
ELISA'S POV :
Cahaya menyilaukan mataku saat setiap kali poseku diambil, ini melelahkan, namun aku menyukai pekerjaanku.
Aku akan berterimakasih pada Ayahku yang menurunkan paras indah nya padaku, andai saja dia masih hidup hingga sekarang.
Hah, akhirnya selesai.
Aku melihat Daniel tengah tersenyum kearahku, pria itu memang lah idamanku, bagaimana tidak, sejak malam itu dia sudah berhasil merebut perhatianku, aku jadi tak bisa berhenti untuk memikirkan nya, walau kami baru dekat dalam waktu satu minggu ini, tapi aku merasa dia sudah membuatku tergila-gila, bahkan aku terpaksa bekerja sama dengan perusahaan nya yang biasa saja itu agar aku lebih sering bertemu dengan nya.
Aku melangkahkan kakiku untuk mendekatinya, terlihat dia tersenyum, dan aku sangat menyukai senyuman nya itu.
"Hei, mau makan siang bersama?" ajaknya.
Aku pun tersenyum dan menjawab "Tentu", aku bahkan tak mengunjungi Zay beberapa hari ini karena terus saja menghabiskan waktu bersama dengan Daniel.
Walaupun begitu, Zay lah yang selalu menemuiku sebagai gantinya, ya itu karena sedari kecil kami terbiasa bersama, bahkan bila aku sakit, Zay pun merasakan nya.
Walau sekarang kami berpisah karena aku memilih tinggal di Apartemen ku tapi kebiasaan itu tak bisa hilang, maka nya setiap hari aku mengunjungi nya, walau pun menyebalkan tapi tak dipungkiri bahwa aku tak bisa hidup tanpa nya.
Hari ini pun Daniel mengajakku makan siang bersama di kafe biasa yang sering kami kunjungi, setiap harinya ia semakin membuat aku tergila-gila pada nya, sikapnya bahkan permainan ranjangnya.
Ah, aku hampir terkikik ketika memikirkan itu.
Aku melihat Daniel yang sibuk memainkan ponsel nya, aku tak menyukai hal itu.
"Daniel, apa ponselmu lebih menarik daripada aku yang berada di hadapanmu?"
Aku lihat dia tertegun, dia menatapku dengan tatapan tak enak hati dan tersenyum canggung, aku hanya membalas nya dengan sebuah senyuman kecil.
"Ma-mana mungkin Elisa, aku hanya mengecek pekerjaanku saja" ujarnya kikuk.
"..."
Dia tidak berpikir bahwa aku ini idiot bukan, dengan sangat cepat ia merusak suasana hatiku.
"Daniel, kau disini?"
Suara wanita yang menyapa Daniel saat itu menambah rusaknya suasana hatiku, aku mendongakan kepalaku dan menatap wanita itu dengan tatapanku yang datar, kulihat ia juga melirikku tajam dan memberikan senyum sinis nya.
Ya ampun, itu tidak lah menakutkan, itu bahkan terlihat menjijikan bagiku.
"Oh Nora, kau juga kesini untuk makan siang?" tukas Daniel.
"Iya, kenapa kau tak mengajakku makan siang bersama juga, hah kau ini, karena sudah ada yang baru, kau jadi melupakanku ya" ujarnya sambil melirik kearahku.
"..."
Hah, wanita ini mau bermain-main denganku, ya.
Aku tahu, Daniel juga melihatku, dia hanya memberikan senyum canggung nya kepada si wanita sial ini.
Dengan santai aku mengambil kopiku dan menyeruputnya, aku tak akan menimpali perkataan wanita yang tak penting ini, sebuah senyuman dariku itu mungkin sudah cukup untuk membuatnya kesal.
Tak lama setelah basa-basi, wanita itu pun melenggang pergi.
"Dia memang suka bercanda" ujar Daniel sambil memegang tanganku.
Dia benar-benar menganggap aku sebagai orang idiot ternyata.
