
Selama masa kehamilan Haifa tidak merasakan morning sick. Haifa juga tidak sulit dalam hal makanan, ia memakan semua makanan. Hanya saja ia terkesan memilih makanan. Ia makan sesuai dengan mood nya. Jika mood nya sedang ingin makan mie ayam, ia tidak akan makan yang lain sebelum makan mie ayam. Sehingga membuat seisi rumah kebingungan menghadapi Haifa.
Haifa juga terkesan seperti orang malas. Ia bisa seharian berbaring di kamar. Jika Wisnu sedang libur, Haifa kerjanya hanya bermanja-manja pada suaminya.
Seperti saat ini Haifa sedang ingin bermanja-manja dengan suaminya. Terpaksa Haifa yang harus ke kantor untuk bisa dekat dengan suaminya sekalian mengantarkan makan siang.
“Kamu tidak ingin punya kesibukan yang lain?” tanya Wisnu sambil mengusap kepala Haifa yang berada di atas pangkuannya.
“Maksud Mas kesibukan apa?” Tanya Haifa.
“Seperti melanjutkan pendidikan,” jawab Wisnu.
“Kuliah?” Tanya Haifa.
“Iya. Mau kamu kuliah?” Tanya Wisnu.
Haifa diam, ia seperti sedang berpikir.
“Nggak mau, ah,” jawab Haifa.
“Loh, kenapa?” Tanya Wisnu kaget.
“Haifa mau di rumah saja. Mengurus Mas dan anak-anak kita,” jawab Haifa.
“Dodi aja yang kuliah,” kata Haifa.
“Maksud Mas, biar kamu nggak bosen di rumah terus,” kata Wisnu.
“Haifa nggak merasa bosen. Haifa senang kalau di rumah terus,” kata Haifa.
Wisnu menghela nafas. Ibu hamil yang satu ini mood nya lagi pengen males-malesan, jadi kalau disuruh kuliah pasti tidak akan mau.
“Ya sudah kalau tidak mau kuliah. Tapi kalau tiba-tiba mau kuliah bilang sama Mas, ya!” kata Wisnu.
“Iya, Mas,” jawab Haifa sambil memainkan ponselnya.
Wisnu melanjutkan memeriksa dokumennya. Ia sudah terbiasa kerja sambil diganggu oleh ibu hamil yang manja.
Namun Wisnu teringat sesuatu, Haifa belum makan siang.
“Eh, kamu belum makan siang. Makan, ya! Mas suapin,” kata Wisnu sambil mengelus kepala Haifa.
“Haifa nggak mau makanan itu,” kata Haifa sambil menunjuk rantang yang berada di atas meja.
“Kamu mau makan apa?” Tanya Wisnu dengan sabar.
“Mau makan empek-empek yang enak dan pedas,” jawab Haifa.
__ADS_1
“Jangan terlalu pedas! Kasihan bayinya kalau Mamahnya makan yang pedas-pedas,” kata Wisnu.
“Tapi Haifa mau, Mas,” rengek Haifa.
Wisnu menghela nafas. Percuma saja Haifa dilarang, nanti malah tidak mau makan sama sekali.
“Iya, boleh makan empek-empek. Tapi kalau sudah makan empek makan nasi, ya!” kata Wisnu.
“Iya,” jawab Haifa dengan wajah yang gembira.
“Haifa bangun dulu! Mas mau panggil Zulkifli,” kata Wisnu.
Haifa mengangkat kepalanya dari atas pangkuan Wisnu. Kemudian Wisnu menuju ke meja kerja dan menghubungi seseorang melalui intercom.
“Ira, suruh Zulkifli ke ruangan saya!” seru Wisnu.
“Baik, Pak,” jawab Ira.
Tak lama kemudian Zulkifli datang ke ruangan Wisnu.
Tok…tok…tok…. Suara pintu diketuk.
Haifa cepat-cepat bangun dari tidurnya. Ia malu dilihat oleh pegawai suaminya jika sedang tidur-tiduran.
“Masuk!”
“Bapak panggil saya?” Tanya Zulkifli.
“Tolong belikan empek-empek yang enak untuk Ibu Haifa!” kata Wisnu.
“Pakai sambel nggak, Bu?” Tanya Zulkifli.
“Pake. Yang banyak sambelnya,” jawab Haifa.
“Sambelnya dipisah,” kata Wisnu.
“Ini uangnya.”
Wisnu memberikan uang lima puluh ribu rupiah kepada Zulkifli.
“Yang enak ya, Mas Zul!” sahut Haifa.
“Iya, Bu.”
Zulkifli meninggalkan ruangan Wisnu.
Setelah menunggu tiga puluh menit lamanya akhirnya Zulkifli datang membawa pesanan Haifa.
__ADS_1
“Ini Bu, pesanannya dan kembaliannya.” Zulkifli menaruh kantong plastik dan uang di atas meja.
“Terima kasih ya, Mas Zul,” ucap Haifa.
“Sama-sama, Bu,” kata Zulkifli.
Zulkifli keluar dari ruangan Wisnu.
Haifa mengambil piring dan sendok dari pantry, lalu dipindahkannya empek-empek ke piring. Mulut Haifa tak berhenti mengecap ketika melihat empek-empek yang menggugah selera.
“Baca doa dulu! Sebelum makan,” kata Wisnu melihat Haifa yang sudah tidak sabar untuk mencicipi empek-empek.
“Iya, Mas.”
Mulut Haifa terlihat seperti sedang membaca doa. Setelah itu Haifa langsung melahap empek-empeknya.
“Hemm,” gumam Haifa ketika memakan empek-empek.
Namun tiba-tiba….
“Uhuk…uhuk…uhuk…”
Haifa batuk sepertinya keselek kuah empek-empek.
“Aduh….hati-hati dong makannya.”
Wisnu mengambilkan air minum untuk Haifa, Haifa langsung meminumnya.
“Terima kasih, Mas,” ucap Haifa.
“Pelan-pelan makannya jangan cepat-cepat,” kata Wisnu sambil mengusap punggung Haifa.
“Habis enak sih, empek-empeknya,” jawab Haifa.
“Cobain deh, Mas.”
Haifa menyuapi satu sendok empek-empek ke mulut Wisnu. Wisnu memakannya sambil kepedesan.
“Kamu kasih sambelnya berapa sendok? Pedas sekali,” kata Wisnu.
Wisnu mengambil air minum dari dispenser dan langsung meminumnya.
“Bagaimana enakkan?” Tanya Haifa sambil melanjutkan makannya.
“Enak sih enak, tapi pedas sekali,” kata Wisnu.
“Nggak pedas. Pedasnya pas,” kata Haifa sambil menyuap empek-empek ke mulutnya.
__ADS_1
Wisnu cuma menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat istrinya makan empek-empek yang cukanya pedas dengan tenang. Akhirnya Wisnu membiarkan Haifa menghabiskan empek-empeknya daripada Haifa tidak makan sama sekali.