Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 12 : Sisinya yang lembut(part 2)


__ADS_3

Entah bagaimana bisa seperti ini. Dengan semua kejadian yang aku alami, kini hampir setiap malam aku tidur bersama Yohan di kamarku. Tidur bersama bukan berarti kalau kami melakukan hal itu, tidur bersama disini maksudnya benar-benar hanya tidur. Perlakuan Yohan sedikit lebih baik terhadap ku, walau aku masih takut pada sikapnya yang mungkin bisa saja berubah kembali. Sudah hampir dua bulan aku disini, selama itu aku telah melewatkan kuliahku, selama itu juga aku tak tau kabar temanku, maksudku kak Rui. Aku yakin dia mungkin mengkhawatirkan aku sekarang. Aku sedikit merindukannya, bagaimana jadinya kalau ia tau aku di sekap disini oleh Yohan? Apa dia akan menolongku atau malah mengabaikanku.


"El.... Eleeya!"


Ah, Yohan sudah kembali. Aku merangkak keluar dari kamarku menemui Yohan. Aku tak bisa memakai tongkatku karena Yohan membuangnya ketika aku mencoba melarikan diri waktu itu. Lalu, balok kayu yang menindih kakiku akibat Rosie kemarin juga membuat kakiku menjadi bengkak kembali.


"Ah disana kau rupa nya,"


"..."


"Ayo kita keluar! Bukankah kau bosan terus berada di rumah?"


Keluar? Apa dia bersungguh-sungguh? Dengan keadaanku yang begini?


"A-Apa kau serius?"


Yohan menganggukan kepalanya.


"Tapikan aku-"


"Ah, kau mau membicarakan ini kan?"


Yohan membawa tongkat jalan yang baru dan menunjukannya kepadaku dengan wajah tersenyum lebar.


"Sekarang kita bisa keluar. Ayo kubantu kau bersiap-siap,"


Aku hanya melongo ketika dia langsung mengendongku ke kamar. Dia juga mengganti pakaianku dan menyisir rambutku.


"El-ku sangat cantik!" tukasnya, membuat wajahku bersemu merah.


"Oh benar, diluar sangat dingin. Karena ini sudah memasuki musim dingin, jadi kau harus pakai ini!"


Yohan melilitkan syal di leherku, dan entah mengapa aku merasa nyaman diperlakukan begini. Yohan membantuku memakai tongkat jalan dan ia juga membukakan pintu mobilnya untukku. Tanpa kusadari hal itu membuatku tersenyum.


"Kita akan kemana?" tanyaku.


"Ke Mall,"


"Eh, disana kan sangat ramai?"


"Memang nya kenapa? Apa kau mau ketempat yang sepi? Kau nakal sekali, El."


"Ah bukan begitu maksudku!"


Yohan terkekeh melihatku. Sungguh bukan itu maksudku, dan aku jadi malu karenanya. Aku melihat keluar jendela mobil, sudah lama sekali rasanya aku tak jalan-jalan keluar seperti ini. Dulu kemana pun aku selalu sendirian, hidupku selalu dipenuhi bayang-bayang pamanku dan Leo. Tapi, sekarang berbeda. Aku menoleh ke sampingku dan menatap pria yang sedang menyetir itu.


"Nah, sekarang ada apa?" tanya nya.


"Tidak, aku hanya merasa senang."


Kulihat wajah Yohan tercengang mendengarku melontarkan kata-kata itu.


"Haha, berhentilah berbicara seperti itu. Kau membuatku berdebar,"


"..."


Entah bagaimana, selepas apapun yang ia lakukan dan perlihatkan padaku, aku masih menyukainya.

__ADS_1


"Ayo turun! Kita sudah sampai."


"Iya,"


Kembali ia membuka kan pintu mobilku dan membantuku berjalan.


"Kita akan berbelanja bahan makanan dan pakaian untukmu,"


"Pakaian untuk ku?"


Yohan menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Pilih lah apa yang kau suka. Dan ingat untuk jangan membuatku marah!"


"..."


"Karena itu sangat menyebalkan dan melelahkan."


Kini giliranku yang menganggukan kepalaku dengan hati-hati. Yohan menyuruhku memilih pakaian yang aku suka, dan aku memilih satu baju yang menarik perhatianku.


"Kau pilih yang itu?"


Aku menganggukkan kepalaku cepat.


"Baiklah. Nah, bagaimana dengan pilihanku?"


Yohan menunjukan padaku kaos lengan panjang yang ia pilih. Kurasa itu akan sangat cocok padanya dan terlebih kaosnya mempunyai warna dan motif yang sama dengan pakaian yang kupilih. Ini seperti pasangan.


"Itu sangat cocok padamu. Tapi itu terlihat sama dengan yang kupilih,"


"Benarkah?" Yohan pun melirik kaosnya dan juga pakaianku secara bergantian.


"Ya, kau benar. Ini terlihat sama."