Jelas wanita itu tertarik pada pria ku, dan itu membuat aku kesal.
"Ya, aku tahu itu" jawabku, seketika raut wajah Daniel menjadi lega.
*
__ADS_1
Malam ini begitu sunyi, bahkan suara angin pun berdengung ditelingaku, seharusnya aku sudah berbaring di ranjangku yang empuk dan membaluti tubuhku dengan selimut yang hangat.
Namun, aku malah disini, di sudut jalan yang gelap dan sepi, aneh nya aku lebih bersemangat melakukan ini ketimbang harus berbaring diranjangku.
Aku melihat kesekelilingku, hanya ada beberapa orang yang lalu lalang dan kemudian sunyi kembali, untung nya tidak ada anjing disini, aku sungguh membenci mereka, entah kenapa mereka itu terlalu berisik, mereka selalu saja mengonggong ketika melihatku dan Zay, apa yang salah pada mereka sebenarnya.
"Oh itu dia" gumamku pelan.
Mataku menangkap seorang wanita tengah berjalan gontai sendirian.
Aku menatap nya datar, bagaimana seorang wanita seperti dia ingin merebut Daniel dariku, bahkan dia mencoba bermain-main denganku.
"Aku akan tunjukkan permainan yang bagus untuknya" gumamku.
Aku menyeringai ketika berpikir bahwa ini akan terasa menyenangkan, aku mengendarai mobilku pelan dan berhenti tepat di hadapan nya.
"Hei, kau Nora yang tadi bukan?"
"..."
Terlihat dia hanya memandangku heran, apa dia lupa? Yang benar saja.
"Ini aku, yang tadi bersama Daniel"
Dia langsung ingat begitu aku mengucapkan nama Daniel, woah benar-benar menyebalkan.
"Oh ya, ya aku ingat, sedang apa kau disini malam-malam begini"
"Ah, aku sepertinya tersesat, aku ingin ke motel X tapi aku malah kejalan ini, ponselku mati, jadi aku tak bisa membuka maps"
"Oh motel X, itu tak jauh dari sini, kau tinggal belok di ja..."
"Nora, bisakah kau ikut denganku menunjukan jalan nya, sebagai gantinya aku akan mengantarmu pulang" ujarku dengan wajahku yang polos.
"..."
"Kau mau kan?" tanyaku memastikan.
"Baiklah" jawabnya menganggukan kepala nya.
Aku tersenyum, sebagai tanda terimakasihku, aku pun turun dan membukakan pintu untuk nya, dan satu yang tak dia ketahui, aku menyembunyikan sebuah palu di belakangku, kulihat dia tersenyum ketika aku membukakan pintu untuk nya, tanpa rasa curiga, wanita ****** ini masuk kedalam mobilku.
Aku tak bisa menahan nya lagi, dengan sekuat tenaga ku aku mendaratkan palu itu tepat di pundaknya.
Kulihat dengan tatapan datarku, ia tak lagi bergerak, kuharap ia belum mati, karena aku akan sangat kecewa.
Seketika aku mengembangkan senyum di wajahku ketika tau dia hanya pingsan, segera aku memacu mobilku, dan berhenti di sebuah rumah sederhana yang berada di sudut kota, ya ini adalah tempat aku dan Zay di besarkan, Ibu memilih rumah ini karena jauh dari pemukiman orang-orang, ini daerah yang sepi, kau baru akan menemui beberapa tetangga bila berjalan agak jauh kedepan.
Aku membawa Nora yang pingsan itu masuk kedalam, tercium aroma yang sangat aku rindukan, aku terbayang saat-saat dulu ketika Ibu masih bersama kami.
Hah, aku rindu Ibuku.
Rumah yang didesain sama persis dengan rumah Ayahku, bahkan terdapat ruang bawah tanah di rumah ini.
Ibuku bilang, Ayah yang memintanya melakukan itu agar kami tidak pergi lagi kerumah nya yang dulu, Ibu juga bilang Ayah menyukai rumah ini.
