
Beberapa Bulan Kemudian.
Wira sedang memimpin rapat, tiba-tiba terdengar suara ponselnya berdering. Di layar ponselnya tertulis “Mamah”.
“Sebentar, saya harus menjawab telepon penting,” kata Wira kepada peserta rapat.
Wira membawa ponselnya menuju ke pojok ruang rapat.
“Assalamualaikum, Mah,” ucap Wira.
“Waalaikumsalam. Wira, Mamah sekarang sama Enin sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Haifa mau melahirkan. Kamu nyusul ke rumah sakit sekarang, ya!” kata Ibu Deswita.
“Iya, Mah,” jawab Wira.
“Assalamualaikum,” ucap Ibu Deswita.
“Waalaikumsalam,’ jawab Wira.
Wira mematikan teleponnya. Wira kembali ke tempatnya.
“Maaf, saya harus ke rumah sakit sekarang juga. Istri saya mau melahirkan. Rapat akan dilanjutkan oleh Pak Ekky,” kata Wira.
“Ky, tolong pimpin rapat,” kata Wira kepada Ekky.
“Baik, Mas,” jawab Ekky.
Wira meninggalkan ruang rapat.
Sesampainya di rumah sakit Wira langsung menuju ke ruang bersalin.
Di depan ruang bersalin ada Pak Broto, Wina dan Sri. Sedangkan Alifa sedang di gendong oleh Pak Broto.
“Pah, bagaimana keadaan Haifa?” tanya Wira kepada Pak Broto.
“Sepertinya belum melahirkan. Haifa terus saja memanggilmu,” jawab Pak Broto.
“Wira ke dalam dulu,” pamit Wira.
“Aya, icut. Au iat ade,” kata Alifa sambil mengulurkan tangannya ke Wira.
Wira menghampiri Alifa.
“Adenya belum lahir. Alifa di sini sama Akung. Ayah mau lihat Mamah dulu,” kata Wira sambil mengusap kepala Alifa.
Kemuduan Wira masuk ke ruang bersalin. Di dalam ruang bersalin terdengar suara Haifa yang menanyakan Wira.
“Mah, Mas Wira mana? Perut Haifa sakit, Haifa mau sama Mas Wira,” kata Haifa kepada kepada Ibu Deswita.
Sedangkan Ibu Euis sedang mengusapi kepala anaknya agar lebih sabar.
“Sabar, Haifa. Sebentar lagi Wira datang,” kata Ibu Deswita.
Wira memasuki ruang bersalin.
“Haifa,” kata Wira ketika masuk ruang bersalin.
Semua orang menoleh kea rah Wira.
“Mas Wira darimana? Haifa sudah nggak tahan lagi. Perut Haifa sakit sekali,” keluh Haifa.
Wira mendekati istrinya.
“Sabar, ya. Sebentar lagi bayi kita akan lahir,” kata Wira sambil mengusap kepala Haifa.
“Mah, dokternya mana?” tanya Wira.
__ADS_1
“Sedang dalam perjalanan ke rumah sakit,” jawab Ibu Deswita.
Tak lama kemudian terdengar suster menyapa seseorang.
“Selamat siang, Dok,” sapa suster.
“Siang.”
Seseorang dokter masuk ke ruangan bersalin.
“Selamat siang,” sapa dokter.
“Siang, dok,” jawab Wira.
“Wah, ditungguin sama nenek-neneknya. Satu saja yang menemani. Yang lainya tunggu di luar,” kata dokter.
Ibu Deswita dan Ibu Euis keluar dari ruang bersalin.
“Bapak, bantu saya. Kalau Ibunya ngeden, bapak angkat punggung,” kata dokter.
“Oke, kita mulai.”
Tak lama kemudian terdengarlah suara tangisan bayi. Bayi laki-laki diberi nama Najril Wira Hutama.
****
Tiga Bulan Kemudian.
Wira dan Haifa baru saja menyelasaikan sholat isya. Mereka sedang melipat sarung dan mukena.
“Mas, aku pengen makan durian,” kata Haifa.
Wira menoleh ke Haifa.
“Besok, ya. Besok Mas carikan durian. Sekarang sudah malam,” jawab Wira.
Wira menghela nafas.
“Ya sudah, sekarang Mas carikan durian,” kata Wira.
“Haifa mau ikut,” kata Haifa.
“Eh, jangan kasihan anak-anak kalau ditinggalkan sendirian. Apa lagi Najril masih bayi,” ujar Wira.
