
Malam harinya setelah melaksanakan sholat isya Haifa dan Wira duduk di atas tempat tidur menemani Alifa. Bayi itu masih saja belum mau tidur. Ia masih anteng bermain di tengah-tengah kedua orang tuanya.
“Alifa, bobo yuk. Sudah malam,” kata Haifa.
Namun bayi itu bukanya bobo malah mengobrol sambil tertawa. Ia menyangka Mamahnya mengajaknya berbicara.
“Haorrrrkagerrrrr,” celoteh Alifa sambil memegang kakinya.
“Alifa, bobo. Ayah sudah ngantuk. Besok pagi Ayah harus kerja,” kata Wira.
Wira merebahkan kepalanya di atas bantal sambil menghadap ke arah Alifa.
“Tuh, Ayah sudah mengantuk. Ayo Alifa bobo,” Haifa membuka kancing dasternya lalu mengeluarkan da-danya.
Alifa mendekati da-da Mamahnya lalu ne-nen. Alifa menyedot ne-nen dengan kuat namun langsung dilepas dan menoleh ke Wira yang sedang tiduran sambil memperhatikan Alifa dan Haifa.
“Aduh jangan dicopot ne-nennya! Jadi ngucur kemana-mana,” seru Haifa sambil mengelap da-danya.
“Alifa, jangan dimainin ne-nennya,” kata Wira.
Alifa berbalik lagi menghadap ke Haifa dan ne-nen lagi. Namun lagi-lagi Alifa melepas ne-nennya dan menoleh ke Wira.
“Bobo Alifa, Ayah sudah ngantuk,” kata Wira dengan mata yang sudah lima watt.
Alifa kembali lagi ne-nen beberapa saat. Dan lagi-lagi Alifa melepas ne-nennya dan menoleh ke Wira. Ia melihat Wira sudah memejamkan matanya dan tertidur.
“Ayah sudah tidur,” kata Haifa.
Tiba-tiba Alifa menangis melihat Wira tidur. Mendengar tangisan Alifa, Wira pun terbangun.
“Kenapa?” tanya Wira kaget.
“Alifa nangis melihat Ayah sudah tidur,” jawab Haifa.
“Aya kira ada apa?” kata Wira.
“Kenapa nangis? Mau tidur sama Ayah?” tanya Wira.
Alifa membalikkan badannya ke hadapan Wira. Kemudian Wira menepuk-nepuk bagian belakang badan Alifa, hingga bayi itupun tertidur.
“Sudah tidur?” tanya Haifa sambil berbisik.
Wira melihat ke Alifa yang berada di dadanya.
“Sudah,” jawab Wira sambil berbisik.
Akhirnya Haifa pun bisa tidur. Baru saja Haifa memejamkan mata, tiba-tiba Wira mrmbangunkannya.
“Bangun, Haifa,” Wira menepuk lengan Haifa.
Haifa membuka matanya.
“Kenapa?” tanya Haifa.
“Kita pindah ke kamar sebelah, yuk,” kata Wira.
“Tadi katanya ngantuk,” kata Haifa.
“Udah nggak ngantuk lagi,” jawab Wira.
Perlahan Wira bangun dari tempat tidurnya dan menyimpan bantal dan guling di sebelah Alifa.
“Ayo,” kata Wira.
Haifa juga bangun dari tempat tidurnya. Kemudian memasangkan bantal dan guling di sebelah Alifa.
Wira langsung menarik tangan Haifa dan membawanya keluar dari kamar. Di depan kamar mereka bertemu dengan Wina.
__ADS_1
“Eh…mau ngapain?” tanua Wina yang melihat Wira menarik tangan Haifa.
“Ini urusan orang dewasa, anak kecil tidak boleh tau,” jawab Wira.
Wira membawa Haifa ke dalam kamarnya.
“Kita main, mumpung Alifa tidur,” kata Wira setelah berada di dalam kamar.
Haifa hanya pasrah dan mengikuti keinginan suaminya.
*****
Haifa baru saja selesai makan siang bersama Wira di dalam ruangan kerja Wira. Tiba-tiba intercom di ruangannya berbunyi, Wira mengangkatnya.
“Pak, ada Pak Firas mau ketemu sama Bapak,” kata Rita.
“Suruh masuk,” jawab Wira.
“Mas, ada janji dengan seseorang?” tanya Haifa.
“Nggak. Cuma Pak Firas suka mendadak datang ke sini,” jawab Wira.
“Siapa Pak Firas, Mas?” tanya Haifa.
“Cucunya rekan bisnisnya Papah. Sekarang dia yang memegang perusahaan kakeknya,” jawab Wira.
“Oh….,” ujar Haifa.
Kemudian terdengar suara ketukan pintu. Haifa membukakan pintu. Ternyata Rita yang mengetuk pintu.
