Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Side Story (part bonus)~


__ADS_3

⚠️


ADA ADEGAN JUB JUB DAN ADEGAN KEKERASAN ⚠️🔞


Ini hanya side story ya gaes, ga termasuk dalam cerita aslinya. Happy reading :)


"Apa mereka sudah tidur?" tanya Yohan setengah berbisik.


"Iya," jawab Eleeya sembari menutup pintu kamar anak kembarnya, ia menolehkan pandangannya kearah Yohan dan mengerutkan dahinya heran. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyanya.


Netra hitam itu tak bergeming, ia menaikkan sudut bibirnya keatas membuat suatu seringaian pada Eleeya. Tanpa berkata apapun Yohan menarik lengan Eleeya dan menggendongnya. "Hei, apa-apaan ini?" ujar Eleeya tersentak kaget.


"Apalagi, kau harus memadamkan api yang membara dibawah sana," ujar Yohan tersenyum mesum.


"Kau mesum!" ujar Eleeya terkekeh.


Yohan melemparkan tubuh Eleeya diatas ranjang mereka, *****@* bibir wanita itu dengan penuh gairah. "Biar aku bukakan pakaianmu," ujar Eleeya dengan suara rendahnya.


"Bagian depannya saja," jawab Yohan sedikit mendesah.


"Tidak semuanya?"


"Tidak perlu, cukup kau saja."


Yohan melucuti satu persatu pakaian ditubuh Eleeya sembari mendaratkan sapuan lidahnya disana, Eleeya bergelinjang geli, mengerang nikmat saat lidah Yohan menjelajah setiap bagian tubuhnya yang telah polos sekarang. Wajah Yohan mulai memerah pertanda bahwa dia sangat bergairah malam itu, "Bersiaplah El, aku akan membuatmu tak bisa berjalan." ujarnya menyeringai.


"Apa!"


...****************...


Gadis kecil yang cantik, mempunyai rambut hitam panjang dan kulit putih menawan sedang mempersiapkan diri, ia berjalan menuju meja makan diikuti oleh saudara kembarnya yang juga terlihat tampan. Mereka mewarisi visual itu dari Ayahnya yang rupawan, bahkan mulai dari rambut hingga warna mata mereka pun sangat mirip dengan Ayahnya.


"Ayah mana Ibu?" tanya Elisa.


"Dia dikamar," jawab Yohan.


"Ibu tidak sarapan?"


"Ibumu masih tidur, sepertinya dia kelelahan."


Elisa dan Elzay hanya menganggukan kepalanya, mereka mengambil roti yang sudah diolesi selai oleh Ayah mereka, memakan roti itu hingga tak bersisa, lalu diakhiri dengan meneguk segelas susu kental yang sangat mereka sukai, ini adalah sarapan terbaik. Yohan hanya terkekeh ringan sembari mengunyah roti, mengingat aktifitas erotis yang membuatnya kehilangan akal sehat, mungkin Eleeya tidak bisa berangkat dari tempat tidur hingga siang nanti.


"Ayah, kami pergi dulu!" ujar Elisa melambaikan tangannya, disusul oleh Elzay yang juga melambaikan tangan.


"Ya, berhati-hatilah!" ucap Yohan membalas lambaian tangan kedua anak kembarnya itu. Terlihat mereka melenggang pergi dengan mengayuh sepeda mereka masing-masing, padahal Yohan dapat mengantar mereka dengan mobil jika mereka mau, sayangnya mereka lebih memilih pergi sendiri ketimbang diantar, ya Yohan tak terlalu memusingkan hal itu, keinginan mereka adalah hak yang mutlak, terserah apapun yang diinginkan oleh mereka berdua, selagi itu tak membuat Ayah dan Ibunya kerepotan.


Yohan memasuki kamar dengan segelas susu ditangannya, ia duduk disamping Eleeya yang tengah berbaring.


"El, apa pinggangmu masih sakit?" tanya Yohan.


"Hah, menurutmu?"


"Pft hahaha, maaf-maaf! Aku kebablasan haha," ujar Yohan sembari tertawa dengan keras.


"Kau tertawa?"


"Pft, jangan marah! Itu karena milikku terasa sangat hangat saat berada didalammu," bisik Yohan sembari mengecup perlahan leher jenjang Eleeya.

__ADS_1


Eleeya tersentak lalu sontak menjauhkan diri, dia tau bahwa pria ini akan semakin gila bila didiamkan saja. Yohan terkekeh pelan melihat tingkah laku istrinya itu, ia memberikan segelas susu yang telah dibawanya tadi dan Eleeya segera meneguknya dengan cepat.


