
***Flashback on
Seorang anak laki-laki tengah berlari kecil dan disambut oleh dekapan sang ibu.
Anak laki-laki yang baru berusia sekitar 8 tahun itu memeluk ibunya erat,dan di balas dengan usapan hangat di punggung kecil nya.
"Yohan,kita hanya berpisah saat kau sekolah" ujar sang ibu.
"Tapi aku merindukanmu" ujar Yohan kecil.
Sang ibu pun tersenyum melihat anak nya yang begitu menggemaskan itu tengah merindukan nya,lalu ia pun menuntun lengan anak nya dan membawa nya pulang.
"Kau lapar?Ibu akan menyiapkan makanan untukmu"
Yohan hanya menganggukan kepala nya dan duduk di meja makan dengan tenang seraya menunggu sang ibu menyiapkan makan siang nya.
"Ibu tidak makan?"
"Ibu sudah makan,nah sekarang kau jangan banyak bicara dan cepatlah makan"
Yohan kecil yang terlihat begitu menggemaskan,memasukan makanan yang di siapkan ibunya itu ke mulutnya,dia terlihat senang karena masakan sang ibu sangat lah enak.
Ibunya hanya tersenyum melihat anak kesayangan nya itu makan dengan lahap.
"Ah ibu,di samping matamu ada tanda biru" ujar Yohan begitu polosnya.
Ibunya jadi panik dan salah tingkah ketika anak nya ternyata menyadari hal itu.
"Ini?Ibu tak sengaja menabrak pintu kamar mandi tadi"
"Apa itu sakit?"
"Tidak,ibu tidak apa-apa,ayo selesaikan makanmu,setelah itu masuklah ke kamar dan tidur siang"
Yohan yang tak tahu apapun itu hanya tersenyum dan melakukan apa yang disuruh oleh ibunya.
Yohan Pov***
Pada suatu malam,aku pun terbangun dari tidurku,rasa nya tenggorokanku sangatlah kering,aku pun beranjak dari tempat tidurku berniat untuk mengambil segelas air dari dapur.
Namun,alangkah terkejutnya aku ketika aku mendengarkan teriakan histeris yang berasal dari samping kamarku.
Asalnya dari kamar Ayah dan Ibu,gumamku.
Sesungguhnya aku cemas saat itu,aku juga takut,tapi rasa penasaranku lebih besar dari rasa takutku,hingga aku pun memberanikan diri mendekat kekamar Ayah dan Ibu untuk melihat apa yang terjadi.
Aku mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit itu.
Ah,apa yang kulihat ini?
Ibuku sedang menangis pilu di bawah kaki Ayahku.
Kenapa dia seperti itu?Dan kenapa Ayahku memegang seutas kabel saklar di tangan nya?
Aku membulatkan mataku ketika menyaksikan bagaimana Ayahku dengan kejam menyiksa ibuku malam itu.
Airmataku mengalir deras melihat betapa kesakitan nya ibuku saat itu, hingga tanpa sadar tangisanku pun pecah.
Kulihat Ibuku terkejut ketika menyadari bahwa aku ada disana,begitu juga dengan Ayahku.
Aku tak pernah mengetahui kalau Ayahku orang yang seperti itu,aku hanya ingat sewaktu dulu dia sering menggendongku walau dengan tatapan nya yang dingin.
Ayahku melotot menatapku yang menangis di depan pintu.
Ia pun kemudian berjalan mendekat kearahku,kulihat ibuku menjerit berteriak dan memohon agar dia tak melakukan apa-apa terhadapku, tapi Ayahku yang mengerikan itu mulai menjambak ku dan mencambuk ku dengan kabel yang ia pegang.
Aku menangis sejadi-jadinya begitu juga ibuku,tapi Ayahku tetap tak bergeming, dan semakin menjadi-jadi.
Dan itu lah pertama kali aku mengetahui kalau Ayahku adalah orang gila yang tempramen dan sinting.
Sejak saat itu,bila mood nya sedang buruk atau pun dia sedang mabuk, dia akan menyiksaku atau ibuku secara bergantian.
Dia seakan sangat senang ketika melihat tubuh kami mengeluarkan darah akibat perlakuan nya.
Aku sering dipukulinya dan dicambuknya, terkadang dia juga mengurungku dan ibuku di gudang bawah tanah.
Aku tumbuh besar dengan hal semacam itu setiap harinya.
Hingga sekarang aku yang berumur 11 tahun ini seakan terbiasa dengan hal semacam itu.
