Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 57 : Bukti Kuat


__ADS_3

"Eh"


Eleeya tak merasakan apapun,padahal kursi itu jelas mengarah padanya tadi,dan suara yang kuat itu pasti suara kursi itu.


Gadis itu membuka mata nya perlahan,dan betapa terkejutnya dia melihat patahan dari kursi itu berserakan di sekitarnya.


Tepat di hadapan nya,ia bertatapan dengan netra hitam yang memandang wajahnya sendu.


"Yo-yohan" gumam Eleeya terbata.


Yohan berhasil menghalangi kursi itu agar tak terkena Eleeya, dan sebagai gantinya punggung nya yang terkena hantaman dari kursi itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Yohan.


Eleeya menggeleng-gelengkan kepala nya cepat, lalu ia memegang bagian tubuh Yohan, memeriksa lengan hingga bagian punggungnya dengan wajah yang penuh kecemasan.


"Pft,itu geli" ujar Yohan terkekeh.


Eleeya menolehkan tatapan nya kearah Yohan,dan menautkan kedua alisnya.


"Kenapa?Itu memang geli,jangan khawatirkan aku,aku tak apa-apa,lebih baik kau pergi kekamarmu,kunci pintunya dan tunggu aku disana" bisik Yohan.


"..."


Rui sebagai si pelempar merasa lemas namun juga lega karena kursi itu tak mengenai Eleeya.


Terlihat Eleeya berdiri dan melirik kearah nya sebentar,lalu melenggang pergi setelah nya.


"Eleeya" gumam Rui.


Ia sibuk menatap Eleeya yang berlari menjauh dari sana hingga tak sadar Yohan telah memukul nya lagi dengan kayu yang berasal dari kursi yang patah tadi.


"Apa yang kau lihat,bajingan" ujar Yohan dengan matanya yang melotot.


*


Eleeya berlari dengan tergesa menuju kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya dan meringkuk di sudut kasurnya.


Apa tidak apa-apa aku meninggalkan mereka, apa yang akan terjadi setelah ini?pikir Eleeya.


Ya tuhan,semoga tak ada yang mati diantara mereka berdua,kumohon,gumam Eleeya sambil memejamkan kedua matanya.


*


"Hosh...Hosh...Hosh.."


Aku mencapai batasanku,gumam Rui

__ADS_1


Dapur Yohan seketika menjadi area ajang kompetisi bagi mereka berdua.


Keringat membanjiri seluruh wajah Rui,bersamaan dengan darah yang keluar dari pelipis hingga hidung nya, mata nya sudah terlihat bengkak,bahkan merah karena terkena pukulan dari Yohan, tapi Yohan dia hanya terluka di bagian pelipis dan bengkak di sudut bibirnya,dia masih bisa menyeringai ketika melihat Rui hampir tak memiliki tenaga lagi untuk melawan nya.


Yohan mencengkram kuat leher Rui hingga membuat Rui kesulitan bernafas.


"Kau benar-benar membuatku kesal" ujar Yohan memperkuat cengkraman nya.


Rui meronta sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Yohan pada lehernya, dan dengan sisa-sisa tenaga nya, ia menendang Yohan hingga membuat cengkraman nya terlepas, segera ia berlari untuk menjauh dari Yohan.


Yohan mengepalkan tangan nya dan mengambil sebuah pisau, dilemparkan nya pisau itu dan berhasil menancap di pergelangan kaki Rui yang hendak menjauh dari sana.


"ARRGH"


Rui kehilangan keseimbangan nya dan terjatuh, ia menjerit kesakitan memegangi kakinya,terlihat pisau itu menancap cukup dalam disana.


Yohan beranjak dari sana dan kembali membawa sebuah palu godam kearah Rui.


Rui mendelik melihat Yohan yang tengah berjalan mendekat kearah nya, ia terseok-seok menggerakan tubuhnya,namun sekali lagi ia terpekik ketika kakinya yang bahkan masih terdapat pisau yang tertancap disana itu diinjak oleh Yohan.


Yohan mencabut pisau itu dari kakinya,membuat teriakan Rui jauh lebih keras daripada tadi, cairan warna merah kental terus saja keluar dari sana membuat tubuh Rui semakin lama semakin lemas.


"Kumohon jangan,jangaaaannn...."


KRRAAAKKKKK


Jeritan Rui bahkan terdengar sampai ditelinga Eleeya, segera ia menutup kedua telinga nya,jantung nya berdegup sangat kencang,air mata nya tak henti mengalir di pelupuk matanya.