"Kau tak bekerja?" tanya Eleeya.


"Aku mengambil cuti hari ini," jawabnya.


"Eh, kenapa?"


"Karena aku ingin berduaan bersama istriku," ujarnya sembari memeluk Eleeya erat. Wanita itu terkekeh pelan dan membalas pelukan Yohan yang tak kalah eratnya.


"Bagaimana tetangga disini?" tanya Yohan.


"Ah, tidak buruk. Tapi bibi yang berada tepat diseberang kita sepertinya tak terlalu menyukaiku, aku bahkan tak tau apa sebabnya."


"Benarkah? Haruskah aku membunuhnya? Bilang saja, aku akan melakukan apapun untukmu!"


"Y-Yohan, kenapa sedikit-sedikit membunuh. Itu tidak perlu, lagipula dia sudah agak tua, tidak ada gunanya membunuh wanita itu."


"Haha, baik-baik. Aku tidak akan membunuhnya!" jawab Yohan terkekeh.


...****************...


Ini adalah angin musim semi, kedua anak kembar yang masih duduk dibangku SMP itu mengayuh sepeda mereka, jalanan disini lumayan sepi disaat jam seperti ini, lagipula ini baru satu minggu sejak mereka pindah kedaerah ini. Sekelompok anak-anak berseragam SMA tengah berkumpul dipinggir gang itu, menutupi jalan seakan jalanan itu milik mereka sendiri. Mereka merokok bahkan meminum alkohol disiang bolong seperti ini, hal itu menganggu Elisa lantaran mereka tak bisa lewat hanya gara-gara anak-anak berandalan ini. Lisa turun dari sepedanya, berjalan mendekat dengan raut wajah datarnya.


"Bisakah kalian tidak ditengah jalan? Kami ingin lewat!" ujarnya tegas. Elzay hanya memperhatikan dari kejauhan bagaimana reaksi anak-anak itu, terutama seorang bocah sombong yang mungkin ketua dari kelompok itu. Anak laki-laki itu berjalan mendekat kearah Elisa, memasang wajah gahar berharap Elisa takut padanya. Namun, ia harus menelan kekecewaannya saat mengetahui Elisa tak bergeming sama sekali.


"Kau berbicara pada kami?" ujarnya dengan nada tinggi.


"Iya, siapa lagi?"


"..."


"Kau pindahan ya disini? Wajahmu cantik juga sih, bagaimana kalau kita berkencan?" ujar anak laki-laki itu menyeringai yang diikuti gelak tawa teman-temannya.


"Cuih, aku lebih baik tidur ditempat sampah daripada harus berkencan denganmu!" jawab Elisa dengan tatapannya yang datar. Hal itu mengundang emosi jiwa anak laki-laki itu, mukanya memerah dan memanas, bahkan seluruh anak disana tertegun dan merapat. Zay menghela nafasnya lalu mendekat kearah Lisa, atmosfernya terlihat tidak bagus saat itu.


"APA! Dasar si@lan, j@l@ng @*#*#*@*@*@*-" Anak laki-laki itu terus mengumpat dengan kata-kata kasarnya, ia mengangkat tangannya hendak memukul Elisa saat itu.


"Hentikan! Jangan coba-coba memukulnya!" teriak Zay.


"Hah, siapa lagi kau?"


"..."


"Haha, kau saudaranya ya? Kalian kembar ya?"


"..."


"Kenapa aku tak boleh memukulnya? Apa kau akan marah? Kalau begitu aku akan menciumnya, hahah."


"..."


"Dengar ya, adik si@lan mu ini sudah membuatku marah, dia tak akan kulepaskan, kalau kau menghalangiku maka kau juga akan aku habisi, jadi percuma kalau kau ingin melindunginya!"


"Aku berkata seperti itu untuk melindungimu, bukan melindungi Adikku,"


"Hah?"

__ADS_1


"Oi idiot, apa maksud perkataanmu itu. Hah dasar, dua-duanya membuat aku marah. Kau meremehkan aku ya? Kau tau aku adalah ketua kelompok ini, mereka akan sangat senang jika kusuruh untuk menghabisi kalian berdua."


"..."


"Kau takut sekarang? Mengadu lah pada Ayah atau Ibumu sana haha, kau harus tau bahkan Ayah dan Pamanku adalah preman terbesar di daerah ini, kalian tak akan bisa lari dariku," ujar anak itu sembari tertawa puas.


Zay dan Lisa saling memandang satu sama lain. "Haruskah aku menusuk perutnya?" bisik Lisa pada Zay.


