Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 84 S2 : Alasan membenci (Part 2)


__ADS_3

"Huh?" ujarku bingung.


Mengapa dia sangat marah, aku bahkan tak berani menatap wajahnya lagi, aku terlalu takut.


"...Ken-kenapa kau membahas ini denganku?"


"Dongakan wajahmu dan lihat foto ini"


Aku menggigit bibir bawahku, dengan perlahan aku mendongakan wajahku, terlihat ia menyodorkan sebuah foto keluarga yang kuyakini itu adalah Elisa, Elzay dan Ibunya, aku menatap wajahnya yang datar setelah beberapa saat menatapi foto itu.


"Nah, sekarang kau lihat foto yang ini"


Aku menyipitkan mataku, berusaha menatap foto itu, itu adalah foto sepasang kekasih yang berada di taman hiburan.


Itu Ibu mereka, dan pria itu...


Tunggu dulu, pria itukan?


Tidak mungkin, untuk kesekian kalinya aku terkejut, aku melebarkan kedua mataku dan menatap Elisa, dia menyeringai kearahku, wajahnya memang sangat mirip dengan pria itu, begitu pula dengan Elzay.


Hah, nafasku sesak kembali, tak percaya dengan apa yang kuketahui hari ini.


"...Kau dan Elzay adalah anak dari pembun..."


"Sst, beraninya kau mengejek Ayahku tepat dihadapanku" ujarnya dengan dingin nya.


AUTHOR POV:


Glek!


Lily menelan saliva nya kasar, mata nya tak berkedip bersamaan dengan pupilnya yang bergetar ketika berhadapan dengan Elisa yang terlihat ngeri.


Fakta yang mencengangkan, mungkin itu salah satu alasan Lily kebingungan.


Semua terlihat masuk akal ketika aku mengetahui hal ini, dia membenciku karena itu, tapi, apa yang kutulis juga berdasarkan apa yang kudengar di sekitar, aku tak mengada-ada, gumam Lily dengan tubuh yang gemetar.


Elisa masih menikmati menghisap rokok nya sembari duduk dan menatap datar ke arah Lily.


"Aku memberi tahumu satu hal, Ayahku tidak seperti itu, lalu itu bukan bagian yang membuatku sangat membencimu" ujar Elisa.


"..."

__ADS_1


"Efek dari artikel yang kau buat itu sungguh mengejutkan, kau pasti tau hal itu bukan?Kau juga pasti tau bahwa Ibuku punya telinga, dia mendengar semua nya, lalu apa yang terjadi? Ibuku yang merupakan wanita delusi itu meninggal dunia, kau membunuhnya Lily" ujar Elisa menjatuhkan rokoknya dan menginjak apinya hingga padam.


"...Ti-tidak, a-aku tidak tau apapun soal itu, a-aku.."


"Hah, tapi itu juga bukan bagian yang membuatku membencimu"


"..."


"Aku jadi tak bisa mendengar cerita dari Ibuku semenjak hari itu, padahal aku sangat menyukai ketika Ibuku menceritakan sesuatu padaku, aku kehilangan arah dan tujuan saat itu, dan ketika aku mencerna semua nya, semua akar permasalahan nya adalah kau dan artikel bodohmu itu, itulah yang membuatku sangat membencimu" ujar Elisa meninggikan nada nya.


Lily membungkam mulutnya, hanya air mata yang mampu mengatakan bahwa dia sedang ketakutan sekarang, sembari menangis ia terus saja menggesekan tali ditangan nya pada sebuah paku disana, berharap itu bisa membuatnya bebas walaupun ia tau bahwa itu tidaklah mudah.


"Nah kau harus berterimakasih pada Zay atas nyawamu, kalau bukan karena dia mungkin kau tak akan bisa menikmati hidupmu hingga sekarang" ujarnya sembari menghidupkan kembali sebatang rokok.


"...Zay?"


Asap menggempul dan pecah diudara, membuat Lily terbatuk karena asap itu mengarah kewajahnya, jantungnya berdetak lebih cepat, dengan tangan yang terus bergerak menggesek, airmata masih saja terus jatuh dari mata nya.


"Oh, tapi Zay sekarang tak ada disini untuk menghalangi aku lagi, sebenarnya aku memang tak berniat membunuhmu, tapi aku kesal saat Daniel selalu memilihmu ketimbang diriku. Ah kau harus tau saat-saat ketika aku memotong lidahnya, sebenarnya sangat disayangkan karena lidah itu pernah memuaskanku" ujar Lisa tersenyum menatap Lily.


Terlihat Lily menggigit bibirnya, ia memejamkan matanya berusaha mengendalikan amarahnya yang berhasil terpancing karena ocehan Elisa. Namun, Lily pun tersentak ketika merasa bahwa ikatan di tangan nya itu berhasil terlepas, ia mendongak perlahan, terlihat Elisa sedang memejamkan mata nya, duduk dikursi berhadapan dengan Lily sambil menghisap rokoknya.