“Eh...Ibu. Pak Firas tamu Bapak sudah datang,” kata Rita.
“Silahkan masuk, Pak,” Rita mempersilahkan Firas masuk.
“Terima kasih,” ucap Firas.
Firas masuk ke dalam ruangan Wira. Wira langsung berdiri dan menjabat tangan Firas.
“Alhamdullilah baik,” jawab Wira.
“Kenalkan istri saya Haifa,” Wira memperkenalkan Haifa kepada Firas.
Haifa menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan Firas pun melakukan hal yang sama.
“Silahkan duduk, Pak,” kata Haifa.
Firaspun duduk di sofa yang berada di ruangan Wira. Ia melihat Alifa yang sedang tidur di atas stoller.
“Itu anaknya Ibu Haifa?” tanya Firas.
“Iya,” jawab Haifa.
“Usianya berapa?” tanya Firas.
“Baru mau jalan 4 bulan,” jawab Haifa.
Alifa mengingatkan Firas pada seorang anak.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
“Masuk,” kata Wira.
Rita membuka pintu dan Aida masuk ke dalam ruangan sambil membawa secangkir teh. Firas terus saja memandangi Aida hingga Aida menghilang di balik pintu.
“Silahkan diminum tehnya,” kata Haifa.
“Terima kasih,” ucap Firas.
__ADS_1
Firas meminum tehnya beberapa teguk.
“Saya datang ke sini untuk mengantarkan bingkisan untuk Pak Wira dan Ibu Haifa. Saya mohon maaf karena kemarin saya tidak bisa datang karena ada acara keluarga,” kata Firas.
“Terima kasih. Padahal tidak usah repot-repot memberikan bingkisan,” jawab Haifa.
“Tidak apa-apa, Bu,” kata Firas.
“Mas. Haifa pulang, ya,” pamit Haifa.
“Ya, hati-hati di jalan,” jawab Wira.
“Mas, tidak mengantar ke bawah ya. Suruh Aida saja yang mendorong stollernya,” kata Wira.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
Haifa menggendong Alifa dengan menggunakan kain gedongan. Firas memperhatikan Haifa ketika menggendong Alifa. Cara Haifa menggendong anak persis seperti seseorang yang ia kenal. Haifa mengingatkan ia pada seseorang.
“Pak Firas, saya pulang dulu,” pamit Haifa.
“Silahkan, Bu,” jawab Firas.
Haifapun meninggalkan ruang kerja Wira. Tak lama kemudian Aida masuk ke ruang Wira.
“Permisi, Pak. Saya disuruh ibu mengambil stoller,” kata Aida.
“Silahkan,” jawab Wira.
Aida mengambil stoller dan membawanya keluar dari ruangan.
Sepertinya Mayra harus aku belikan stoller, kata Firas di dalam hati.
Setelah Aida keluar Firas dan Wira kembali berbincang-bincang.
****
Hari terus berlalu, entah mengapa beberapa hari ini kepala Haifa terasa sakit. Pagi hari ketika Wira hendak pergi ke kantor, Haifa sedang tidur-tiduran di tempat tidur.
“Kamu kenapa?” tanya Wira.
Tidak biasanya pagi hari Haifa hanya tidur-tiduran saja.
“Dari kemarin kepala Haifa sakit, Mas,” jawab Haifa.
“Istirahat saja, jangan kemana-mana. Nggak usah nganter makan siang. Mas ada janji makan siang dengan Firas,” kata Wira.
“Mas, ada bisnis apa sama Firas? Haifa baru lihat Firas,” tanya Haifa.
“Nggak ada bisnis apa-apa. Hanya menjalin hubungan baik. Dia itu cucu rekan bisnis Papah. Dan dia baru beberapa bulan menggantikan kedudukan kakeknya,” jawab Wira.
“Mas, sepertinya dia tertarik dengan seseorang di perusahaan Papah,” kata Haifa.
“Sepertinya begitu,” jawab Wira.
“Mas, tau?” tanya Haifa kaget.
“Tau dong. Mas kan laki-laki. Tau laki-laki yang lagi tertarik dengan lawan jenisnya,” jawab Wira.
“Iya, deh. Mas kan buaya darat,” kata Haifa.
“Buaya darat yang sudah insyaf. Punya istri yang cantik dan soleha. Punya putri yang cantik dan soleha seperti Mamahnya,” ralat Wira.
“Aamiin ya robbl alamin,” ucap Haifa.
“Biarkan saja Firas sering datang ke kantor. Yang penting dia tidak mengganggu pekerjaan Mas,” kata Wira.
“Mas tau siapa yang Firas taksir?” tanya Haifa.
__ADS_1
Wira menjawab tersenyum.
“Kita tunggu undangannya saja,” jawab Wira.