
Tap tap tap...
Deru langkah kaki yang sedang berlarian bersamaan dengan suara tawa renyah menggema di seluruh rumah itu.
Terlihat Eleeya tengah berlari kecil dengan wajah yang ceria dan di belakang nya terlihat juga Yohan yang sedang mengejarnya dengan senyum nya yang merekah.
Mereka seakan seperti sepasang kekasih yang sedang main kejar tangkap,namun terlepas dari semua itu, mereka terlihat bahagia satu sama lain,kebahagiaan yang terlihat murni karena keberadaan masing-masing.
Ini sudah beberapa hari setelah kunjungan Rui waktu itu,hari-hari berlalu seperti biasa nya,hanya saja kini hubungan mereka semakin membaik,begitu pula sikap Yohan pada nya.
"Nah kena kau"ujar Yohan menangkap Eleeya dari belakang.
Diangkat nya tubuh Eleeya yang ramping,membuat si pemilik tubuh terpekik pelan dan meronta,alhasil itu membuat kedua nya pun terjatuh,dan mengundang gelak tawa dari kedua nya.
Yohan memegang pipi gadis yang berada di bawah nya itu,mata nya menatap dalam wajah gadis itu,membuat si gadis menjadi malu dan menimbulkan rona merah di pipi nya.
Melihat hal itu lantas membuat Yohan tersenyum dan mengecup pelan bibir gadis itu.
"Mau kekamar?"bisik Yohan.
Eleeya mendelik dan dengan malu-malu ia pun menganggukan kepala nya.
Tanpa pikir panjang,Yohan pun segera mengangkat tubuh gadis itu,membawa nya ke kamar dan menjatuhkan nya di atas kasur dengan perlahan.
Segera ia mendekatkan bibirnya ke bibir Eleeya,menyusupkan lid*h nya sementara tangan nya menggerayangi tubuh indah Eleeya.
Eleeya hanya melenguh ketika sentuhan demi sentuhan yang ia rasakan dari Yohan.
Kini sapuan lid*h Yohan sudah sampai pada lehernya yang jenjang,dan setelah membuat Eleeya mengerang penuh nikmat, ia pun membisikan suatu hal pada Eleeya.
"Kita tidak bisa meneruskan nya,karena aku ada kelas sebentar lagi"bisik nya.
Eleeya yang mendengar itu hanya terdiam layak nya orang idiot,sedangkan Yohan terkekeh melihat ekspresi Eleeya.
Eleeya yang malu menundukan kepala nya sambil memukul lengan Yohan dengan pelan.
"Aw,itu menyakitkan" goda Yohan pada Eleeya,membuat gadis itu mendengus kesal pada Yohan.
Yohan pun tertawa dan mengusap kepala Eleeya.
"Setelah aku pulang,akan aku teruskan"ujar nya.
Mendengar hal itu,Eleeya mengalihkan pandangan nya guna menutupi pipi nya yang memerah dan ekspresi senang nya.
Melihat gadisnya sudah tak marah lagi,ia pun beranjak dan mengganti baju nya bersiap untuk pergi kekampus.
"Eleeya,aku akan pergi,baik-baik dirumah"ujar nya dan di balas dengan anggukan pelan Eleeya.
*
Sekelompok anak laki-laki tengah berjalan menuju kedai makanan,mereka tak lain adalah Yohan dan teman-teman nya.
Setelah kelas usai,mereka sepertinya berniat nongkrong di kafe.
"Yohan,kau lihat wanita di sana,mereka menatapmu terus"
"Ya,enak nya punya wajah tampan ya begitu"
Yohan hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya mendengar ocehan dari teman-teman nya itu.
"Ada banyak wanita yang memujamu,tapi tidak ada satu pun dari mereka yang beruntung,karena sekarang Yohan kita belum juga punya pacar"
"Haha benar,apa tidak ada yang membuatmu tertarik dude?"
"...Kurasa ada satu"jawab Yohan.
