Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 70 S2 : Crazy Obsession (Part II)


__ADS_3

Celotehan pembisnis yang tak ada habisnya saat menjalani sebuah negosiasi, itulah yang sedang dilakukan Zay bersama rekan bisnisnya sekarang dan tentu saja ditemani oleh sekretarisnya, Lily.


Sepertinya hal ini pun berjalan lancar, terlihat Zay melontarkan senyum manis ala pembisnis dan melakukan jabat tangan dengan rekan bisnisnya.


Dalam beberapa minggu bekerja bersama Zay, bahkan Lily merasa terkesima akan prestasi dan pencapaian Zay.


Hening, tak ada percakapan diantara mereka setelah negoisasi berakhir.


Zay memandang kearah luar, melihat langit yang mulai menghitam dan bersiap mengeluarkan butiran airnya, sedangkan Lily sibuk akan dokumen dan laporan hasil rapat mereka.


Rasanya aneh, sekuat tenaga Zay menahan perasaan nya, tetap saja jantung nya berdebar bila berada didekat wanita itu, ia seakan menepis perasaan itu dengan mengalihkan pandangan nya atau bersikap dingin padanya, dia sungguh tahu, wanita yang membuatnya berdebar ini adalah wanita bersuami, bahkan tengah mengandung buah hati bersama dengan suaminya.


"Zay, haruskah kita kekantor, semua nya sudah selesai" ujar Lily membuyarkan lamunan Zay.


"Ah, baiklah" jawabnya singkat.


Langit terlihat semakin gelap, bahkan angin pun mulai kencang saat itu, udara dingin mulai menyerang ketika mereka keluar dari kafe itu, Lily sampai mengusap-usap lengan nya karena dingin, dia hanya mengenakan kemeja lengan pendek yang cukup tipis dengan rok pendek ala staff kantoran.


"Pakailah"


Lily tersentak dan menolehkan pandangan nya kearah Zay, pria itu malah memalingkan wajahnya dan tak berbicara apapun lagi.


Zay memakaikan jasnya ke pundak Lily, dan itu sungguh membuat wanita itu terkejut, bahkan Daniel yang notabene adalah suaminya itupun tak pernah berbuat demikian pada dirinya, selain mengatakan kalimat cinta, Daniel tak pernah melakukan hal khusus terhadap Lily, ini perbuatan klise, tapi entah mengapa rasa nyaman pun dirasakan wanita itu.


"Terimakasih"


Lagi-lagi canggung, mereka berjalan beriringan menuju parkir mobil yang letaknya lumayan jauh dari kafe.


"Seharusnya aku tak parkir mobil disana" gerutu Zay.


"Iya, itu benar"


"Kau lelah?"


"Ah, tidak, ini belum seberapa"


"Kau tunggu disini saja, biar aku yang mengambil mobilnya sendirian"


"Apa?Tidak Zay, aku masih kuat berjalan"


"Duduk saja disebelah sana dan tunggu aku" ujar Zay menunjuk kursi yang berada tak jauh dari mereka.


Lily berdiri mematung ketika memandang punggung Zay yang sedang mempercepat jalan nya, seakan tak ingin membuat Lily menunggu lama.Tanpa sadar, itu membuat Lily tersenyum, ia melangkahkan kakinya dan duduk di kursi yang ditunjuk oleh Zay.


Sembari menunggu, Lily mengeluarkan ponselnya, tak ada apapun disana, bahkan ia sangat berharap Daniel menghubunginya walau hanya sekadar menanyakan kabarnya, itu membuat raut kesedihan di wajah cantik Lily, dua tahun ia menikah dengan Daniel, dia pria yang baik dan sopan, tak pernah berbicara kasar dan pekerja keras, walau dia tak selalu ada waktu untuk Lily, tapi Lily memahaminya, itu karena dia sibuk dengan pekerjaan nya, dan mungkin pekerjaan nya memang selalu sibuk hingga ia tak bisa menyempatkan diri untuk menghubungi istrinya yang sedang mengandung anak pertama mereka.


TRING!


TRING!


Sebuah pesan masuk, bukan dari Daniel sang suami, melainkan dari Elisa.

__ADS_1


"Tumben sekali" gumam Lily.


Ajakan makan siang bersama, itulah isi dari pesan nya.


Tanpa rasa curiga sedikitpun, Lily membalasnya dengan balasan ya, bahkan ia merasa senang karena ajakan dari teman lama nya itu.


Terlepas dari itu, yang ditunggu-tunggunya pun akhirnya datang, segera Lily masuk kedalam mobil putih yang berhenti tepat didepan nya itu.


**


Langkah kaki Daniel yang berjalan menuju mobilnya terdengar begitu jelas, parkiran gedung ini terlihat sepi, bahkan suara alarm mobilnya begitu menggema disana.Seutas senyum terlihat di wajah Daniel, memutuskan untuk pindah kekota ini dan bekerja di perusahaan ini mungkin adalah pilihan yang bagus, pekerjaan yang tak terlalu sulit, gaji yang lumayan, jam kerja yang sedikit dan lagi selalu bertemu dengan para model wanita yang cantik dan seksi setiap harinya, ya setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Daniel sekarang.


Daniel memasuki mobilnya, namun ia dikejutkan oleh seorang wanita cantik yang ikut masuk dan duduk disebelahnya.


Daniel membulatkan mata nya, menautkan alisnya dan menatap tajam kearah wanita itu, namun wanita yang tak lain adalah Elisa itu hanya menyunggingkan senyumnya.


"Kenapa kau tiba-tiba ada disini?"


