
Suasana Ballroom tempat Haifa dan Wisnu menikah cukup ramai oleh keluarga Wisnu dan Haifa. Mereka hadir untuk menyaksikan akad nikah Wisnu dan Haifa. Haifa berjalan menuju ke tempat akad nikah diampit oleh kedua Bibinya. Sedangkan Wisnu duduk di hadapan Pak Yayat dengan tegang, namun matanya tetap memandangi kekasih hatinya yang sedang berjalan mendekatinya. Sampai akhirnya Haifa duduk di sebelahnya.
“Sebelum akad nikah dimulai coba dilihat dulu apakah benar ini calon mempelai wanitanya?” Kata Pak Kadir Kepala KUA yang ditunjuk sebagai penghulu pernikahan Wisnu dan Haifa.
“Benar, Pak,” jawab Wisnu tanpa menoleh dulu ke samping. Karena Wisnu dari tadi terus menerus memandangi Haifa tanpa berkedip.
“Kalau sudah yakin, kita lanjutkan dengan ijab qobul,” kata penghulu.
Pak Yayat menjabat tangan Wisnu dan memulai ijab qobul. Sampai terdengar suara “SAH.” dari para tamu yang menyaksikan akad nikah.
“Alhamdullilahirobbil’alamin,” ucap Wisnu.
Wajah Wisnu yang tegang berubah menjadi bahagia karena Haifa telah resmi menjadi istrinya. Air mata bahagia mengalir di pipi Haifa. Sekarang ia sudah menjadi istri Wisnu. Wisnu dan Haifa saling memakaikan cincin nikah pada pasangannya.
“Terima kasih sudah menerimaku, Haifa.” Wisnu mencium kening Haifa dengan penuh cinta.
Terdengar suara riuh para tamu ketika Wisnu mencium kening Haifa.
“I love you,” bisik Wisnu setelah mencium kening Haifa.
Wajah Haifa langsung merona mendengar pernyataan cinta dari suaminya. Kemudian Wisnu dan Haifa berfoto berdua sambil memegang buku akad nikah. Terlihat rona bahagia di wajah mereka.
Resepi pernikahan Wisnu dan Haifa berlangsung dengan meriah. Para relasi bisnis Pak Broto dan Wisnu hadir di resepsi pernikahan Wisnu dan Haifa. Salah satunya adalah Pak Darmawangsa seorang pengusaha yang kekayaannya berada di urutan ke sepuluh di negara ini.
__ADS_1
“Pantesan kamu selalu menolak untuk dijodohkan dengan anakku. Ternyata kamu sudah mempunyai calon istri,” kata Pak Darmawangsa ketika menyalami Wisnu.
Wisnu hanya menanggapinya dengan tersenyum ketika mendengar perkataan Pak Darmawangsa.
“Selamat atas pernikahanmu. Semoga kalian hidup bahagia,” ucap Pak Darmawangsa.
“Aamiin ya robilalamin. Terima kasih, Pak,” ucap Wisnu.
Lalu Pak Darmawangsa beralih kepada Haifa.
“Jaga suamimu baik-baik! Di luar sana banyak orang tua yang ingin menjadikan Wisnu sebagai menantu mereka,” kata Pak Darmawangsa.
“Baik, Om,” jawab Haifa.
“Tenang saja, beliau hanya bercanda,” bisik Wisnu.
Haifapun menganguk tanda mengerti.
Diantara para tamu undangan banyak sekali tamu yang tak diundang hadir diresepsi pernikahan Wisnu dan Haifa. Yaitu para wanita merasa dekat dengan Wira dan keluarga Wira. Wisnu menghela nafas ketika melihat banyak wanita cantik bak seorang sosialita yang berpakaian minim dan seksi berada di sekitar Wira. Wira seperti seorang raja minyak yang dikelilingi wanita cantik dan seksi.
Tanpa Wisnu dan Haifa sadari, ada seorang yang sedang memperhatikan mereka. Orang itu sedang memandangi kedua mempelai dengan wajah yang kecewa. Ia sedang menguatkan dirinya untuk memberikan selamat kepada pasangan yang berbahagia itu. Perlahan namun pasti orang itu menghampiri kedua pengantin itu.
“Selamat ya, Mas. Semoga bahagia,” ucap Syaiful sambil menyalami Wisnu.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Wisnu.
Lalu Syaiful beralih ke Haifa.
“Selamat ya, Haifa. Semoga bahagia,” ucap Syaiful.
“Terima kasih, A,” ucap Haifa.
Setelah Syaiful berlalu dari hadapan mereka, Haifa berusaha untuk mengklarifikasi kepada Wisnu.
“Mas, Haifa tidak mengundang Aa Syaiful,” kata Haifa.
“Iya, Mas juga tau. Kamu tidak mengundangnya. Mungkin ia ikut dengan rombongan keluarga dan tetanggamu,” kata Wisnu dengan sabar.
“Sudah, jangan dipikirkan lagi.” Wisnu mengusap punggung Haifa agar Haifa merasa tenang.
“Iya, Mas.”
Haifa sungguh beruntung memiliki suami yang mengerti dengan perasaan Haifa. Semoga saja pernikahan mereka bahagia dan langgeng hingga maut memisahkan mereka. Aamiin.
.
.
__ADS_1
Mudah-mudahan nanti sore bisa up satu bab lagi. Tapi Deche tidak janji.