Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 42 : Tanda Hati


__ADS_3

Eleeya tampak sibuk dengan pulpen dan kalender ditangan nya,terlihat dia tengah mencoret-coret sesuatu di kalender tersebut,dia cukup lama berdiri disana sambil fokus terhadap sesuatu yang sedang ia kerjakan.


Sudah satu minggu setelah kejadian waktu itu,saat itu Yohan sangat marah padanya,gadis itu beruntung saat itu Yohan tak melampiaskan amarahnya pada gadis itu.


"Kau sedang menulis apa?" ujar Yohan tiba-tiba yang membuat Eleeya terkejut.


"KYAAA"


"Hei ada apa, aku jadi terkejut karena kau terkejut" ujar Yohan sambil terkekeh melihat ekspresi kaget dari Eleeya.


"Kau membuatku kaget,ah kau memakai anting" tanya Eleeya sambil menunjuk anting hitam yang dipakai oleh Yohan.


"Oh ini, ya aku memakainya,apa aku terlihat bagus?" tanya Yohan sambil memilin-milin anting di telinga sebelah kirinya.


Eleeya menatap pria dihadapan nya,wajah tampan nya membuat Eleeya bagaikan tersihir saat itu,sesungguhnya anting itu membuatnya semakin terlihat keren, pria itu memang cocok dengan apapun yang dikenakan nya.


"Kau sempurna" ujar Eleeya dengan mata yang tak lagi berkedip.


"Haha,berhentilah menatapku, itu membuatku malu" ujar Yohan tertawa dan mengalihkan pandangan nya dari Eleeya.


Dengan salah tingkah nya,Eleeya menundukan wajahnya dan tersenyum kikuk saat itu.


*Mereka gemesh bgt sih T_T


Tiba-tiba Yohan mendelik ketika menatap kebawah,tepatnya kearah kaki Eleeya, lalu dengan tiba-tiba Yohan mengangkat tubuh kecil gadis itu dan mendudukan nya di atas nakas yang berada di samping mereka.


"Setidaknya kau harus duduk,bagaimana kalau kakimu terluka lagi" ujar Yohan yang masih memegang pinggang Eleeya.


Eleeya tertegun ketika mendapati Yohan yang tiba-tiba melakukan itu,membuatnya sedikit terperangah dengan tangan yang masih mengenggam erat kalender itu.


"Coba sini aku lihat" ujar Yohan sambil merebut kalender itu dari tangan Eleeya.


Yohan memiringkan kepalanya menandakan ia sedang bingung.


Tanda hati yang melingkari angka 15 di bulan terakhir.


Tanda hati itu terlihat sangat tebal,mungkin Eleeya terus menerus menebalkan nya dengan pulpen,seakan itu hari yang sangat ditunggu-tunggu nya.


"Itu dua minggu lagi,ada apa dihari itu?" tanya Yohan mengembalikan kalender itu pada Eleeya.


"I-itu hari ulang tahunku" jawab nya ragu-ragu sambil menundukan wajahnya.


"..."


Tak juga mendapat respon dari pernyataan nya, Eleeya kemudian mendongakan wajahnya kearah Yohan, pria itu hanya diam sambil menatap lurus kearah Eleeya, membuat gadis itu bingung dan canggung.


"Apa kau tahu kapan aku ulang tahun?" tanya Yohan dengan tatapan nya yang datar.


"..Huh?A-aku tidak yakin,mungkin tanggal 31 dibulan kedua" ujar Eleeya menebaknya.


"Itu bukan tanggal lahirku" ucap nya dingin.


Hah,itu bukan tanggal lahirnya?


Tapi media sosialnya mengemukakan bahwa itulah tanggal lahirnya,apa aku yang salah melihat?pikir Eleeya.


"Itu ulang tahun ibuku" ujarnya.


"...Benarkah?"


"Ya" jawabnya singkat.


"Lalu,kapan ulang tahunmu?" tanya Eleeya.


"Pft,kenapa kau ingin tahu?" ujar Yohan terkekeh.


"Kupikir aku ingin merayakan nya" jawab Eleeya bersamaan dengan kekecewaan yang terpancar dari wajahnya.

__ADS_1


"..."


Kupikir kami sudah lebih dekat,tapi ternyata Yohan tidak merasa begitu,gumam nya dalam hati.


