
Mobil sedan putih itu melaju membuat debu-debu dijalanan menjadi beterbangan karena nya,udara sedang dingin-dingin nya membuat semua orang memakai mantel agar menjaga mereka tetap hangat, tak terkecuali pria yang sedang menyetir mobil itu.
Ditengah-tengah perjalanan nya,ia melambatkan laju mobil nya ketika sorot mata nya tak sengaja melihat sebuah toko perhiasan.
Ia berhenti tepat di depan toko itu dan turun dari mobilnya,berniat mampir kedalam toko tersebut.
Semua sorot mata kini tengah menatap nya,apalagi para wanita disana,mereka semua tersipu akan wajah tampan yang dimiliki pria itu.
Pria yang tak lain adalah Yohan itu berkeliling melihat-lihat semua perhiasan yang ada di toko itu,dan tatapannya kini terpaku pada sebuah cincin dengan berlian kecil yang berkilau di sekitarnya.
Apa aku harus membelinya?gumam nya dalam hati.
Tepat setelah menggumamkan kata-kata itu,ia pun menundukan wajahnya sambil terkekeh.
"Ada yang bisa saya bantu" sambut pegawai toko dengan pipi yang memerah saat berhadapan dengan Yohan.
"Ah,aku hanya melihat-lihat" jawab pria itu dengan senyum manisnya.
Tak lama setelahnya Yohan pun keluar dari sana dan kembali mengemudikan mobil nya hingga ke sebuah kafe yang tak jauh dari kampusnya itu.
Ia duduk sendirian sambil menikmati secangkir kopi hitam yang hangat,diseruputnya minuman itu secara perlahan,lalu ia tiba-tiba mengeluarkan seringaian nya ketika melihat seorang gadis cantik berambut sebahu tengah berdiri di depannya.
Alana menatap Yohan yang sedang asyik menyeruput minuman nya itu sambil mengerutkan dahinya.
"Silahkan duduk,apa kau tak lelah berdiri seperti itu?" ucap Yohan sambil meletakan minuman nya di meja.
Gadis itu tak menjawabnya namun segera ia duduk karena sebenarnya ia sudah letih.
Beberapa jam yang lalu ketika ia masih berada di kantor,ia berkutat dengan segudang berkas dan juga berfile-file dokumen di layar laptop nya,hingga ketika dia ingin mendinginkan isi kepala nya di kafe ini,ia malah melihat Yohan sendirian tengah menikmati secangkir kopi, dengan modal nekat dan tanpa sadar ia berjalan kearah pria itu,dan disinilah dia sekarang yang sedang duduk berhadapan dengan Yohan.
"Ingin memesan minum?" tawar Yohan.
"Aku akan memesan sendiri ketika aku ingin meminum sesuatu" jawab Alana sedikit ketus.
"Haha,baiklah" ucap Yohan sambil mengangguk-anggukan kepala nya.
"..."
"Ah,apa ada yang bisa saya bantu kali ini Detektif Alana?" ujar Yohan.
__ADS_1
"Hah" Alana menghela nafasnya.
"Sepertinya kau suka sekali kesini ya,apa kau setiap hari pergi ke kafe ini?" tanya Alana.
"Ah tidak juga,hanya sedang ingin saja" jawab Yohan sambil tersenyum.
Ini adalah tempat yang Haileey singgahi untuk terakhir kali, semua mantan pacarnya sudah kutemui dan ketika aku menanyakan kemana mereka makan atau berkencan,tak ada satu pun dari mereka yang menjawab pergi ke kafe ini.Dan sekarang,orang didepanku ini...
Alana melirik Yohan, secara tak sadar ia kini sedang menatap Yohan tanpa berkedip.
"Detektif,berhenti menatapku,kau membuat jantungku berdebar" ujar Yohan sambil menyunggingkan senyumnya.
"Eh?"
Alana tersentak dan langsung menundukan kepala nya, ia sadar bahwa perbuatan nya itu telah menimbulkan kesalahpahaman.
"Maaf,aku tak bermaksud seperti itu" ucap Alana tak enak hati.
"Aku tahu, mana mungkin kau menyukai orang sepertiku kan Detektif,sedangkan orang yang kau sukai itu adalah Detektif Rui" tutur Yohan dengan matanya yang menatap Alana.
Alana mendelik mendengar perkataan yang keluar dari mulut Yohan,bagaimana bisa pria yang bahkan hanya sekali dua kali ditemuinya ini mengetahui hal itu,bahkan Rui sekali pun tak pernah sadar akan hal itu.
"Jangan terkejut seperti itu,aku ini orang yang cukup peka,jadi jelas saja aku tahu karena itu terlihat jelas di wajahmu" ucap Yohan.