"Ini sangat bagus. Kita akan mengambil ini, ini terlihat seperti baju pasangan, sangat cocok untuk kita bukan?" ujarnya sambil tersenyum.


Eh, dia menyukainya? Dia baik sekali, dia bahkan suka bila memakai baju pasangan denganku. Ini sangat menyenangkan, kurasa aku bisa menyebut ini sebagai kencan, kan? Aku tak menyangka bisa melakukan hal seperti ini bersama Yohan. Aku harus menikmati momen ini. Jarang sekali aku merasakan momen indah seperti ini di dalam hidupku.


"Ada lagi yang kau butuhkan?"


"Ini sudah cukup,"


"Apa kau sering kesini?"


"Jarang, aku hanya sesekali kesini. Aku biasa membeli sesuatu di toserba dekat Apartemenku."


"Oh, toserba yang waktu itu?"


"Ah iya yang itu."


Ah, dia masih mengingatnya. Dia tidak tau betapa senangnya aku waktu itu, dan itu juga dimana hari aku di culiknya, sungguh ironi.


BRUKKKK


"Hei, kalau jalan itu hati-hati!"


Ah, karena melamun aku jadi menabrak seseorang. Aku menoleh ke arah Yohan, dia hanya melihatku dengan ekspresi datarnya.


"Maafkan aku,"

__ADS_1


"Maka nya, kalau jalan itu pakai matamu!"


"..."


Sial, Yohan pasti marah karena aku membuat masalah.


"Tolong maafkan dia! Dia sedang tidak sehat, kakinya pun sedang masa pemulihan. Bisakah kau memaafkannya?" ujar Yohan.


"Apa? Hah, baiklah."


"Terimakasih banyak, kami akan lebih berhati-hati."


"Hei, bukankah kau Eleeya?"


Ah, siapa? Karena terlalu tegang, aku jadi tak melihat orang yang kutabrak ini dengan benar.


"Kau Eleeya kan?"


Oh tidak, dia kan kakak kelasku dulu dan dia adalah teman nya Leo, ini gawat.


"Wah wah, kau sudah tumbuh besar, ya?" ujar kakak kelasku dengan mata mesum yang melihatku dari atas hingga ke bawah.


"Eh kenapa dengan kakimu? Sepertinya si Leo terlalu keras padamu, ya? Haha kehidupan yang begitu menyedihkan." sindirnya.


Tubuhku membatu, keringat dingin memenuhi seluruh tubuhku. Aku hanya menunduk dan aku tau, Yohan tengah menatapku sekarang.


"Permisi, apa kau sudah selesai? Karena kami ingin pulang,"


"Apa? Maksudmu aku sengaja menahannya disini?"


"Itu benar,"


"Cih, yang benar saja."


"..."


"Apa kau pacar nya? Haha, bung kau ini tampan. Apa yang kau lihat dari gadis suram seperti dia ini?"


Aku hanya bisa diam, selagi semua orang menatap kami karena perkataan pria itu. Kulihat Yohan, dia hanya menatap pria yang di hadapannya itu dengan tatapan dingin. Ah, apa akan terjadi pembunuhan disini? Tapi ini kan Mall, ada banyak orang disini. Tapi, sepertinya aku hanya berpikir berlebihan, Yohan hanya membalas perkataan pria itu dengan senyuman.


"Terimakasih atas perhatianmu. Tapi, urus saja urusanmu sendiri!"


Yohan pun mengulurkan tangannya kepadaku. "Ayo Eleeya kita pulang! Hari sudah malam, kita harus segera membuat makan malam." ajaknya.


Aku tercengang melihat nya, dia memperlakukan aku seperti halnya aku adalah kekasihnya. Semua orang kini menatap Yohan dengan tatapan kagum. Ya mungkin kagum karena visualnya, ditambah sekarang dengan perlakuannya. Dengan ragu-ragu aku menerima tangan Yohan, lalu ia pun tersenyum.


"Kau lihat dia! Dia wanita tercantik yang pernah aku temui."


"Apa?"


"Oh dan satu lagi, kau harusnya sadar bahwa yang suram itu adalah wajahmu!"


Jantungku berdegup kencang saat ini, baru kali ini seseorang membelaku dan berdiri disampingku seperti ini. Aku melihat raut wajah kakak kelasku itu, wajahnya merah padam karena malu, sepertinya ia sangat kesal. Apalagi semua orang mencibirnya sekarang.


"Ayo El!"


Kami pergi meninggalkan kakak kelasku itu begitu saja. Kulihat ia masih menatap kami dengan tatapan penuh amarah dan malu, tapi apa peduliku? Aku senang dia seperti itu, karena itu pantas untuknya, aku tersenyum melihat tanganku yang bergandengan dengan tangan Yohan.

__ADS_1


Bagaimana aku bisa membencinya?Segila apapun dia, dia tetap pria yang aku sukai.


__ADS_2