Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
28. Wina Yang Kepo


__ADS_3

Hari ini Pak Broto mengundang Pak Yayat dan keluarga untuk makan siang di rumah. Sengaja Pak Broto memilih di rumah agar mereka bisa lebih santai dan kekeluargaan. Ibu Deswita memesan makanan dari restaurant. Ia tidak ingin Haifa kecapean karena harus memasak untuk menjamu tamu.


Haifa mempersiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan orang tuanya. Bi Nani, Mang Diman dan kedua anaknya juga turut diundang oleh Pak Broto.


Wina dari tadi sibuk memperhatikan langkah Haifa. Dalam hatinya Wina bertanya-tanya apakah Kakaknya sudah melakukan ritual malam pertama?


“Lagi ngapain kamu? Dari tadi kerjanya hanya memperhatikan Haifa terus. Bukannya bantuin Haifa,” tegur Wira.


“Menurut Mas Wira kira-kira Mas Wisnu dan Haifa sudah melakukan ritual malam pertama, belum?” Tanya Wina.


“Ngapain ngurusin yang begituan? Kepo dengan urusan orang,” kata Wira.


“Wina perhatikan dari tadi Haifa jalannya biasa-biasa saja? Apa jangan-jangan…..”


“Sudah, jangan sibuk ngurusinn urusan orang lain!” Wira pergi meninggalkan Wina.


“Gitu aja marah,” gerutu Wina.


Wina memperhatikan wajah Wisnu yang terlihat begitu berseri dan bahagia. Serta pandangan Wisnu tidak terlepas dari Haifa.


Kalau Haifa sudah tidak gadis lagi, pasti wajah Mas Wisnu tidak akan bahagian dan berseri seperti ini, kata Wina di dalam hati.


Wina mendekati Haifa.


“Haifa, ayo ikut saya! Ada yang ingin saya bicarakan denganmu, penting!” Wina menarik tangan Haifa.


“Ada apa, Mbak?” Tanya Haifa sambil mengikuti Wina.


Wisnu melihat Wina menarik-narik tangan Haifa.


“Wina, kamu mau bawa Haifa kemana?” Tanya Wisnu.


“Mas jangan ikut campur! Ini urusan perempuan,” kata Wina.


Wina membawa Haifa ke kamarnya.

__ADS_1


“Wina itu lagi kepo,” kata Wira mendekati Wisnu.


“Kepo kenapa?’


“Kepo kenapa jalannya Haifa biasa-biasa aja,” jawab Wira.


“Maksudnya?” Tanya Wisnu tak mengerti.


Belum Wira menjawab, Wisnu sudah mengerti yang dimaksud Wira.


“Ohhh…maksudnya itu. Dasar anak kecil, mau tau urusan orang dewasa,” ujar Wisnu.


Wina membawa masuk Haifa ke dalam kamarnya, lalu menyuruh Haifa duduk di atas tempat tidurnya.


“Ada apa, Mbak? Sepertinya penting sekali,” Tanya Haifa.


“Saya mau tanya apa kamu sudah begituan?” Tanya Wina.


“Begituan apa ya, Mbak?” Tanya Haifa tidak mengerti.


Bluss dengan seketika wajah Haifa menjadi merah merona karena malu, Haifa pun menunduk.


“Sudah belum?” Tanya Wina penasaran.


“Sudah, Mbak,” jawab Haifa.


“Sakit, nggak?” Tanya Wina penasaran.


“Sakit sekali, Mbak. Rasanya seperti kulit kita disobek,” jawab Haifa.


“Kalau sakit, kenapa kamu jalannya biasa-biasa saja?” Tanya Wina.


“Saya tahan, Mbak. Karena malu kalau dilihat orang,” jawab Haifa.


“Saya kirain, kamu dan Mas Wisnu belum ngapa-ngapain,” kata Wina.

__ADS_1


Tok…tok….tok….terdengar suara pintu kamar Wina ada yang mengetuk.


Wina membuka pintu kamarnya.


“Non Wina, orang tua Non Haifa sudah datang,” kata Bi Siti.


“Iya, Bi. Sebentar lagi kami turun,” kata Wina.


Kemudian  Bi Siti pergi meninggalkan kamar Wina.


“Ayo Haifa, keluargamu sudah datang.” Wina mengajak Haifa keluar dari kamarnya dan menemui orang tua Haifa.


“Tuh…dia mereka sudah turun,” kata Pak Broto ketika melihat Wina dan Haifa turun dari tangga.


Haifa langsung menghampiri kedua orang tuanya dan langsung mencium tangan orang tuanya serta mencium tangan Paman dan Bibinya. Wina menyalami orang tua Haifa serta Paman Dan bibi Haifa.


“Kalian lagi apa di kamar?” Tanya Pak Broto kepada Haifa dan Wina.


“Biasa, Pah. Wina kepo dengan urusan orang,” sahut Wira.


Tiba-tiba Bi Iyah datang menghampiri.


“Maaf, Pak. Ada tamu Den Wira di depan,” kata Bi Iyah.


“Siapa, Bi?” Tanya Wira.


“Non Susan, Den,” jawab Bi Iyah.


Wira menghela nafas panjang.


“Suruh tunggu di depan rumah!  Jangan di suruh masuk!” kata Wira.


“Baik, Den.” Bi iyah pun pergi keluar rumah melalui garasi.


“Maaf, saya ke depan dulu,” kata Wira.

__ADS_1


Wira beranjak dari tempat duduknya menuju ke teras rumah,


__ADS_2