Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 51: Kesalahpahaman (part 2)


__ADS_3

"Hah"


Suara helaan nafas berat terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang perlahan keluar dari kamar mandi, sekujur tubuh yang terlihat masih sangat basah hanya di balut dengan handuk dari pinggang sampai kelutut,tak ketinggalan dengan tatapannya yang datar namun mengerikan.


Yohan melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar Eleeya, dilihatnya gadis itu tengah terbaring dan tersenyum ketika melihat pria nya telah selesai mandi.


Namun senyum nya kini memudar lantaran melihat ekspresi yang bisa dikatakan dejavu baginya pada raut wajah Yohan.


Netra hitam pekat miliknya menatap tajam gadis yang tengah duduk diatas kasur itu, ia melangkahkan kakinya perlahan,mendekat dan meraih rahang gadis itu.


Eleeya tersentak karena perlakuan Yohan yang tiba-tiba,mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi,namun Yohan tak menjawab, cengkraman nya malah semakin kuat,membuat gadis itu terpaksa meronta.


PLAKK


Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Eleeya, membuat gadis itu tersungkur dan kepalanya hampir menyentuh dinding batu yang sangat keras itu.


Eleeya terdiam ketika mendapat perlakuan kasar itu tiba-tiba, ia menoleh kearah Yohan, kembali bertanya apa gerangan yang terjadi pada nya, namun reaksi Yohan tetap saja sama.


"Ada apa denganmu?"


Yohan menampakan seringaian nya ketika melihat ekspresi ketakutan pada wajah Eleeya.


"Ya, seperti itulah seharusnya kau menatapku,aku sungguh menyukai ekspresi wajahmu ketika sedang ketakutan" ujar Yohan dengan suara beratnya.


"Apa salahku?Hiks..Hiks" tanya Eleeya tak kuasa menahan air mata sembari memegangi pipinya yang mungkin saja bengkak akibat tamparan itu.


PLAAKKK


PLAAKKK


PLAAAKK


Tamparan demi tamparan terus saja diterima oleh Eleeya,membuatnya kehilangan tenaga, darah segar mengalir dari hidungnya yang kecil dan juga dari sudut bibirnya yang mungil,sungguh menyedihkan.


Eleeya tersungkur di lantai lemah,tak bisa lagi bicara,bahkan untuk menangis pun dia sudah tak bertenaga,Yohan menjambak rambut Eleeya dan mendongakan wajah gadis itu agar bisa ditatap nya.


Mata nya mendelik ketika melihat raut wajah Eleeya saat itu.


Sebuah seringaian pun muncul dari sudut bibirnya,tidak tahu apa yang tengah di pikirkan nya.


"Hah,haha yang benar saja" ujarnya.


Ia pun melepas handuk yang hanya melilit sebagian tubuhnya itu,lalu menarik kepala Eleeya untuk bersentuhan dengan miliknya, ia berhasrat karena melihat wajah Eleeya yang dipenuhi oleh darah dan terlihat begitu menyedihkan itu,dan lagi-lagi ia melakukan hal gila itu pada Eleeya.


Eleeya terduduk lemas dengan banyaknya cairan putih bercampur airmata memenuhi seluruh muka nya.


Gadis itu menatap sendu kearah pria yang kini sedang kehilangan akalnya itu, wajahnya mengisyaratkan kesedihan dan kebingungan yang sangat lah besar.


Apa yang terjadi padanya?


Aku sedih bukan karena penyiksaan yang dilakukannya terhadapku,aku hanya sedih karena perubahan sikapnya yang tiba-tiba,dia mengatakan kalau menyukaiku,tapi kenapa dia begini?gumam Eleeya didalam pikiran nya.


Lalu,pikiran nya pun harus terbuyar ketika Yohan menarik laci nakasnya,dan mengambil sebilah pisau yang ada disana.


"Pisau ini terlihat sangat tajam,bukankah begitu El?" ujarnya dengan mata yang melirik Eleeya.


GLEK


Eleeya menelan saliva nya ketika melihat Yohan tengah memegang pisau itu ditangan nya dan dengan mata yang menatapnya tajam,tubuhnya bahkan tak berhenti bergetar sedari tadi.


"Kau bilang kau cinta padaku dan seterusnya dan seterusnya, TAPI KAU BAHKAN INGIN MENIKAMKU DENGAN PISAU INI SEKARANG!"


Eleeya tersentak mendengar teriakan Yohan yang menggema di kamar itu, udara malam yang sangat dingin itu bahkan membuat darah dihidung Eleeya cepat mengering karena nya.


