
Hari terus berlalu, tak terasa besok Haifa harus kembali ke Jakarta. Namun Haifa masih enggan untuk kembali ke Jakarta. Haifa terpaksa menelepon merrtuanya untuk minta ijin agar diperbolehkan lama di Sumedangnya.
“Assalamualaikum, Mah.” Ucap Haifa.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Deswita.
“Mah, boleh nggak Haifa lebih lama lagi di Sumedang?” tanya Haifa.
“Memangnya kamu mau ngapain lama-lama di situ?” tanya Ibu Deswita.
“Haifa masih kangen sama teman-teman Haifa,” jawab Haifa.
Padahal setiap harinya Haifa hanya diam di rumah atau hanya sekedar berkeliling di kota Sumedang. Ia belum sempat menghubungi teman-temannya, karena teman-temannya sibuk kuliah dan bekerja.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi jangan terlalu lama nanti Mamah kangen sama Alifa,” kata Ibu Deswita.
“Iya, Mah. Kalau seminggu boleh nggak, Mah? Nanti kalau mau pulang Haifa menyuruh Pak Tono untuk jemput Haifa ke Sumedang,” kata Haifa.
“Iya, boleh. Jaga diri baik-baik dan jangan lupa pesan Mamah,” jawab Ibu Deswita.
“Iya, Mah. Terima kasih, Mah. Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Waalaikumsalam.”
Ibu Deswita menutup teleponnya sambil menghela nafas berat.
“Kenapa, Mah?” tanya Pak Broto.
“Haifa, minta diperpanjang lagi di Sumedangnya. Katanya dia masih kangen dengan teman-temannya,” jawab Ibu Deswita.
“Ijinkan saja. Semenjak menjadi menantu kita baru kali ini dia minta pulang ke Sumedang,” kata Pak Broto.
“Tapi Pah, Mamah takut terjadi apa-apa kalau dia terlalu lama di Sumedang. Dia itu kan janda. Nanti banyak orang yang mendekati Haifa,” ujar Ibu Deswita.
“Ya, nggak apa-apa, Mah. Wajarlah kalau ada lelaki yang mendekati Haifa,” jawab Pak Broto.
“Papah ini bagaimana, sih? Nanti kita akan kehilangan Alifa kalau Haifa menikah lagi,” seru Ibu Deswita.
“Papah rasa kalau Haifa menikah lagi ia pasti akan menjaga tali silaturahminya dengan kita,” jawab Pak Broto.
“Terserah Papah, deh.”
Ibu Deswita meninggalkan meja makan dan pergi ke kamarnya.
Wira hanya diam mendengar percakapan orang tuanya.
Apa Haifa masih kesal padaku sehingga masih belum mau pulang? tanya Wira di dalam hati.
Apa aku harus pergi baru ia mau kembali ke rumah ini?
Kenapa ini semua terjadi disaat ia punya niat baik untuk berumah tangga.
Wira menghela nafas berat.
“Papah harap kamu harus bertanggung jawab dengan kesalahan yang sudah kau perbuat,” kata Pak Broto.
Wira menoleh ke Pak Broto.
“Papah tau?” tanya Wira.
“Semenjak Haifa menjadi menantu di rumah ini, dia tidak pernah minta ijin ke Wisnu untuk pulang ke Sumedang. Ia tahu tempatnya sebagai seorang istri adalah di sisi suaminya. Malah Wisnu yang suka mengajaknya ke Sumedang. Bahkan setelah Wisnu meninggalpun dia tetap di sini tidak ada satu katapun terucap ia ingin ke Sumedang. Tapi kemarin tiba-tiba ia minta ijin kepada Mamah untuk ikut dengan Bi Nani ke Sumedang. Papah merasakan ada sesuatu diantara kalian,” jawab Pak Broto.
“Papah tau kamu punya niat baik terhadapnya. Tapi cara kamu mengungkapkannya mungkin salah, sehingga ia takut kepadamu. Jangan samakan dia dengan teman-teman perempuanmu. Kalau kamu salah memperlakukannya, dia akan menerima uluran tangan laki-laki lain yang dia anggap lebih nyaman,” kata Pak Broto.
“Maksud Papah, Fahri temannya Wina?” tanya Wira.
“Bukan cuma Fahri, tapi banyak laki-laki di luar sana yang akan mendekatinya,” jawab Pak Broto.
Mendengar perkataan Papahnya, Wira langsung diam. Kalau saja kemarin dia tidak melakukankan kesalahan, Haifa pasti masih di rumah ini dan berada di dekatnya. Namun karena ulahnya Haifa kini menjauh, bahkan menjauh dari pandangan matanya.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
__ADS_1
“Hallo,” ucap Wira.
*****
Haifa berjalan menuju ke rumahnya sambil membawa plastik yang berisi sayuran. Ia baru saja pulang dari pasar.
“Dari mana, Neng?” sapa ibu-ibu yang sedang berbicara di pinggir jalan.
“Dari pasar, Bu,” jawab Haifa.
“Neng Haifa, Alifa punya calon Papah baru, ya?” tanya Ibu Suryaman.
Haifa mengerut keningnya.
“Maksud Ibu apa?” tanya Haifa tidak mengerti.
“Tadi Ibu lihat Alifa sedang digendong oleh seorang laki-laki yang wajahnya mirip dengan almarhum suami Neng Halifa. Ibu kirain itu calon Papah baru Alifa,” jawab Ibu Suryaman.
Mas Wira, bisik Haifa di dalam hati.
“Oh bukan, Bu. Itu pamannya Alifa,” kata Haifa.
“Jadi calon Papah Alifa juga nggak apa-apa. Kan Neng Haifa sudah lama menjanda, jadi boleh kok menikah lagi,” kata Ibu Dadang.
