
"Tidak,tidak,tidak,kumohon tidak"
Sudah empat kali dia melakukan tes dengan menggunakan testpack yang berbeda-beda merk, tapi hasilnya tetap saja sama, dua garis merah terpampang di sana.
Eleeya memandangi keempat testpack nya, rasa gelisah dan cemas seakan menghantui dirinya, jauh didalam lubuk hatinya ia sangat bahagia karena telah mengandung buah hatinya bersama Yohan, tapi disisi lain dia cemas akan reaksi dari pria itu, bagaimana kalau dia tidak menyukainya, apa dia akan membunuh kami berdua begitu saja?itulah yang sedang dipikirkan oleh Eleeya.
Segera dia membuang dan membakar hasil tes tersebut,dia tidak ingin Yohan mengetahuinya.
Faktanya kabar seperti ini adalah hal yang sangat membahagiakan bagi pasangan yang normal, tapi hubungan nya yang terjalin bersama Yohan ini berbeda, bagaikan sebuah bom yang sewaktu-waktu bisa saja meledak dengan sendirinya.
"Aku akan memberitahu nya nanti" gumam Eleeya sambil mengelus perutnya.
Hari masih siang namun langit sudah sangat gelap,mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Eleeya menatap keluar jendela,menikmati angin yang berderu kencang hingga menerbangkan rambutnya.
Terlihat kegetiran dalam tatapan nya,dengan sendu ia terus saja menatap keluar hingga bulir-bulir air jatuh dari langit, semakin lama itu kian menderas, membasahi semua yang ada di bumi.
Rasanya begitu tenang ketika hanya suara hujan yang terdengar,setidak nya membantu menenangkan pikiran nya yang sedang kacau akhir-akhir ini.
Sebuah sedan putih datang perlahan dan berhenti didepan pekarangan rumah, Yohan turun dari mobilnya dan berlari masuk kedalam rumah.
Kemeja nya jadi sedikit basah karena terkena hujan, lalu ia tersenyum ketika melihat wanita nya sudah menyambut kepulangan nya.
"Kau pulang lebih cepat" tanya Eleeya.
"Ya, tidak ada kelas tambahan hari ini" jawabnya.
"Mau mandi air panas?"
"Itu terdengar menyenangkan,mau menemaniku?"
Eleeya hanya tersipu malu sambil mengangguk-anggukan kepalanya, segera ia pergi menyiapkan air mandi untuk mereka berdua.
BYUUURRR...
Air di bathup meluap dan tumpah ketika Yohan dan Eleeya bebarengan memasukinya.
"Hah,ini enak sekali" ujar Yohan sambil memejamkan matanya seraya menikmati sensasi berendam air panas.
Sepertinya mood nya sedang bagus,haruskah aku memberitahukannya?pikir Eleeya.
"Ah Yohan?"
"Hm"
"Aku sedang berpikir bagaimana bila kita mempunyai seorang bayi"
"..."
Yohan yang sedari tadi memejamkan matanya kini membuka satu matanya untuk menatap Eleeya.
Tidak tahu apa artinya tatapan nya itu, namun itu berhasil membuat Eleeya menjadi takut dan menundukan kepalanya.
"Bayi?"
__ADS_1
"Ah, lupakan saja,aku h-hanya asal bicara"
"..."
Seharusnya aku tak mengatakan hal ini, aku bodoh sekali,pikir Eleeya dalam hatinya.
Tatapan Yohan yang datar namun menusuk itu sangat terasa bahkan bila Eleeya sudah menundukan pandangan nya.
Seketika suasana menjadi canggung dan menakutkan.
"Itu bukan hal yang buruk"
"...Huh?"
"Bayi yang mirip denganmu, kurasa itu akan menyenangkan" ujar nya dengan tersenyum.
Eleeya tersentak dan mendongakan wajahnya dengan segera, ia sangat senang dengan perkataan Yohan yang barusan, itu berarti ia menerima kehadiran bayi yang sedang dikandung oleh Eleeya saat ini,kan?.
"Kau serius?"
"Ya,kenapa?Kau ingin cepat-cepat punya bayi?" ujar Yohan mendekat seakan ingin menerkam Eleeya saat itu juga.
"Haha bukan begitu"
"Kemarilah"
Eleeya mendekatkan tubuhnya dan dengan segera Yohan menarik Eleeya kedalam dekapan nya, mereka berciuman dengan mesra saat itu.
"Aku sangat menyukaimu" ujar Eleeya.
Ya itu sudah cukup membuat hatinya lega, setidaknya fakta bahwa dia hamil tidak akan membuatnya cemas lagi,sebenarnya dia ingin memberitahukan nya kepada Yohan saat ini juga, tapi niat itu diurungkan nya lantaran ia ingin memberi kejutan nanti pada Yohan.
**
Deru hujan yang lebat hari itu menambah kegelisahan di hati Rui, sejak hari itu dia terus mengalami mimpi buruk.
