Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 76 S2 : Maaf?


__ADS_3

AUTHOR POV :


"Mana Zay?" tanya Lisa pada Wim.


"Dia tak mau ikut, kata nya dia lelah"


Lisa menghela nafasnya, padahal dia lumayan merindukan saudara kembarnya itu, ia meneguk segelas vodka dan menatap gelasnya yang kosong.


Mungkin Zay masih marah padaku, batin Lisa.


"Kalian bertengkar?" tanya Wim.


Lisa mendongakan wajahnya, terlihat pipinya sudah sangat memerah karena mabuk, mata nya sayu dan dia pun tersenyum kearah Wim.


"Tidak, hanya saja dia sedang marah padaku"


"...Zay marah padamu?"


Lisa menganggukan kepala nya, kembali ia meneguk minuman nya hingga membuat ia menjatuhkan wajahnya di meja.


"Kau mabuk, mari kuantar pulang"


"..."


*


Lisa memandang lurus kedepan, tatapan nya yang datar itu sesekali melirik Wim yang tengah mengemudi, ia tersenyum simpul, entah apa yang sedang ia pikirkan.


Langkah gontai Wim ketika membopong Lisa yang sedang setengah mabuk itu terdengar di sepanjang koridor Apartemen.


Rumah dengan pengharum ruangan yang sangat menenangkan itu membuat Lisa tersenyum, Wim membaringkan tubuh Lisa di ranjang kesayangan nya, ditatap nya sekilas wanita cantik itu lalu ia pun melenggang pergi.


Namun, langkah nya terhenti ketika ia menyadari bahwa Lisa menahan tangan nya.


"Tetap disini Wim, temani aku malam ini"


Wim tersentak, jika dia tetap disini maka dia tak yakin mampu menahan perasaan nya, tapi Lisa mengenggam lengan nya dengan sangat kuat, seolah-olah ia sungguh menginginkan pria itu, tapi dia teringat Zay, pria itu pasti akan membunuhnya jika tau Wim bersama Lisa malam ini.


"Kau harus tidur, aku akan pulang, ini sudah sangat larut" ujar Wim.

__ADS_1


Lisa mengerutkan dahinya, netra hitam nya memandang Wim yang berada di hadapan nya, dengan satu tarikan saja, kini Wim telah berada di atas tubuhnya, terlihat kepanikan di raut wajah tampan Wim, bahkan bunyi detak jantung yang sangat cepat itu menggema di antara mereka.


"Aku tak terbiasa dengan penolakan Wim" ujar Lisa tersenyum sembari mendekatkan wajahnya kearah Wim.


Lisa mencium bibir Wim pelan, pria itu masih mematung dengan membulatkan kedua bola mata nya, satu kali lagi, Lisa mengecup pelan bibirnya satu kali lagi, kini Wim tak dapat lagi menahan hasrat nya, ia membalas ciuman Lisa dengan sangat agresif, bahkan tangan nya kini telah bebas menjelajahi seluruh tubuh halus Lisa, menyusup kedalam kaos ketat nya dan mencapai puncak gunung nya, membuat Lisa mengerang pelan, disingkap nya rok pendek yang dipakai Lisa kala itu, hingga mengelus bagian sensitif wanita itu, tanpa permisi, jarinya menerobos masuk membuat wanita itu mengerang lebih keras, bibir mereka tetap berpaut, bahkan semakin dalam dan panas.


"Biarkan aku masuk" ujar Wim terengah-engah.


Lisa hanya tersenyum, ia memejamkan mata nya ketika sesuatu yang besar itu berusaha masuk kedalam dirinya, mereka kini menyatu menjadi satu dalam malam yang erotis itu, Wim mendekatkan bibirnya ketelinga Lisa dan membisikan sesuatu.


"Kau menyukainya?"


"...Ya"


"Lalu kenapa kau begitu terobsesi dengan Daniel, bukan nya aku?"


"...Huh?Pft, entahlah, aku pun tak tau"


"Lalu kapan kau akan melihatku?"


"Mungkin hingga Daniel mati haha..."


Dia melantur karena mabuk, batin Wim.


**


Rumah yang suasana nya selalu damai dan tenang, kini menjadi ricuh dan panas, rumah yang selalu dihiasi dengan senyum manis seorang istri, kini dihiasi dengan isak tangis pilu seorang istri.


