
Dedaunan yang berserakan di jalan seketika melayang entah kemana ketika sebuah mobil hitam melaju dengan cepatnya, debu jalanan memecah diudara yang mana akan membuat mata pejalan kaki menjadi kabur dan sakit.
Daniel, sang pengendara mobil itu terlihat kesal dan geram, ia baru sadar dari pingsan nya setengah jam setelah Elisa pergi dari sana, ia merasakan perih di dada bagian kanan nya, dengan sangat terkejut ia mendelik mendapati nama Elisa tengah terpampang didada bidang nya.
"Keparat, dasar wanita sial" kutuknya.
Ia menggertakan giginya ketika ingat peristiwa tadi, bagaimana bisa ia termakan tipuan konyol semacam itu, bahkan sempat terbersit niat ingin menghabisi wanita yang menyebabkan goresan didadanya itu.
Namun, setelah dipikirkan lagi, wanita itu memanglah mengerikan, Daniel masih ingat bagaimana ia bisa merubah ekspresi wajahnya dengan begitu cepat, tatapannya yang datar dan suara rendahnya, itu membuat Daniel merinding, ada yang salah pada wanita itu, dia tak terlihat seperti wanita normal pada umumnya, itulah yang di pikirkan oleh Daniel, alih-alih berpikir seperti itu, disaat lukanya mulai terasa perih, ia mulai mengutuk Elisa kembali dan berceloteh akan menghabisinya nanti.
Kini nama itu ditutupinya dengan sebuah plester berukuran besar, Lily tak seharusnya melihat itu.
Dalam lamunan nya ia sempat berpikir bahwa dirinya beruntung karena Elisa mengukir namanya tidak terlalu besar disana, namun tetap saja hal itu adalah hal tergila yang ia dapatkan dari seorang wanita yang pernah menjadi rekan ranjangnya.
**
Udara dingin dengan cuaca yang mendung seakan menemani Zay dan Lisa hari itu, gundukan tanah yang berjajar dengan beberapa ikat bunga yang masing-masing terletak diatasnya.
Potret wanita cantik dengan rambut dan mata coklatnya, serta pria tampan yang tampak sangat mirip dengan mereka berdua, terpampang diantara ikatan bunga itu, tatapan datar dari sepasang saudara kembar itu tak dapat mengartikan apapun, namun sorot mata mereka menyimpulkan bahwa mereka tengah rindu sosok yang berada di dalam tanah itu.
"Aku rindu setiap ceritanya tentang Ayah" gumam Elisa.
"Ya, aku juga" ujar Zay.
"Kenapa kita tidak diperbolehkan hidup dengan nama Ronstar" tanya Lisa.
"Karena nama itu berbahaya" jawab Zay.
"Hah, pola pikir di dunia ini sangat merepotkan" ujar Lisa sembari memejamkan mata dibalik kacamata hitamnya.
"..."
"Sudah hampir siang, ayo kita kembali, aku ada janji makan siang dengan seseorang hari ini" ujar Elisa berbalik dan melangkahkan kakinya terlebih dulu menjauh dari sana.
Elzay menatap lirih pemakaman Ayah dan Ibunya itu, ia mengadahkan kepala nya kelangit, matanya sedikit menyipit melihat awan yang berwarna gelap.
"Hah, aku suka cuaca seperti ini" gumamnya.
Sesaat setelah itu, Zay segera melenggang pergi menyusul Elisa yang telah berada di dalam mobil.
"Kenapa kau ikut kekantorku, bukankah kau sibuk dengan pemotretanmu?" ujar Zay sambil fokus mengemudikan mobilnya.
"Aku tidak ada pemotretan, lagipula aku ingin menjemput seseorang yang akan menemaniku makan siang"
"Siapa?"
"Aku tak ingin memberi tahu"
__ADS_1
"Cih"
Zay hanya berdecak dan tak lagi bertanya, kota padat yang mereka tinggali itu sangatlah ramai ketika siang hari.
Elzay mendongak ketika melihat siaran TV di pusat kota, siaran yang menayangkan para polisi yang masih aktif mencari informasi tentang orang-orang tewas belum lama ini, polisi yang kesusahan akibat insiden misterius yang terjadi baru-baru ini, seperti penemuan dua mayat yang mengambang di sungai XX itu.
"..."
Elzay melirik kearah Elisa, terlihat Elisa tak memperdulikan perkataan pada siaran TV itu, dia bahkan sibuk memotret dirinya sendiri, bergaya di depan kamera, bahkan membuat Zay mengerutkan dahinya.
"Zay, ayo kita foto berdua"
"Aku sedang menyetir, tidakkah kau lihat dengan matamu itu Lisa"
"Hah, menepi Zay" ujar Elisa menggoyangkan tangannya agar Zay menepi.