"Karena disini ada kau"


"...Apa?"


Ya, satu yang tak Daniel pikirkan, hidupnya bisa saja dalam bahaya berkat perilaku dan kebiasaan nya yang kurang baik itu, pindah kekota ini dan memulai pekerjaan nya memang lah pilihan terbaik baginya, setidaknya sebelum ia memutuskan untuk datang ke sebuah acara pertemuan dan menggoda seorang wanita cantik disana.


Bingung, panik, cemas, tak tahu harus melakukan apa, ya itulah yang dirasakan oleh Daniel sekarang, ini memang salahnya yang telah memulai permainan ini, dan sekarang ia harus terjebak dalam keobsesian wanita dihadapan nya ini.


"Kenapa raut wajahmu begitu Dan, apa aku terlihat mengerikan?" ujar Elisa sembari bercermin dan membenahi rambut hitamnya yang panjang bergelombang.


"..."


"Hei, apa yang kau lakukan?" ujar Daniel yang mulai emosi karena kelakuan Elisa.


"Aku hanya kepanasan, oh aku ingin kau melihat ini" ujar Elisa membusungkan dada nya kehadapan Daniel, membuat pria itu mendelik dan salah tingkah.


Beberapa senti diatas dadanya terukir dengan indah nama Daniel, namun itu tak membuat Daniel senang, perlakuan itu malah membuatnya semakin kesal.


"Keluar dari mobilku Elisa" teriaknya.


"Kenapa kau marah?Aku kesini untuk bertemu denganmu Dan, aku rindu padamu, kau tahu kalau aku begitu mencintaimu, dan aku yakin kau pun juga begitu,bukan?"


"Elisa dengarkan aku, hubungan kita itu hanya sebuah kesalahan, aku tak pernah benar-benar mencintaimu, aku hanya mencintai Lily, istriku, apa kau paham sekarang?"


"..."


"…Maafkan aku, tapi itulah kenyataan nya"


"Aku kesini bukan untuk mendengar hal itu Dan" ujar Elisa dengan suara nya yang rendah.


"..."


"Aku tak perlu lagi rasa cinta darimu, aku hanya ingin dirimu, aku ingin memilikimu Daniel"

__ADS_1


"Kau gila, apa yang rusak dari otakmu Elisa"


"Gila?"


Tatapan datar namun menusuk hingga menembus netra coklat milik Daniel, bahkan susana ini lebih mengerikan ketimbang menonton film horor.


"Aku tidak lah gila Dan" ujarnya parau.


"Tapi kenapa kau selalu mengikutiku?Keluarlah dari mobilku Elisa"


Beberapa menit berlalu dengan tatapan Elisa yang datar, namun sekarang dia telah tersenyum kembali, bagai mendung yang tersingkirkan dan digantikan oleh sinar matahari.


"Baiklah, aku akan keluar, tapi aku ada satu permintaan" ujarnya.


"Apalagi Elisa, berhentilah bermain-main" ujar Daniel geram.


"Cium aku sekali saja Dan"


"...Huh?"


Parkiran itu masih saja sepi, dan keheningan itu mulai terasa karena permintaan Elisa yang tak masuk akal.


Daniel hanya tercengang menatap wajah Elisa yang tersenyum simpul namun penuh arti.


"Anggap saja ini untuk yang terakhir kalinya"


GLEK!


Daniel menelan saliva nya, emosinya yang meluap-luap bahkan dengan singkat dilenyap habis oleh hasratnya.


Elisa tetaplah wanita yang cantik walau agak merepotkan bagi Daniel, dan lagi dia berkata bahwa ini untuk yang terakhir kali, itu menandakan bahwa dia tak akan menganggu Daniel lagi setelah ini selesai.


Daniel menarik Elisa agar dapat bercumbu dengan nya, bahkan untuk seseorang yang sedang kesal, Daniel malah sangat menikmati ciuman itu, dia merintih pelan saat Elisa menelusuri setiap titik tubuhnya dengan tangan nya, hingga...


BUUUKKKK...


Daniel tersentak persekian detik sebelum ia tak sadarkan diri dipelukan Elisa.


Netra hitam yang datar dan tajam menatap tubuh pria yang sedang tak sadarkan diri itu, ia mengambil sedikit pecahan dari layar ponselnya yang retak akibat memukul telak pundak Daniel tadi.


Elisa membuka satu persatu kancing kemeja Daniel, seringaian nya terlihat ketika dengan perlahan tapi pasti ia mulai menggoreskan pecahan layar ponselnya ke dada bidang Daniel.


Hanya butuh beberapa menit bagi Elisa untuk membuat hasil karya tangan nya pada dada Daniel, diusapnya darah kental yang mengalir akibat ulahnya itu dengan selembar tisu.


Ia tersenyum puas saat melihat nama nya terukir dengan indah di dada Daniel.


"Sekarang kita sama, sayang sekali ponselku rusak, aku jadi tak bisa mengabadikan nya" gumam Elisa.


Ia kembali mengancingkan satu persatu kemeja Daniel, merapikan rambut pria itu dan membenarkan posisinya disana.


"Pft, ini menyenangkan, mungkin inilah yang dirasakan Ayah saat ia mengukir namanya di perut Ibu" gumam nya sambil terkekeh.

__ADS_1


Elisa keluar dari mobil meninggalkan Daniel dengan kondisi yang masih tak sadarkan diri, ia melenggang pergi, melangkahkan kaki dengan tersenyum puas dan bersiul senang.


"Ah, aku harus beli ponsel baru" ujarnya.


__ADS_2