Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 48: Jangan menangis


__ADS_3

***Author POV


Bunyi gemuruh petir malam itu sangat lah menakutkan, kilat yang seakan dapat menyambar siapa saja seakan menambah kengeriannya.


Disebuah gubuk tua yang dapat diketahui bahwa tak ada siapapun yang tinggal disana dengan sekali lihat,terdengar suara bising sebuah cambukan dari dalam nya.


Suara itu terdengar berkali-kali,bahkan terdengar seperti mencambuk kuda supaya berlari lebih kencang.


"Hosh..Hosh"


"Ini semua gara-gara kau,dasar sial"


Mulut Yohan terus saja mengutuk sembari tangan nya yang selalu bergerak mencambuk tubuh yang bahkan sudah kaku dilantai tersebut menggunakan seutas kabel saklar.


Mata nya menatap tajam kearah tubuh kaku tersebut hingga terlihat urat merah di matanya nampak keluar,itu sangat membuat merinding.


Dia tampak nya sangat kesal hingga melampiaskan semua amarahnya pada orang yang jelas-jelas sudah menjadi mayat beberapa jam yang lalu.


Tak lama setelah itu,dia pun terduduk di salah satu bangku yang ada disana.


Dia menatap lurus kearah depan,raut wajah yang datar seakan sangat kosong,entah apa yang sedang ia pikirkan, tak berselang lama ia beranjak dan melenggang pergi meninggalkan mayat Leo yang sangat terlihat menyedihkan itu sendirian disana.


Ia mengepalkan tangan nya lalu keluar dari gubuk tua itu.


Ditengah deras nya hujan,lagu Queen berkumandang menggema di dalam mobil Yohan, nampaknya itu memang lah lagu favoritnya.


Ia melepaskan kedua sarung tangan nya,menaruhnya di belakang bersama dengan kabel yang baru saja dia gunakan untuk Leo.


Terlihat ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah ponsel juga dompet.


Ya,itu mungkin milik Leo,ia menaruhnya bersamaan dengan sarung tangan dan kabel di belakang mobilnya.


"Hah"


Ia menghela nafas lega,seakan sesak didada nya tengah berangsur-angsur hilang,kini dia sudah bisa melontarkan sebuah senyuman dari bibirnya lagi.


"Ah,aku tak bisa pulang kerumah,El mungkin masih marah padaku" gumam Yohan.


"..Hah,kenapa dia bersikap sangat berlebihan seperti itu" gerutu nya sambil memacu mobil nya menuju sebuah motel disana.


*


Eleeya termangu di dalam kamarnya,masih dengan jaket Yohan yang melekat di dalam dekapan nya.


Didalam lamunan nya yang panjang, tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki dari luar, ia terkesiap, antara takut dan juga penasaran.


Ia takut yang masuk adalah seseorang yang tidak dikenal atau lebih parah nya adalah seorang polisi seperti Rui.


Eleeya menggerakan tubuhnya lebih menyudut,dia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tak menimbulkan suara.


Tubuhnya terlihat gemetar karena dia gelisah dan ketakutan.


CEKLEEKK...


Suara pintu kamar terbuka, Eleeya membulatkan kedua mata nya ketika mendapati orang itu adalah Yohan, dia kembali setelah semalaman tak pulang.


Eleeya berdiri dengan netra nya yang tak berkedip ketika menatap pria yang berada di depan nya.


Dengan wajah yang sendu,Yohan melangkahkan kakinya berjalan mendekat kearah Eleeya.


TUK...


Yohan menjatuhkan kepala nya di pundak Eleeya,membuat gadis itu mematung dengan membulatkan matanya.


"Maafkan aku El" gumam Yohan.


Eleeya tersentak karena menerima permintaan maaf dari seorang Yohan.


Sontak ia melingkarkan kedua tangan nya untuk memeluk pria yang tengah ia rindukan itu.


"...Kau tak melakukan kesalahan, itu adalah salahku, aku yang terlalu berlebihan, aku terlalu kaget" ucap Eleeya sambil menitikan air mata nya.


Mengetahui bahwa Eleeya menangis,Yohan mendongakan wajahnya dan menatap raut wajah Eleeya.


Ia menyeka air mata yang jatuh dari sela-sela mata Eleeya.


"Jangan menangis,itu menyakitiku" ujar Yohan.

