
*AUTHOR POV:
Elisa memberhentikan mobilnya tepat di tepi sungai, sarung tangan lama nya ia lepaskan dan diganti dengan sarung tangan yang baru.
Ia pun mulai menyeret keluar tubuh Nora yang sudah tak bernyawa itu dari dalam mobilnya, diketahui tak ada siapa-siapa disana, bahkan Elisa memilih tempat yang tak terdeteksi CCTV jalanan.
BYUURRRR...
Suara hempasan di sungai dan percikan air yang mengenai wajah cantik Elisa ketika ia melempar tubuh Nora kedalam sungai itu.
"Huh, berat juga si sialan itu" gumam Elisa sambil mengusap keringat yang mengucur di dahi dan leher jenjang nya.
Tak jauh dari situ, seorang pria dengan botol alkohol di tangannya sedang tercengang melihat kejadian itu, ia terlihat mengusap kedua mata nya berulang kali untuk memastikan kejadian yang ia lihat, namun sekarang ia yakin bahwa ia sedang tak berhalusinasi, seseorang benar-benar telah membuang mayat kedalam sungai barusan tadi, dengan gemetar ia pun berjalan mundur dengan perlahan dan berniat untuk segera lari dari sana.
"Sial, aku harus segera pergi dari sini" gumam nya.
**
"Kau sudah lihat berita pagi ini?" tanya Wim pada Zay di ruangan nya.
"Yang mana?" tukas Zay sambil mengutak-atik ponsel miliknya.
"Ada mayat ditemukan di sungai pagi ini"
"..."
Zay menaruh ponsel nya dan menghidupkan televisi di dalam ruangan nya.
"Berita kali ini kami sajikan, ditemukan mayat seorang wanita dan pria di sungai XX dengan kondisi yang mengenaskan, diduga mereka tenggelam karena mabuk berat, terdapat lebam pada tekuk leher juga lengan mayat wanita tersebut, belum bisa dipastikan penyebab kematian mereka berdua, saat ini polisi dan detektif tengah berupaya mencari informasi terkait peristiwa ini...."
Belum habis berita tersebut disampaikan, Zay sudah mematikan televisinya, terlihat Zay dan Wim saling berpandangan satu sama lain, lalu Wim pun mengangkat kedua bahunya seakan menandakan bahwa ia tak tahu apapun.
Suasana di ruangan itu pun jadi sunyi seketika, andai tak terdengar suara ketukan dari pintu luar, maka keheningan dan suasana yang tak enak ini akan terus berlanjut.
"Masuklah" ujar Zay.
Lily masuk dengan sebuah dokumen ditangan nya, ia tersenyum kearah Wim yang sedang duduk dan di balas dengan senyuman simpul pula oleh Wim.
"Ini laporan yang kau minta Pak"
Terlihat Zay menerima dokumen tersebut dan membuka nya.
"Zay saja, tidak usah Pak" ujar Zay sambil terus mengecek isi dokumen itu.
"Tapi, ini kan dikantor"
"Aku tahu, tapi disini hanya ada kita berdua, kau tau? Panggilan formal itu terdengar menggelikan" tukas Zay.
Lily menoleh kearah Wim, jelas disana ada mereka bertiga.
Wim hanya menggeleng-gelengkan kepala nya, seakan sudah terbiasa akan sikap Zay yang seperti itu.
"Baiklah Zay" ujar Lily tersenyum.
"..."
Zay jadi terlihat kikuk, ia kembali membolak-balikan isi dokumen itu, membuat Lily terkekeh karena nya.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak,tidak, hanya saja kau sangat lucu Zay"
"...Huh?"
Zay menoleh kearah Wim yang berusaha menahan tawanya, ia mengerutkan dahinya dan menatap Wim tajam, seakan mengatakan berani tertawa maka kubunuh kau.
__ADS_1
"Uwek...."
Lily segera menutup mulutnya, rasanya ia akan segera mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Zay kembali menoleh kearah Lily setelah mendengar suara yang dikeluarkan oleh Lily, terlihat Lily tengah menutup mulutnya dan memegangi perutnya yang mungkin terasa mual itu.
Melihat hal itu, Zay beranjak dari kursinya dan mendekat kearah Lily perlahan, kini raut wajah nya terlihat cemas.
"Ada apa? Kau sakit?"
"Ah tidak,tidak, ini tidak apa-apa"
"Sebaiknya kau duduk dulu" ujar Zay memegangi Lily dan membawanya ke sofa agar Lily dapat duduk.
"Ini tidak apa-apa Zay,sungguh"
"Tapi kau terlihat pucat sekali"
Zay bersimpuh di bawah Lily, ia menatap datar wajah wanita cantik yang terlihat pucat dan lemas itu.
"..."
"Kalau kau sakit, kau sebaiknya pulang saja"
"Zay, sebenarnya aku sedang hamil sekarang"
"..."
Lily mengatakan hal itu pada Zay dengan tersenyum, namun tidak untuk Zay yang beberapa saat menjadi tercengang mendengarnya.
"...Huh?"
Setelah beberapa detik tercengang, akhirnya Zay pun berdiri, membenahi setelan jasnya dan kembali menatap kearah wanita itu.
"Kalau begitu, selamat atas kehamilanmu" ujarnya.
"Kau boleh pulang, sebaiknya kau istirahat dirumahmu saja hari ini"
"Ah, bagaimana mungkin? Pekerjaanku masih banyak, aku tak bisa pulang begitu saja"
"Hei Lily, kau butuh istirahat, untuk masalah pekerjaanmu, semua nya akan di handle oleh Wim, jadi kau tak perlu pusing memikirkan itu"
"Aku?" protes Wim.
