Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 59 : Kehilangan terbesar


__ADS_3

**Author pov :


Sudah terhitung 24 jam dari peristiwa penangkapan Yohan kemarin,rumah Yohan kini sudah dilingkari dengan garis polisi, tim investigasi pun sudah memeriksa rumahnya dengan detail,terbongkar sudah semua kejahatan Yohan saat itu, mereka menemukan banyaknya jasad di kebun belakang rumah nya, kebanyakan dari korban nya dimutilasi lalu dikuburnya disana kecuali satu yaitu korban yang diduga bernama Kimmy Dante, dia menguburnya utuh.


Lalu satu lagi yang tak bisa dipercaya, ditemukan pula tulang belulang di loteng kamarnya yang diduga adalah tulang ibunya sendiri.


Tidak ada yang bisa melakukan hal gila seperti ini kecuali seorang psikopat, dia sungguh mengerikan.


Yohan di tahan di penjara tersendiri akibat perbuatan kejam nya.


Eleeya masih saja termenung dan larut dalam kesedihan, bahkan psikolog yang menangani nya pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja.


Dirumah sakit, Eleeya hanya melamun, tidak makan dan tidak minum sejak saat itu.


Dr.Freeya, psikolog yang sedang menangani Eleeya pun merasa khawatir,lantaran Eleeya yang tak memakan apapun hingga sekarang,padahal dia sedang hamil.


Diruangan lain terlihat Rui sedang terbaring disana ditemani oleh Tian, kaki kirinya penuh dengan lilitan perban, begitu juga wajahnya yang masih terlihat lebam di mana-mana.


"Hah" Rui menghela nafasnya.


Pelipisnya pecah,wajahnya bengkak,seluruh tubuhnya lebam dan kaki kirinya patah,beruntung dia masih bernyawa hingga sekarang.


"Dia yang membunuh Alana" ujarnya parau.


"Aku tau" jawab Tian.


"Bagaimana bisa dia melakukan itu" ujar Rui sembari menangis.


"..."


Suasana hening seketika, hanya isakan tangis Rui yang terdengar disana.


"Bagaimana kau bisa mendapatkan semua bukti-bukti itu?" tanya Rui sambil menyeka sisa air mata nya.


"Hah, hari itu aku sedang memeriksa laporanku, aku juga terkejut ketika melihat Alana mengirim email padaku" ujar Tian.


"Alana mengirim email padamu?"


"Ya,isinya adalah semua bukti-bukti dari kejahatan yang dilakukan oleh pria itu, dimulai dari kesaksian dari seseorang yang melihat dia bertengkar dengan Tuan Cedric,kesamaan tempat yang dikunjungi oleh Haileey, bukti rekaman CCTV,bahkan foto-foto barang bukti yang ia temukan di ruang bawah tanah rumah pria itu" jelas Tian.


"Dia yang melakukan semua itu?" tanya Rui seakan tak percaya.


"Ya,ketika kulihat lagi,hari ia mengirimiku email adalah hari dimana ia ditemukan tewas bunuh diri" ujar Tian.


(Lihat chp 55,disitu Alana bilang kalau dia bakal transfer semua data di hape dia ke satu email buat jaga-jaga,nah itu dia trasnfernya ke email si Tian ya gengs :))


"..."


"Aku bahkan meragukanmu kemarin,aku minta maaf soal itu" ujar Tian menundukan kepalanya.


"Hei sudahlah, itu tidak terlihat seperti kau"


"Ah ya kau benar"

__ADS_1


"Apa Lana melakukan semua ini untuk membuatku terkesan,karena kalau memang iya dia telah berhasil"


"Oh ya ampun,yang benar saja"


Mereka berdua tertawa,karena mereka sadar bahwa menangis tidak akan membuat Alana kembali, dan itu juga tak akan membuat Alana senang disana, Alana sangat berjasa pada kejadian ini, karena tanpa kerja kerasnya, Yohan tak akan mendekam dipenjara seperti sekarang ini, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Rui sekarang.


"Ah,bagaimana dengan kondisi Eleeya?" tanya Rui.


"Gadis itu?Dia juga sedang dirawat dirumah sakit ini, kudengar dari Freeya dia mengalami shock berat dan depresi, dia juga tak makan dan minum sejak kejadian itu" ujar Tian.