"Merayakan ya?" ucap Yohan.


"...Huh?"


"Entahlah,rasa nya agak aneh,aku saja lupa kapan terakhir kali aku merayakan ulang tahunku" ujarnya dengan tersenyum simpul kearah Eleeya.


"Ah apa pertanyaanku itu sedikit keterlaluan?" tanya Eleeya yang dilanda kecemasan setelah mendengar penuturan Yohan.


"Pft,haha apa yang kau cemaskan?Diriku?" ujar Yohan mengangkat dagu Eleeya dan membuat mata mereka bertemu.


"Tidak perlu mengkhawatirkan aku,kau pasti sulit memikirkan aku dengan kepalamu yang kecil itu" ujar Yohan menatap dalam Eleeya sambil menyunggingkan sebuah senyuman.


Ini terlalu dekat,wajahku pasti sudah sangat memerah sekarang,memalukan sekali.


gumam Eleeya dalam hati sambil menutup mata nya ketika tau hidung mancung Yohan kini telah bersentuhan dengan hidungnya.


"Wajahmu merah seperti tomat" ujar Yohan yang telah menjauhkan wajah dan tubuhnya, membuat Eleeya diam layaknya orang idiot saat itu.


Dia hanya ingin menggodaku,gerutu Eleeya.


"Apa kau juga akan membuat tanda hati seperti itu kalau aku memberi tahu tanggal ulang tahunku El?"


"Tentu saja" jawab Eleeya tanpa pikir panjang.


"Pft,imut sekali" ujar Yohan sambil menyelipkan rambut Eleeya kebelakang telinga nya.


Eleeya sedikit tersentak ketika rasa dingin yang membuatnya merinding saat Yohan menyentuh telinganya.


Gadis itu menyukainya.


"22" ucap Yohan.


"Tanggal 22 di bulan kedua,berilah tanda di tanggal itu" ucap nya lagi.


Eleeya tersenyum mendengar hal itu,dan dengan senang langsung menandai tanggal itu dengan gambar hati yang bagus.


Yohan menarik sudut bibirnya membuat sebuah senyuman ketika melihat Eleeya,diusap nya pucuk kepala gadis itu dengan lembut.


"Aku sudah menyiapkan hadiah spesial untukmu" ujar Yohan.


Eleeya terperanjat ketika mendengarnya, tak khayal gadis itu sudah memikirkan sesuatu yang mendebarkan ketika Yohan mengatakan hal itu.


Ia semakin tak sabar karena menunggu hadiah spesial dari Yohan untuk nya.


Apa mungkin dia akan melamarku dan menyatakan cintanya seperti di film-film,gumam Eleeya dengan perasaan nya yang tak karuan.


"Eleeya,aku akan pergi kekampus,kau baik-baik dirumah ya" ujar Yohan yang membuyarkan segala khayalan Eleeya saat itu.


"Ah,y-ya Yohan" jawabnya.


"..Dan jangan membuatku kesal" ujar Yohan dengan senyum yang mengartikan kau akan mati bila sampai membuatku kesal kali ini.


Eleeya tertegun dan dengan cepat ia menganggukan kepala nya.


*


Rui melangkah gontai,ini baru hari ke-7 dan dia sudah hampir gila karena tak bisa melakukan apapun,ditambah ocehan Tian padanya setiap saat membuatnya bertambah pusing.


"Americano satu,tolong antarkan ke meja yang diujung" ujar Rui pada pegawai kafe itu sambil menunjuk meja yang akan dia tempati.


"Baik,mohon ditunggu" jawab si pegawai kafe dengan tersenyum ramah.


Rui duduk sendirian sambil mengutak-atik ponsel nya,ada banyak sekali pesan dan juga panggilan tak terjawab dari Alana.

__ADS_1


"Ini minumanmu,selamat menikmati" ujar si pegawai kafe.


"Terimakasih" jawab Rui sambil melontarkan senyumnya.


Rui mengangkat secangkir minuman yang ia pesan itu lalu menyeruputnya dengan jarinya yang masih memainkan ponselnya.


"Hah" dia pun menghela nafasnya ketika membaca satu persatu pesan yang dikirim Alana untuknya.


"Dia selalu mengkhawatirkan aku" gumam Rui.


