
Aku bermimpi, rasanya nyaman sekali.
Seseorang tengah mengelus dan mengusap puncak kepalaku, mataku enggan untuk terbuka, apa itu Ibu? Kalau benar, tetap lah seperti ini, aku sangat ingin mengatakan kalau aku merindukanmu.
"Zay.."
"...Zay..."
Suara halus dan lembut itu terdengar sangat merdu di telingaku, suara yang memanggil namaku dan terus menggema ditelingaku. Aku pun tersadar dan tersentak sembari membuka kedua mataku.
Ah, ternyata aku ketiduran disini.
"Zay"
Aku tersentak kembali, netra hitamku beralih menatap wanita yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit sambil tersenyum kearahku.
Liliana, ternyata sedari tadi yang mengusap kepalaku adalah dirinya.
Aku baru ingat, sesaat setelah urusanku selesai aku segera kembali kerumah sakit ini untuk menemani Lily.
"Kau bangun, apa ada yang sakit?" tanyaku.
Dia tidak menjawabku melainkan hanya tersenyum, rona wajahnya mulai kembali normal, tidak sebiru dan sepucat kemarin, dia bahkan sudah bisa tersenyum kembali, syukurlah aku masih dapat melihat senyuman itu.
"Ah Elisa..."
"Jangan pikirkan apapun, fokuslah pada kesembuhanmu" ujarku.
"Tapi aku...Dia..."
"Lily, segera setelah kau pulih, aku akan menceritakan semua nya, aku berjanji"
"..."
Dia tak bersikeras lagi, dia bahkan mengangguk-anggukan kepala nya, aku menyukai itu.
Aku menatapnya dalam, dia melalui begitu banyak hal mengerikan beberapa waktu silam, dia sangat beruntung karena tekat dan niat nya bertahan hidup yang kuat, tidak ada diagnosis serius yang harus dikhawatirkan, aku membawanya kerumah sakit diwaktu yang tepat, luka dan memar ditubuhnya pun akan segera sembuh dalam beberapa hari kedepan.
Aku juga bersyukur dia tak mengalami trauma dan syok berat, dia memang wanita yang kuat, itu lah yang kusuka darinya, bahkan terlepas dari apapun yang telah dilaluinya ia masih bisa tersenyum.
Kini didalam kehidupanku untuk pertama kalinya aku merawat seseorang yang bukan keluargaku, yaitu Liliana.
Kami menjadi lebih dekat semenjak hari itu, tapi dia masih menjaga jarak denganku, aku mengerti, aku pun tak mengharapkan apapun, dengan begini pun aku sudah merasa cukup senang, setidaknya aku ingin membuatnya bahagia terlepas dari semua hal buruk yang dilakukan oleh Elisa.
Sesuai janjiku, aku menceritakan semua nya pada Lily ketika dia sudah pulih, aku menceritakan tentang Ayahku yang psikopat, Ibuku yang seorang wanita delusi dan Elisa yang terkena gangguan mental obsesi impulsif, reaksi nya diluar dugaanku, dia hanya memandangku lalu meneteskan airmata nya tanpa berbicara apapun, kupikir ia akan banyak bertanya dan juga marah.
"Kau membenciku Lily?"
"..."
Dia bungkam, seharusnya aku tak menanyakan yang jawaban nya sudah sangat jelas, dia tentu membenciku sekarang.
"...Aku tidak membencimu Zay, semuanya bukan salahmu, lantas apa yang membuatku benci padamu" ujarnya pelan.
Ah, perkataannya sungguh melegakan hatiku, dia terlalu baik, aku berpikir bahwa beruntungnya Daniel yang sempat memilikinya waktu itu.
Lily terus memintaku menjebloskan Elisa kepenjara karena perbuatan kriminalnya.Tentu aku melakukan nya, bahkan dengan tanganku sendiri, aku mengirim Elisa kekantor polisi, ia diinterogasi, namun jawaban Elisa dari setiap pertanyaan yang diajukan polisi itu mengharuskan ia untuk menjalani pemeriksaan kesehatan mental.
__ADS_1
Lily mengetahui hal itu, aku tau dia kesal dan tak dapat menerima hal itu, aku memakluminya karena semua orang juga akan bersikap seperti itu jika hal buruk itu juga terjadi pada mereka.
Namun lambat laun, ia mulai menerima, mulai menjalani kehidupan nya seperti biasa, bahkan ia mulai dapat bekerja di kantorku lagi.
Hari itu aku berjalan memasuki sebuah rumah sakit, aku menemui kenalanku disana dan berbincang dengan nya sedikit, dan tibalah aku disebuah kamar.
Wanita yang sangat mirip denganku itu sedang duduk di dekat jendela, mengawasi lingkungan luar dengan mata yang tak berkedip.
"Lisa" panggilku.
Dia menoleh kearahku lalu mendengus dan memalingkan wajahnya menghadap keluar jendela kembali.
Dia sedang kesal dan marah padaku, aku tau itu.
"Aku punya eskrim vanila untukmu"
"..."
Dia tidak bergeming, dia benar-benar marah padaku rupanya.
"Aku punya dua eskrim vanila untukmu" ulangku dengan menambahkan kata "dua".
Dia bereaksi, dia menoleh dan beranjak dari tempat duduk nya menuju kearahku, mengambil kedua eskrim vanila yang kupegang dan memakan nya sembari duduk dikasurnya.