"...Hah?Dia tidak boleh begitu,aku harus menemuinya" ujar Rui seraya beranjak dari tempat tidurnya,namun segera dicegah oleh Tian.


"Hei,kau masih belum boleh bergerak"


Rui terlihat meringis sakit ketika ia mencoba menggerakan tubuhnya dengan paksa, mau tak mau ia kembali berbaring.


"Freeya yang sedang menjaga nya, kau tak perlu khawatir" ujar Tian menenangkan Rui.


"..."


Rui hanya diam saja, ia memikirkan kesehatan Eleeya,dia akan sakit kalau dia terus-terusan seperti itu.


"Kudengar dia sedang hamil sekarang,sebenarnya aku sangat iba melihat dia,kenapa juga dia bisa bersama dengan psikopat gila macam si Yohan itu"


"...Hamil?"


DEG! jantung Rui berdetak kencang saat mengetahui hal itu, sungguh tak dapat dipercaya bahwa Eleeya mengandung anak pria itu.


Bagaimanapun keadaan nya,dia orang yang berharga bagiku,dia hanya korban,aku tak menyalahkan nya untuk itu,dia berhak memilih siapa yang akan dicintainya,bahkan bila itu Yohan, sekarang bahkan calon bayi itu sudah dipisahkan dengan ayah nya sendiri, tapi mau bagimana lagi,pria itu sungguh berbahaya, dia mengerikan, dia pembunuh berantai yang psikopat, aku bahkan merinding ketika mengingat pernah melawan nya dengan nekat waktu itu,dan inilah akibatnya kenekatanku itu, gumam Rui dalam hatinya.


**


"Kumohon makanlah ini Eleeya,kesehatanmu akan memburuk kalau kau terus seperti ini" ujar Rui memohon pada Eleeya.


"Tolong izinkan aku bertemu dengan Yohan" ujarnya terisak, dia menangis sepanjang hari,membuat Rui tak tega melihat keadaan nya,namun dia tak bisa mengabulkan permintaan nya begitu saja karena itu berbahaya.


"Lebih baik tidurlah,kau butuh banyak istirahat" ujar Rui.


Rui menggerakan kursi roda nya untuk keluar dari kamar Eleeya,ia tak tahan dengan rengekan Eleeya yang membuat hati nya sakit setiap kali memikirkan kondisi Eleeya.


"Kumohon sekali saja" ucap Eleeya memohon.


"Hah,kita akan kesana besok" akhirnya Rui mengabulkan nya karena tak tahan melihat Eleeya yang begitu menyedihkan itu.


"Kenapa tidak hari ini Kak Rui?"


"Tidak bisa,kau harus istirahat,dan jangan lupa makan buburnya,Yohan akan sedih kalau kau menemuinya dalam kondisi yang seperti itu" ujar Rui sambil melenggang pergi,diintip nya sedikit dari celah pintu, terlihat Eleeya memakan buburnya dengan sangat lahap.


"Haah"


Rui menghela nafas panjang.


Aku tak bisa melihat ia sedih begitu terus menerus, mempertemukan mereka satu kali itu sepertinya tidak lah buruk,gumam Rui sambil memegang dahinya.

__ADS_1


*


Pagi itu sangatlah cerah,secerah wajah Eleeya yang telah siap pergi untuk bertemu dengan Yohan, dia sudah menyiapkan kata-kata untuk bertemu dengan pria yang sangat dicintainya itu, ia akan memberikan kabar kehamilan nya ini dengan Yohan,dia bahkan membawakan Yohan sekotak makanan yang berisi sandwich kesukaan Yohan.


Sepanjang perjalanan ia selalu tersenyum, Rui hanya memandang nya dan ikut tersenyum kala ia menceritakan betapa bahagianya ia akan bertemu Yohan sekarang.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai ditempat dimana Yohan ditahan, sejujurnya Yohan adalah tahanan yang tidak boleh dikunjungi oleh siapapun,namun Rui akan meminta pada penjaganya untuk memperbolehkan Eleeya mengunjungi nya untuk kali ini.


"Yohan?Maksudmu Yohan Alcester Ronstar?" ujar petugas disana.


