
“Maksud Mas apa?” Tanya Haifa kepada Wira.
Wira menoleh sebentar ke Haifa.
“Mas Wisnu sebelum meninggal menitipkan kamu kepadaku,” jawab Wira.
“Bahkan beberapa jam sebelum Mas Wisnu meninggal, ia masih sempat mengirim pesan. Ia menyuruhku untuk pulang. Ketika aku telepon balik Mas Wisnu sudah mematikan ponselnya,” kata Wira sambil sesekali menoleh ke Haifa.
Haifa kembali menghadap ke depan, lalu menghela nafas. Sepertinya suaminya sudah mempunyai firasat.
“Sekarang kalian berdua adalah tanggung jawabku. Aku yang akan menanggung semua keperluan kalian. Bahkan aku yang akan membiayai sekolah Dodi,” kata Wira.
“Saya tidak mau menjadi beban Mas Wira. Setelah bayi ini lahir saya akan kembali ke Sumedang dan bekerja di sana,” kata Haifa.
“Kalian bukan bebanku. Aku adalah wali yang sah dari anak dalam kandunganmu. Aku ingin kamu fokus mengurus keponakanku. Cukup aku saja yang bekerja,” kata Wira.
“Aku akan kembali ke Indonesia dan bekerja di perusahaan milik Papah. Aku juga memiliki café yang hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan kalian setiap bulan. Jadi kamu tidak usah khawatir,” kata Wira lagi.
“Tapi kami tidak bisa selamanya menjadi beban Mas Wira. Suatu saat nanti Mas Wira pasti akan menikah dan memiliki keluarga. Anak-anak dan istri Mas Wira pasti tidak terima jika Mas Wira harus membiayai kami berdua,” ujar Haifa.
“Jangan khawatir. Sampai saat ini aku belum menemukan perempuan yang tepat untuk menjadi istriku. Jadi aku masih bisa fokus kepada kalian berdua,” kata Wira sambil tersenyum kepada Haifa.
Wira membelokkan mobilnya menuju TPU Tanah Kusir. Kemudian ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
“Sudah sampai, ayo kita turun!” Wisnu membuka seatbeltnya.
“Kamu masih ingat tempatnya, kan?” Tanya Wisnu.
Haifa menjawab dengan menggeleng kepala.
“Tidak apa-apa. Nanti kita tanya ke petugas makam,” kata Wira.
Wira membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Ia jalan lebih dahulu, Haifa mengikutinya dari belakang. Wira menanyakan makam Wisnu kepada petugas makam. Mereka diantar oleh petugas makam menuju ke makam Wisnu. Akhirnya mereka sampai di makam Wisnu.
“Terima kasih, Pak,” ucap Wira sambil memberikan uang sebesar sepuluh ribu rupiah kepada petugas makam.
Wira dan Haifa berjongkok di sebelah makam Wisnu. Haifa membacakan ayat-ayat pendek Al Qur’ an sambil mengusap perutnya. Bayi di dalam kandungannya bergerak tidak bisa diam.
Cukup lama mereka berada di pemakaman Haifa masih enggan untuk beranjak dari sana. Ia terus membacakan ayat-ayat Al Qur’an sambil sesekali mengusap air mata di pipnya. Wira melirik jam yang melingkar pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Sudah satu jam mereka berada di sini.
“Haifa, kita pulang yuk. Kita sudah lama di sini,” ajak Wira.
Namun Haifa hanya menggeleng kepalanya. Ia masih saja membaca Al Qur’an.
“Kamu belum sarapan,” kata Wira.
Haifa berhenti membaca Al Qur’an.
“Mas Wira lapar? Di mobil ada makanan,” kata Haifa lalu melanjutkan membaca Al Qur’annya.
Wira mendekati Haifa.
“Haifa, Mas Wira tau kamu masih berduka. Tapi kamu jangan terpuruk dalam kesedihan. Perjalananmu masih panjang. Ada anak yang di dalam kandunganmu yang butuh perhatian,” kata Wira.
“Kita pulang, ya! Kasihan babynya lapar,” ajak Wira.
Benar apa yang dikatakan Wira. Tidak ada gunanya ia larut dalam kesedihan, tidak akan bisa mengembalikan Wisnu ke sisinya.
Haifa menutup Al Qur’annya, lalu mencoba untuk berdiri. Namun susah karena kakinya kesemutan.
“Kenapa?” Tanya Wira melihat Haifa kesulitan untuk berdiri.
“Kesemutan,” jawab Haifa.
Wira mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Pegang tanganku,” kata Wira.
Namun Haifa tidak mau megang tangan Wira.
“Kenapa? Mau Di gendong?” Tanya Wira.
Cepat-cepat Haifa mengeleng kepalanya.
“Mau pegang tangan atau mau dgendong? Pilih salah satu,” kata Wira.
Haifa lebih memilih bangun sendiri. Dengan bersusah payah ia berdiri sendiri, sampai akhirnya ia bisa berdiri. Namun karena kaki Haifa menginjak batu yang licin, sehingga tubuh Haifa menjadi limbung. Haifa hampir jatuh terjungkal ke belakang. Dengan raflek Wira menahan punggung Haifa.
