
AUTHOR POV:
Pria dengan luka di salah satu matanya itu menerobos masuk kedalam ruangan besar milik Zay, raut wajahnya terlihat tidak baik, ia mendaratkan bokongnya di sofa empuk yang berada diruangan itu, terlihat netra hitam Zay hanya meliriknya untuk beberapa saat, lalu ia kembali tenggelam dalam layar laptopnya.
"Kenapa aku harus melakukan perkerjaan sekretarismu" protesnya.
"Kenapa kau bilang iya ketika Lisa memintamu melakukan hal itu?" ujar Zay balik bertanya.
"...Karena aku tak bisa bilang tidak pada nya" tukas Wim sambil menyunggingkan senyum kikuknya.
"Hah"
Zay menghela nafasnya berat, ia melirik jam berbentuk bundar yang melekat didinding nya itu.
Ini sudah hampir tiga jam dia pergi bersama Lily, anak itu tidak akan melakukan apa-apa pada Lily,bukan?
Rasanya aku pernah berkata padanya untuk tak macam-macam pada Lily, dia pasti mengingat hal itu dalam kepala nya, gumam Zay.
"Sebenarnya mereka sedang pergi kemana, apa makan siang para wanita memang selama ini?" tanya Wim.
"..."
"Oh Zay, apa jangan-jangan ada yang menculik mereka" ujar Wim tiba-tiba.
Zay mengerutkan dahinya. Hal tidak masuk akal apa yang sedang dipertanyakan oleh teman nya itu, menculik Lisa dan Lily katanya, yang benar saja, aku mungkin percaya kalau itu hanya Lily seorang diri, tapi Lisa? Orang gila mana yang akan menculik wanita mengerikan seperti dirinya, kalau memang ada orang yang berniat melakukan itu padanya, mungkin aku akan memberinya sejumlah uang agar ia tak jadi melakukan itu, batin Zay.
"Menculik?Lisa?Aku jadi ingin tertawa Wim" ujar Zay sambil terkekeh.
DRRT....DRRT....DRRT...
Dering ponsel yang tergeletak diatas meja itu pun menghentikan tawa Zay, ia menekan tombol hijau pada layar ponsel nya ketika tau bahwa wanita yang baru saja di bicarakan itu menelponnya.
"Hallo Zay"
"Ya, kenapa?"
"Aku sedang berada di rumah sakit sekarang"
"Kenapa tiba-tiba kau ada disana?"
__ADS_1
"Lily jatuh dari tangga, sekarang dia sedang dirawat dokter, kau bisa kesini? Aku tak bisa menungguinya karena aku ada jadwal pemotretan"
"...Hah, aku akan segera kesana"
Panggilan berakhir ketika Lisa memutuskannya dari seberang sana.
Pria itu tidak terkejut, seakan-akan dia sudah memprediksinya, tapi raut wajahnya berubah, dia terlihat sedang menahan gejolak amarah dalam dirinya.
Tanpa basa-basi, segera ia mengambil jas yang tergantung dikursinya, melangkahkan kakinya cepat dan keluar dari ruangan nya, bahkan ia tak menghiraukan Wim yang masih berada disana.
Mobil putihnya melaju dengan cepat, disepanjang jalan ia tak banyak berekspresi, hanya menampilkan raut wajah datarnya, entah apa yang sedang ia pikirkan saat itu.
Rumah sakit, percaya atau tidak permohonan disini lebih jujur dan tulus ketimbang ditempat ibadah manapun, dengan suatu alasan yang membuat Ibuku harus dilarikan ketempat ini, aku sudah membuktikan itu, namun ternyata permohonanku tak dikabulkan, itu menyakitiku, batin Zay saat memasuki Rumah sakit itu.
Zay memperlambat langkahnya ketika melihat seorang pria tengah terduduk lemas di kursi tunggu.
Daniel, dengan raut wajah panik dan cemasnya terduduk disana, dengan kedua tangan menutupi seluruh permukaan wajahnya, seperti nya ia kehilangan harapannya.
"Daniel, bagaimana keadaan Lily?"
Suara berat Zay membuat Daniel harus mendongakan wajahnya, netra coklatnya menatap tajam Zay, raut wajah nya terlihat jelas, itu wajah kebencian bukan kesedihan.
"...Aku, ingin melihat keadaan Lily" jawab Zay.
"Kau tau semua ini gara-gara siapa? Ini semua pasti perbuatan adikmu" teriaknya sembari berdiri dan mencengkram kerah jas Zay.
"..."
