Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 55 : Terbukti (Part 2)


__ADS_3

***Flashback on


"Hah"


Alana menghela nafas panjang, ia sungguh menyesali perbuatannya yang kekanak-kanakan itu terhadap Rui,selama ini ia berhasil menahan perasaan nya tapi entah kenapa akhir-akhir ini ia sering melepaskan emosinya.


"Ini terjadi karena ibuku,dia selalu memulai pertengkaran denganku, rasanya aku sudah sangat lelah hidup seperti ini, ditambah sekarang aku dibenci oleh Rui, sempurna sudah kehancuranku, rasanya aku ingin mati saja" ujar Alana sambil bercucuran air mata.


Ia menangis tanpa henti sepanjang malam hari itu, berpikir untuk mengakhiri hidupnya, namun terlepas dari itu dia kembali berpikir bahwa kematian bukanlah akhir yang baik baginya, masih terlalu dini untuk itu,masih banyak hal yang harus ia capai sebelum itu terjadi.


Ia kembali membuka laptopnya,memeriksa setiap laporan hasil dari pemeriksaan nya.


"Oh ada email balasan dari manajemen Mall Plaza"


Ia menatap dalam layar laptopnya dengan serius,mengamati dengan rinci seluruh hal yang tertera disana.


"Aku harus mentransfer data-data ini ke ponselku dan menghubungkan ke satu email untuk berjaga-jaga" ujarnya sambil mengetikan sesuatu di laptopnya.


*


Angin yang berhembus seakan menemani langkah kaki Alana yang sedang berjalan menuju kerumah Yohan.


Dia sudah membulatkan tekad nya untuk menemui pria itu dan mengucapkan permohonan maaf, karena terlepas dari semua ini dia tak enak hati sudah menuduhnya waktu itu.


"Fyuhh..."


Alana menekan bel rumah Yohan setelah menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan nya, dia sedikit agak gugup karena melakukan ini sendirian.


Setelah beberapa kali membunyikan bel tersebut, tak lama pintu pun dibuka dan Yohan menyambutnya dengan sebuah senyuman khasnya yang ramah.


"Ah Detektif,apa yang membawamu kemari?"ucap Yohan.


"Oh,aku mampir kesini karena ada yang ingin aku bincangkan dengan anda Tuan Ronstar"


"Benarkah?Kalau begitu mari masuk dulu"


Alana menganggukan kepala nya dan melangkah masuk kedalam rumah Yohan.


"Silahkan duduk,akan saya buatkan teh hangat untukmu"


"Oh tidak usah,aku tidak akan lama"


"Benarkah?Tidak perlu sungkan,kupikir kau akan agak lama disini" ujar Yohan sambil tersenyum dan melenggang pergi menuju dapur.


Alana jadi merasa canggung karena ditinggalkan sendirian,dia pikir Eleeya akan ada menemaninya,tapi sedari tadi Eleeya tak menampakan batang hidungnya.


Tak lama kemudian, Yohan pun datang namun tidak dengan segelas teh di tangan nya.


Itu membuat Alana bingung,namun enggan untuk bertanya.


"Aku kehabisan stok gula,aku akan membelinya di toko depan,tunggu saja disini,aku tidak akan lama"


"Ah itu tidak perlu,kau tak perlu repot-repot sampai seperti itu,sungguh aku tidak apa-apa"


"Tidak apa-apa,tolong tunggu sebentar saja,hanya itu yang bisa kusajikan sekarang" ujar Yohan dengan tampang polosnya.


Pada akhirnya Alana hanya menganggukan kepalanya dan Yohan pun pergi meninggalkan Alana sendirian didalam rumah yang sangat sunyi itu.

__ADS_1


"Hah,ini kesempatanku" gumam Alana.


Sesaat setelah Yohan pergi,Alana bergegas menyusuri setiap ruangan didalam rumah itu, memang tidak ditemukan apapun namun terlihat sangat mencurigakan, lalu pada akhirnya ia menemukan sebuah pintu yang menghubungkan nya dengan ruang bawah tanah.


Tanpa pikir panjang,Alana segera menuruni tangga itu dan melihat sekelilingnya dengan perlahan, terdengar suara air mengalir dari pipa pembuangan memecah keheningan dari ruangan itu.


