Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 64 : Pertemuan (Part II)


__ADS_3

Suasana ricuh dan suara bincang-bincang yang terdengar jelas menggema di aula Ball room hotel malam itu, tepatnya ditempat diselenggarakan acara pertemuan yang akan dihadiri oleh Elisa, malam itu Elisa sangat menawan dibalut dengan dress hitamnya yang membuat ia terlihat cantik dan mempesona, bahkan membuatnya menjadi pusat perhatian.


Elisa menyunggingkan senyumnya ketika mengetahui hampir semua tamu laki-laki disana sedang menatapnya, ia pun melirik kearah sekumpulan wanita yang mungkin sedang bergosip tentang dirinya, itu terlihat sangat jelas karena sedari tadi mereka tengah berbisik-bisik sambil menatap Elisa dengan tajam.


Mereka hanyalah sekumpulan wanita bodoh yang menyedihkan, mereka tak akan pernah bisa menjadi model yang penuh talenta macam Elisa, setidaknya itulah yang sedang Elisa pikirkan mengenai mereka.


Elisa meneguk sampanye yang sedang dipegangnya, lalu netra hitamnya terhenti pada seorang pemuda tampan yang tak sengaja juga menatap dirinya. Elisa tertegun ketika pria itu tersenyum padanya, tanpa pikir panjang Elisa pun segera memberikan senyum terbaiknya pada pria itu.


*


Shaaa...


Bunyi desiran air memecah keheningan di dalam kamar mandi itu, air deras yang mengucur dari atas terus mengguyur tubuh atletis pria yang sedang mandi tersebut, sorot matanya datar, ia seakan menikmati setiap air hangat yang menyentuh seluruh tubuhnya, ia kembali teringat pertemuan keduanya bersama wanita cantik berambut pirang itu, di kafe yang sama di tempat mereka pertama kali bertemu, namun kali ini bukan karena ketidaksengajaan, namun karena telah direncanakan.


Pada akhirnya ia akan bertemu dengan wanita itu setiap harinya, karena terhitung tadi siang sejak pertemuan nya dengan wanita itu, wanita itu telah resmi menjadi sekretaris di kantornya.


"Ah aku jadi penasaran bagaimana reaksi Lisa setelah mengetahui hal ini" gumam Zay ditengah guyuran deras air yang sedang membasahi tubuhnya.


*


Elisa berjalan kearah sudut, dimana dia akan terhindar dari segala macam tatapan orang-orang disana, namun ia teringat akan perkataan Wim dan Zay, bahwa akan ada banyak perusahaan besar yang akan mengajaknya bekerja sama untuk menjadi ambasador bagi brand ternama mereka, dan perkataan mereka terbukti benar malam ini.


"Itu sedikit membuatku kelelahan" gumam Elisa.


Alunan musik yang menggema disana sejujurnya membuat Elisa megantuk, bagaimana tidak? Musik seperti ini jelas bukan musiknya, ia jadi rindu dentuman musik yang sering ia dengar di club malam bersama dengan saudara dan teman nya itu.


"Hah"


Elisa menghela nafasnya, ia terlihat cemas, seakan sedang menunggu sesuatu, hingga langkah kaki seseorang yang mendekat kearahnya pun membuatnya sedikit terkejut.


"Selamat malam" ujar orang tersebut.


Elisa menoleh keasal suara yang menyapanya, untuk beberapa saat ia terkesiap ketika mengetahui bahwa orang yang menyapa nya barusan adalah seorang pria tampan yang sedang ditunggu-tunggu olehnya, Elisa pun menyunggingkan senyum nya dan membuat pria itu terlihat kikuk karena nya.


"Ya, selamat malam" jawab Elisa.


"Apa kau tak menikmati pestanya?" ujar pria itu


"Apa terlihat seperti itu?" jawab Elisa sambil terkekeh.


"Ah, apakah aku salah paham?"


"Tidak, tidak, aku memang tak terlalu menikmati ini"

__ADS_1


"Ya, sejujurnya aku pun sama"


"Benarkah?"


Pria tampan itu pun menganggukan kepalanya, lalu ia pun mengulurkan tangannya kearah Elisa.


"Daniel"


Elisa pun tersenyum dan menyambut uluran tangan dari pria itu, netra hitamnya tak dapat mengalihkan pandangan dari sang pria yang sedang mencoba berkenalan dengan nya itu.


"Elisa"


"Nama yang sangat cantik, persis orangnya"


"Pft, apa kau mencoba menggodaku?"


