
Eleeya pov***
TUK...
Sebuah benda kecil terlempar dan mengenai kepalaku,itu berasal dari Yohan, dengan tanganku yang gemetar aku berusaha memungutnya.
Seberapa banyak aku menatap nya,benda kecil itu bagaikan tidak asing bagiku,itu adalah milikku,sebuah sim card ku yang lama.
Tapi, ini sudah lama sekali kubuang,tepatnya aku sudah lama tidak memakai kartu ini lagi,bagaimana bisa kartu ini ada padanya?
Aku mendongakan kepalaku,terlihat Yohan tengah berdiri dihadapanku dengan sorot mata nya yang tajam mengarah kepadaku, dengan baju yang terkena banyak cipratan darah,ia terlihat sangat mengerikan.
Aku sampai berpikir bagaimana bisa aku punya keberanian untuk meneriakinya tadi,mungkin tadi aku benar-benar gila.
Kenapa dia berpikir aku akan senang dengan dia membunuh Leo,bahkan Pamanku?.
Mereka berdua memang sangat lah jahat padaku,tapi aku sama sekali tidak ingin mereka mati karenaku, aku hanya tidak ingin menemui mereka lagi,itu saja.
Aku kembali terisak ketika melihat Leo yang tergolek bersimbah darah di bawah kaki Yohan.
Kepalaku jadi pusing dan perutku jadi mual.
"Hah" Yohan menghela nafasnya berat.
Terlihat ia menarik rambut Leo,seketika wajahnya yang menyedihkan dengan bola mata yang hampir terlihat putih semua itu menghadap kearahku,refleks aku menutup mulutku dengan kedua tanganku dan memejamkan mataku,itu terlihat menyeramkan,aku tak sanggup melihatnya,dan ketika aku membuka mataku Yohan beserta Leo sudah tidak ada.
Dia meninggalkan aku sendirian,di kamar yang dipenuhi cairan kental berwarna merah pada lantainya.
Aku menyandarkan punggungku di dinding,sambil menghela nafas panjang.
Bayang-bayang Leo dan pamanku yang memperkosa dan menyiksaku pada waktu dulu memenuhi otak ku,aku memejamkan kedua mataku agar semua pikiran itu menghilang, namun suara-suara aneh yang terdengar seperti suara Leo itu terus saja memanggil namaku,semua halusinasi itu membuatku ketakutan.
Aku menutup kedua telingaku,aku takut,mereka akan balas dendam padaku,mereka akan membunuhku,aku harus bagaimana?
Aku merengkuh,memeluk lututku,kesadaranku mulai menghilang ketika aku terlalu banyak membenturkan kepalaku di dinding kamarku.
*
Rasa dingin menyeruak di tubuhku ketika aku tersadar dari pingsanku,aku terkesiap dan mengedip-ngedipkan mataku,seluruh tubuhku seakan membeku karena aku pingsan di lantai yang sangat dingin itu.
"Aku masih di kamar" ucapku sambil memegangi kepalaku yang luar biasa sakit.
Namun ketika aku menolehkan pandanganku kedepan,aku menjadi sedikit bingung,terakhir kali kamar ini seperti kamar pembantaian karena banyak nya noda darah di lantainya,dan sekarang,semuanya terlihat bersih,sama seperti biasanya,aku menggeser tatapanku kearah sudut kamar, terdapat ember dan kain lap disana.
Apa Yohan yang melakukan nya?gumamku.
__ADS_1
Aku mencoba untuk berdiri walau dengan kepalaku yang pusing, aku berjalan mencari disetiap ruangan di rumah itu,namun aku tak menemukan Yohan disana.
Aku menempelkan sepasang mataku dibalik celah pintu kamarnya, seraya mengintip isi kamarnya,tapi tetap tak ada siapa-siapa.
Dengan langkah gontai aku kembali kekamarku, aku tak bisa menemukan Yohan dan bahkan Leo sudah tidak ada disini.
Hah,pesta ulang tahunku jadi kacau.
Aku mendapatkam hadiah yang sangat tidak terduga dan bagian terburuknya,aku sudah membuatnya kecewa dan marah.
Aku duduk termangu dikamarku,menatap lurus dengan lamunan yang sangatlah panjang,wajahku sungguh berantakan,aku tak bisa tidur,karena nya muncul lingkaran hitam di bawah mataku.Aku takut bercermin,karena akan terlihat sosok mengerikan yang sangat menyedihkan disana.