Saudariku dinyatakan gila dan tak bisa didakwah atas semua kejahatan nya, dia dikirim ke rumah sakit jiwa ini atas rekomendasi psikiater dari pihak kepolisian, tapi aku juga merasa lega, ternyata kegilaan nya sedikit banyak menyelamatkan nya untuk sesaat.
Aku sungguh menyayangi adikku, tapi perbuatan nya sudah membuat aku sangat kesal.
"Sekarang aku akan pergi" ujarku yang bersiap akan pulang.
"Zay, bisakah kau menyuruh Wim kesini, aku kesepian" pinta nya.
AUTHOR POV :
"Terimakasih sudah mengantarku dan terimakasih untuk makan malam nya" ujar Lily sembari tersenyum.
"Ya" jawab Zay singkat.
Wanita berambut pirang itu melenggang pergi, memasuki kawasan Apartemen nya sambil melambaikan tangan sesekali kearah Zay, itu berhasil membuat Zay terkekeh pelan. Zay memacu mobilnya ketika punggung Lily sudah tak terlihat di matanya lagi.
"Ah tasnya ketinggalan, apa kuhubungi lewat telepon saja" ujar Zay berpikir.
"Tidak,tidak, lebih baik aku langsung mengantarnya saja, setidaknya aku bisa melihat wajahnya lagi" gumam Zay sambil tersenyum dan memutar kemudi mobilnya kembali menuju Apartemen Lily.
Mobil putihnya terparkir sempurna, Zay turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya cepat menuju lift.
Dengan menenteng tas mungil milik wanita nya, ia bersiul sepanjang koridor, namun ia terhenti mendapati ada yang aneh, ia menemukan sebuah sepatu yang tak asing baginya, ini sepatu milik Lily, tapi kenapa hanya ada satu.
Tanpa berpikir, ia mempercepat langkah kakinya dan membuka paksa pintu Apartemen Lily yang terkunci dari dalam.
Ia membelalak, pemandangan mencengangkan dimana Lily yang terduduk dengan tangan dan mulut yang terikat, lalu seorang pria dengan jaket hitamnya tengah mengangkat tangan nya yang memegang sebuah tongkat kasti siap memukul Lily saat itu.
DUAAKKK...
Sepatu dengan heels setinggi 5cm itu melayang dan mendarat sempurna di kepala pria berjaket hitam itu.
Sontak pria itu menjadi kesal dan menyerang Elzay, sipelaku yang melempar sepatu kekepalanya.
__ADS_1
Mereka berkelahi, namun tentu Zay mengunggulinya, Zay membuka tudung jaket yang menutupi wajahnya.
Zay membulatkan mata nya, tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Wim" serunya.
Pria berjaket hitam yang berusaha melenyapkan Lily malam itu adalah Wim, teman dekatnya sendiri, apa motifnya?Kenapa dia ingin melakukan itu?Pikir Zay.
"Kau..."
"Zay, kau merusak rencanaku" ujar Wim dingin.
"Rencana?Rencana apa?Kau sudah gila ya?" teriak Zay.
"Kaulah yang gila, kau membuat Lisa masuk rumah sakit jiwa karena wanita itu, kau membuatnya menderita Zay" tukas Wim emosi.
"...Huh?"
"Sekarang minggirlah Zay, wanita itu harus mati"
"...Kau disuruh Lisa,Wim?"
"..."
"Oh tuhan, kau sama gila nya dengan Lisa"
Kepalan tangan Elzay mendarat di wajah Wim, bahkan beberapa kali, membuat hidung pria itu mengeluarkan darah segar yang menetes kebawah.
Zay benar-benar terbawa emosi, bahkan dirinya sempat memukuli Wim dengan tongkat kasti milik Wim dengan membabi buta, namun selang beberapa saat perkelahian mereka akhirnya usai karena beberapa polisi datang kesana, para penghuni Apartemen yang mendengar kericuhan itu tentu langsung menghubungi polisi, dan saat itu juga unit Apartemen itu sudah dipenuhi dengan polisi, Wim pun berhasil diringkus karena aksi kriminal nya itu.
Lily memeluk erat Zay sambil menangis tiada henti.
"Zay, aku sungguh takut"
"Tenanglah, aku disini, tak ada lagi yang kau takutkan" jawab Zay membalas pelukan erat dari Lily.
****
"Kenapa kau menatapku begitu?" ujar Elisa mengerutkan dahinya.
"Wim dipenjara" tukas Zay dengan tatapan datarnya.
"Lalu?"
"Itu karena kau mencuci otaknya"
"Aku?"
"..."
"Aku tak melakukan apapun, kau tak melihat berita? Apa perusahaanmu tak didatangi wartawan?"
"...Kau memanipulasinya"
"Tentu tidak, dia hanya sedang membuktikan rasa cinta nya padaku.Oh Zay, sampaikan pada Lily mengenai hal ini, yang membunuh Daniel itu bukan lah aku, melainkan Wim"
"...Hah" Zay menghela nafasnya, berbicara pada Elisa tentu membuat saraf tubuhnya menegang karena jengkel.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Wim?Kenapa dia menuruti semua keinginanmu, bahkan untuk membunuh seseorang?"
"..."