Alana memang baru menjadi rekan nya,mungkin baru beberapa bulan saja, tapi gadis itu sudah kenal dengan Rui cukup lama sejak Rui berada di akademi.Terlihat sangat jelas bahwa gadis itu menaruh hati pada Rui,dia bahkan sangat cemburu ketika Rui bercerita tentang Eleeya padanya,namun Rui seakan tak pernah menyadari hal itu,Rui hanya menganggap gadis itu seperti seorang rekan pada umumnya layaknya Tian dan yang lain.


"Dia mengirimkan pesan banyak sekali" gumam Rui.


Bunyi krincing pada pintu kafe itu yang menandakan ada pelanggan yang masuk,seketika sekelompok mahasiswa masuk dan membuat kafe itu menjadi agak bising dengan beberapa ocehan mereka.


Rui agak terganggu dengan suara-suara bising mereka, dan nampaknya itu hari yang tak menguntungkan bagi Rui, mereka bahkan duduk tepat bersebelahan dengan meja Rui.


Rui pun menolehkan pandangan nya untuk melihat wajah-wajah anak yang berisik itu dan betapa terkejutnya ia ketika sepasang mata nya bertemu dengan sepasang mata hitam pekat yang menatap nya dengan datar.


Ya,Yohan tengah berada di sebelah nya.


Mereka bahkan saling menatap dengan tatapan yang saling tak menyukai satu sama lain,hingga akhirnya Yohan menyunggingkan senyum nya dan membuat Rui mengalihkan pandangan nya.


TUK..TUK..TUK..


Rui mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuk nya.


Kenapa aku merasa cemas setelah melihat wajahnya,gumam Rui dalam hatinya.


Ketika sedang berkutat dengan kecemasan nya, ia menangkap sosok Yohan tengah beranjak dari kursinya, sepertinya ia akan ke toilet, dan entah mengapa keinginan untuk mengikuti nya menyeruak dalam pikiran Rui saat itu hingga ia pun akhirnya melangkahkan kakinya ketoilet untuk menemui Yohan.


Terlihat Yohan sedang berada didepan wastafel sambil mencuci kedua tangan nya.


Rui melangkahkan kakinya dengan sedikit ragu dan akhirnya ia sudah berada tepat disamping Yohan.


Yohan menyudahi kegiatan mencuci tangan nya lalu menatap Rui melalui kaca besar didepan nya.


"Apa kabarmu detektif Rui?"


"..."


"Kau sebaiknya tak melakukan apapun terhadap Eleeya"


"Huh?Memangnya apa yang akan kulakukan pada kekasihku sendiri"


Rui menahan rasa kesalnya dengan menggigit bibir bawahnya,nampak Yohan hanya tersenyum di hadapan kaca besar itu dengan sorot mata yang masih menatap Rui.


"Ini pertama kalinya bagiku" ujar Yohan.


"..Huh?"


"Untuk pertama kalinya seseorang mengkhawatirkan wanitaku dan menunjukannya tepat dihadapanku" ujar Yohan,senyum nya telah sirna, tinggal ekspresi datar yang ia perlihatkan pada saat itu,sungguh menakutkan.


"..."


Rui hanya diam dan mengerutkan dahinya, ia menatap tajam ke arah Yohan melalui kaca besar dihadapan nya itu.


Pria sialan,hari itu kau beruntung karena bisa bebas,tapi dilain waktu kau akan benar-benar membusuk dipenjara,gerutu Rui dalam hati.


"Ayolah,jangan menatapku seperti itu,kau membuatku takut dan berdebar" ujar Yohan mengalihkan pandangan nya sambil terkekeh.


Tepat setelah itu,Yohan mengambil tisue dan mengelap tangan nya,lalu ia pun melangkah kan kakinya untuk pergi dari sana.


"Ya,tetaplah tertawa seperti itu,karena tak lama lagi semua kebusukanmu akan segera terbongkar" ujar Rui mengepalkan kedua tangan nya.


Perkataan Rui itu membuat langkah Yohan terhenti.

__ADS_1


"Aku masih tak mengerti apa yang kau bicarakan detektif Rui,sepertinya kau sangat terobsesi padaku,itu membuatku merinding" jawab Yohan tanpa menoleh kebelakang dan melanjutkan perjalanan nya meninggalkan Rui sendirian disana dengan wajah bodohnya.


__ADS_2