__ADS_1


"Hiks..Hiks, aku salah" tutur Eleeya sembari menangis.


Mata Yohan menatap Eleeya dengan tatapan tak tega.


Ia menarik tubuh Eleeya,membawa Eleeya untuk berada di dekapan nya.


"Aku bilang jangan menangis, aku melakukan hal yang tak kau sukai, setelah nya aku meninggalkanmu sendirian dirumah ini, aku memang bajingan,bukan?"


Eleeya menggelengkan kepala nya kuat didalam dekapan Yohan,kini air mata nya sudah hampir berhenti.


Ia memeluk tubuh Yohan dengan sangat erat, mengapresiasikan bahwa dirinya sangat lah rindu pada pria itu.


Terlihat seutas senyum dari bibir Yohan ketika merasakan Eleeya memeluknya dengan erat, ini kali pertama senyum yang begitu meneduhkan itu dilontarkan dari bibirnya.


Ia mencium puncak kepala Eleeya dan lebih mengeratkan lagi pelukan nya.


"Kau kemana saja semalam,kenapa kau tinggalkan aku sendirian?" ujar Eleeya membenamkan wajahnya pada dada bidang Yohan.


"Nah,kupikir aku tidak ingin melampiaskannya padamu seperti yang biasa aku lakukan" jawab Yohan sambil membelai halus rambut panjang gelombang Eleeya.


"...Huh?" Eleeya mendongakan wajahnya menatap Yohan dengan mata besar yang kebingungan.


"Pft,imutnya,jangan biarkan orang lain melihat ekspresimu yang seperti itu" ujar Yohan mencubit pipi Eleeya.


"Ahh" Eleeya mengelus pipinya yang baru saja di cubit oleh Yohan.


"Bagaimana kalau kita keluar hari ini,sudah lama juga kita tidak berkencan berdua,ini juga masih dalam suasana ulang tahunmu" ajak Yohan.


Eleeya melebarkan senyumnya dan binaran matanya nampak begitu menyilaukan si pria yang berhadapan dengan nya saat itu.


Dengan cepat ia menganggukan kepala nya.


*


Beberapa hari kemudian,siaran berita di televisi mengumumkan ada nya penemuan mayat di sebuah gubuk tua yang terpencil.


Tak ada jejak yang ditemukan disana,keadaan mayat sangat lah miris dengan luka yang banyak di seluruh tubuhnya, dan sebuah tusukan di arah leher yang kemungkinan menjadi penyebab kematian nya.


Seketika gubuk itu telah dilingkari oleh garis kuning karena kejadian tersebut.


Ada yang mengatakan bahwa pelakunya adalah pembunuh berantai atau seorang psikopat karena banyaknya luka disekujur tubuh korban, ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah korban pencurian karena seluruh barang milik nya sudah tak ada lagi.


Polisi pun sepertinya membenarkan bahwa itu adalah korban pencurian, namun tentu hal itu tidak bisa diterima oleh orang-orang seperti Alana dan Rui.


"Aku mengambil foto mayatnya" ujar Alana memberikan ponsel nya pada Rui.


Rui menatap seksama foto itu, ia mendelik ketika mendapati sesuatu yang janggal, ia mencoba memperbesar layar ponsel tersebut untuk dapat mengamatinya dengan jarak dekat.


"Ini tidak salah lagi" ujar Rui tiba-tiba.


"Apanya?" tanya Alana.


"Coba kau amati setiap luka ditubuhnya?sebagian adalah luka cambukan"


"...Ya,sepertinya memang benar" jawab Alana membenarkan setelah mengamati foto tersebut.


"Itu luka yang sama persis yang terdapat pada tubuh Eleeya kemarin"


"..."


"Ini aneh sekali kan,kenapa luka nya bisa sama persis?Dan korban ini adalah kakak sepupu Eleeya,kau tau maksudku bukan?" ujar Rui bersemangat.


Alana hanya menatap datar kearah Rui tanpa menjawab apapun.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya,seakan cemas akan sesuatu.


"Ah Rui,aku ingin bertanya sesuatu hal padamu"


"...Hm,ya tanyakan saja"


"Kau bersikeras untuk mengusut hal ini itu karena pekerjaanmu atau semata-mata untuk teman kecilmu?" tanya Alana.


Rui tersentak dan menatap rekan kerja nya itu dengan tatapan bingung.


