
Dodi sedang berjalan menuju ke rumahnya. Tiba-tiba ada yang memanggilnya.
“Dodi!”
Dodi menoleh ke belakang, Syaiful mengendarai motor menghampirinya.
“Ada apa, A?” Tanya Dodi.
“Teteh ada di rumah?” Tanya Syaiful.
“Ada. Tapi di rumah sedang banyak tamu,” jawab Dodi.
“Oh…ada saudara datang, ya?” Tanya Syaiful.
“Bukan. Tamunya majikannya Bi Nani mau ketemu sama Bapak,” jawab Dodi.
“Majikan Bi Nani? Mau ngapain?” Tanya Syaiful penasaran.
“Nggak tau,” jawab Dodi sambil mengangkat kedua bahunya.
Syaiful langsung terdiam.
Untuk apa majikan Ibu Nani bertemu dengan Bapaknya Haifa? Tanya Syaiful di dalam hati.
Melihat Syaiful diam saja Dodi langsung meninggalkan. Syaiful. Ketika Syaiful sadar, Dodi sudah pergi menjauh. Syaiful memutarkan motornya membatalkan niatnya untuk menemui Haifa.
“Assalamualaikum,” ucap Dodi ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang ada di ruangan itu.
Dodi langsung masuk ke dalam rumah dan meletakkan dus kue di atas meja makan.
“Lama sekali, Dod. Ngambil kuenya,” kata Haifa yang menghampiri Dodi.
“Tadi di jalan dicegat sama Aa Syaiful,” jawab Dodi.
“Dia nanyain Teteh. Dodi bilang di rumah banyak tamu mau ketemu sama Bapak.”
Haifa menghela nafas panjang.
Pasti mau ngajak nonton, kata Haifa di dalam hati.
Tiba-tiba di depan terdengar suara Pak Yayat.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Yayat.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.
Pak Yayat sedang menyalami tamunya satu persatu. Haifa menghampiri Bapaknya dan mengambil tas ransel yang berada di punggung Bapaknya untuk di simpan ke kamar.
“Maaf karena kedatangan kami terlalu mendadak jadi mengganggu pekerjaan Pak Yayat,” kata Pak Broto.
“Tidak apa-apa, Pak. Kebetulan kalau hari sabtu tidak sesibuk hari biasa,” jawab Pak Yayat.
“Kedatangan kami ke sini adalah untuk menyampaikan keinginan anak kami Wisnu untuk meminang putri Pak Yayat yang bernama Haifa,” kata Pak Broto.
__ADS_1
Pak Yayat dan Ibu Euis langsung kaget mendengarnya. Pak Yayat menoleh ke Haifa. Haifa diam sambil menunduk.
“Apa ini tidak terlalu cepat, Pak? Mereka baru kenal beberapa hari,” kata Pak Yayat.
“Iya, tapi mereka setiap hari sering bersama. Jadi saya putuskan untuk segera menikahkan mereka agar tidak menjadi fitnah. Apalagi Haifa akan lebih sering mendampingi Wisnu di setiap acara,” jawab Pak Broto.
Pak Yayat menghela nafas panjang.
Sebenarnya ia setuju dengan perkataan Pak Broto, namun yang membuat Pak Yayat menjadi ragu adalah apakah Pak Broto tidak malu memiliki menantu dari golongan ekonomi bawah?
“Maaf sebelumnya. Apakah Pak Broto tidak malu jika memilik menantu berasal dari golongan ekonomi bawah?” Tanya Pak Yayat.
Bagaimanapun juga hal ini harus diperjelas agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari.
Pak Broto tersenyum mendengarnya.
“Saya mengerti maksud Bapak. Seperti yang pernah istri saya katakan kepada Haifa. Kami sedang mencari menantu untuk mendampingi Wisnu, bukan mencari patner bisnis Wisnu. Buat kami tingkat ekonomi tidak menjadi masalah. Asalkan berasal dari keturunan yang baik-baik, sholeha, setia dan yang terpenting menyayangi anak kami Wisnu,” jawab Pak Broto.
Pak Yayat merasa lega mendengarnya.
“Apakah Bapak masih meragukan niat kami?” Tanya Pak Broto.
“Sudah tidak lagi, Pak,” jawab Pak Yayat.
Kemudian Pak Yayat beralih ke Haifa.
“Bagaimana Haifa, apakah kamu menerima pinangan Den Wisnu?” Tanya Pak Yayat kepada Haifa.
Haifa mengangkat kepalanya, semua orang memandanginya. Tak sengaja matanya melihat Wisnu yang sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum. Langsung Haifa menundukkan lagi kepalanya.
Haifa sangat kaget mendengar lamaran ini yang terkesan mendadak. Wisnu tidak mengatakan apapun kepada Haifa tentang lamaran ini. Bahkan sudah beberapa hari tidak pernah meneleponnya lagi. Terakhir kali Wisnu meneleponnya setelah mengantarkannya ke Sumedang.
“Haifa terima pinangan Mas Wisnu,” jawab Haifa dengan suara hampir tidak terdengar oleh semuanya.
Namun…..
