
**Flashback off
"Bajingan,singkirkan kakimu ini" teriak Rui
"Pft,lihatlah dirimu,kau berada di bawah kakiku,itulah tempat sebenarnya bagi pria bodoh sepertimu" ujar Yohan sambil terkekeh.
"Dasar brengsek,itu ulahmu bukan?Kau lah yang menyebabkan Lana mati"
"Siapa yang tahu?Hahaha"
Gelak tawa Yohan seakan memenuhi ruangan itu,ketegangan makin menjadi ketika Yohan mendekati Rui dan menduduki punggung nya, membuat Rui makin tak bisa bergerak.
Sial,ini menyakitkan,aku bahkan tak bisa bergerak,gumam Rui.
Yohan mengeluarkan sebuah pisau dari balik jaketnya.
Mata Rui seketika mendelik ketika melihat ujung mata pisau yang sangat tajam itu kini telah berada tepat didepan mata nya.
"Ini yang kesekian kalinya kau bertindak bodoh Detektif,aku sangat tidak suka kehidupanku diusik,tapi kau malah terus menerus mengusik kehidupanku,layaknya seorang pria yang terus menganggu wanita yang disukainya" ujar Yohan dengan suara berat nya membuat siapa saja akan merasa ngeri mendengarnya.
"Ah,atau jangan-jangan aku salah paham?Selama ini kau tidak mungkin menyukai aku kan,kekekeke" ujar Yohan terkekeh
"..."
"Nah kau benar, akulah yang membunuh Detektif wanita itu, bahkan itu sangat mudah bagiku,karena dia sangat lemah" ujarnya menyeringai.
"...Huh?"
Rui mengepalkan kedua tangan nya, rasa kesal,sedih dan sesak berkecambuk menjadi satu dalam dirinya, bahkan mata nya memerah karena menahan tangisan nya saat itu.
"Kau harusnya lihat bagaimana wajahnya yang terlihat ketakutan pada waktu itu"
"Diamlah"
"Raut wajahnya yang putus asa dan bergetar waktu aku mendekatinya"
"Diam,diamlah"
__ADS_1
"Dan detik-detik ia meregang nyawa,itu adalah saat-saat yang paling mendebarkan"
"DIAMLAH,DASAR KEPARAT KUBUNUH KAU" teriak Rui yang sudah tak bisa lagi menahan amarah nya, ia meronta melayangkan pukulan nya namun sulit karena posisinya yang tak memungkinkan.
DUUAAKKK
Akhirnya Rui terdiam ketika kepalanya beradu dengan lantai yang sangat keras itu, ia melenguh kesakitan namun tak bisa berbuat apapun,bahkan Eleeya hanya menutup matanya ketika Yohan menyiksa Rui disana.
"Uratmu sampai keluar semua karena kau marah-marah" ujar Yohan.
"ARGH,SIAL" gumam Rui kesakitan.
"Nah,sekarang aku akan memberikanmu treatment agar kau menjadi lebih tenang" ujar Yohan yang mulai menggores pipi Rui dengan mata pisau yang ia pegang.
"AAAAAARRGGGGHHHHH"
Teriakan Rui menggema di seluruh rumah Yohan, bahkan Eleeya sampai berdiri dari tempat duduknya dengan perasaan yang gelisah dan takut, Rui masih teman nya, dia masih berharga baginya walau apapun yang terjadi, tapi dia bisa apa?
Eleeya sangat ingin menghentikan semua ini, setidaknya untuk menyuruh Rui pergi dan tak usah kembali lagi, tapi dia tau itu tak akan bisa, ia terlalu takut pada Yohan.
"Hahaha, santai saja itu baru permulaan, nah sekarang lah intinya" ujar Yohan terkekeh mengangkat pisaunya dan berniat menancapkan nya di punggung Rui.
Tanpa sadar Eleeya berteriak pada Yohan yang akan membunuh Rui, seketika Yohan mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah Eleeya, netra hitam nya menatap lekat ke Eleeya seakan menembus bola mata nya, seluruh tubuh Eleeya bergetar karena dia tau itu adalah tatapan kemarahan seorang Yohan.
"Apa yang kau lakukan El?Kau mencoba untuk menghentikanku?" tanya nya.
"T-tolong jangan lakukan itu,j-jangan membunuhnya" ujar Eleeya yang terisak.
"..."
Yohan hanya menatapnya datar, Eleeya sangat takut, air mata nya jatuh berlinang, bahkan tubuhnya tak berhenti gemetar saat itu.
"Hah,kenapa kau berdiri?Bukankah aku menyuruhmu untuk duduk,kau tak perlu ikut campur,duduk dan lihat saja" ujar Yohan tersenyum padanya.
Tidak,tidak,kumohon jangan,aku tahu ini tidak akan berhasil,setidaknya aku lega karena dia tidak memukulku karena aku mencoba mencegahnya, tapi kak Rui,dia akan mati kalau seperti ini terus,gumam Eleeya dalam hatinya.
