
Hari ini Eleeya hanya berada di kamarnya,sebisa mungkin ia menghindari membuat kesalahan yang dapat memicu kemarahan Yohan, dia juga berusaha berekspresi sesuai yang Yohan mau.
Malam itu Eleeya masih terjaga, dia berbaring sambil menghadap langit-langit kamar itu.
Udara malam itu sangat dingin, tetapi Eleeya berkeringat sangat banyak.
Mata nya melirik kearah kanan nya, terlihat Yohan sedang tertidur pulas.
Eleeya mengangkat tubuhnya perlahan lalu duduk sambil menatapi Yohan.
Keringat masih mengucur di tubuh nya,entah apa yang ada di pikiran gadis itu.
Apa dia benar-benar sudah terlelap?batin Eleeya.
Eleeya kemudian melirik kesebelah nya,tepat nya ke arah laci nakas yang berada di samping nya.
Baiklah,aku harus tenang.
Pisau nya ada di laci itu,aku bisa mengambil nya pelan-pelan,dan secepat kilat langsung menusuk nya, setelah itu aku harus segera pergi dari sini.
Eleeya meracau sendiri di dalam pikiran nya, mata nya belum teralihkan dan masih menatap kearah Yohan yang sedang terlelap.
Gadis itu menelan saliva nya berulang kali saking gugup nya.
Aku pasti bisa melakukan itu kan?
Tapi,bagaimana kalau dia tau rencanaku?
Kakiku..Ah tidak,mungkin dia akan memutilasiku hidup-hidup, gumam Eleeya.
Eleeya merengkuh,memeluk tubuhnya yang gemetar.
Baru dengan memikirkan nya saja,jantungku sudah berdegup sangat kencang,mengerikan.
Lalu Eleeya kembali berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut.
Dia masih gemetar di balik selimut itu.
Aku takut,aku takut.
Bagaimana kalau dia tahu niatku, aku bukan hanya ingin kabur dari sini,bahkan aku juga berniat menghabisi nyawa nya,gumam Eleeya ketakutan.
Kalau aku terlalu takut untuk kabur,apa yang harus aku lakukan disini,Yohan itu sama seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak,dan sekarang pun sejujur nya aku masih belum ingin mati,lantas apakah aku harus mendedikasikan seluruh hidupku untuk Yohan?Pikir gadis itu.
Eleeya sudah seperti orang gila yang bergetar tak henti dan berkeringat di kala udara yang semakin dingin.
Pada akhirnya ia mengurungkan niat nya untuk menusuk Yohan dengan pisau yang sudah ia siapkan sendiri dan memilih untuk tidur saja.
Keesokan harinya, semua nya berlalu seperti biasa,Yohan menyuruh Eleeya untuk membuatkan nya sarapan.
Eleeya berdiri di dapur dengan tatapan nya yang kosong, mengiris bumbu-bumbu untuk menyiapkan sarapan pria itu.
Rasa nya ini seperti kembali keawal.
"Hah"
Eleeya menghela nafasnya,dia pun membuka lemari di atas nya untuk mencari bumbu yang lain,namun tatapan nya terhenti ketika ia menemukan bahan makanan tambahan yang sudah kadaluarsa.
Untuk beberapa detik ia sempat berpikiran yang tidak-tidak dengan itu, namun pada akhirnya ia mengembalikan bahan makanan itu ketempat nya semula.
Eleeya kembali menyiapkan sarapan, lalu ia pun menoleh ke belakang nya, dilihatnya tak ada siapa-siapa,Yohan sedang keluar untuk membeli sesuatu.
Terlihat Eleeya tersenyum, lalu ia kembali membuka lemari itu dan mengambil bahan makanan kadaluarsa tadi.
Tanpa pikir panjang ia mencampurkan nya dengan makanan yang akan ia sajikan untuk Yohan.
Ini tidak akan bisa langsung membunuhnya,tapi kalau ini berhasil,aku akan rutin memberinya ini,lalu perlahan ia akan melemas dan pada akhirnya mati.
Bukankah ini bagus,gumam Eleeya.
Eleeya telah siap menyajikan sarapan mereka dengan piring yang berbeda,tentu makanan kadaluarsa itu hanya ada di piring Yohan,begitu Yohan kembali dan melihat sarapan nya, dia agak terkejut saat itu.