“Saya belum kepikiran untuk menikah lagi. Mari ibu-ibu sudah siang, saya harus segera masak untuk makan siang,” Haifa pamit kepada ibu-ibu.
“Iya, Neng,” jawab ibu-ibu.
Haifa bergegas jalan menuju ke rumahnya. Haifa langsung menghela nafas ketika melihat mobil Wira terparkir di tanah kosong yang berada di dekat rumahnya.
Haifa berjalan menuju rumahnya, ia melihat Wira sedang berdiri di depan rumah sambil menimang-nimang Alifa. Haifa menarik nafas panjang baruslah mendekati Wira.
“Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Waalaikumsalam,” jawab Wira.
“Sudah lama Mas datangnya?” tanya Haifa sambil berjalan masuk ke dalam halaman rumahnya.
“Alifa tidur?” tanya Haifa sambil melihat ke Alifa yang sedang ditimang-timang oleh Wira.
“Iya. Tadi dia nangis karena lapar. Kata Tante, persediaan ASI di kulkas sudah habis,” jawab Wira.
“Sebentar, Haifa mau simpan belanjaan dan cuci tangan dulu,” kata Haifa lalu masuk ke dalam rumah.
Wira mengikuti Haifa dari belakang.
“Akhirnya Mamahnya juga. Alifa dari tadi nangis minta mimi,” kata Ibu Euis.
“Haifa mau cuci tangan dulu,” kata Haifa sambil menaruh belanjaannya ke dapur.
“Sekalian mandi saja! Biar bersih menggedong Alifa,” sahut Ibu Euis.
“Iya, Mah.”
Haifa mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi Haifa merasa segar. Kemudian ia menghampiri Alifa yang masih digendong oleh Wira.
“Kenapa nggak ditaruh di kamar?” tanya Haifa sambil mengambil Alifa dari tangan Wira.
“Takut bangun, nanti nangis lagi,” jawab Wira.
Haifa membawa Alifa ke kamarnya. Tak lama kemudian Haifa keluar dari kamarnya. Kemudian menghampiri Mamahnya di dapur.
“Mah, Sri kemana?” tanya Haifa kepada Ibu Euis.
“Lagi Mamah suruh beli surabi,” jawab Ibu Euis.
“Kamu temani Wira sarapan. Kasihan dia belum sarapan. Kamu juga belum sarapan,” ujar Ibu Euis.
“Iya, Mah.”
Haifa kembali ke ruang tamu.
__ADS_1
“Mas sarapan dulu, yuk. Haifa juga belum sarapan,” ajak Haifa.
Wira mengangguk lalu mengikuti Haifa menuju ke meja makan. Haifa mengambilkan nasi untuk Wira.
“Segini cukup, nggak?” Haifa menunjukkan nasi yang berada di dalam piring.
“Sudah cukup,” jawab Wira.
“Mau makan pakai apa?” tanya Haifa.
Wira memperhatikan makanan yang dihidangkan di atas meja. Hidangannya lengkap lauk pauk dan sayurannya. Hanya saja dimasak dengan sedarhana.
“Sama semur telor, goreng tempe dan sayur lodeh,” jawab Wira.
Haifa mengambilkan lauk pauk dan sayuran yang disebut oleh Wira lalu diberikan ke Wira.
“Kerupuknya, Mas,” Haifa menyodorkan toples kerupuk kepada Wira.
Wira mengambil satu buah kerupuk. Kemudian Wira mulai makan.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka Sri masuk ke dalam rumah sambil membawa platik belanjaan.
“Assalamualaikum,” ucap Sri.
“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.
“Dapat surabinya, Sri?” tanya Haifa.
“Dapat, Bu. Bagian penghabisan,” jawab Sri.
“Taruh di dua piring, yang satu piring taruh di ruang tamu untuk Pak Wira,” kata Haifa.
“Iya, Bu,” jawab Sri.
Sri membawa plastik belanjaannya ke dapur. Tak lama kemudian Sri membawa sepiring surabi lalu di letakkan di meja ruang tamu.
“Bu, tadi Sri ketemu sama Mas-Mas yang naik motor,” kata Sri.
Haifa mengerut keningnya.
“Mas-Mas yang mana?” tanya Haifa bingung.
“Itu loh, yang Ibu panggil Aa Sya…Sya….,” ujar Sri yang lupa lagi nama orangnya.
“Oh….Aa Syaiful,” kata Haifa.
“Iya, Aa Syaiful,” sahut Sri.
Wira langsung memasang kupingnya mendengarkan pembicaraan antara Haifa dengan Sri.
“Dia bilang apa?” tanya Haifa.
“Dia nanyain Ibu. Sri jawab Ibu lagi ke pasar. Terus dia nanya Alifa, Sri bilang lagi sama Omnya. Terus dia titip salam untuk Ibu,” kata Sri.
“Waalalikumsalam,” jawab Haifa.
“Terus dia bilang, sore ini mau ke rumah. Mau ketemu ibu,” kata Sri lagi.
“Terus kamu jawab apa?” tanya Haifa.
“Sri nggak jawab apa-apa, takut salah,” jawab Sri.
“Ya sudah, nggak apa-apa,” kata Haifa.
Kemudian Sri kembali ke dapur dan membantu Ibu Euis masak.
Mendengar percakapan Haifa dan Sri membuat Wira jadi tidak nafsu makan.
“Kenapa, Mas? Makanannya nggak enak, ya?” tanya Haifa.
“Nggak, enak kok,” jawab Wira.
__ADS_1
Wira mencoba menghabiskan makanannya walaupun nafsu makannya hilang. Haifa memperhatikan Wira, sepertinya Wira kesal mendengar percakapan ia dengan Sri. Mau bagaimana lagi sudah terlanjur Wira mendengarkan semuanya.