
Sore harinya Haifa mengajak Alifa dan Sri untuk berjalan-jalan di sekitar lingkungan rumah Haifa. Sudah lama Haifa tidak berjalan-jalan di rumahnya. Ketika Haifa berjalan tiba-tiba ada motor yang berhenti di depannya.
“Haifa,” pengemudi motor itu memanggil Haifa dari atas motornya.
Haifa menoleh ke arah pengemudi motor itu.
“Aa Syaiful,” kata Haifa.
“Apa kabar? Lama tidak bertemu,” sapa Syaiful ketika Haifa sudah mendekat dengan motornya.
“Haifa dalam keadaan, baik A,” jawab Haifa.
“Aa turut berduka cita atas meninggalnya suamimu,” ucap Syaiful.
“Terima kasih,” jawab Haifa.
“Itu anak kamu?” Syaiful menunjuk ke Alifa.
“Iya,” jawab Haifa.
“Namanya siapa?” tanya Syaiful.
“Namanya Alifa. Alifa Wisnu Hutama,” jawab Haifa sambil tersenyum pada Alifa yang sedang asyik memainkan ludahnya.
“Cantik seperti Mamahnya,” puji syaiful.
“Kamu ke Sumedang sama siapa?” tanya Syaiful.
“Sama Bi Nani dan Mang Diman,” jawab Haifa.
“Ini siapa?” Syaiful menunjuk ke Sri.
“Ini baby sitternya Alifa,” jawab Haifa.
“Oh…”
“Kalian mau pada kemana?” tanya Syaiful.
“Jalan-jalan saja. Nanti pulangnya makan baso,” jawab Haifa.
“Aa temani, ya,” kata Syaiful.
“Eh… jangan Aa pulang saja. Aa kan cape baru pulang kerja,” jawab Haifa.
“Nggak apa-apa. Sekali-sekali nemenani kamu jalan-jalan,” kata Syaiful.
Haifa teringat kembali nasehat mertuanya, Haifa harus mencari cara agar Syaiful tidak ikut bersamanya.
Tiba-tiba ponsel Syaiful berdering.
“Sebentar Aa jawab telepon dulu,” kata Syaiful.
__ADS_1
Syaiful mengambil ponsel dari dalam saku celananya.
“Assalamualaikum,” ucap Syaiful.
“……”
“Kuncinya saya taruh di laci,” jawab Syaiful.
“……..”
“Masa nggak ada?” tanya Syaiful.
“……..”
“Ya, sudah. Saya ke sana sekarang,” kata Syaiful dengan kesal.
Syaiful memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celananya.
“Maaf Haifa. Seperrtinya Aa tidak jadi ikut. Aa harus kembali lagi ke toko,” kata Syaiful.
“Iya, tidak apa-apa. Lagi pula ada Sri yang tugasnya menemani Haifa,” jawab Haifa.
“Dah Alifa. Kapan-kapan jalan-jalan sama Om, ya,” kata Syaiful kepada Alifa.
“Aa, pergi dulu. Assalamualaikum,” ucap Syaiful kemudian mengendarai motornya meninggalkan Haifa.
“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.
Akhirnya sampai juga mereka di kedai baso Pak Min. Sore itu kedai Pak Min penuh, mungkin karena hari minggu jadi banyak yang membeli baso. Haifa mencari bangku yang kosong. Untung mereka bisa mendapatkan bangku yang kosong. Kemudian Haifa memesan baso.
“Pak, mie baso dua. Es campurnya dua,” kata Haifa kepada Pak Min.
“Ya, Neng,” jawab Pak Min.
Tak lama kemudian baso dan minuman pesanan merekapun datang. Haifa memasukkan sambel ke dalam basonya lalu ia mencicipinya. Rasa kangen pada baso langganannya terbayar sudah.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada sebuah pesan dari Wira.
Mas Wira:
Kamu lagi apa?
Haifa menghela nafasnya.
“Sri, tolong fotoin isi mangkok baso saya,” kata Haifa sambil memberikan ponselnya kepada Sri.
Sri mengambilnya kemudian memfoto isi mangkok baso Haifa.
“Sudah, Bu.”
Sri mengembalikan ponsel Haifa.
__ADS_1
“Terima kasih, Sri,” ucap Haifa.
Haifa mengirim foto baso kepada Wira. Wira melihat Haifa mengirim gambar baso, langsung tersenyum.
Dia sedang makan baso, kata Wira di dalam hati.
Wira mengirim pesan lagi kepada Haifa.
Mas Wira:
Jangan terlalu banyak makan sambelnya! Kasihan sama Alifa kalau Mamahnya banyak makan sambel.
Haifa membalasnya dengan stiker bertuliskan OK!
Wira tersenyum melihat stiker yang dikirim Haifa.
Kemudian Wira mengirim pesan lagi ke Haifa.
Mas Wira:
Alifa sedang apa?
Haifa menghela nafas lagi.
“Sri, tolong foto Alifa,” kata Haifa sambil memberikan ponselnya kepada Sri.
Sri mengambil ponsel Haifa kemudian memfoto Alifa.
“Sudah, Bu.”
Sri memberikan kembali ponsel Haifa.
“Terima kasih, Sri,” ucap Haifa.
Kemudian Haifa mengirim foto Alifa yang sedang asyik memperhatikan sekitarnya kepada Wira. Wira tersenyum melihatnya. Walaupun Haifa tidak membalas pesannya, tapi dengan mengirim foto sudah membuat Wira senang. Sekarang hatinya menjadi tenang.
Wira mengirim pesan lagi kepada Haifa.
Mas Wira :
Selamat bersenang-senang. Pulangnya jangan terlalu malam.
Haifa menjawab pesan Wira dengan stiker bertuliskan OK!
Wira senang mendapat jawaban dari Haifa walaupun berupa stiker. Dengan wajah berseri Wira keluar dari ruangannya.
“Rita, saya pulang ya,” kata Wira kepada Rita.
“iya, Pak,” jawab Rita.
Dengan hati riang Wira masuk ke dalam liff.
__ADS_1
“Tadi wajahnya kusut seperti orang kebingungan. Eh….sekarang wajahnya cerah ceria. Dasar bos aneh, moodnya mudah berganti-ganti,” Rita berbicara sendiri.