Pria yang bernama Daniel itu pun tersenyum, ya semua pria juga akan mengatakan hal yang sama ketika berhadapan dengan wanita cantik dan seksi seperti Elisa, seperti halnya Daniel, malam itu mereka berbincang-bincang dan tertawa bersama, terlihat mereka tak bisa menahan rasa ketertarikan pada diri mereka masing-masing.


TRINGG


Mereka menyatukan gelas mereka masing-masing dan meneguk sampanye nya sampai habis.


Sepertinya pesta itu akan selesai sebentar lagi, hari juga sudah mulai larut.


"Ya, tapi mungkin kita akan sering bertemu setelah ini" ujar Elisa sambil tersenyum.


"..."


"Maksudku, aku akan bergabung di perusahaanmu, aku menerima tawaran untuk menjadi ambasador brand di perusahaanmu" ujar Elisa lagi.


"Oh, itu sangat bagus, sebagai *photographe*r nya, aku akan menunggu saat dimana dapat memotret wanita cantik sepertimu"


Elisa tersenyum simpul namun itu menandakan artian tertentu, dari sorot mata nya yang tajam itu, terlihat jelas bahwa dia sungguh menginginkan pria yang berada di hadapan nya itu.


*


Tepat setelah Daniel memasuki mobil nya, ia dikejutkan akan Elisa yang tiba-tiba berada disudut jalan, berdiri sendirian dengan mantel tebal yang menyelimuti tubuhnya.


Itu malam yang dingin, sebagai seorang pria yang menurutnya baik, Daniel dengan bersemangat segera menghampiri Elisa dan bahkan menawarinya sebuah tumpangan.


Dengan senyum manisnya, Elisa pun menganggukan kepala nya dan segera menerima tawaran dari Daniel.


Di sepanjang perjalanan, Elisa tak dapat menghentikan pikiran nakalnya terhadap pria yang berada di sampingnya itu, ia terus saja memancing Daniel, dimulai dari sebuah sentuhan dengan alibi tak sengaja hingga tatapan nakal dan menggoda yang ia berikan pada Daniel, membuat pria yang memang sedari tadi telah terpesona dengan Elisa pun tak dapat menahan diri.

__ADS_1


Daniel memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang sepi itu, udara dingin yang bahkan menembus kulit mereka masing-masing pun membuat kedekatan mereka semakin intens, Daniel mendekat dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Elisa.


Ciuman yang lembut dan berubah menjadi panas ketika Elisa dengan agresifnya membalas ciuman itu, deru nafas mereka pun terdengar dan menambah gairah kedua nya.


"Kau tahu aku takkan cukup hanya dengan ciuman bukan,Elisa?" bisik Daniel.


"..."


Elisa menatap dalam pupil cokelat dari pria itu, kemudian ia pun tersenyum, kali ini senyuman nya menandakan bahwa ia puas akan suatu hal, ia pun menarik tekuk leher Daniel agar lebih dekat kearahnya.


"Lakukan saja sesukamu" ujar Elisa dengan nada mendesah, membuat Daniel mendelik dan tersenyum setelah nya.


Daniel memacu mobil nya dengan cepat menuju hotel, yang ada di kepalanya sekarang adalah ia ingin segera memadamkam api yang menyala tepat di bawahnya.


Elisa hanya melihatnya dengan tatapan datar sambil menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya.


Suasana hening dan hanya terdengar ******* dari mereka berdua, serta lampu yang remang-remang di kamar hotel itu menambah gairah sensual bagi Daniel dan Elisa.


Bahkan berkali-kali ponsel yang berada di saku celana Daniel itu bergetar, namun diabaikan oleh sang empunya yang hampir mencapai puncak kenikmatan nya itu.


"Hosh,hosh,hosh"


Daniel berbaring di samping Elisa sambil mengatur nafasnya.


Bahkan di cuaca yang cukup dingin ditambah udara dari AC itu pun masih membuat pria itu mengeluarkan keringatnya.


Elisa membawa wajahnya keatas dada bidang pria itu, jarinya menyusuri bagian tengah Daniel hingga membuat Daniel memejamkan mata nya.


"Kau tak menjawab panggilan ponselmu?" tanya Elisa.


"Ah, itu panggilan yang tidak penting, biarkan saja"


"..."


"Apa itu pacarmu?"


"Tentu saja bukan" jawab Daniel terkekeh.


"..."


"Kau sungguh luar biasa, kau berhasil membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, Elisa"


Elisa terkekeh mendengar penuturan dari Daniel, lalu kembali ia menatap datar kearah depan seakan memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Hah, dia sungguh menarik, setidaknya ini akan menjadi awal yang bagus untukku dan untuknya, ya aku tidak akan melepaskanmu sekarang, batin Elisa seraya tersenyum setelah nya.


__ADS_2