Suhu ruangan yang dingin dan sedikit lembab membuat bulu kuduk Alana menjadi merinding, lalu mata nya terfokus pada satu ruangan yang berada di ujung sana, dia melangkahkan kakinya cepat dan segera memeriksanya.


Alana mendelik ketika dia menemukan sebuah kotak yang berisi banyak sekali barang-barang disana.


Semua barang itu tampak seperti barang bekas yang tak lagi digunakan,namun ada dua barang yang menarik perhatiannya,yaitu jam tangan dan sebuah kalung liontin dengan mainan berinisial H.


"Ini kan?" gumam nya terbata.


Dua benda ini jelas tak asing bagi Alana, ini milik Cedric Ledanny dan Hailey Scott, dia pernah melihat mereka memakai benda ini di foto mereka.


DEG! Jantung Alana seakan berdetak lebih cepat, itu menandakan bahwa dia sedang dalam kepanikan, tubuhnya bergetar hebat, namun segera ia mengatur nafasnya agar lebih stabil, ia tidak boleh bertindak ceroboh kali ini.


Ia memang sudah menduganya,tapi ini sangat mengejutkan, dan betapa bodohnya ia sempat meragukan Rui saat itu, semua yang dikatakan Rui adalah kebenaran.


Alana mengeluarkan ponselnya dan memotret seluruh barang itu.


Dengan cepat ia pun segera mengembalikan kotak itu ketempatnya semula dan mengambil liontin berinisial H sebagai barang bukti.


Setelah nya,dia langsung bergegas kembali naik keatas dan menutup kembali pintu ruangan itu hingga tak sadar bahwa liontin yang ia bawa kini terjatuh dari sakunya.


"Kenapa kau begitu terburu-buru Detektif?"


"Hah?"


Alana berdiri mematung, seluruh tubuhnya gemetar bahkan ia hampir menangis.


Yohan menunduk dan memungut liontin yang terjatuh tak jauh dari kaki Alana, lalu ia pun tersenyum setelahnya.


"Kau menjatuhkan ini" ujarnya sambil tersenyum hingga kedua matanya menyipit.


Alana masih diam mematung, bergetar ketakutan ketika dihadapkan dengan seorang psikopat gila yang membawa pisau ditangan nya,namun sesaat dia akhirnya tersadar,bila dia terus mematung seperti ini maka dia akan segera mati.


Dengan segenap keberanian nya, dia berlari dari sana dan menuju pintu agar bisa kabur dari rumah itu.


Namun sayang, Yohan mana mungkin membiarkan hal itu terjadi, Yohan melempar sebuah vas bunga kecil dan mengenai pinggang Alana hingga ia tersungkur, Alana menangis kesakitan, ia mencoba kembali berdiri namun kaki Yohan yang menginjak kepala nya itu menahan pergerakan nya.


"AAAHHHH,LEPASKAN AKU,BIARKAN AKU PERGI,AAAHHH"Teriak Alana meronta.


"Hei hei,kecilkan suaramu ******, kau akan membangunkan El" ujar Yohan sembari menambah tekanan di kepala Alana,membuat gadis itu meringis kesakitan.


Dengan sekuat tenaga Alana berusaha melepaskan dirinya, ia memukul kaki Yohan yang menginjak kepalanya dengan sangat kuat,dan itu berhasil membuat Yohan sedikit kesakitan hingga akhirnya ia mengangkat kakinya.


Alana menggunakan kesempatan itu untuk berdiri dan berlari,namun lagi-lagi usaha nya gagal karena tenaganya tidak lah cukup untuk kabur dari pria mengerikan itu,Yohan mengejarnya dengan sangat berambisi,itu sungguh mengerikan.


Hingga pada akhirnya,Yohan menjambak rambut Alana dan menyeretnya ke gudang bawah tanah, Alana hanya bisa menangis dan meronta-ronta agar dibebaskan.


"Aku sangat kecewa padamu Detektif,kenapa kau begitu naif dan bodoh seperti ini?" ujar Yohan yang berjalan perlahan mengambil seutas kabel saklar yang tergantung disana.