“Hampir saja,” ujar Wira yang menahan punggung Haifa.
“Lain kali harus lebih hati-hati! Ibu hamil tidak boleh sampai jatuh!” seru Wira.
“Terima kasih,” ucap Haifa.
“Kalau ke sini, bawa kursi lipat! Taruh kursinya di bagasi mobil!” seru Wira.
“Iya,” jawab Haifa.
“Kamu bikin aku jantungan saja.” Wira masih saja ngoceh.
“Mas Wira bawel seperti perempuan,” ujar Haifa.
“Aku bawel karena kelakuan kamu itu membahayakan baby di dalam kandungan,” jawab Wira.
“Iya, maaf,” ucap Haifa dengan rasa bersalah.
“Jangan diulangi lagi!” seru Wira.
“Iya, Mas,” kata Haifa.
“Kamu jalan duluan!” kata Wira.
“Kenapa?” Tanya Wira melihat Haifa yang terus memperhatikan gerobak bubur ayam.
“Mau bubur ayam,” jawab Haifa.
“Boleh, tapi makannya di mobil!” kata Wira.
“Iya,” jawab Haifa dengan senang.
“Mas Wira mau bubur ayam?” Tanya Haifa.
“Tidak. Aku mau makan bekal saja,” jawab Wira.
Haifa menghampiri tukang bubur dan memesan bubur. Sedangkan Wira masuk ke dalam mobil dan memakan bekal yang dibawakan Ibu Euis.
Haifa masuk ke dalam mobil sambil membawa semangkok bubur. Wira memperhatikan bubur yang dibawa oleh Haifa.
“Itu sambelnya nggak kurang banyak?” sindir Wira.
“He..he…he…Kalau kurang pedas rasanya nggak nikmat,” jawab Haifa.
Wira menghela nafas.
“Ntar sakit perut,” kata Wira.
“Nggak akan,” jawab Haifa.
Haifa mengaduk buburnya lalu memakannya sedikit demi sedikit.
“Enak?” Tanya Wira melihat Haifa makan sedikit-demi sedikit.
__ADS_1
“Enak, Mas. Cuma masih panah,” jawab Haifa.
“Alhamdullilah kalau enak. Makan yang banyak,” kata Wira.
Wira sudah menghabiskan makanannya, lalu mengambil air minum dari dalam tas.
“Satu lagi apa?” wira menunjuk kotak satu lagi.
“Kue sisa pengajian kemarin,” jawab Hifa.
Wira membuka kotak bekal itu dan mengambil kue nagasari. Kemudian Wira memakannya.
“Masih enak,” kata Wira sambil mengunyah kue nagasari.
“Kata Mamah sudah dipanaskan lagi,” ujar Haifa.
Haifa sudah selesai makan buburnya. Ia langsung hendak ke luar dari mobil.
“Jangan keluar! Biar abangnya yang ke sini,” kata Wira.
Wira keluar dari mobil dan memanggil tukang bubur .
“Bang Bubur!” panggil Wira.
Tukang bubur pun menghampiri Wira, Wira memberikan mangkok ke Tukang bubur.
“Berapa, Bang?” Tanya Wira.
“Delapan ribu rupiah, Pak,” jawab Tukang Bubur.
Wira memberi uang sepuluh ribu rupiah.
“Nggak usah dikembalikan!” kata Wira.
“Terima kasih, Pak,” ucap Tukang bubur.
“Hmmm,” kata Wira sambil mengangguk.
Wira masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobil.
“Masih ingin makan sesuatu?” Tanya Wira sambil menutup pintu.
“Mau makan ini.” Haifa mengangkat goody bag yang berisi bekal.
Wira melongo melihatnya.
“Masih muat?” Tanya Wira dengan tidak percaya.
“Masih,” jawab Haifa sambil mengambil kotak bekal.
“Nggak apa-apa. Asalkan baby nya sehat,” kata Wira sambil menyetir mobil keluar dari tempat parkir TPU.
“Kamu mau kemana lagi?” Tanya Wira sambil menyetir mobil.
“Nggak kemana-mana lagi. Nanti malam mau ke dokter kandungan,” jawab Haifa sambil menyuap makanannya.
“Jam berapa?” Tanya Wira.
“Jam tujuh,” jawab Haifa.
“Nanti aku antar,” kata Wira.
“Nggak usah, Mas. Biar sama Pak Tono saja. Ngantrinya lama, bisa sampai sepuluh malam,” ujar Haifa.
“Nggak apa-apa. Mumpung aku masih di sini. Nanti kalau aku sudah kembali ke Bangkok, gantian Pak Tono yang mengantar kamu,” kata Wira.
__ADS_1
“Terserah Mas Wira deh. Tapi jangan cerewet kalau kelamaan menunggu,” kata Haifa.
“Tenang aja. Aku nggak bakal cerewet,” jawab Wira.