Zay menggeleng, ia mendekatkan bibirnya ditelinga Lisa dan membisikkan sesuatu, lalu mereka kembali menatap anak laki-laki beserta teman-temannya itu.


"Jadi, siapa Ayahmu?" tanya Zay dengan raut wajah datar.


"Oi bocah, untuk apa kau bertanya mengenai Ayahku? Dia adalah orang yang paling ditakuti disini. Hah, ini mulai membuatku kesal, kemari kau bocah," ujar anak laki-laki itu melayangkan tinjunya ke pipi Zay.


Wah, itu pasti sakit. pikir Elisa.


Zay menolehkan pandangannya ke anak laki-laki itu, sorot matanya yang tajam bahkan membuat anak laki-laki itu menciut. Ia meludah saat darah mulai memasuki mulutnya. Ingin rasanya ia menghamtamkan batu besar ke kepala anak laki-laki itu, tapi ia berusaha menahannya.


"Ada apa? Kau marah? Mau menangis? Haha, begini saja, kalian pulanglah dan mengadu lah pada Ayah kalian. Haha lihat wajahnya, menyedihkan sekali." Anak itu tertawa terbahak-bahak, mereka menertawakan Lisa dan Zay yang berdiri mematung disana.


"Tunggu apalagi, pulang sana!" ujar anak itu masih dengan tawanya.


Tanpa berkata apapun lagi, Lisa dan Zay berbalik, mereka melenggang pergi dengan membawa sepeda mereka. Terdengar hingga kejauhan suara riuh tawa ledekan dari anak-anak itu, sejujurnya itu sangat menganggu.


"Harusnya kita menusuknya selagi bisa," ujar Lisa.


"Ya, kurasa aku ingin merobek perut dan mengeluarkan ginjalnya!" ujar Zay dingin.


"Itu menyeramkan!"


Mereka memarkirkan sepeda mereka di halaman depan, mengetuk pintu supaya Ibu mereka tau bahwa sekarang mereka telah pulang. Betapa terkejutnya Eleeya saat mendapati anak laki-lakinya mempunyai lebam di sudut bibirnya. Dengan perlahan Eleeya mengobati lebam itu, membersihkan bekas darah yang agak mengering disana, wajah panik Eleeya tak bisa diabaikan, bahkan Yohan hanya dapat menatap datar ketika Istrinya dilanda kepanikan. Dengan tenang ia menyeruput kopi hitamnya sembari menatap datar kedua anaknya.


...****************...


Langit kelabu yang mungkin akan hujan sebentar lagi, lebam di sudut bibirnya kini sudah sembuh. Zay sibuk membaca buku didalam kamarnya, sedangkan Lisa tengah heboh bermain game di layar laptopnya. Mereka tersentak saat Yohan tiba-tiba masuk dan memberikan mereka sebuah handphone.


"Apa ini?" tanya Zay.


"Lihat saja! Ada sesuatu yang menarik didalam sana," ujar Yohan duduk ditengah-tengah keduanya.


"Sesuatu yang menarik?"


"Iya, mari kita lihat sama-sama selagi Ibu kalian tidak ada."


Mata kedua bocah itu berbinar saat rekaman itu berjalan. Seorang pria tengah terikat disebuah kursi kayu dan terlihat menyedihkan, ia berteriak dan menyebut dirinya adalah orang yang paling ditakuti, namun ia menangis tersedu saat Yohan mulai mencabuti satu persatu kuku kakinya. Yohan bahkan mencambukinya dengan sebuah kabel saklar hingga ia melemas dan mati dengan sendirinya. Sungguh pemandangan yang indah, Yohan tersenyum saat anak-anaknya senang dengan hadiah yang ia berikan.


"Bukankah itu tujuanmu?" tanya Yohan pada Zay dan dibalas dengan anggukan cepat Elzay.


"Maka tunjukkanlah rekaman itu pada bocah yang memukulmu tempo hari."


"Baiklah," jawab Zay sumringah.


"Ya ampun kau bersemangat sekali," ujar Yohan sembari mengacak-acak rambut Elzay saat itu. "Beritahu Ayah bagaimana reaksinya saat itu, bahkan Ayah merinding saat membayangkan betapa menyenangkannya melihat raut wajah anak itu," lanjutnya.


"Bagaimana kau tau kalau Zay menginginkan hal ini?" tanya Lisa bingung.


"Hm, itu insting seorang Ayah. Lagipula hal itu menyenangkan," ujar Yohan sembari terkikik.

__ADS_1


__ADS_2