Apa yang dibicarakan nya, aku memang pernah berencana melakukan itu,tapi itu sudah sangat lama sekali, bahkan harusnya ia menghukumku dari dulu,pikir Eleeya dengan mata yang membulat.


"Jadi kau sedari tadi sibuk menyimpan benda ini ya?untung saja aku melihat kau tengah menatapi isi laci itu tadi" racau Yohan sambil terkekeh.


Hah?


Dia melihatku menatap isi lacinya?


Astaga,dia salah paham,gumam Eleeya.

__ADS_1


Eleeya berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya,namun tenggorokan nya seakan tercekat ketika melihat Yohan dengan cepat melayangkan pisaunya kearah Eleeya.


*


Nomor yang anda hubungi sedang tidak bisa menerima panggilan...


"Kenapa tak dijawab?" gumam seorang Pria dengan rambut coklat ikal.


"Dia masih marah rupanya,aku harus menemuinya" gumam nya lagi sambil memacu mobilnya dan berhenti di sebuah apartemen.


Pria yang tak lain adalah Rui pun segera masuk keapartemen dan mengetuk pintu rumah yang ditujunya.


Lama tak ada jawaban,namun itu tak membuat Rui menyerah,ia terus membunyikan bel serta mengetuk pintunya, dan benar saja tak lama kemudian, seseorang dari dalam rumah itu membukakan pintunya.


Seorang wanita cantik berambut sebahu menyambut kedatangan Rui dengan wajah yang cemberut.


"Ada apa kau kesini?" tanya Alana ketus.


"Bolehkan aku masuk?"


"..."


Alana diam sebentar,dan kemudian ia menghela nafasnya sembari membukakan pintu rumahnya lebar,mengisyaratkan bahwa Rui boleh masuk kedalam.


Rui melangkahkan kakinya masuk dan duduk disofa yang ada disana begitu pula dengan Alana.


"Jadi apa yang membuatmu kesini?"


"Hei,aku mengkhawatirkanmu, kau masih marah ya padaku?"


"..."


Alana tak menjawabnya dan mengalihkan pandangan nya kearah yang lain, Rui hanya menghela nafasnya ketika melihat perlakuan Alana padanya kini.


Soal khawatir,itu tidak lah bohong.


Rui memang mengkhawatirkan Alana atas apa yang terjadi sebelumnya,dia bahkan ingin memberi penjelasan tentang salah paham yang terjadi antara mereka berdua.


"Lupakan soal pria itu,aku sudah tak ingin membahasnya lagi"


"Tapi ini penting,dia itu pembunuh berantai,aku hanya harus berusaha lebih keras untuk mengumpulkan buktinya, lalu Eleeya juga berada dalam bahaya.."


"CUKUP!"


"..."


"Kubilang cukup, aku sudah muak mendengarmu berbicara soal Eleeya,aku sudah mengutarakan isi hatiku,apa kau bahkan tak memikirkan bagaimana perasaanku setelahnya?"


"Lana,itu..."


"Andaikan aku dan Eleeya sama-sama berada di dalam bahaya, siapa yang akan kau tolong?"


"Apa?Kenapa tiba-tiba.."


"Jawab saja"


"Ahh,aku...Ehm..."


Terlihat ekspresi kebingungan terpancar dari wajah Rui, dia tidak ingin salah bicara saat ini, namun Alana yang sangat tidak sabaran itu mulai merasa emosi dan kesal, itu terlihat dari raut wajahnya saat ini.


"Hah,kau bahkan tak bisa menjawabnya"


"Hei,kalian berdua sama-sama berharga bagiku,tentu aku akan menyelamatkan kalian berdua"


Alana menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan tangan nya, ia sedang menahan amarahnya agar tidak meluap-luap sekarang, sejujurnya kata-kata Rui itu tidaklah menenangkan nya,dia merasa Eleeya masih menjadi penganggu baginya.


Alana menatap Rui dalam dengan tatapan yang tajam, ia melangkahkan kakinya perlahan mendekat kearah Rui,dan tanpa permisi ia langsung menempelkan bibirnya pada bibir Rui,membuat laki-laki itu terkejut bukan main.


Sontak Rui langsung mendorong Alana agar menjauh darinya, terlihat ekspresi panik di wajah Rui saat Alana melakukan hal yang sangat tidak terduga.


"Apa yang kau lakukan?" ujar Rui membulatkan kedua matanya.


"Hah,kau bahkan mendorongku"

__ADS_1


"..."


"Apa kau akan melakukan hal yang sama jika itu adalah Eleeya?"


