Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
61. Salam Terakhir.


__ADS_3

Setelah mengantar Haifa pulang ke rumah Wira langsung pamit untuk mencari hotel tempatnya menginap.


“Tidur di sini saja di kamar Dodi. Wira tidur di tempat tidur, Dodi tidur di bawah pakai kasur,” kata Ibu Euis.


“Kasihan Dodi harus tidur di bawah,” jawab Wira.


“Tidak apa-apa. Dodi sudah biasa tidur di bawah kalau banyak tamu menginap di sini,” kata Ibu Euis.


Sebetulnya Wira hendak menolak tawaran Ibu Euis, namun karena Ibu Euis terus memaksa jadi Wira terpaksa menerima tawaran Ibu Euis untuk menginap di rumah Haifa. Ini kesempatan bagi Wira untuk dekat dengan Haifa sebelum ia pergi ke Bangkok.


“Baiklah Tante, kalau memang tidak merepotkan Wira akan menginap di sini,” jawab Wira.


“Nanti Haifa yang akan bereskan kamarnya,” kata Ibu Euis.


Sore harinya ketika Wira sedang merokok di teras rumah, Syaiful datang mencari Haifa.


“Assalamualaikum,” ucap Syaiful.


“Waalaikumsalam,” jawab Wira.


“Haifa ada, Pak?” tanya Syaiful.


“Ada. Sebentar saya panggil dulu.”


Wira mematikan rokoknya di asbak lalu masuk ke dalam rumah untuk memanggil Haifa. Tak lama kemudian Haifa keluar dari rumah.


“Ada apa, A?” tanya Haifa.


“Kita jalan-jalan, yuk. Ajak Alifa sekalian,” kata Syaiful.


“Maaf A, Haifa nggak bisa soalnya lagi ada tamu,” jawab Haifa.


“Tamunya bapak-bapak yang tadi?” tanya Syaiful.


“Iya. Dia itu pamannya Alifa,” jawab Haifa.


“Kalau besok bagaimana? Bisa nggak?” tanya Syaiful.


“Besok juga nggak bisa. Haifa harus pulang ke Jakarta. Kasihan Mamah Deswita kesepian karena Mas Wira harus kembali ke Bangkok,” jawab Haifa.


“Yah, jadi kapan dong Aa bisa jalan-jalan sama Haifa?” tanya Syaiful dengan kecewa.


“Haifa juga nggak tau. Haifa sekarang tinggal di Jakarta sama mertua Haifa, bukan di sini lagi,” jawab Haifa.


“Memang kamu nggak mau menengok kedua orang tuamu?” tanya Syaiful.


“Mama dan Bapak sering ke Jakarta. Haifa suka suruh Pak Tono untuk menjemput Mamah dan Bapak,” jawab Haifa.


“Ya, sudah kalau tidak bisa. Tapi kalau kamu ke Sumedang lagi kasih tau Aa, ya,” kata Syaiful.


“Iya, A,” jawab Haifa.


“Aa pulang dulu, ya. Assalamualaikum,” ucap Syaiful.


Syaiful pergi meninggalkan rumah Haifa.


“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.


Haifapun masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah Wira sedang berbicara dengan Pak Yayat sambil menggendong Alifa. Sedangkan Ibu Euis menyiapkan makan malam. Haifa membantu Ibu Euis menyiapkan makan malam.


“Mau apa Syaiful ke sini?” tanya Ibu Euis.


Kemudian Haifa menceritakan semuanya.


“Kenapa kamu tidak tolak dia dengan tegas kalau memang kamu tidak mau dengan Syaiful. Kasihan dia masih terus mengharapkan kamu,” kata Ibu Euis.


“Dari dulu Haifa sudah menolak dia. Dia aja yang terus berusaha mendekati Haifa,” jawab Haifa.


“Mamah harap kamu bisa jaga diri baik-baik. Jangan sampai orang lain meremehkanmu hanya karena kamu janda,” kata Ibu Euis.


“Iya, Mah,” jawab Haifa.


******


Keesokan harinya Wira dan Haifa pulang ke Jakarta setelah sholat subuh. Sepanjang perjalanan Wira lebih banyak diam dan tidak berkata apapun. Ia fokus menyetir mobil. Sesekali Haifa melirik ke Wira. Entah mengapa rasanya tidak enak melihat Wira diam.


Apa dia marah kepadaku? tanya Haifa di dalam hati.


Mereka sampai di rumah Pak Broto pukul sepuluh pagi. Setelah Wira memasukkan mobilnya ke pekarangan rumah, Wira langsung keluar dari mobil dan melempar kunci mobilnya ke Pak Tono.


“Pak, tolong turunin barang-barang,” kata Wira.

__ADS_1


“Baik, Den,” jawab Pak Tono.


Wira menghampiri Mamahnya yang sudah menunggu di teras rumah, setelah mencium tangan Mamahnya Wira langsung masuk ke dalam rumah.


Ibu Deswita menghampiri Haifa.


“Assalamualaikum,” ucap Haifa lalu mencium tangan Ibu Deswita.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Deswita.


“Bagaimana kabarnu? Sehat?” tanya Ibu Deswita.


“Alhamdullilah Haifa sehat, Mah,” jawab Haifa.