"Iya,itu benar" ujar Eleeya menganggukan kepalanya.


"Ah,maaf tapi tahanan itu telah meninggal kemarin malam"


"...Huh?"


Seketika kotak makanan yang dibawa Eleeya terjatuh dan sandwichnya pun berceceran kemana-mana.


Eleeya terdiam mematung, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar, apa ini lelucon?Jangan katakan ini lelucon karena ini sama sekali tidak lucu,begitulah yang ia pikirkan.


"Apa maksudmu pak?" ujar Eleeya terisak.


"Ah begini, sejak kemarin ia terus saja menyebut nama El terus menerus, ia terus saja menyayat pergelangan tangan nya dan wajahnya sendiri, kami sudah coba menghentikan nya tapi lagi-lagi ia melakukan nya sambil terus menyebut nama El" jelas si petugas.


"..."


"Hingga malam kemarin,kami menemukan nya tergeletak tak bernyawa karena kehabisan darah,dan dia mengenggam ini ditangan nya" ujar si petugas menyerahkan sebuah kunci kecil dengan tulisan El disana pada Eleeya.


Dengan gemetar Eleeya mengambil kunci tersebut, ia terduduk lemas, bahkan ia sudah tak bisa menangis lagi, untuk kedua kalinya, ia merasa hancur sehancurnya, bila kemarin sore Rui mengizinkan dia menemui Yohan, ini semua tak akan terjadi,dia pasti masih bisa menemui Yohan, tapi apa yang mau dikata, semua sudah terlambat.


Ini tidak mungkin terjadi, aku kehilangannya...


Dia meninggalkan aku sendirian, dia bahkan tak tahu kalau aku tengah mengandung anaknya, mana bisa dia begini, bahkan aku tak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali, jasadnya bahkan sudah dikebumikan, itu sungguh kejam, sangatlah kejam, gumam Eleeya.


"PFT,HAA PWAHAHAHAHAHA...HAHAHAHAHA" gelak tawa Eleeya menggema diruangan itu, semua petugas disana bahkan menatap nya bingung, terlihat Rui begitu khawatir,dengan dibantu tongkat jalan,Rui membawa Eleeya pergi dari sana dan kembali.


Didalam mobil, Eleeya menjerit histeris,ia menangis sejadi-jadinya, membuat Rui bingung dan cemas pada dirinya.


"Eleeya,kumohon tenangkan dirimu" ujar Rui panik dan terus berusaha membuat Eleeya tenang, namun tangis Eleeya tak kunjung mereda, hingga akhirnya mereka tiba kembali di Rumah sakit.


Bahkan Dr.Freeya pun ikut andil untuk mencoba menenangkan Eleeya yang menangis histeris layaknya orang gila.


Rui sudah tak tahan lagi mendengar jeritan nya, ia memegang kedua bahu Eleeya dan membuat Eleeya tersentak.


"TENANGLAH,KUMOHON TENANGLAH,KAU SEDANG HAMIL,KAU SEDANG MENGANDUNG CALON BAYIMU BERSAMA YOHAN" teriak Rui


Seketika Eleeya pun terdiam setelah mendengar perkataan Rui, ia menatap dalam wajah Rui yang berada di hadapan nya.


Ia menggigit bibir bawahnya, lalu menutupi mukanya dengan kedua tangan nya, ia kembali menangis namun tidak sehisteris tadi,ia hanya terisak.


"Dia bilang dia akan kembali padaku hiks,hiks" ucapnya


"..."

__ADS_1


"Tapi dia berbohong,dia pergi meninggalkan aku,dia tidak akan kembali huuuu bagimana bisa dia sekejam itu padaku huuuu" ucap nya dalam isakan tangisnya.


Rui segera memeluknya, bahkan batin Rui pun ikut menangis karena nya, ia paham bahwa Eleeya sangat terpukul dengan berita yang begitu tiba-tiba itu, andaikan dia tau akan jadi seperti ini, dia tidak akan menghalangi Eleeya untuk menemui pria itu kemarin, tapi ini sudah terlambat, untuk kesekian kalinya, dia merasa bersalah atas kehidupan buruk yang menimpa Eleeya.


__ADS_2