Waktu demi waktu berlalu begitu saja,ini sudah hari kedua tepat setelah kejadian itu,dan selama itu juga aku belum melihat wajah Yohan.
Ditengah lamunanku,aku dikejutkan dengan suara yang ditimbulkan oleh perutku sendiri.
"Aku lapar" gumamku sambil memegang perutku yang telah berbunyi karena kosong.
Dengan sangat enggan aku berusaha berdiri,lalu melangkah pelan menuju dapur.
Aku menemukan sekaleng bubur abalone disana,tanpa ku panaskan terlebih dahulu,aku pun langsung memakan nya dengan lahap.
KLAANGG...
Kembali aku melamun dengan tatapanku yang kosong.
Aku sudah memikirkan nya sangat banyak, dia melakukan semua hal itu adalah untukku, termasuk membunuh Paman dan Leo, itu bukan hanya sekadar hasrat bersenang-senang nya,tapi itu jelas karena dia memikirkanku.
"Kenapa aku begitu bodoh saat itu" gumamku menyeka air mataku yang terjatuh.
"Dia pasti sangat kecewa padaku sekarang,dia bahkan tidak kembali setelah hari itu" ucapku sembari menangis, kini air mataku tak terbendung lagi, perasaanku sangat sedih saat ini,aku merindukan Yohan,aku ingin melihatnya sekarang.
SNIFF...SNIFF
Aku menghapus semua bekas air mata disekitar wajahku.
Lalu melangkahkan kakiku untuk kembali kekamar.
Tatapanku terhenti didepan pintu kamar Yohan yang tertutup saat itu,dengan perlahan aku meraih gagang pintu kamarnya.
"Ini tak terkunci"
Aku memberanikan diriku untuk membuka pintu kamarnya.
KRIEEETTT...
__ADS_1
Aku melangkah masuk perlahan, kamar rapi yang seperti biasa nya itu terlihat sepi, aku meraih sebuah jaket yang tergantung didinding kamar nya, aku memeluk jaket itu dan mencium aroma wangi dari jaket itu.
"Aroma Yohan" gumamku.
Dengan perlahan,aku melihat-lihat isi kamarnya,aku duduk didepan meja belajarnya,terlihat banyaknya buku tertata rapi diatas mejanya.
"Oh,apa dia menyimpan fotonya disini" ujarku sambil membuka laci meja nya satu persatu.
Aku tak dapat menemukan barang satu foto pun disana,kecuali sebuah kotak disana, aku tak bisa membuka nya karena itu terkunci dengan gembok.
Sejujurnya aku sangat penasaran apa isinya,tapi aku tak bisa membuka nya,aku akan merusak itu bila aku bersikeras untuk membukanya.
Akhirnya aku mengembalikan kotak itu pada tempatnya semula.
Aku mengadahkan pandanganku kelangit-langit kamarnya.
Haruskah aku keluar dan mencarinya?
Tapi bagaimana bila ketika aku pergi,dia malah kembali,dia akan sedih dan salah paham,dia akan berpikir kalau aku akan pergi dari sisinya.
Bagaimana ini?
Aku menutup kedua mataku dengan lenganku.
Dia ada dimana sekarang?
"PFT,HAHAHAHAHAHA...KEKEKE..HIKS..HUHUUU..HIKS"
Tepat setelah aku tertawa keras,aku pun menangis layak nya orang sinting.
Aku memeluk erat jaket Yohan yang kupegang.
"Aku rindu padanya" gumamku
Entah sudah berapa ribu kali aku menggumamkan nama Yohan dari mulutku, rasanya bibirku keluh,tenggorokanku sangat kering hingga rasa nya sakit jika aku menelan sesuatu.
Aku tiba-tiba teringat sesuatu,itu membuatku tersentak dan langsung beranjak dan melenggang pergi dari kamar Yohan, aku berlari kearah kamarku, membuka lemari pakaianku dan mengacak-acak disana.
"Dimana,dimana..." gumamku dengan tangan yang masih mencari-cari sesuatu.
"Ah ketemu"
Aku menarik secarik foto dari sela lemariku, ini adalah fotoku bersama Yohan untuk pertama kalinya yang kami ambil di taman hiburan waktu itu,aku memandangi foto itu,sambil tersenyum aku terus mengusap wajah Yohan yang ada di foto itu.
"Hah" aku menghela nafas berat sambil memejamkan mata,kudekap foto itu erat,paling tidak aku masih bersama nya didalam foto ini.
__ADS_1