“Alhamdullilah,” ucap Wisnu.
Pak Broto langsung menoleh ke Wisnu.
“Kamu sudah ucap alhamdullilah. Memangnya kamu bisa mendengar jawabannya Haifa?” Tanya Pak Broto.
“Iya dong, Pah,” jawab Wisnu dengan berseri.
“Haifa, coba kamu ngomomg yang jelas! Agar semua orang mendengar jawabanmu,” kata Pak Yayat.
“Haifa menerima pinangan Mas Wisnu,” jawab Haifa.
“Alhamdullilah,” ucap semua orang yang ada di ruangan itu.
“Nah begitu dong, kan jadi terdengar oleh semua orang. Tidak seperti tadi, kamu menjawabnya dengan bahasa kalbu. Cuma Wisnu yang bisa mendengar jawabanmu,” kata Pak Broto.
“Kami ingin pernikahan mereka dilaksanakan secepatnya. Pernikahan akan dilangsungkan bulan depan,” kata Pak Broto.
“Secepat itu? Tapi kami belum siap, Pak,” kata Pak Yayat.
__ADS_1
“Mohon maaf sebelumnya. Bukan maksud saya meremehkan Bapak dan Ibu. Tapi saya tidak ingin Bapak dan Ibu merasa terbebani dengan pernikahan kami. Biar semuanya menjadi tanggungan saya,” kata Wisnu.
“Pernikahannya akan dilaksanakan dimana?” tanya Pak Yayat.
“Di Jakarta, Pak. Karena relasi saya cukup banyak, jadi pernikahanakan dilaksanakan di Jakarta,” jawab Wisnu.
Mendengar jawaban Wisnu, Pak Yayat dan Ibu Euis saling berpandangan. Mereka merasa keberatan jika pernikahan diadakan di Jakarta. Bagaimana keluarga dan tetangga mereka? Tentu mereka tidak dapat datang karena jaraknya cukup jauh.
“Saya akan menyediakan bis untuk mengangkut keluarga dan para tetangga,” kata Wisnu. Seolah Wisnu membaca pikiran Pak Yayat dan Ibu Euis.
“Bapak dan Ibu serta Dodi akan dijemput seminggu sebelumnya oleh supir saya dan akan tinggal di apartement milik saya,” kata Wisnu.
“Mas Wisnu punya apartment?” Tanya Dodi yang tiba-tiba muncul dari balik tembok.
Dari tadi Dodi duduk di dalam sambil menguping pembicaraan mereka.
“Iya. Ada kolam renangnya juga. Nanti Dodi bisa berenang sepuasnya,” jawab Wisnu.
“Asyikkkkk,” seru Dodi dengan wajah berseri.
“Ternyata rencana Den Wisnu sudah matang, Segala sesuatunya sudah dipikirkan baik-baik,” puji Pak Yayat.
Wisnu tersenyum mendengarkan perkataan Pak Yayat.
“Iya, Pak. Sampai beberapa hari ini saya tidak menghubungi Haifa, karena sibuk memikirkan hal ini,” kata Wisnu.
“Bagaimana Haifa, kamu setuju tidak dengan rencana Den Wisnu?” Tanya Pak Yayat kepada Haifa.
Haifa melirik ke arah Wisnu, seperti biasa lelaki itu sedang memandanginya sambil tersenyum.
“Haifa terserah Mas Wisnu saja. Haifa ikut saja apa yang Mas Wisnu katakan,” jawab Haifa.
“Haifa, kamu harus punya pendirian! Jangan sampai Wisnu nyebur ke kali kamu ikut nyebur ke kali,” seru Pak Broto.
Secara reflek Ibu Deswita langsung memukul tangan Pak Broto.
“Papah! Orang yang sedang jatuh cinta memang begitu. Papah kayak tidak pernah muda saja,” seru Ibu Deswita.
“Mamah kali yang seperti itu, Papah nggak tuh,” jawab Pak Broto.
“Iiishh Papah! Kalau dibilangin suka nggak mau denger,” kata Ibu Deswita sambil cemberut.
Tiba-tiba terdengar suara adzan dari masjid terdekat.
“Alhamdullilah, sudah adzan dzuhur. Ayo Pak , kita sholat dzuhur di masjid,” kata Pak Yayat.
“Ayo,” jawab Pak Broto dan langsung berdiri.
“Ayo calon penganti, kita sholat dzuhur dulu. Rapatnya diteruskan setelah sholat dzuhur,” kata Pak Broto sambil menepuk bahu Wisnu.
“Rapatnya diteruskan setelah makan siang, Pak,” kata Bi Nani.
“Oh…jadi setelah sholat makan siang dulu. Kapan Bi Nani masaknya?” Tanya Pak Broto.
“Bukan saya yang masak. Tapi adik saya yang masak,” jawab Bi Nani.
__ADS_1
“Oke….Sekarang kita sholat dzuhur dulu,” kata Pak Broto sambil keluar dari rumah Haifa.
Semua laki-laki pergi sholat dzuhur di masjid. Tinggallah para perempuan sholat dzuhur di rumah sambil menyiapkan makan siang.