__ADS_1
Terkadang aku bingung harus melampiaskan pada siapa rasa kesal dan lelahku ini.
Hingga suatu waktu ketika melihat seekor kelinci di pekarangan rumahku,terbesit di pikiranku untuk menangkap nya.
Aku pun berlarian menangkap kelinci itu,kutatap kelinci yang lucu itu dan aku memeluknya, kemudian aku menemukan serpihan kaca disana, dan itu kugunakan untuk menyayat tubuh kelinci kecil yang lucu itu.
Terlihat kelinci itu meronta-ronta ketika aku menyayat tubuhnya dengan serpihan kaca,darah yang diakibatkan oleh luka itu pun mengalir, membuat aku terkekeh karena rasa sesak dan menjengkelkan yang selama ini aku pendam hilang begitu saja.
Lalu setelah aku puas menyayat beberapa bagian tubuhnya, aku pun melepaskan kelinci itu, aku menyaksikan bagaimana akhirnya dia mati karena kehilangan banyak darah dan kelelahan.
Setelah ia mati, aku pun tersenyum puas dan membiarkan begitu saja kelinci itu tergeletak.
"Hah,apa beginikah perasaan Ayah ketika menyiksaku" gumamku sambil terkekeh.
Lalu,setelah itu aku banyak menyiksa binatang,seperti burung dan anak anjing.
Namun anehnya,semua bangkai mereka selalu menghilang sehari sesudahnya.
Dan hari ini aku baru saja menyiksa seekor anak anjing yang kutemui dijalan sampai mati.
Keesokan harinya,ketika aku pulang sekolah,aku tak menemukan siapa-siapa dirumah.
Aku pun mencari-cari dimana ibuku,dan ternyata dia sedang berada di kebun nya, aku melihat dari kejauhan,dia sepertinya sedang menggali.
Kuamati dia untuk melihat apa yang dia lakukan itu, dan aku pun terkejut ketika mendapati ibuku sedang mengubur seekor anak anjing yang telah aku bunuh kemarin.
Wajar saja semua bangkai nya menghilang,ternyata ibuku yang menguburnya.
Malam itu ibuku tidur dikamarku, kulihat mata nya bengkak.
Dia pasti habis menangis,pikirku.
Kenapa dia masih betah tinggal disini sih,kenapa kami tidak pergi saja meninggalkan pria gila itu.
Terkadang aku berpikir begitu.
Dan ketika aku membicarakan hal itu pada ibuku,dia akan marah padaku dan berkata kalau dia tidak bisa meninggalkan Ayahku.
Ibuku selalu saja murung, wajahnya menjadi lebih tirus, dan tubuhnya jadi tidak terawat, terkadang aku melihatnya melamun sepanjang hari, aku sedih melihatnya seperti itu,tapi disisi lain dia begitu bodoh.
"Yohan,Ibu mencintai Ayahmu dan kau,ibu tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain kalian berdua"
Cih,cinta katanya?
Aku muak dengan omong kosong seperti itu.
Suatu hari,aku demam karena ayahku mengurungku di dalam kamar mandi seharian, ibuku hanya bisa menangis, dia sudah mencoba mengeluarkan aku tapi malah dihajar juga oleh Ayahku.
Aku terbaring di kasur,menggigil kedinginan,untung nya ibuku ada disampingku,dengan mata yang sayu dia menatapku.
"Anakku,cepatlah sehat" ujarnya.
"Ibu,dia bilang aku akan hidup dan mati dengan cara yang mengerikan,aku takut" ujarku.
Dengan tangan nya yang halus ia mengganti kain yang ada di kepalaku.
"Tidak ada yang perlu kau takutkan Yohan" ujarnya dengan wajah yang datar.
Dan tepat di malam itu, aku kembali mendengar pertengkaran yang terjadi antara Ayah dan ibuku, entah lah itu mungkin terjadi setiap hari,mood Ayahku selalu saja buruk,dia mulai begitu ketika perusahaan nya bangkrut, itu yang kutahu.
Aku membiarkan pertengkaran itu dan mencoba untuk tidur,namun aku tersentak ketika mendengar suara pukulan keras.
Senyap,pertengkaran itu selesai.
Apa yang terjadi,pikirku.
Aku pun turun dari ranjangku dan melihat apa yang terjadi.