"Woah,yang benar dude,kami penasaran siapa itu"
DUKK
Saat tengah mengobrol,tak sadar Yohan bertabrakan dengan seorang pria saat itu.
"Maaf,maaf"
"Uh,Rui?"ujar Yohan yang agak kaget karena dia bertabrakan dengan Rui.
__ADS_1
"Oh ternyata kau Yohan" ujar Rui.
Yohan tersenyum.
"Ya,kita jadi sering bertemu ya akhir-akhir ini"tutur Yohan.
"Ah,y-ya kau benar juga"jawab Rui agak kikuk.
"..."
"Baiklah,aku duluan karena ada pekerjaan yang harus ku lakukan"ujar Rui sambil melambaikan tangan dan berjalan cepat menjauh dari sana.
"..."
Yohan hanya diam menatap dingin kearah Rui yang sudah jauh dari pandangan nya.
*
Ini kesempatanku,aku harus bergegas kesana sekarang,gumam Rui.
Ia pun memacu mobil nya dengan cepat,dengan perasaan yang gelisah ia terus mengendarai mobil nya.
Hingga akhirnya ia tiba,dan tempat yang ia maksud itu adalah rumah Yohan.
Rui kini sudah berdiri di depan rumah Yohan, dengan perlahan ia membuka gerbang rumah itu dan masuk kedalam.
Ia melangkahkan kaki nya maju dan sekarang ia sudah berada di ambang pintu.
Aku sudah disini,sekarang apa yang harus aku lakukan,ujar Rui dalam hati.
Dengan keringat yang bercucuran ia hanya diam di depan pintu itu.
Dengan pelan ia membungkukan badan nya dan mengintip di salah satu lubang yang ada di pintu dengan satu mata nya.
Aku tak bisa melihat dengan jelas dari sini, yang terlihat jelas hanya rak sepatu dan disebelah nya ada tempat payung,gunting dan alat menjahit,lalu untuk melihat bagian dalam aku tak terlalu kelihatan,gumam Rui.
Mungkin aku harus mencari celah yang lebih besar untuk mengamati bagian dalam rumah ini,gumam Rui.
Tepat setelah itu,Rui mendapati celah lumayan besar dari pinggir pintu.
"Kau sedang apa?"
Tiba-tiba terdengar suara berat dan dingin yang berasal dari belakang Rui,hal itu membuat Rui terdiam karena kaget.
Lalu mau tidak mau,ia pun menolehkan wajah nya,dan benar saja,Yohan sudah berada di belakang nya,berdiri dengan ekspresi datar dan tak ada senyum di wajah nya,menatap tajam ke arah Rui seakan berkata "Apa yang kau lakukan dirumahku bajingan".
"Y-yohan,kau baru kembali?Ah,aku sengaja mampir karena kebetulan lewat sini" ujar Rui yang berusaha berdalih karena tak enak hati telah tertangkap basah tengah memata-matai rumah yang sedang tak ada orang nya.
"Bukankah kau tau kalau aku sedang tak ada dirumah?"
"Ah?"
Sial,aku salah bicara.
Sekarang bagaimana ini,gerutu Rui.
"Iya kau benar,aku lupa hal itu"
"..."
"Boleh aku beristirahat sebentar di rumahmu,aku agak kelelahan karena banyak nya pekerjaan" ujar Rui.
Aku harus masuk dan memeriksa rumah ini sendiri,aku merasa ada yang ia sembunyikan di dalam,gumam Rui.
Akhirnya Yohan pun tersenyum setelah sedari tadi ia menunjukan ekspresinya yang datar dan menakutkan.
"Tentu saja,aku akan membuka kunci nya dulu"jawab Yohan sambil memasukkan anak kunci ke gagang pintu nya.
CEKLEKK
Yohan memutar kunci nya.
"Satu...Dua...Dua...Satu"ujar Yohan sambil memainkan anak kunci itu,di buka kemudian dikuncinya lagi,lalu di buka nya lagi.
Itu jelas membuat Rui bingung,apa yang sedang dilakukan nya itu,pikir Rui.