"Benarkah?Ah kupikir kalian berdua itu dekat,aku sempat lega ketika berpikir seperti itu,tapi nyatanya aku salah,aku harus lebih waspada"
"Apa maksudmu?"
"Detektif, Rui mencoba membawa pacarku pergi dan ikut bersama nya, apa kau tak tahu itu?" ujar Yohan dengan raut wajah yang sangat serius.
"...Apa?"
"Dia bahkan mencoba menyeret Eleeya saat kami sedang makan malam diluar,dia melakukan berbagai macam cara agar dapat memisahkanku dengan Eleeya,begitu juga dengan kejadian yang waktu itu" ujar Yohan dengan tatapan nya yang datar pada wanita itu.
"Jangan mencoba berbohong,mana mungkin Rui seperti itu,pada saat itu kau bahkan menyeringai di hadapanku,kau pikir aku akan percaya begitu saja?" ujar Alana dengan tatapan nya yang tajam kepada Yohan.
"Aku tidak berbohong,aku mengatakan ini padamu karena itulah faktanya,dan soal aku menyeringai di depanmu itu,jangan salah paham,aku hanya mencoba tersenyum walau aku sedang dilanda kesusahan,dan kau mungkin tidak melihatnya dari sisi itu" jawab Yohan tenang sambil berdiri dari kursinya.
Alana hanya memandangi Yohan yang sudah bersiap pergi itu dengan tatapan bingung,lalu ia dikejutkan dengan cengkraman Yohan pada bahunya.
__ADS_1
Dengan sedikit berbisik dia berkata:
"Terimakasih karena telah menemaniku minum"
Tepat setelah itu,Yohan melenggang pergi meninggalkan banyak pertanyaan di otak Alana.
Alih-alih melamun,gadis itu mengeluarkan sebuah laptop dari tasnya dan mulai mengetikan sesuatu disana.
Aku tidak paham maksud dari ucapan nya itu, tapi haruskah aku percaya padanya soal Rui?Kalau memang dia mengatakan hal yang benar,maka aku tak bisa lagi mempercayai Rui tentang apapun itu,dan aku akan berhenti membantu nya,termasuk dengan hal yang berkaitan dengan Yohan sekalipun, gumam Alana.
*
Malam ini dipenuhi dengan banyak nya bintang,kue cantik dan juga sepasang lilin diatasnya itu memperjelas bahwa ada sebuah pesta ulang tahun di kamar yang tak terlalu luas itu.
Gadis yang sedang berulang tahun ke-21 itu pun terlihat bahagia, apalagi ketika sang pria yang dicintainya itu memberikan kue besar yang cantik kepadanya.Dengan perasaan senang ia menyatukan kedua tangan nya dan menutup kedua mata nya, berdoa dalam hati untuk sesuatu hal yang diinginkan nya, setelah selesai ia pun membuka matanya dan meniup lilin yang berada di atas kue cantik itu, Yohan yang melihat hal itu hanya tersenyum seakan senang melihat wanita di hadapan nya itu terlihat bahagia.
Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat serasi ketika sedang saling menyuapi kue,bahkan mereka mengenakan baju pasangan yang pernah mereka beli waktu itu.
"Nah,sudah selesai dengan kuenya,sudah hampir waktunya kau menerima hadiahmu" ujar Yohan menyingkirkan sisa kue itu.
TING..TONG...TING...TONG...
Suara bel berbunyi dari depan sana,tentu ada seseorang yang datang kerumah mereka pada saat itu.
"Ah,sudah waktunya" ujar Yohan bersemangat beranjak dari sana.
Eleeya hanya menatap Yohan bingung,tapi disisi lain itu juga membuat nya berdebar,karena Yohan akan segera memberinya hadiah ulang tahun untuk pertama kali pada Eleeya.
"Tunggu disini dan jangan kemana-mana" ujar Yohan.
Eleeya menganggukan kepala nya tanda ia mengerti akan perintah lelakinya itu.
Eleeya menunggu sambil memakan sisa kue yang masih berada disana.
TAP...TAP....TAP...
Suara langkah kaki yang perlahan pun terdengar dan sepertinya akan menuju kamar itu, itu membuat Eleeya terkikik karena dia tahu bahwa Yohan telah kembali, sejujurnya pria itu sangat buruk ketika memberi sebuah kejutan karena langkah kakinya begitu terdengar jelas.
Pintu kamar pun kini terbuka dan pria itu melangkahkan kakinya masuk kekamar itu, Eleeya menolehkan pandangan nya,dan walaupun dia telah tahu karena telah mendengar langkah kakinya, pada akhirnya dia tetap saja terkejut, bahkan mata nya hampir keluar saking ia terkejut nya melihat pemandangan itu.
__ADS_1
"Eleeya,apa kau merindukan aku?"
"...L-Leo?" ucap Eleeya tak percaya.