"Kak Rui,hiks..hiks" gumam nya sambil menangis terisak.


Yohan menghantamkan palu godam itu kearah kaki Rui yang terluka,hingga suara tulang nya yang patah mendengung di telinga Yohan, ia tersenyum ketika melihat Rui yang sudah tak berdaya itu terkapar di lantai.


Ia memungut pisau yang berlumuran darah itu dan menduduki perut Rui,membuat Rui melenguh dan meringis karena sakit dan sesak.


"Haha,dimana keberanianmu yang tadi Detektif?" tanya Yohan dengan tawanya yang menyeramkan.


"..."


"Sekarang kita akhiri saja semua nya" ujar Yohan mengangkat pisaunya dan bersiap menghujamkan ke dada Rui.


TEP...


Dengan sisa tenaga nya,Rui berusaha menahan pisau itu,Yohan malah makin bersemangat mendorong pisau itu.


Sedikit lagi,ujung pisau itu sudah menyentuh dada Rui,membuat goresan walau hanya sedikit,Yohan hanya perlu mendorongnya lebih kuat agar dapat menancapkan pisau itu dengan sempurna.


Namun,

__ADS_1


"Jangan bergerak,lepaskan pisau itu dan angkat tanganmu keatas"


Suara yang tak asing ditelinga Rui membuat Rui bertanya-tanya, itu jelas suara Tian.


Tapi,kenapa Tian kesini?Walau sebenarnya dia datang disaat yang sangat tepat,tapi Rui masih bingung,darimana dia tau bahwa Rui ada disini sekarang.


Alih-alih memikirkan hal itu,yang terpenting sekarang ia merasa lega karena Tian telah datang membantunya.


Yohan tersentak dan membulatkan kedua mata nya ketika melihat sekelompok polisi masuk dan mengepungnya sambil mengarahkan senjata tajam kearah nya.


Ia menggigit bibir bawahnya ketika melirik kearah Rui yang tersenyum pada nya.


"Kuulangi sekali lagi,letakkan pisau itu dan menyerahlah,kau sudah kami kepung tuan Ronstar"


"Pak,apa-apaan ini?Kenapa kalian semua berada dirumahku dan mengarahkan senjata itu kepadaku?" ujar Yohan.


"Kau serius bertanya seperti itu dengan keadaanmu sekarang?" jawab Tian.


"Kau salah paham pak,ini karena dia yang memulainya duluan"


"Berhentilah berkelit,ini surat penangkapanmu" ujar Tian menunjukan selembar kertas pada Yohan.


"Surat penangkapan?Memang nya apa salahku?"


"Semua bukti sudah kami dapatkan,kau adalah pelaku dibalik orang hilang selama ini"


"...Apa maksudnya ini?"


Tian berbisik kesalah satu rekan nya dan dibalas dengan anggukan oleh rekan nya itu, seseorang datang membawa sebuah kotak yang berisikan barang-barang bekas yang mana ada sebuah jam milik Cedric Ledanny disana, itu adalah barang-barang yang sempat di foto oleh Alana waktu itu.


Yohan mendelik melihat mereka dapat menemukan semua barang-barang itu.


"Kami juga sudah mendapatkan bukti dari hasil rekaman CCTV di area parkir mall plaza, kau memukul tuan Cedric dengan sebuah tongkat jalan hingga ia tewas disana"


"...Huh?"


Yohan mulai bingung dan terdiam disana, bagaimana bisa orang ini mendapatkan semua bukti itu,itulah yang dipikirkan oleh Yohan saat itu.


"Kau sudah tamat" ujar Rui berbisik kearah Yohan.


Yohan mengerutkan dahinya lalu menghela nafasnya yang berat.


Ia melirik kesekeliling nya dengan datar,lalu dengan cepat ia menarik rambut Rui dan mengarahkan pisaunya itu kearah leher Rui,sontak semua orang disana tersentak,terlebih lagi Tian yang terkejut melihat pergerakan Yohan yang tiba-tiba.


"Apa yang kau lakukan?" ujar Tian panik.


Yohan menjadikan Rui sebagai sandera nya, ia melontarkan senyum nya dan menatap tajam Tian.

__ADS_1


"Lebih cepat mana?Pelurumu atau pisauku yang akan menusuk leher temanmu ini" ujar nya menyeringai.


__ADS_2