Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
60. Meminta Maaf.


__ADS_3

Setelah selesai sarapan Wira duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian Haifa menyusul sambil membawa secangkir kopi.


“Diminum kopinya, Mas,” kata Haifa.


“Terima kasih,” ucap Wira lalu meminum kopi buatan Haifa.


Setelah meminum kopinya Wira menyenderkan punggungnya ke kursi sambil menutup matanya. Setelah selesai sarapan Wira merasa ngantuk berat. Apalagi Wira berangkat dari Jakarta ketika dini hari agar pagi sudah sampai di Sumedang.


“Mas kalau cape, istirahat dulu di kamar Dodi,” kata Haifa.


“Tidak usah, biar di sini saja. Aku ke sini karena ada yang ingin dibicarakan denganmu,” jawab Wira.


“Bicaranya nanti saja, sekarang Mas istirahat dulu,” kata Haifa.


“Sebentar saya bereskan dulu kamar Dodi, agar Mas Wira bisa istirahat dengan nyaman.”


Haifa beranjak menuju ke kamar Dodi. Sambil menunggu Haifa Wira memejamkan matanya sebentar. Tak lama kemudian Haifa datang dan menghampiri Wira. Terdengar suara dengkuran halus dari mulut Wira.


“Yah, sudah keburu tidur,” kata Haifa ketika melihat Wira tidur dengan nyenyak di kursi.


Haifa menepuk-nepuk pangkal lengan Wira.


“Mas….bangun, Mas. Pindah ke kamar, ya,” kata Haifa.


Wira pun bangun.


“Tidurnya pindah ke kamar Dodi,” kata Haifa.


Wirapun mengangguk. Kemudian beranjak dari kursi dan mengikuti Haifa menuju ke kamar Dodi.


“Maaf, kamarnya kecil dan tidak ada pendingin ruangan,” kata Haifa.


“Tidak apa-apa,” jawab Wira.


“Sekarang Mas istirahat dulu.”


Haifa meninggalkan Wira sendirian di kamar Dodi dan kemudian menutup pintu kamar.


“Wira kemana?” tanya Ibu Euis ketika melihat Haifa keluar dari kamar Dodi.


“Tidur di kamar Dodi,” jawab Haifa.


“Biarkan dia istirahat dulu, kelihatannya dia cape sekali,” kata Ibu Euis.


Tiba-tiba terdengar suara Alifa menangis.


“Eeekkkkk.”


“Haifa ke kamar dulu, mau lihat Alifa,” kata Haifa.


Ibu Euis kembali ku dapur untuk melanjutkan memasak.


Pukul satu siang Dodi pulang dari sekolah.


“Assalamualaikum,” ucap Dodi ketika masuk ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam,” jawab Haifa sambil menggendong Alifa.


Ketika Dodi hendak membuka pintu kamarnya, Haifa berkata, "Jangan berisik, ada Mas Wira sedang tidur.”

__ADS_1


Dodi tidak jadi masuk ke dalam kamarnya.


“Kapan Mas Wira datang?” tanya Dodi.


“Tadi pagi, waktu Teteh lagi ke pasar,” jawab Haifa.


“Masuk ke kamarnya pelan-pelan!” kata Haifa.


Pelan-pelan Dodi masuk ke dalam kamarnya, tak lama kemudian ia keluar lagi sambil membawa baju.


“Nanti kalau sudah ganti baju, bangunkan Mas Wira. Dia belum sholat dzuhur dan belum makan,” kata Haifa.


“Iya, Teh,” jawab Dodi.


Dodipun berjalan menuju ke kamar mandi untuk berganti baju. Tak lama kemudian Dodi keluar dari kamar mandi dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian Wira keluar dari kamar bersama Dodi. Kemudian mendekati Haifa yang sedang menggendong Alifa. Diusapnya kepala Alifa.


“Sholat dulu, Mas. Sudah kesiangan,” kata Haifa.


“Iya,” jawab Wira.


Wirapun berjalan menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Tak lama kemudian Wira keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamar Dodi untuk sholat dzuhur. Seperempat jam kemudian Wira keluar dari kamar Dodi.


“Makan dulu, Mas,” kata Haifa.


Wira kemudian duduk di meja makan bergabung dengan Dodi yang sedang makan siang.


“Kamu nggak makan?” tanya Wira melihat Haifa tidak ikut makan bareng dengannya.


“Tadi sudah makan bareng sama Mamah dan Sri,” jawab Haifa.


Wirapun makan siang bersama dengan Dodi.


Setelah selesai makan Wira kembali duduk di ruang tamu.