"Kenapa kau diam? Lily ku harus masuk keruang operasi gara-gara pergi dengan adikmu" ujarnya dengan penuh emosi
Lily ku? batin Zay, ia mengerutkan dahinya, namun wajahnya tetap tenang walau sedari tadi Daniel berteriak didepan wajahnya.
"Tenang lah, ini rumah sakit" ujar Zay melepaskan cengkraman Daniel di kerah jas nya.
"Bagaimana bisa kau menyuruhku tenang, istri bahkan calon anakku masih berada disana, Elisa.. Wanita gila.."
Perkataan Daniel tercekat tatkala ia merasakan cengkraman Zay dirahangnya, ia mungkin berhasil memancing amarah Zay sekarang, buktinya, raut wajah Zay sekarang telah berubah, pria tampan yang bahkan jarang sekali berekspresi itu menampilkan raut wajah marahnya di hadapan Daniel, seketika nyali Daniel menciut ketika merasakan tekanan dari sorot mata hitamnya.
"Dia tidak gila, tolong jangan katakan itu" ujar Zay.
__ADS_1
"...Huh?"
Zay menghela nafasnya, ia memejamkan matanya sejenak lalu melepaskan tangan nya dari rahang pipi Daniel, raut wajahnya kini telah berubah kembali, untuk sesaat ia tak bisa mengendalikan emosinya karena seseorang akan menghina Adiknya.
"Maafkan aku, hanya saja aku heran, mengapa kau beranggapan bahwa ini semua perbuatan Lisa?" ujar Zay.
"Hah, dia wanita yang nekat, dia menerorku, mengancamku, bahkan membuat ta..." Daniel berhenti sesaat, ia tak sadar ia sudah terlalu banyak bicara.
"Apa hubunganmu sebenarnya dengan Lisa?Maksudku, aku bahkan tak tau bahwa kau mengenal Adikku" tanya Zay mengintimidasi.
Koridor panjang nan sepi, bahkan tak ada orang melintas disana, tepat di depan ruang operasi itu hanya ada dua orang pria berdiri dan berhadapan, bunyi detak jantung beritme cepat menandakan bahwa orang tersebut sedang mengalami kepanikan.
Daniel membisu, ia mengepalkan tangannya, sedangkan orang yang berhadapan dengan nya itu terlihat santai dan menunggu jawaban dari pertanyaan nya.
"Aku tak ada hubungan apapun dengan Elisa, sudah lah, aku akan menuntut pertanggung jawaban dari Elisa, jika ada yang terjadi dengan Lily dan calon anakku, maka orang yang pertama kali kutemui adalah dia" ujar Daniel berapi-api.
"Hei hei tenanglah dulu, lebih baik kau fokus pada Lily terlebih dulu, jangan menemui Lisa dengan emosi yang meledak-ledak seperti itu, kalau memang benar Lisa yang membuat Lily seperti itu, maka aku akan.. "
"Diamlah Elzay, aku tau kau akan melindungi Adikmu" ujar Daniel kembali berteriak.
"..."
"Lebih baik kau pergi dari sini"
Zay menghela nafas panjang, pada akhirnya dia memilih pergi saja, tidak ada bagusnya bertahan disini bersama seseorang yang sedang kehilangan akal sehatnya seperti Daniel, ia melirik ruangan yang ditempati oleh Lily, dia mungkin akan baik-baik saja, karena pria yang berstatus sebagai suaminya ini pasti menjaga nya, benarkan?.
"Aku berkata seperti itu bukan untuk melindungi Lisa, tapi untuk melindungimu" ujar Zay sambil melenggang pergi meninggalkan Daniel yang mengerutkan dahinya terheran.
**
Zay melonggarkan ikatan dasinya, mengemudikan mobilnya dengan tatapan datar lurus kedepan.
*Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif
BRAAKKK..
Kemudi setirnya menjadi sasaran ketika ia tak bisa melampiaskan kekesalannya pada Elisa, anak itu tak mengindahkan perkataan nya, itu membuat dada nya sesak, rasa marah ketika mengetahui wanita itu masuk kerumah sakit, rasa takut seperti dulu pun kembali menyeruak, bayang-bayang Ibunya yang dibawa ke suatu ruangan dengan tangan yang banyak mengeluarkan darah itu langsung penuh dalam kepalanya, bahkan tenggorokan nya pun terasa kering saat memikirkan hal itu.
"Lisa, kenapa kau sama sekali tak bisa menahan perasaan seperti itu, bahkan kau tak mengindahkan perkataanku padamu" gumam nya dengan suara paraunya.
__ADS_1