Ya, aku dan Zay sebenarnya juga sangat menyukainya.
Aku meletakan Nora di ruang bawah tanah, mengikat kaki dan tangannya lalu menyumpal mulutnya dengan kain dari pakaian nya yang ku sobek.
Kembali aku menatap nya, aku duduk di atas kursi yang terletak di hadapan nya, menyalakan rokok lalu menghisap nya sembari menunggu ia sadar, karena aku ini tipe wanita yang tidak ingin melawan musuh yang sedang tak sadarkan diri.
TIK..TOK..TIK...TOK...
Nora akhirnya bergerak, kulihat ia mengedipkan kedua mata nya.
__ADS_1
Aku sudah menghabiskan lima batang rokok hingga akhirnya ia sadar.
"Akhirnya kau sadar juga"
Aku menatap wajahnya yang ketakutan itu dengan datar, dia terlihat gemetar, berusaha mengatakan sesuatu walaupun aku tak mengerti apa yang diucapkan nya, air mata nya memenuhi seluruh pipi nya.
"PFT,HAHAHAA"
Tawaku menggelegar di ruangan itu, terlihat Nora terdiam mendengar tawaku, tapi pupilnya masih bergetar.
Ya ampun, aku sungguh menyukai pemandangan seperti ini, sesaat setelah itu aku menghentikan tawaku dan kembali menatap nya dengan datar.
Aku sedang berpikir, apa yang sebaiknya aku lakukan pada wanita ****** ini.
Haruskah aku mencekiknya seperti yang kulakukan pada Istri mantanku dulu, Hah ada banyak sekali pilihan, aku jadi bingung sendiri.
Aku beranjak dari kursiku dan perlahan mendekat kearahnya.
Ah, dia menangis lagi, kali ini getaran tubuhnya semakin hebat.
Aku membuka sumpalan di mulutnya, aku yakin dia akan berisik setelah ini.
"Apa yang kau lakukan padaku, apa salahku?" ujarnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Selalu pertanyaan yang sama, apa yang kau lakukan, apa salahku, bla bla bla"
"Hiks,hiks, lepaskan aku, kumohon lepaskan"
"..."
"TOLOOOONGG...TOLOONGGG"
Hah, aku sudah menyangka dia akan berisik, aku memegang dahiku, ternyata bermain dengan nya sangat tidak menyenangkan, lalu untuk apa dia memulainya tadi siang.
"Hei,hei sudah diamlah, kau ini berisik sekali"
"SIAPA SAJA, TOLONG AKUU, TOLONGG"
"..."
Dia tidak mau diam, masih saja minta tolong, mau sampai suara nya habis pun tak akan ada orang yang datang kesini.
"Oh aku tahu, aku akan membantumu"
"TOLONGG...TOLONGG DIA, DIA MINTA DISELAMATKAN" teriakku.
"...Huh?"
"Kenapa kau berhenti, kau harus berteriak lebih keras"
"KYAAAAAAAAAA....."
BRAAKKKK
Ah, kursinya jadi patah, aku jadi mudah emosi sekarang, aku jadi melemparkan kursi itu kearah nya.
Dadaku jadi sesak sekarang, aku harus segera menghabisi nya agar rasa mejengkelkan ini hilang.
Aku mengambil beberapa botol alkohol didalam mobilku, menuangkan semua isinya kedalam mulut wanita sial ini dengan paksa dan tanpa sisa.
Kulihat wajahnya sudah memerah, segera aku menjambak rambutnya dan menyeretnya ke bathup yang sudah kuisi penuh dengan air, sambil menyeringai aku menenggelamkan kepala nya kedalam bathup, ia meronta-ronta beberapa kali, hingga akhirnya ia mengejang dan tak bergerak lagi.
"Hah"
Aku menghela nafas panjang.
__ADS_1
Lalu kutatap kembali wanita yang sudah tak bernyawa dengan kepala masih didalam bathup.
"Bagaimana jadinya kalau Zay tau hal ini,haha" ujarku sambil terkekeh.