Melihat Yohan yang lengah, Rui menggunakan kesempatan ini dengan mencoba memukul Yohan dan berhasil, pukulan itu memang tak mengenainya namun cukup untuk membuatnya bergerak dan menjatuhkan pisau yang digenggamnya, dengan menahan sakit,Rui berdiri dan mengambil pisau yang dijatuhkan oleh Yohan.
__ADS_1
"Dengar,aku tak perlu lagi bersusah payah untuk memasukanmu kedalam penjara,karena aku akan segera membunuhmu disini" teriak Rui sambil mengarahkan pisau itu pada Yohan.
Yohan berdiri dan kini mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Melihatmu memegang pisau itu sangat menggelikan" ujar Yohan terkekeh.
"Kau...Aku tak pernah tau apa yang salah padamu,kau membunuh orang yang tak bersalah,bahkan dengan sangat kejam,apa kau tak memikirkan perasaan orang-orang yang berada didekatnya"
"Kau ini bicara apa?Kembalikan pisauku,berikan itu padaku" ujar Yohan sambil mengadahkan tangan nya pada Rui.
"Orang seperti kau akan hidup dan juga mati dengan cara yang mengerikan" ujar Rui dengan raut wajah penuh amarah.
Yohan terdiam,suasana menjadi hening,tatapan nya kini mulai berubah, raut wajah Yohan yang santai kini berubah menjadi serius dan dipenuhi dengan emosi yang memuncak,bahkan Rui pun merasakan perubahan aura pada Yohan, namun itu tak membuatnya bergeming, rasa dendam dan kemarahan nya pada Yohan membuatnya lebih berani dan bertekad untuk segera membunuh Yohan.
Rui bahkan tak lagi memikirkan rasa sakit pada tubuh dan wajahnya yang sudah berdarah akibat goresan yang diperbuat oleh Yohan, dia sudah terbakar api kemarahan sejak Yohan meracau tentang Alana padanya.
Dengan tatapan yang datar, Yohan mulai berjalan mendekat kearah Rui, tatapan nya yang seakan siap membunuh itu tak membuat Rui mundur, walau pada akhirnya ia juga merasa gelisah ketika Yohan hampir mendekatinya, dengan segenap kekuatan nya ia melayangkan pisau itu kearah Yohan, namun tenaga nya tak cukup membuat Yohan terluka, tangan nya berhasil ditangkap oleh Yohan, bahkan saat Rui akan memukul menggunakan tangan nya yang satu lagi, itu pun berhasil di hentikan oleh Yohan dengan menangkap kembali tangan Rui, Yohan menekan dan memutar tangan Rui hingga Rui terpekik dan pisau yang digenggamnya terjatuh, dengan seringaian yang lebar di wajah nya, ia menghamtamkan kepala nya sendiri ke dahi Rui hingga pelipisnya pecah dan berdarah, Rui bergerak mundur sambil terhuyung.
Eleeya menutup mulutnya sendiri menyaksikan pertengkaran diantara mereka, sedari tadi ia hanya berdiri disana bahkan tak bergerak sedikit pun, ia bahkan bingung apa yang harus dilakukan nya.
Yohan menunduk berusaha mengambil pisaunya yang dijatuhkan oleh Rui.
DUAAAKKK
Rui menendang wajah Yohan dengan sekuat tenaga,membuatnya tersungkur dan pisau itu terpental tak tau kemana, terlihat Yohan memegangi wajahnya akibat perbuatan Rui, lalu dengan kemarahan yang masih menguasai dirinya, Rui mendaratkan beberapa pukulan kewajah Yohan,membuat bekas luka di pelipisnya yang sama seperti dirinya.
"Yohan" teriak Eleeya.
Tinjuan dari Rui berhasil ditangkap oleh Yohan, ia mengeraskan rahangnya dan menghamtam Rui dengan kepalan tangan nya.
Yohan memegang pelipisnya yang mengeluarkan darah, dan menolehkan pandangan nya kearah Rui yang sedang kesakitan memegang perutnya yang terkena pukulan telak oleh Yohan.
Netra hitam pekat Yohan menatap tajam kearah Rui,bahkan semua pukulan yang diberikan oleh Rui tadi tak ada apa-apanya bagi Yohan, ia bahkan tak terlihat kesakitan seperti yang Rui rasakan sekarang.
Kenapa dia bisa sekuat itu?gumam Rui.
Kini Rui mulai merasa panik karena kekuatan mereka yang berbeda jauh,bahkan tenaga nya sudah hampir habis sekarang dan Yohan masih belum apa-apa terkecuali pelipisnya yang berdarah sedikit.
__ADS_1
Karena Yohan terus mendekat,dengan paniknya Rui meraih sebuah kursi dan melemparkan nya kearah Yohan, namun ia tersentak karena lemparan nya malah mengarah ke Eleeya yang berada tak jauh di belakang Yohan, itu membuat Eleeya membulatkan kedua mata nya, bahkan ia tak sempat lagi untuk mengelak,ia hanya merengkuhkan tangan nya untuk menutupi kepala dan wajahnya sambil menutup mata nya,menunggu kursi yang sudah siap menghantam tubuhnya.
BRRAAAAAAKKKKKKKK....