Zay menghela nafasnya kasar, namun ia tetap mengemudikan mobilnya ke pinggir, dengan senyum lebarnya, Elisa telah siap dengan ponsel baru didepan wajahnya.
"Ayo Zay" ujarnya.
"Hei, tunggu dulu" ujar Zay menurunkan rambutnya, tak lupa ia membuka jasnya dan melonggarkan ikatan dasinya, wajahnya seketika berubah menjadi lebih tampan, gayanya yang tak lagi seformal tadi membuat pria itu terlihat persis dengan Yohan, kecuali rambut abu yang dicat nya itu.
Mereka terkikik, ketika mendapati hasil foto yang terlihat jelek, tapi kepolosan mereka yang seperti anak kecil lagi itu malah lebih terlihat ketika mereka melakukan hal-hal sederhana. pada dasarnya sedari dulu mereka memang anak-anak polos yang hanya didongengkan cerita indah namun berbahaya oleh Ibu mereka.
**
"Maaf ya, kau jadi menunggu lama, laporanku harus diselesaikan secepatnya" ujar Lily dengan raut wajah tak enak hati.
"PFT, tidak apa-apa, santai saja denganku" ujar Lisa sambil tersenyum.
Terlihat sebuah senyuman mengembang di wajah cantik Lily.
Elisa mulai memacu mobilnya, ditengah perjalanan bahkan mereka terlihat tak canggung satu sama lain, itu membuat Lily senang, terlihat jelas di wajahnya.
"Bagaimana kalau kita dengar lagu saja" ujar Lisa.
"Ya, boleh saja"
KLIK..
Jari telunjuk Elisa menekan MP3 di mobilnya, sebuah lagu pun menggema di dalam mobil itu.
I can dim the lights and sing you songs full of sad things
We can do the tango just for two
I can serenade and gently play on your heart strings
__ADS_1
Be your Valentino just for you🎶🎶
Ooh, love, ooh, loverboy
What're you doin' tonight, hey, boy?🎶🎶
Elisa menatap lurus kedepan sembari tersenyum.
"Aku tak pernah dengar lagu ini" ujar Lily kikuk ketika mendengar lagu lawas dengan melodi yang menghanyutkan itu.
"..."
"Kau suka lagu seperti ini Elisa?" tanya Lily.
"..."
Rasa heran dan bingung terlihat jelas di wajah cantik wanita bermata biru itu, namun Elisa masih memandang lurus kedepan, tak menghiraukan pertanyaan Lily, dia terlihat sangat menikmati dan tenggelam dalam lagu itu, sesekali ia memejamkan matanya lalu tersenyum.
Lily pun pada akhirnya memilih diam, namun ini terasa aneh, mobil ini semakin lama semakin lebih cepat lajunya, seiringan dengan musik ini kecepatan mobil ini pun lebih meningkat, namun Elisa masih diam dengan tatapan nya yang lurus kedepan.
"Eng, Elisa"
"..."
Mobil melaju semakin cepat, bahkan rasanya sampai melayang didalam sana, musik masih menyala, kepanikan mulai menyeruak dalam diri Lily, dia bahkan terus memanggil Elisa dengan bibir kecilnya, suaranya parau karena mungkin dia hampir menangis karena takut.
CKIIITTTT....
Elisa membanting stirnya dan mobil berhenti tepat di depan sebuah restoran bersamaan dengan habisnya lagu itu.
Elisa menolehkan wajahnya dan terlihat Lily menutupi wajahnya karena takut dengan hal yang belum tentu terjadi.
"Kita sudah sampai, kenapa kau begitu?"
Lily mengalihkan tangan nya perlahan, menatap netra hitam yang sedang menatap dirinya itu, ia menelan saliva nya, apa hanya dirinya yang terlalu berlebihan, Elisa bahkan sangat santai.
"K-Kau menyetir terlalu cepat, Elisa" ujarnya gagap.
"Ah, benarkah?Maaf,maaf aku terlalu terbawa suasana karena lagu yang kudengar tadi, kau takut ya" ujarnya menampilkan raut bersalah.
Lily menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan, kini getaran ditubuhnya berangsur-angsur hilang, ia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya, mungkin hanya dia yang berlebihan karena terlalu takut.
"Sekali lagi maafkan aku, aku janji tak akan menyetir seperti itu lagi"
"Oh tidak,tidak, aku hanya berlebihan saja tadi" ujar Lily melambai-lambaikan tangan nya.
"Baiklah, ayo kita masuk, aku sudah lapar" ujar Elisa sembari tersenyum sehingga mata nya menyipit.
__ADS_1
"Ya" jawab Lily.