Kulihat ibuku sedang menangis tersedu-sedu,sama seperti kejadian yang kulihat pertama kalinya,beda nya Ayahku tengah tergolek tak bergerak di bawah kaki ibuku.
Aku hanya kebingungan melihat apa yang terjadi didepanku.
"Ibu,apa yang terjadi?"
Ibuku terkejut mendengar suaraku,dia pun menoleh kearahku lalu tersenyum dengan wajah nya yang pucat,mengerikan.
"Tidak ada apa-apa,Ayahmu sedang tidur,dia sepertinya sangat lelah"
Aku melirik kesamping ibu,kenapa ada kayu balok disana?pikirku.
__ADS_1
Kulihat ibuku beranjak dan menuju ke dapur, aku masih menatap Ayahku yang tergeletak dengan tatapanku yang datar.
Kemudian ibuku kembali dan memberiku sebuah pisau.
Aku menatap pisau itu lalu menatap ibuku,kulihat ia kembali tersenyum padaku.
"Tancapkan disini" ujar ibuku sambil menunjuk jantung Ayahku.
Aku tersentak,apa yang ibu pikirkan?
Kenapa aku harus melakukan hal itu?
Ibu sudah kehilangan akal sehatnya,wajar saja kalau dia sering bicara dan tertawa sendiri belum lama ini.
"Cepatlah Yohan, kau harus menuruti perkataan ibumu"
Aku masih diam dengan tangan yang bergetar memegang sebilah pisau,namun aku terkejut ketika ibuku meneriaki aku dan membentak ku,kulihat raut wajah nya sudah tak lagi menampilkan kelembutan seperti ia pada umum nya.
Lalu dengan perlahan aku mendekati Ayahku dan menghujamkan pisau itu tepat dijantung nya.
"Sekali lagi"
"Huh?"
"..."
Aku mencabut kembali pisau itu dan menghujam kan nya lagi satu kali ditempat yang sama.
Membuat Ayahku tergeletak dengan darah dimana-mana.
Aku menatap ibuku,kulihat ia tersenyum dan mengusap kepalaku, tubuhku bergetar karena aku membunuh Ayahku barusan saja.
Melihat aku yang panik dan takut,lantas ibuku langsung memelukku.
"Tenang saja,rahasiamu akan kusimpan baik-baik" bisiknya
Itu membuatku semakin merinding.
Lalu ia menyuruhku membersihkan tubuhku,sementara dia sedang membersihkan ruang kamarnya yang dipenuhi oleh darah Ayahku.
Dia menyuruhku untuk tidur cepat waktu itu.
"Yohan tidurlah,Ibu juga akan tidur dengan Ayah dikamar" ujar nya.
Apa yang dia bicarakan?Ayah sudah mati,dan dia ingin tidur dengan orang yang sudah mati?
Pagi-pagi sekali,ibuku membangunkan aku,kulihat itu baru jam 4 pagi.
Aku mengusap-ngusap mataku karena ibuku membangunkan aku terlalu pagi.
"Ayo bangun,temani Ibu mengantar Ayahmu" ujarnya
"...Apa?"
Aku pun terpaksa menurutinya dan membantunya menyeret Ayahku yang sudah terbungkus kain plastik itu menuju halaman kebun ibuku.
"Kenapa kita kesini?"
"..."
Ibuku hanya diam saja,kulihat didepan kami sudah ada lubang yang cukup dalam.
Apa mungkin ibuku yang menggali nya?
"Nah Yohan,ibu selalu membersihkan hal yang kamu perbuat,dan sekarang pun sama, tapi kali ini kau harus ikut membantu" ujar nya.
"..."
Hal yang aku perbuat?
Apa maksudnya itu adalah tentang semua binatang yang aku bunuh itu?
Aku tak sempat berpikir banyak,akupun membantu Ibuku mengangkat tubuh Ayahku dan memasukkan nya kedalam lubang itu, lalu kami pun menimbun nya kembali.
Kulihat Ibuku tersenyum lega,sambil melihat-lihat sekelilingnya.
"Disini hanya ada bunga,mungkin lain kali aku akan menanam buah juga,dimulai dari apel mungkin" gumam Ibuku.
Aku hanya diam menatap Ibuku saat itu,lalu dia menolehkan pandangan nya terhadapku dan memegang pundak ku.
__ADS_1
"Nah kau lihat,Ayahmu lah yang hidup dan mati dengan cara yang mengerikan,bukan nya kau, jadi tak ada yang perlu kau takutkan" ujar nya sambil mengecup dahiku.