“Air putih saja,” jawab Wira.


Haifa ke dapur mengambilkan segelas air putih untuk Wira.


“Sini, Alifanya Mamah gendong.”


Ibu Euis mengambil Alifa dari tangan Haifa. Haifa dengan leluasa mengambilkan minum untuk Wira.


Haifa menaruh segelas air putih di meja lalu duduk di kursi ruang tamu.


“Bisa kita berbicara sekarang? Tapi jangan di sini. Kita bicaranya di luar saja,” kata Wira.


Haifa menjawab dengan mengangguk. Bagaimanapun juga urusan mereka harus diselesaikan dengan baik-baik.


“Haifa minta ijin dulu ke Mamah,” kata Haifa.


Haifapun beranjak ke dalam rumah dan beberapa menit kemudian Haifa sudah berganti baju dengan pakaian yang rapih. Ibu Euis mengikuti Haifa dari belakang sambil menggendong Alifa.


“Tante, Wira permisi dulu. Mau mengajak Haifa keluar,” kata Wira kepada Ibu Euis.


“Iya, silahkan,” jawab Ibu Euis.


“Alifa, Om pinjam Mamahnya dulu,” kata Wira kepada Alifa.


Namun bayi lucu itu malah anteng memainkan ludahnya.

__ADS_1


“Mas, pulangnya bawa oleh-oleh,” sahut Dodi yang berdiri di belakang Ibu Euis.


“Siap,” jawab Wira.


Dengan refleks Ibu Euis memukul Dodi.


“Kamu mah malu-maluin aja. Suka minta-minta ke Mas Wira,” seru Ibu Euis.


“Tidak apa-apa kok, Tante,” kata Wira sambil tersenyum.


“Tuh kata Mas Wira juga tidak keberatan,” kata Dodi.


“Sudah kalian pergi saja. Abaikan aja permintaan Dodi,” kata Ibu Euis.


“Yah…Mamah,” ujar Dodi dengan kecewa.


“Kami pergi dulu, Tante. Assalamualaikum,” ucap Wira.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Euis.


Wira dan Haifapun berjalan menuju ke mobil Wira yang diparkirkan di tanah kosong.


*****


Haifa mengajak Wira menuju ke café yang berlatarkan pemandangan kota Sumedang dari atas bukit.


“Di sini tempatnya?” tanya Wira yang takjub melihat café dengan suasana outdoor yang berada di atas bukit.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


Wira dan Haifa turun dari mobil lalu berjalan menuju ke café tersebut. Haifa memilih meja yang berada di outdoor dengan panorama gunung Tampomas. Seorang pelayan menghampiri mereka, merekapun memesan minuman dan snack. Setelah pelayan itu pergi, Haifa mulai membuka suara.


“Mas Wira mau bicara apa?” tanya Haifa.


“Aku mau minta maaf sama kamu atas apa yang telah aku lakukan. Aku tidak bermaksud melecehkanmu. Kamu berbeda dengan perempuan-perempuan yang aku kenal. Kamu dan Alifa sangat berarti bagi aku. Aku meninggalkan Bangkok dan kembali ke sini hanya untuk kalian. Aku berniat untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih serius lagi,” kata Wira.


“Maaf, Mas. Haifa belum bisa menerima laki-laki lain masuk ke dalam kehidupan kami. Haifa masih belum bisa melupakan Mas Wisnu,” jawab Haifa.


Wira tersenyum walaupun terasa sakit atas penolakan Haifa.


“Tidak apa-apa. Tapi besok aku harap kamu ikut pulang ke Jakarta. Kasihan Mamah kesepian. Lusa aku harus berangkat ke Bangkok,” kata Wira.


Haifa kaget mendengarnya.


“Mas Wira mau pergi ke Bangkok? Berapa lama?” tanya Haifa.


“Aku ada pekerjaan yang harus aku kerjakan di sana. Dan belum tahu berapa lama di sana. Mungkin aku akan menerima kembali tawaran mereka untuk bekerja di sana,” jawab Wira.


Wajah Haifa langsung pucat ketika mendengarnya.


“Mas Wira akan lama di sana?” tanya Haifa.


“Iya,” jawab Wira.


Entah mengapa mendengar jawaban Wira membuat hati Haifa sedih.


Tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka.


“Sudah jangan kamu pikirkan. Pokoknya semua kebutuhan kamu dan Alifa tetap akan aku penuhi,” kata Wira.

__ADS_1


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


Kali ini Haifa yang sulit untuk menelan makanan dan minumannya.


__ADS_2