Lily menyeka air mata nya yang keluar sambil menatap tajam suami nya, ia tak habis pikir bahwa suami yang begitu ia percaya tega menghianati cinta nya, bahkan itu dengan seseorang yang dikenalinya.


"Lily, dengarkan aku, aku hanya dijebak, dan tato ini, ini semua ulah nya" ujar Daniel berusaha menenangkan Lily


"Aku bahkan sudah melihat rekaman itu Dan, kalian berciuman, kau dan Elisa hiks hiks, sebenarnya apa yang kurang dariku Dan, aku bahkan baru saja kehilangan calon anakku, dan kau..."


"Lily, dia wanita gila, kau tau aku sangat mencintaimu, Elisa itu..."


"Cukup Dan, kau tak perlu terlalu menyalahkan Elisa, kau sama saja dengan dirinya"


"...Maafkan aku Lily, aku sungguh menyesal"

__ADS_1


"Enyah lah Dan, hiks hiks"


"Lily, tolong maaf kan aku, aku sungguh menyesal"


"...Daniel Foster, kau kira hanya dengan minta maaf, semua nya akan selesai? Kau tahu, menerima permintaan maaf seseorang itu hanya berlaku pada orang yang kuat, aku tidak sekuat itu Dan, aku hanyalah wanita biasa yang kau sakiti hatinya, jadi tolong pergilah Dan, aku tak ingin melihat wajahmu untuk sekarang" ujar Lily membalikkan badan nya, melangkahkan kakinya menuju kamar dan menutup kasar pintu kamarnya.


Daniel menggigit bibir bawah nya, menendang udara untuk melampiaskan kekesalan nya, Elisa, nama dan wajah nya bahkan selalu terngiang-ngiang di otak Daniel.


Siang itu, awan gelap bahkan seperti mewakili perasaan Daniel, ia mengemudikan mobilnya menuju tempat yang telah ia sepakati dengan Elisa untuk bertemu.


Disamping sungai X, sungai yang kemarin lalu menjadi tempat ditemukan nya dua orang mayat mengambang, disanalah Elisa berdiri sambil menghisap rokok nya, tak banyak orang yang datang kesana, apalagi semenjak kejadian itu.


Elisa mengadahkan kepala nya kelangit, matahari bahkan tak terlihat lagi seperti telah terlalap habis oleh awan mendung itu, dia menyeringai ketika tau seseorang yang ditunggu-tunggu nya itu telah tiba.


"Kau rindu padaku?" ujar Lisa sambil tersenyum dan mematikan api rokok nya.


"Kau, berhentilah muncul dalam kehidupanku, aku benar-benar muak melihat wajahmu Elisa"


"..."


"Kau benar-benar menghancurkan hidupku dan merusak hubunganku dengan Lily, apa yang salah padamu?"


"Ah, jangan lupa bahwa aku juga telah menghilangkan calon anakmu dari perut Lily"


"...Apa? Wanita sial, kau benar-benar gila, demi tuhan akan kulaporkan semua perbuatanmu, kali ini jangan harap kau bisa lolos seperti waktu itu"


"Sudah kubilang aku tidak gila Daniel"


"Hah, kau ingin tau? Kau wanita tergila yang pernah aku temui, enyahlah Elisa, aku memperingatkanmu" ujar Daniel sembari mengacungkan telunjuknya tepat di wajah datar Elisa.


....


Hujan membasahi mereka, langit bahkan semakin gelap walau hari masih siang, netra hitam wanita itu terus saja menatap Daniel tanpa berkedip, tetesan air yang mengalir hingga memasuki mata nya itu bahkan membuatnya tak bergeming, ia terus saja menatap pria yang sedari tadi memaki-maki nya itu.


Daniel berbalik, melangkahkan kakinya menjauh untuk pergi dari sana setelah menyampaikan amarahnya pada Elisa, dengan perlahan Elisa membungkukkan tubuhnya, mengangkat batu besar yang berada di samping kakinya, dengan tatapan nya yang hanya tertuju pada Daniel, ia mengerahkan seluruh tenaga nya, melayangkan batu itu hingga menghamtam telak pundak Daniel.


Daniel tersungkur ketanah bersamaan dengan hujan yang semakin deras.


Ia membuang batu yang di genggam nya itu kesembarang arah, kemudian kembali ia menatap Daniel yang sedang tak sadarkan diri itu, dengan raut wajah datar nya ia menyeret tubuh Daniel hingga masuk sempurna kedalam mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2