Wanita itu berusaha tenang, karena ia tahu orang seperti apa yang sedang dihadapan nya ini.


"..."


"Kau harus tau, ada yang bilang saat para anak-anak itu baru saja lahir, mereka itu harus siap memilih, menjadi pembunuh atau korban yang terbunuh, dan kau tentu tau apa pilihanku"


"Hmm... Aku pernah membunuh seorang Detektif, dengan cara membuat rem mobilnya blong, aku juga membunuh banyak wanita sepertimu, yang mencoba mengambil sesuatu yang harusnya menjadi milikku, oh aku lupa, aku juga pernah menghabisi seorang mahasiswa pria,..." ujar Lisa panjang lebar sembari mengingat-ingat.


"..."


"Sepertinya hanya itu, jadi berapa ya 1..2..." gumam nya lagi sambil berhitung menggunakan jari-jarinya.


Dia benar-benar sakit jiwa, batin Lily.


Elisa masih sibuk mengingat-ingat kelakuannya dimasa lalu, kakinya melangkah pelan kesana kemari layaknya orang gila, Lily hanya menatapnya, mencari celah agar ia bisa terbebas dan kabur dari Elisa, terlihat Elisa berjalan menjauh sambil bergumam sendiri, dengan keberanian yang diselingi dendamnya, Lily beranjak pelan, mengendap-endap mengambil kursi kayu yang tadi diduduki oleh Elisa dan melayangkannya sekuat tenaga kearah Lisa.


BRUAAAKKKK...


Elisa pun terjatuh kelantai, tanpa menunggu, Lily segera berlari, menaiki anak tangga dan mencari jalan keluar dari rumah itu, namun kejadian yang sama seperti Daniel pun kembali terjadi, pintu rumah itu jelas terkunci semua nya.

__ADS_1


Sambil menangis, dengan segenap tenaga nya ia mencoba membuka pintu itu dengan cara mencongkel dan merusak gagang pintunya, namun upaya nya tak maksimal lantaran tubuhnya yang panik dan gemetar.


"Kumohon terbuka" gumam nya sembari terisak.


SET...BRAKK...


Lily melebarkan matanya ketika menatap pisau dapur yang tajam itu menancap di pintu 3cm dari mata nya, ia menelan saliva nya, mungkinkah pisau ini meleset pikirnya, karena bila tidak, itu mungkin sudah menembus otak atau mata nya.


Ia menolehkan wajahnya, netra hitam yang menatap tajam sedang menuju kearahnya dengan cepat, itu tatapan membunuh, bukan lagi tatapan kekesalan, pikir Lily.


Tanpa berpikir, Lily segera mencambut pisau dapur yang menancap itu dan mengacungkan nya kearah Elisa.


"Jangan mendekat" ujarnya sambil menangis.


Itu berhasil membuat Elisa menghentikan langkah nya, wanita itu memiringkan kepala nya lalu menyeringai.


"Apa yang akan kau lakukan dengan pisau itu Lily?"


"Aku akan benar-benar menusukmu jika kau berani mendekat" ujar Lily dengan suara terbata.


"..."


Elisa bungkam, hanya memandang datar Lily yang gemetar sembari mengacungkan pisau kearahnya, sesaat kemudian ia pun terkekeh, membuat ruangan itu penuh dengan gelak tawanya, membuat Lily kebingungan dan menambah suasana disana menjadi lebih mengerikan.


"Pft, HAHAHAHAHAA...KEKEKE, HAHAHAHAAA"


"..."


"Baiklah, baiklah sudahilah leluconmu, sekarang kembalikan pisau itu"


"..."


Lily tak menjawabnya, tapi juga tak bergeming karena nya, ia tetap bersikukuh pada pilihan nya dengan membiarkan dirinya mengambil alih pisau itu dan mengacungkan nya kehadapan Elisa, berharap nyali Elisa sedikit menciut dan menjauh darinya.


Sungguh pikiran yang polos, Elisa tidak sepengecut itu, alih-alih menjauh seperti yang di ekspetasikan Lily, dengan gilanya Elisa malah lebih mendekat kearahnya.


Hal itu malah membuat nyali Lily lah yang menciut, Elisa melangkahkan kakinya perlahan mendekat kearah Lily sembari menyeringai menatap wajahnya.


Kondisi yang mendesaknya itu mengharuskan ia melayangkan pisau itu kearah Lisa, sambil memejamkan mata nya yang masih bercucuran air mata, Lily menggerakan tangan nya kekanan dan kekiri.


TAP...

__ADS_1


"Huh?"


"Kena kau" ujar Lisa melebarkan senyuman nya.


__ADS_2