"Woah,kau sudah selesai,kebetulan aku memang sudah lapar"ujar Yohan menarik kursi dan duduk disana.
Eleeya hanya tersenyum kikuk sambil duduk di hadapan Yohan.
Eleeya terlihat sangat gelisah,yang dia pikirkan adalah supaya Yohan cepat-cepat menghabiskan makanan nya.
"Kenapa punyaku daging nya lebih banyak?" tanya Yohan ketika melihat isi dari piring nya.
__ADS_1
"I-tu memang aku sengaja menaruhnya,kupikir kau akan senang karena itu terlihat spesial"dalih Eleeya.
"..."
Yohan hanya memiringkan kepala nya sedikit lalu tersenyum,dia mengambil sendok,menyendok makanan nya dan menggerakan tangan nya menuju mulutnya, dan seiringan itu Eleeya sangat tegang dan gugup,jantung nya berdetak kuat menunggu Yohan memakan makanan itu.
Dia memakan nya,dia memakan nya,racau Eleeya dalam hati.
Namun kesenangan Eleeya terhenti ketika Yohan menghentikan tangan nya,bahkan sendok dengan penuh makanan itu belum sama sekali menyentuh mulutnya.
Melihat itu Eleeya lantas menjadi bingung dengan apa yang terjadi pada nya.
"Aku merasa itu tidak adil,disini kau lah yang harus makan lebih banyak"ujar Yohan sambil menukar piring nya dengan piring Eleeya.
Eleeya hanya terdiam membatu ketika makanan yang berbahaya itu berada tepat di depan nya, sungguh ini menjadi bumerang baginya.
"..."
"Ayo makan"ujar Yohan sambil tersenyum.
Ah sial,gumam Eleeya dalam hati.
Apa dia sudah tau?,ekspresi wajahnya mengatakan hal itu,gumam Eleeya.
Eleeya pun mengambil sendok dan menatap makanan nya.
GLEKK,dia menelan saliva nya.
Kalau aku tak memakan ini,apakah dia akan memaafkanku kalau aku memberi tahu yang sesungguhnya?
Tapi, orang yang kuhadapi ini sangat berbahaya.
Eleeya menyendokan makanan itu kemulutnya lalu mengunyah nya.
Yohan sedari tadi belum memakan apa-apa,dia hanya menatap Eleeya dengan senyum yang menyungging di bibirnya.
Makanan itu akhirnya masuk kedalam perutku,rasanya aku ingin segera memuntahkan nya,pikir Eleeya.
Setelah melihat Eleeya menelan habis makanan itu,barulah Yohan menyendok makanan nya dan memakan nya.
"Woah,ini enak"ujarnya.
Setelah selesai sarapan,Yohan pergi lagi entah kemana,dia hanya bilang kalau dia harus membeli sesuatu lagi.
Eleeya mencuci perabot makan yang habis mereka gunakan untuk makan,setelah dirasa Yohan benar-benar sudah pergi, Eleeya berusaha memuntahkan makanan yang berada dalam perutnya itu.
Sial,tidak mau keluar.
Dia tetap berusaha mengeluarkan nya hingga akhirnya ia merasa pusing dan akhirnya jatuh pingsan.
30 menit sudah Eleeya terkapar di lantai, hingga Yohan pulang dan melihat Eleeya.
"Hah" ujar nya menghela nafasnya.
Yohan pun menggendong Eleeya dan meletakan nya di kamar,dia juga meletakan sebuah ember di samping Eleeya dan menyiapkan minuman untuk gadis itu.
"..."
Yohan menatap Eleeya dengan tatapan nya seperti biasa,datar dan tanpa ekspresi lalu ia pun mendekatkan sesuatu ke hidung Eleeya,dan beberapa detik kemudian Eleeya sadar dari pingsan nya.
"Aduh kepalaku"
"Kau sudah sadar?"
Eleeya tersentak dengan keberadaan Yohan di sana,apalagi dia sedang mengaduk-aduk minuman yang seperti nya akan di berikan nya pada Eleeya.
"Ini air asam,ini akan membuatmu muntah,jika kau ingin muntah,muntah lah disana"ujar Yohan menunjuk ember disamping Eleeya.
"..."
Setelah melakukan itu Yohan pun keluar dari kamar dan meninggalkan Eleeya sendiri.