__ADS_1
Yohan menoleh ke arah Rui sambil terkekeh.
"Maaf,pintuku agak macet,jadi ketika membuka nya memang harus seperti itu,nah sekarang mari masuk"ujar Yohan membuka pintu nya.
Yohan masuk terlebih dulu,menaruh kedua sepatu nya di rak sepatu lalu mempersilahkan Rui untuk masuk.
Rui pun masuk perlahan sambil celingak-celinguk seakan sedang mencari-cari sesuatu.
"Apa kau memerlukan sesuatu?" tanya Yohan.
"Ah tidak,hanya saja aku suka dengan bentuk rumahmu"
"Benarkah?Kau boleh melihat-lihat sesukamu"
"Oh tidak,aku tidak perlu..."
"Tidak perlu sungkan,aku juga tinggal sendiri,jadi buatlah dirimu nyaman ketika berada disini,aku tidak keberatan"jawab Yohan dengan seringaian kecil di wajah nya.
GLEKK
Rui menelan saliva nya,Yohan seakan tau apa yang sedang Rui pikirkan,dengan mudah ia menawarkan apa yang Rui inginkan.
Tanpa pikir panjang dan menurut Rui pun ini adalah sebuah kesempatan, ia menelusuri rumah itu, melihat kamar yang rapi, dapur yang bersih serta kamar mandi yang juga bersih.
Hal ini membuat kepala Rui menjadi pusing,tidak ada hal yang mencurigakan disini,dan tatapan nya pun terhenti di sebuah ruangan yang tertutup.
Ruangan apa ini?
Tak seperti semua ruangan yang ada disini,semua terbuka kecuali ruangan ini,pikir Rui.
"Buka saja bila kau ingin melihat nya"
"..."
Rui menatap Yohan yang tersenyum pada nya.
Apa yang sedang ia rencanakan sebenarnya?gumam Rui, lalu ia pun membuka pintu ruangan itu.
Mata nya seketika mendelik melihat isi ruangan itu.
Terdapat banyak buku bersusun di rak,dan hanya itu.
Rui mengerutkan dahinya karena perasaan nya tidak mungkin salah.
Namun,bila ia bersikeras untuk tetap melihat isi rumah ini secara detail yang ada pria di hadapan nya ini akan curiga dan Rui akan terkena masalah.
"Ah,rumahmu benar-benar sempurna,kuharap aku bisa membangun rumah dengan tatanan seperti ini juga" ujar Rui sambil tertawa ringan.
"..."
Aku sudah melihat seluruh isi rumah nya,kalau aku tetap disini,akan terasa sangat canggung,aku harus beralasan untuk segera pergi dari sini,gumam Rui.
Seketika Rui pun melihat jam tangan nya dan memasang ekspresi yang agak panik.
"Ah sudah jam segini,aku lupa kalau aku ada janji"ujar Rui berpura-pura.
"Oh ya,terimakasih atas waktumu dan maaf juga telah merepotkanmu"lanjut nya.
"Tak masalah"jawab Yohan dengan senyum khasnya.
"Baiklah,aku akan pulang"
Rui melangkah kan kakinya dan mengambil sepatu nya,lalu ia pun tersentak,tanpa ia sadari keringat nya pun mengalir, dengan cepat ia memakai sepatu nya dan keluar dari rumah itu.
Di perjalanan,ia menatap lurus ke arah jalan sambil memijat-mijat dahinya sendiri.
"Heh"
Rui menyunggingkan senyum nya.
Anak kurang ajar itu,aku tau kalau dia itu tidak sebaik yang terlihat,aku tidak tau kenapa dia begitu hebat menyembunyikan segala nya,tapi satu yang pasti,gunting yang awal nya berada di sebelah rak sepatu itu menghilang,aku yakin sebelum dia masuk,gunting itu masih ada disana.
"Hah,sialan"
"Apa yang ia rencanakan?Apa ia berniat membunuhku?"gerutu Rui.
__ADS_1