"Apa yang akan kau lakukan?" ujar Alana dengan suaranya yang bergetar,keringat membanjiri tubuhnya,bahkan air mata tak henti-hentinya keluar dari pelupuk mata nya.


Kemudian ia pun mendekat kearah Alana yang sudah sangat ketakutan seperti orang gila, kali ini ia tidak akan mencambuk menggunakan kabel itu lagi, namun ia menggunakan kabel itu untuk melilitkannya keleher Alana dan mencekik wanita yang tak berdaya itu sampai setengah sekarat.

__ADS_1


"Eek..Ek..." lenguh Alana, bahkan kedua kakinya hanya bisa meronta-ronta ketika ia tidak bisa bernafas akibat kabel yang mencekik lehernya itu.


"Oh,kumohon jangan mati terlalu cepat" ujar Yohan melepaskan kabel yang mencekik lehernya Alana.


Alana yang sudah terlihat hampir mati itu hanya bisa terbatuk, ia bahkan kesulitan mengatur nafasnya lagi.


Lebih baik ia bunuh diri daripada harus disiksa seperti ini, bahkan untuk menangis pun dia tak ada tenaga lagi.


Disaat-saat seperti ini ia bahkan masih mengingat wajah Rui,sangat menyedihkan.


"Hei,dimana kau tinggal?"


"..."


"Kau akan kubebaskan,jadi beritahu aku dimana kau tinggal"


"..."


"Hah,sial,apa kau benar-benar ingin mati dan tak ingin lagi bertemu dengan Rui yang sama sialnya seperti kau ini,hah?"


"...Huh?"


Alana segera merespon perkataan Yohan, jauh didalam lubuk hatinya,ia masih ingin bertemu dengan Rui,walau hanya sebagai rekan,itu tidak apa-apa sekarang.


"...Apartemen X lantai 3 No.101" ujarnya lirih.


Yohan tersenyum dan mengambil kotak yang berisikan kain dan tali.


Yohan menutupi mulut Alana dengan kain dan mengikat pergelangan tangan nya, lalu ia membawa Alana yang sudah sekarat itu kedalam mobilnya.


Dengan tatapan nya yang datar ia kembali masuk kedalam rumahnya, membuka pintu kamarnya dan mendekati wanita yang masih tak sadarkan diri diatas ranjangnya itu.


Ia menatap wajah Eleeya tanpa mengatakan sepatah kata pun, dan kemudian melenggang pergi setelahnya.


Yohan kembali kemobilnya, memacu mobilnya di gelapnya malam kala itu, menerobos jalan yang sepi dan berhenti diarea apartemen Alana.


Ya,saat itu sudah lewat tengah malam, tidak ada lagi orang yang terjaga di area itu di jam seperti itu.


Bahkan penjaga apartemen itu juga pasti tertidur di jam itu.


Sepertinya itu sudah diprediksi oleh Yohan, dan dengan leluasa ia mengendong Alana yang hampir tak sadarkan diri itu menuju Apartemen nya.


"Nah sudah sampai"


Yohan memang berkata begitu,namun ia membawa Alana hingga ke balkon nya,dan memasang tali disana.


Tanpa melepaskan ikatan di tangan dan mulutnya, Yohan langsung menggantung Alana begitu saja, terlihat Alana yang meronta-ronta disana dengan mata nya yang melotot,memerah dan mengeluarkan air mata,dan pada akhirnya ia mengejang lalu tak bergerak lagi.


Yohan melihat pemandangan mengerikan itu dengan sangat bersemangat bahkan ia merekahkan tawa di wajahnya, ia terkekeh melihat Alana tewas tergantung di hadapan nya.


"Pft,sudah kubilang aku akan membebaskanmu bukan,?"


Setelah memastikan bahwa Alana benar-benar mati, ia pun melepaskan ikatan kain dimulutnya dan di pergelangan tangan nya, dia juga membersihkan seluruh tubuh Alana hingga jejak dirinya hilang, setelah semua nya selesai, ia melenggang pergi sambil menghisap rokok dengan santai nya.


"Ah,aku ingin pulang dan melihat El" gumam nya.


**Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2