Kenapa tiba-tiba?Seperti itu lah arti dari tatapan Rui sekarang,namun tatapan Alana sangat tajam seolah mengatakan,kau harus menjawabnya apapun yang terjadi.


"....Keduanya" jawab Rui.

__ADS_1


"Kau benar-benar mencintai gadis itu ya?"


"...."


Keheningan pun melanda mereka berdua ketika pertanyaan itu dilontarkan Alana pada Rui.


"Kenapa kau tiba-tiba membahas hal ini?"


"Kau harus memberitahuku,kau difitnah berusaha mengambil wanita yang memiliki kekasih,lalu kau juga mencoba menyeret wanita yang jelas-jelas sedang berkencan dengan kekasihnya"


"..."


"Itu hal yang sangat tidak masuk akal,seharusnya kau..."


"Itu bukan fitnah" ucap Rui memotong pembicaraan Alana.


"Hah?"


Alana membesarkan kedua bola matanya,ia tersentak mendengar pengakuan yang luarbiasa mengagetkan itu.


Ia sampai terperangah saking tak percaya nya dengan tutur kata Rui.


"Kau bilang apa barusan?"


"..Hah,kubilang itu semua adalah kebenaran"


"Rui apa yang kau katakan?Bagaimana bisa kau seperti itu?"


"Aku tak menyukai pria itu,aku tak suka ketika Eleeya dekat-dekat dengan nya,bagaimana bisa Eleeya berakhir dengan pria gila seperti dia itu"


"Kau lah yang gila"


"...Apa?"


"Ayolah,jadi selama ini aku telah mengikuti semua permainan yang kau buat sendiri,tentang pelaku kejahatan tersebut,tentang semua nya, ini hanyalah tentang masalah pribadimu sendiri Rui" Teriak Alana dengan nada yang sangat kesal.


Rui tersentak,terlihat pupil mata nya bergetar ketika mendapati amarah dari Alana.


"Lana,ini tidak seperti yang kau pikirkan" ujar Rui berusaha menjelaskan.


"Sudahlah,pantas saja kau tidak mempunyai bukti-bukti yang cukup,bahkan semua bukti itu memang harusnya tidak ada,kau hanya mengada-ada agar gadis itu terpisah dari pria yang kau benci itu"


"Itu tidak benar,aku serius tentang dia,kau harus percaya denganku" ujar Rui,terlihat ekspresi panik sekaligus cemas ketika melihat reaksi Alana saat itu.


"Kau...Kau tidak pernah memikirkan perasaanku" ujar Alana dengan suara yang bergetar membuat Rui terdiam saat mendengarnya.


"Bahkan setelah semuanya,kau tidak memandangku sebagai wanita, kau hanya memandangku sebagai seorang rekan, bagimu aku hanyalah rekan kerja"


Alana menundukan wajahnya,rasa hatinya seakan terkoyak saat ini,tanpa terasa air mata kini membanjiri pipi-pipi mulusnya.


Rui berusaha menyentuhnya,namun selalu ditepis oleh Alana.


"K-kau menangis?" tanya Rui khawatir.


"..."


"Kumohon jangan menangis Lana,aku akan menje.."


"Aku menyukaimu,tidak kah kau tau itu?" ujarnya lagi.


Kali ini,Rui membulatkan kedua matanya,ia terdiam membisu,harusnya dia berusaha untuk menenangkan wanita di hadapannya itu,tapi rasa canggung yang sangat besar bersamaan dengan rasa kaget yang luar biasa ini membuat dirinya terpaku layaknya orang idiot di depan Alana.


"Maaf"


Hanya itu yang mampu ia utarakan untuk wanita yang sedang menangis di hadapan nya itu.


Membuat wanita itu membalikan badan nya dan melenggang pergi,meninggalkan Rui yang masih tetap pada posisi nya.


Rui memandang pintu yang baru saja dilewati oleh Alana sesaat tadi.


Ia tidak berusaha menghentikan ataupun mengejar Alana pada saat ia akan pergi.


Maaf,aku tidak seharusnya seperti ini.


Tapi,kalau aku berbohong dan mengatakan "Aku juga" seperti yang kau inginkan,maka itu akan menyakitimu lebih banyak lagi, gumam Rui dalam hatinya.


"Hah,hidup di dunia ini sungguh melelahkan" gumamnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2