Dia tidak marah padaku?Bahkan setelah tau aku ingin meracuninya?Pikir Eleeya.
Alih-alih memikirkan itu,Eleeya langsung meminum air itu dan selang beberapa menit,ia pun muntah di ember yang telah disiapkan Yohan.
Tubuh nya mulai membaik sesaat setelah ia memuntahkan isi perutnya,lalu ia pun berbaring dan memikirkan akan kegagalan dirinya.
Seharusnya aku tak melakukan hal gila itu,apa yang kupikirkan?gumam Eleeya sambil memegangi dahinya.Eleeya terus menerus berkutat dalam pikiran nya,lalu ia pun dikejutkan dengan suara Yohan yang memanggil nya.
__ADS_1
"El,boleh aku masuk" ucap Yohan dari luar pintu.
Eleeya terperanjat,ada apa dengan nya?Selama ini ia seakan tak perduli dengan privasiku,pikir Eleeya.
"I-ya,silahkan"jawab Eleeya.
Yohan masuk dan melirik kesamping Eleeya,dilihatnya ember itu sudah berisi.
Dia pun mengambil ember itu dan membawa nya keluar.
"Ah t-tunggu" ucap Eleeya
Namun Yohan tetap saja membawa keluar ember itu,padahal Eleeya bisa membawa ember itu dan membersihkan nya,kenapa harus dia,itu memalukan.
Eleeya menundukan wajahnya dengan rona merah yang tak karuan,hingga akhirnya Yohan telah kembali dan duduk di samping Eleeya.
"Kau sudah baikan?"tanya Yohan.
"Seharusnya kau tak perlu membersihkan ember itu,itu memalukan"ujar Eleeya yang masih menundukan pandangan nya.
"Tidak apa-apa,lagipula kau sedang sakit"balas Yohan sambil mengusap-usap kepala Eleeya.
Gadis itu tetap menunduk menyembunyikan wajah nya yang memerah.
"..."
Eleeya lalu mendongakan wajahnya dan menatap Yohan.
"Ada apa?Ada yang ingin kau katakan?"
"..."
"Katakanlah"
"A-aku ingin terus bersamamu,selama ini aku kesepian dan kau datang mengobati rasa kesepianku ini"
"..."
Yohan mengedipkan mata nya berkali-kali mendengar pengakuan Eleeya.
"Pfft,kupikir kau akan berbicara apa"ujar Yohan sambil tertawa.
"..."
"Dengar,kau dan aku sama-sama anak yatim piatu,aku tinggal disini sendirian,tapi aku tak pernah merasa kesepian,aku masih merasakan ibuku ada bersamaku,dan terkadang aku juga menjadi takut ketika tahu bahwa ayahku juga ada disini"ujar Yohan panjang lebar.
"..."
"Kau bilang kesepian ya,kau ini naif sekali"
Eleeya tersentak ketika penekanan kata yang digunakan Yohan saat itu.
"Kau terlalu takut untuk mati,tapi kau selalu saja mengeluh"
"Ah i-itu"
"Berhentilah berbicara omong kosong seperti itu,mengerti"
"I-iya"
"Hah,pada akhirnya entah bagaimana itu menjadi lebih baik"ujar Yohan mendongakan kepala nya sambil terpejam.
"Lebih baik?"
"Dulu ayahku pernah berkata padaku bahwa aku akan hidup dan mati dengan cara yang mengerikan,aku sangat takut pada saat itu,hingga akhirnya aku bertemu denganmu"
"..."
Eleeya hanya mendengarkan Yohan yang sedang bercerita pada nya,seorang Yohan yang sangat tak bisa di terka kini menceritakan sepenggal perasaan nya pada Eleeya.
"Semua nya jadi lebih baik saat itu,dan aku juga teringat bahwa pada akhirnya yang hidup dan mati dengan cara mengerikan itu adalah dia sendiri,aku jadi tidak takut lagi, perasaanku jadi lega saat kau bersamaku, bahkan aku dicintai,itu menambah semangatku" ucap Yohan panjang lebar.
"Y-yohan"
Yohan menatap Eleeya,seringaian nakal nya seketika muncul.
Ia lalu mendekatkan wajahnya ke Eleeya,bersiap untuk mencumbu gadis itu.
Namun,semua nya terhenti ketika terdengar suara bel dari pintu depan.
__ADS_1