"Apa yang kau bicarakan, tenangkan dirimu Lana"


"Hei,kau ini sangat kejam padaku,aku begitu menyukaimu,aku memendam perasaan ini sangat lama,tapi kau tak pernah memikirkan aku,kau hanya memikirkan Eleeya,tidak bisakah kau membiarkan Eleeya dengan Yohan saja,Rui?"


Air mata mulai terjatuh dari pelupuk mata gadis itu.


"Lana,kau itu orang yang berharga untuk ku, aku menyayangimu, tapi Eleeya juga berharga untukku,dia temanku,aku sudah berulang kali mengatakan padamu,Yohan itu berbahaya,ini bukan sekedar keegoisanku,aku tak bisa membiarkan dia bersama pria seperti itu,bukan berarti aku ingin bersama nya, kau salah paham atas semuanya"


"...Huh?"


Alana tersentak mendengar perkataan dari Rui, kini pria itu menundukan wajahnya, terlihat raut wajah kesedihan padanya,dan itu membuat Alana sangat merasa bersalah, ia bertingkah kekanak-kanakan sekarang,bahkan seharusnya dia memang harus mendengarkan dulu penjelasan dari Rui,bukan nya langsung emosi dan meracau yang aneh-aneh.


"Kupikir kaulah satu-satunya yang mengerti diriku, ternyata aku salah, kau bahkan tak membiarkan aku menjelaskan semua nya,aku sangat kecewa padamu Lana"


DEG!


Alana tersentak mendengar penuturan dari Rui, kata-katanya itu sangat mengiris hati Alana,ia sangat merasa bersalah,ia menyesal atas segala sikap yang dilakukan nya pada Rui belakangan ini.


Terlihat Rui membalikan badan nya tanpa menatap Alana sedikit pun, dia melenggang pergi membawa kekecewaan pada dirinya terhadap rekan yang sangat dekat dengan nya itu.


"Rui tunggu dulu..."


Namun Rui seakan tak mendengarkan dan pergi begitu saja,meninggalkan Alana yang terduduk lemas dan dengan sejuta penyesalan pada dirinya.


Ia menangis sejadi-jadinya,berkat kebodohan nya ia menghancurkan pertemanan nya dengan Rui selama ini,ia telah dibutakan oleh amarah dan juga cemburu.


*


Eleeya memejamkan matanya ketika melihat Yohan tengah melayangkan pisau itu kepadanya dengan sangat cepat.


Namun,


KLAANGGG


Yohan menjatuhkan pisau itu kelantai, matanya melotot hingga memerah kearah Eleeya.


Eleeya membuka matanya perlahan dan sedikit merasa lega karena Yohan tidak menikam nya dengan pisau itu.


Itu sangat menakutkan.


"AAHHH"


Eleeya terpekik kesakitan ketika rambutnya yang sudah sangat kusut itu ditarik kebelakang oleh Yohan.


"Kenapa kau ingin membunuhku,hah?KENAPA?Kau bahkan bilang cinta padaku?Apa begitulah orang mengekspresikan cinta mereka hah?Bahkan Ibuku pun begitu pada Ayahku" racau Yohan.


"AHH,Lepaskan aku,kau menyakitiku" ujar Eleeya sembari menangis kesakitan.


"Jawab pertanyaanku,DASAR SIAL"


"..A-aku tidak ingin membunuhmu,p-pisau itu sudah ada disana sejak lama,kau harus melihat isi laci yang dibagian ba-bawah" ucap Eleeya terbata karena rasa sakit dan pusing yang sekaligus dilandanya.


"Hah?" Yohan mendelik,lalu dengan kuat ia mendorong Eleeya dan membuatnya tersungkur di atas tempat tidurnya.


Yohan melangkahkan kakinya,menundukan badan nya dan membuka laci pada bagian bawah.


Terdapat sebuah kotak kecil dengan desain yang begitu cantik didalam nya, dengan segera ia meraih kotak itu dan dibukanya.


Sebuah gelang yang berpasangan, itu lah isinya.


Yohan tersentak,ia mengenggam kotak itu dan menolehkan pandangan nya kearah gadis yang tak berdaya di atas kasur itu.


"I-itu hadiahku un...tukm..mu" ucap Eleeya hingga akhirnya ia pingsan disana.


"El?"


Yohan segera mendekat dan mengusap wajah Eleeya dengan hati-hati,ia terlihat panik ketika mendapati Eleeya yang tak sadarkan diri.


"Aku...Apa yang telah aku lakukan?" gumam Yohan sambil membawa tubuh Eleeya dalam dekapan nya.

__ADS_1


__ADS_2