“Kan ada Sri, Bi Iroh dan Bi Iyem,” jawab Haifa.
Wira menghela nafas lagi.
“Ya sudah, kamu ikut. Tapi titipkan dulu anak-anak ke Sri,” kata Wira.
“Iya, Mas,” jawab Haifa dengan gembira.
Haifa menitipkan Alifa dan Najril kepada Sri lalu merekapun pergi mencari buah durian.
Wira dan Haifa berkeliling kota mencari buah durian. Namun karena bukan musimnya, mereka sulit menemukan buah durian. Wira mencarinya sampai ke pasar induk, tetap saja mereka tidak menemukan buah durian. Wira sudah putus asa mencarinya, namun Haifa masih saja memaksa Wira untuk mencari buah durian sampai ketemu. Sampai akhirnya Wira mendapatkan ide.
“Bagaimana kalau pancake durian? Kamu mau nggak?” tanya Wira.
“Nggak mau. Haifa maunya buah durian, bukan pancake,” jawab Haifa dengan kesal.
“Ini buah durian juga hanya saja diselimuti pancake lalu dimasukkan ke freezer,” jawab Wira.
“Rasanya seperti durian, nggak?” tanya Haifa.
“Ya seperti durian. Namanya juga buah durian,” jawab Wira.
__ADS_1
“Ya sudah, ayo kita beli pancake durian,” kata Haifa.
“Sebentar, Mas telepon Syaiful dulu,” jawab Wira.
Wira memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu menelepon Syaiful.
“Assalamualaikum, Pak,” ucap Syaiful.
“Waalaikumsalam. Ful, pancake durian di café masih ada, nggak?” tanya Wira.
“Masih, Pak. Kemarin baru diisi lagi lagi oleh konsinyornya,” jawab Syaiful.
“Alhamdullilah. Haifa mau makan buah durian. Ya sudah, saya mau ke café sekarang. Assalamualaikum,” kata Wira.
"Waalaikumsalam," jawab Syaiful.
Wira menutup teleponnya.
“Bagaimana, Mas? Ada nggak?” tanya Haifa.
“Ada, kemarin baru di isi oleh konsinyornya,” jawab Wira.
“Ayo, sekarang ke café! Nanti keburu habis,” seru Haifa.
“Ya sabar. Nanti kalau habis, Mas suruh konsinyor isi lagi pancakenya,” jawab Wira.
“Tapi Haifa mau makan sekarang,” kata Haifa.
“Ya sudah. Ayo, kita ke café,” kata Wira.
Wirapun mengendarai mobilnya menuju ke café miliknya.
Sesampai di café, Wira dan Haifa langsung turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam café. Para karyawan sedang membersihkan café, karena sebentar lagi café akan tutup. Wira langsung menuju ke freezer pancake durian. Wira mengambil satu pancake durian lalu diberikan kepada Haifa.
“Kamu coba satu dulu,” kata Wira.
Haifa mencari tempat duduk lalu ia makan pancake durian sambil duduk.
“Bagaimana?” tanya Wira.
“Enak, Mas. Tapi dingin ke mulut,” jawab Haifa.
“Kan disimpan di freezer jadi dingin,” kata Wira.
“Ambilkan satu lagi, Mas,” kata Haifa.
“Habiskan dulu yang itu. Baru ambil yang lain,” jawab Wira.
“Biar nggak dingin, Mas,” kata Haifa dengan kekeh.
Terpaksa Wira mengeluarkan pancake dari freezer. Haifa memakan habis pancake yang pertama lalu memakan pancake durian yang kedua sampai habis. Lalu minta pancake durian lagi sampai menghabiskan lima buah pancake durian.
“Sudah ah, Mas. Haifa sudah kenyang,” kata Haifa.
Wirapun membayar pancake durian ke kasir.
“Pak, sudah closing,” kata bagian kasir.
Wira juga tahu kalau jam segini karyawannya sedang closing transaksi.
“Kamu catat lalu kamu masukan catatan dan uangnya ke mesin kasir. Biar besok pagi kelihatan oleh kasir yang shift pagi,” kata Wira.
“Baik, Pak,” jawab bagian kasir.
Bagian kasir melakukan apa yang diperintahkan oleh Wira.
__ADS_1
“Ayo. Kita pulang,” kata Wira.
Haifa dan Wira meninggalkan café Selera Kita.