,” jawab Wira dengan santai.


“Kamu sekalian beli mainan untuk Alifa,” kata Wira.


“Alifa kasih mainan apa?” tanya Haifa bingung.


“Ya, kamu cari mainan untuk bayi yang aman,” kata Wira.


Haifa berkeliling toko mainan, namun tidak menemukan mainan untuk bayi.


“Nggak ada mainan untuk bayi, Mas,” kata Haifa.


“Nanti kita cari di toko khusus untuk bayi,” kata Wira.


Setelah anak-anak selesai memilih mainan, Wira langsung membayar semua mainan. Haifa langsung menghela nafas ketika melihat nominal yang harus dibayar oleh Wira.


“Mahal sekali,” kata Haifa.


“Nggak apa-apa,” kata Wira sambil mengusap punggung Haifa.


Kemudian mereka lanjut ke toko khusus untuk bayi. Haifa mencari mainan untuk Alifa.


“Sekalian beli untuk keperluan Alifa,” kata Wira.

__ADS_1


“Ya, Mas,” jawab Haifa.


Sebenarnya baju Alifa masih banyak. Apalagi kemarin Fahri memberikan hampers untuk Alifa yang berisikan baju, topi, jaket, kaos kaki dan sepatu yang lucu untuk Alifa. Tapi melihat barang yang lucu-lucu di toko itu Haifa jadi kalap dan membeli beberapa baju, celana dan kaos kaki untuk Alifa.


“Sekalian beli kain gendongannya, biar bisa ganti-ganti kain gendongannya,” kata Wira.


“Ya, Mas.”


Haifa mengambil bil satu buah kain gendongan.


“Beli dua, dong,” kata Wira.


“Satu saja, Mas,” jawab Haifa.


“Satu lagi,” kata Wira.


Wira mengambil satu buah kain gendongan.


“Ini gambarnya lucu,” kata Wira sambil memberikan kain gendongan itu kepada Haifa.


“Iya deh. Tambah satu lagi,” kata Haifa.


Haifa memberikan semua barang yang dibelinya kepada kasir toko. Ketika kasir itu menyebutkan nominalnya Haifa langsung kaget. Haifa tadi tidak melihat dulu harganya.


Wira menyodorkan kartu debit kepada kasir.


“Saya bayar pakai kartu debit,” kata Wira.


Lalu kasir memproses pembayarannya.


“Haifa tidak melihat harganya dulu,” bisik Haifa.


“Tidak apa-apa,” jawab Wira sambil berbisik.


Setelah selesai berbelanja merekapun menuju ke food court.


“Mau makan apa?” tanya Wira kepada anak-anak.


“Steak,” jawab Suci.


“Burger,” jawab Arif.


“Fried chicken,” jawab Alit.


“Pizza,” jawab Teguh.


Cuma Dodi yang tidak menjawab.


“Dodi, kamu mau makan apa?” tanya Wira.


“Terserah Mas Wira aja. Yang penting kenyang,” jawab Dodi.


“Begini saja, kalian pilih makanan yang belum pernah kalian coba,” kata Wira.


“Steak,” jawab mereka berbarengan .


“Oke kita makan steak,” kata Wira.


Lalu merekapun berjalan menuju restaurant steak.


“Kalian pilih steak apa yang kalian mau,” kata Wira.


Anak-anak itu membaca daftar menunya sambil mengerut kening mereka. Mereka tidak mengerti ketika membaca daftar menunya, karena menggunakan bahasa Inggris.


“Mas Wira, steak yang enak yang mana? Suci tidak mengerti,” kata Suci sambil berbisik.


“Kalian mau steak yang bagaimana?” tanya Wira.


“Pokoknya yang enak dan nggak keras,” jawab Dodi.


“Oke. Mas Wira pilihkan, ya,” kata Wira.


Wira memanggil pelayan restaurant lalu memesan steak untuk anak-anak.


“Kamu mau pesan apa?” tanya Wira kepada Haifa.


“Samakan saja dengan anak-anak,” jawab Haifa.


“Kamu, Sri?” tanya Wira.


“Samakan saja, Pak,” jawab Sri.


Wira pun memesan steak untuk dirinya, Haifa dan Sri. Lengkap dengan minumannya. Tanpa menunggu lama pesanan merekapun datang. Merekapun makan dengan tenang.


Setelah selesai makan merekapun kembali ke hotel. Ketika mereka melewati beberapa toko yang menjual baju orang dewasa.


“Kamu mau beli apa? Baju? Tas? Atau sepatu?” tanya Wira.


“Tidak ah, Mas. Baju Haifa masih bagus-bagus,” jawab Haifa.


“Atau mungkin kamu mau beli itu,” Wira menunjuk toko un-der we-ar yang memajang lingerie yang sek-si dengan warna yang kalem.


“Mas, ada anak-anak dan Sri,” bisik Haifa.


“Kan untuk menyenangkan suami,” kata Wira sambil berbisik.


“Belinya nanti saja di Jakarta,” jawab Haifa.


“Bener, ya? Mas tunggu, loh!” kata Wira.

__ADS_1


“Iya,” jawab Haifa sambil berbisik.


__ADS_2