Dia selalu berpikir bahwa semua hal ini terjadi karena Yohan.
Bagaimana bisa pria itu masih berkeliaran kesana kemari sedangkan dia terpuruk dan tak bisa melakukan apa-apa, masa skorsing selama tiga bulan lamanya, itu pun terpaksa diterima Rui gara-gara Yohan.
Alana kini sudah meninggalkan nya,dia tidak ingin suatu hari Eleeya akan melakukan hal yang sama atau malah lebih parah dari itu, Rui berpikir untuk segera membawa pergi Eleeya secepatnya dari pria itu.
Dengan berbekal kekesalan, ia melenggang pergi ditengah lebatnya hujan.
Tujuan nya hanya satu,menemui Yohan untuk sekadar melampiaskan kekesalan nya dan membawa Eleeya pergi dari sana apapun cara nya.
Tak butuh waktu yang lama, ia kini sudah berdiri di ambang pintu rumah Yohan, air menetes dari sekujur tubuhnya, ia bahkan berdiri di tengah derasnya hujan dengan wajahnya yang menatap lurus kearah pintu.
Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya mendekat dan membuka pintu yang sudah merenggang sedari tadi.
Rui berjalan masuk dan mendapati tak ada siapa-siapa disana.
Rui terus berjalan kearah dapur dan menemukan gadis yang ia cari tengah berada disana.
Eleeya mendelik melihat Rui berada di hadapan nya, tanpa sadar ia berjalan mundur seakan ingin lari dari Rui secepatnya.
__ADS_1
"Kak Rui,bagaimana bisa kau..."
"Eleeya,syukurlah,aku datang untuk menjemputmu" ujar Rui dengan raut wajah lega nya.
"Kak Rui sebaiknya kau pergi, aku tidak akan pergi kemana-mana,aku akan tinggal disini"
"Eleeya,kau ini kenapa?Hanya karena pria itu kau bahkan melupakan pertemanan kita?"
"..."
"Aku tak akan membiarkan kau hidup dengan bajingan itu"
"Siapa yang kau sebut bajingan kak?Dia sama sekali bukan orang yang seperti itu" ujar Eleeya dengan raut wajah yang sudah mulai kesal.
Rui mengepalkan kedua tangan nya,pupil matanya bahkan bergetar melihat Eleeya yang seakan tak ingin menemuinya lagi.
"Kau harus pergi sebelum terlambat" ujar Eleeya dengan suaranya yang sedikir bergetar.
Rui membulatkan matanya, tatapan Eleeya yang seakan mengatakan "Pergilah dari sini selagi kau bisa" itu tak membuatnya bergeming,dia sudah bertekad akan membawa Eleeya pergi bagaimanapun caranya.
Rui tak menyerah mengajak Eleeya pergi,bahkan saat ia berusaha memegang lengan Eleeya...
DUAAKK
Seseorang menghantamnya dengan sebilah balok kayu dan mengenai tepat di pundak belakang nya.
Rui merintih kesakitan dan tersungkur di lantai.
Eleeya sampai terkejut dan membulatkan kedua mata nya ketika melihat Yohan menghantamkan kayu itu ketubuh Rui.
Yohan terkekeh dan menendang muka Rui dengan sangat kuat,hingga mulutnya mengeluarkan darah akibat tendangan itu.
"Darahmu mengotori kakiku" ujarnya mendengus.
Pandangan Yohan pun kini tertuju ke Eleeya yang sedang mematung sambil menutup mulutnya, dia pun tersenyum dan itu membuat Eleeya bergidik ngeri.
"El, kenapa kau berdiri?Nanti kakimu sakit,duduk lah disana"
Eleeya melirik kearah kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri, lalu ia pun berjalan pelan dan duduk dikursi itu sesuai yang disuruh oleh Yohan, terlihat Yohan tersenyum kembali ketika melihat Eleeya yang sedang duduk sesuai perkataan nya.
Rui masih saja merintih kesakitan, seluruh wajahnya bahkan terasa sakit akibat tendangan yang dilayangkan oleh Yohan,belum lagi bagian pundaknya yang sangat terasa menyakitkan itu, ia berusaha berdiri namun tubuhnya tak kuat untuk melakukannya.
"Hah,menyedihkan" ujar Yohan sambil meletakan sebelah kakinya diatas kepala Rui.
"Keparat,turunkan kakimu"
"Ckck,rasanya aku seperti dejavu" ujar Yohan berpikir.
Rui masih saja meronta,mengumpulkan seluruh tenaganya untuk berdiri dan menghajar pria yang dianggapnya bajingan ini.
"Ah aku ingat, hal seperti ini juga kulakukan pada detektif wanita itu" ujar Yohan sambil terkekeh.
"...Apa?"
Rui membulatkan kedua mata nya mendengar perkataan yang dilontarkan Yohan,bahkan Eleeya yang tak tahu apapun itu juga ikut mendelik karena nya.
__ADS_1
"Apa maksudmu bajingan"