Zay menoleh ke arah Wim, tak lupa dengan tatapan mengerikan nya yang mampu membuat Wim menelan saliva nya, dengan berat hati Wim pun menganggukan kepala nya.
"Zay benar, wanita hamil harus lebih banyak beristirahat, untuk pekerjaanmu tidak usah dipikirkan, aku akan menggantikanmu sementara" ujar Wim sambil senyum terpaksa.
Terlihat sebuah senyuman mengembang di bibir mungilnya, ia mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Zay, hingga Zay bosan mendengarnya, tak lama kemudian ia pun melenggang pergi.
Zay memandangi pintu yang baru saja dilewati oleh Lily, lalu ia pun menghela nafas berat nya, terlihat wajah Wim yang sudah mengkerut karena tak terima dengan pekerjaan mendadak yang diberikan oleh Zay.
"Anggap saja kau sedang bersedekah, nah kau boleh keluar dan mulailah bekerja" ujar Zay sambil mengarahkan tangan nya kearah pintu seraya menyuruh Wim segera keluar dari ruangan itu.
Dengan sangat terpaksa, Wim akhirnya beranjak dari kursinya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, Zay hanya terkekeh melihat tingkah konyol Wim yang tak sesuai dengan perawakan nya yang mengerikan itu.
**
Disebuah kafe yang tak terlalu ramai, Elisa menyeruput espresso miliknya, terlihat Daniel sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu hal pada Lisa.
"Apa yang ingin kau bicarakan,Dan?"
"Elisa, aku akan mengatakan yang sebenarnya padamu"
"Apa? Bahwa kau mencintaiku? Haha aku sudah mengetahuinya Daniel"
__ADS_1
"Bukan itu, tolong dengarkan aku"
Elisa yang mulanya tertawa pun pada akhirnya terdiam dan menatap datar kearah Daniel.
"Aku sudah menikah"
"..."
"Maafkan aku yang tidak memberitahumu sejak awal, namun percaya lah jika aku belum menikah, maka kau adalah wanita yang akan menikah denganku Elisa"
"..."
Elisa hanya diam, tak menjawab setiap perkataan Daniel, Elisa juga sama sekali tak menampakan ekspresi terkejut, bahkan ekspresinya sekarang itu sangat datar hingga membuat Daniel resah.
"Elisa, tolong katakan sesuatu"
"Hah"
Elisa menghela nafasnya dan melipat kedua tangannya.
"Itu tidak masalah bagiku" ujar Elisa.
"...Huh?"
"Aku terlanjur jatuh cinta padamu, aku tak masalah dengan statusmu, aku ingin kita tetap bersama, Dan"
Daniel tertegun mendengar penuturan Elisa, niatnya adalah mengakhiri hubungannya dengan Elisa, sejak ia mengetahui bahwa Lily sedang mengandung anaknya, ia sudah bertekad untuk menjadi suami dan calon ayah yang baik.
"Itu tidak mungkin Elisa"
"Kenapa?"
"Karena istriku sedang hamil sekarang, aku akan menjadi seorang Ayah"
"..."
"Jadi kita tidak bisa meneruskan hubungan kita lagi Elisa, maafkan aku" ujar Daniel berdiri dikursinya dan bersiap pergi dari sana.
"Hei Dan, kau pikir aku bisa menerima semua nya sekarang?Kau menipuku, meniduriku, dan sekarang kau akan mening.."
Daniel segera menutup mulut Elisa dengan tangan nya, ia takut orang-orang disana akan mendengar hal yang dikatakan oleh Elisa, terlihat wajah panik dari seorang Daniel, Elisa menyeringai dalam dekapan tangan Daniel, dengan perlahan ia memindahkan tangan Daniel yang berada di bibirnya.
"Jangan tinggalkan aku Dan, kau tak bisa berbuat seperti itu padaku, terlepas dari semua yang telah kita lakukan bersama, setelah kau membuatku jatuh cinta padamu, lalu kau akan pergi meninggalkanku begitu saja?Jangan konyol Dan" ujar Elisa mulai meneteskan air mata nya.
"..."
Daniel menggigit bibir bawahnya, ia pun kembali duduk dikursinya dan memilin-milin dahinya.
Elisa memegang tangan Daniel dan mengusap nya, terlihat Daniel mendelik menatap tangan nya yang sedang di genggam oleh Elisa.
"Aku juga bisa memberimu anak jika kau mau Dan" ujar Elisa sambil tersenyum.
Daniel tersentak, segera ia melepaskan tangan nya dari genggaman Elisa dan membuat wanita itu terkejut.
Emosi mulai menyeruak didada Daniel ketika mendengarkan kalimat yang dilontarkan oleh Elisa.
"Kau sudah gila ya? Anakku hanya akan lahir dari rahim Istriku Elisa" tukas Daniel.
"..."
Kini raut wajah Elisa tak lagi seperti tadi, tatapan nya kini menjadi menyeramkan, bahkan Daniel pun sempat tersentak ketika menatap nya.
"Aku tak akan melepaskanmu Daniel, karena aku sangat mencintaimu"
Seketika Daniel pun langsung merinding melihat Elisa mengatakan hal itu dengan tatapannya yang tajam kearah nya, ini kali pertama Daniel melihat Elisa seperti itu, tanpa berkata apapun lagi, Daniel langsung beranjak dari kursi itu dan melenggang pergi dari sana, meninggalkan Elisa dengan raut wajah yang masih terlihat datar dan dingin.
__ADS_1
"Hah"
Elisa menghela nafasnya dan meneguk kembali Espresso nya.