“Cucu Uti apa kabarnya?” tanya Ibu Deswita sambil melihat Alfa yang sedang tidur dipelukan Haifa.


“Alhamdullilah Alifa juga sehat,” jawab Haifa.


“Mamah kangen sekali pada Alifa,” kata Ibu Deswita.


“Mah, Haifa tidurin Alifa dulu,” kata Haifa.


“Iya,” jawab Ibu Deswita.


Haifa berjalan menuju kamarnya. Namun ketika ia baru sampai di depan pintu kamar ia melihat Wira keluar dari kamarnya dengan menggunakan setelan suit dengan dasi yang menggantung di lehernya.


Cepat sekali ganti bajunya, kata Haifa di dalam hati.


Wira menghampiri Haifa.


“Aku berangkat kerja dulu,” pamit Wira.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


“Assalamualaikum,” ucap Wira lalu berjalan menuju ke lantai bawah.


“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.


Haifa masuk ke dalam kamarnya.


Malam harinya ketika waktu makam malam, Wira masih belum juga pulang dari kantor.


“Dia sibuk tapi masih sempat-sempatnya pergi ke Sumedang. Padahal Mamah sudah bilang Pak Tono saja yang menjemput Haifa. Tapi dia ngotot ingin menjemput Alifa,” kata Ibu Deswita.


“Biarkan saja, Mah. Mungkin dia sudah kangen dengan Alifa,” jawab Pak Broto.


“Kalau kangen dengan Alifa kenapa pergi ke Bangkok?” tanya Ibu Deswita dengan kesal.


“Sudah biarkan saja, nanti juga dia pulang lagi,” ujar Pak Broto.


“Iya. Tapi kapan, Pah? Kalau dia memilih menikah dengan orang Thailand dan menetap di sana bagaimana?” tanya Ibu Deswita.


“Iya, nggak apa-apa. Asalkan calon istrinya muslim,” jawab Pak Broto.


Haifa hanya diam mendengarkan percakapan Ibu Deswita dan Pak Broto. Haifa jadi merasa bersalah karena telah menyebabkan Wira pergi dari rumah.


Pukul sembilan malam Haifa keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum. Ketika ia hendak kembali ke kamarnya Haifa mendengarkan suara detingan gitar dari arah balkon. Haifa mengintip dari balik dinding. Wira sedang duduk di balkon sambil memainkan gitar.


Di malam ini kuberanikan diri


Menemuimu 'tuk kesekian kalinya


Janganlah kau takut


Tiada guna pula kau bicara


Kuingin menatapmu dewiku


Dan kini kusadari


Betapa selama ini


Kau mencurahkan


Kasih sayang padaku


Semata hanyalah


'Tuk membangkitkan semangat juangku


Tanpa setitik rasa cinta

__ADS_1


Kau buka mataku


Kau tuntun diriku


Memulai hidup baru


Menjauhkan diri dari godaan


Barang yang nista


Kulakukan semua untukmu


Perlahan aku mencoba bangkit lagi


Menatap tegar masa depan berseri


Setulus hatiku kuhaturkan terima kasih, sayang


Maafkan aku salah duga


Kau buka mataku


Kau tuntun diriku


Memulai hidup baru


Yeah!


Menjauhkan diri dari godaan


Barang yang nista


Kulakukan semua untukmu


Terimalah salamku


Yang terakhir kali


'Ku akan pergi jauh


Kucoba untuk mengerti dirimu


Dan kuberjanji


Melangkah di jalan-Nya


Sayangku


(Salam Terakhir: Ikang Fawzi)


Haifa mendengarkan Wira menyanyi hingga selesai, setelah itu Haifa masuk kembali ke kamarnya. Haifa merebahkan diri di sebelah Alifa lalu memeluk Alifa.


“Mamah harus bagaimana?” tanya Haifa kepada Alifa.


*****


Pagi harinya ketika Haifa baru selesai memandikan Alifa, tiba-tiba Sri masuk ke dalam kamarnya dengan terburu buru.


“Ibu. Pak Wira sudah mau berangkat, Bu. Tadi Sri lihat Pak Wira sedang pamit pada Ibu Deswita dan Pak Broto. Pak Wira bawa koper besar sekali,” kata Sri dengan ngos-ngosan.


Haifa langsung kaget mendengarnya.


“Sri, titip Alifa,” kata Haifa.


“Iya, Bu,” jawab Sri.


Haifa dengan terburu-buru keluar dari kamarnya, menuju ke lantai bawah. Haifa melihat Ibu Deswita sedang menangis.


“Mah Pah, Mas Wira mana?” tanya Haifa.


“Sudah pergi. Wira sudah pergi,” jawab Ibu Deswita sambil menangis.


Haifa berlari keluar rumah.


“Mas Wira,” panggil Haifa.


Namun terlambat mobil yang membawa Wira sudah meninggalkan kediaman Pak Broto. Haifa berlari ke jalan tidak menggunakan alas kaki.


“MAS WIRA!!!!"


Haifa berteriak di jalan memanggil Wira dan beharap mobil yang membawa Wira kembali lagi. Namun sia-sia mobil itu semakin menjauh. Haifa langsung jongkok di tengah jalan dan menundukkan kepalanya. Haifapun menangis.

__ADS_1


__ADS_2