Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 65 S2 : A Married Man


__ADS_3

Elisa menaiki lift untuk segera tiba di ruangan kakak kesayangan nya itu, mengunjungi Elzay walau hanya untuk membuatnya kesal adalah rutinitas Elisa yang tak pernah ketinggalan, ya kalau pun dia tidak datang, itu berarti Elisa sedang ada pekerjaan yang begitu penting, jika ditanya kenapa datang kemari, Elisa biasa nya menjawab "Aku rindu saudara kembarku", dan dia akan mengatakan kalimat itu sembari terkekeh.


Deru sepatu high heels nya menggema ketika berjalan didalam gedung yang luas itu, semua staff disana menyapa dan dibalas dengan senyuman ramah dari Elisa, mungkin itulah yang membuat betah para staff di kantor itu, dimana menyegarkan bagi mereka ketika melihat senyum menawan dari Elisa dan Elzay.


Elisa telah sampai didepan ruangan Zay, dengan segera ia ingin membuka pintu ruangan itu, namun itu terhenti ketika ia mendengar percakapan antara pria dan wanita didalam ruangan itu.


"Oh mungkinkah itu sekretaris barunya?" gumam Elisa.


Dengan hati-hati, ia mengetuk pintu Zay dan masuk ketika Zay mengizinkan, ini mungkin pertama kalinya Elisa ingat akan sopan santun nya.


Elisa melangkah kan kakinya dan masuk kedalam ruangan Zay, mata nya mendelik ketika mendapati seorang wanita berambut pirang dengan netra biru menatap nya dan tersenyum kearahnya.


"Hai Elisa, sudah lama kita tidak bertemu" sapa wanita yang tak lain adalah Lily.


Raut wajah Elisa seketika berubah menjadi datar, bahkan ia menyunggingkan senyum terpaksanya kala Lily menyapa nya.


Terlihat Zay duduk di kursi kebesaran nya dengan tangan yang menopang dagunya, seakan menunggu reaksi apa yang dikeluarkan oleh adiknya itu.


Lisa melirik ke arah Zay dan secepat kilat Zay langsung memalingkan wajahnya, itu membuat Elisa mengerutkan dahinya dan mendengus kesal.


Lily masih dihadapan nya dengan wajah yang sedikit tidak enak karena Elisa mengabaikan sapaan nya.


Untuk beberapa saat Elisa hanya diam sambil menatap datar Lily, namun segera ia mengubah ekspresi wajahnya lalu tersenyum seakan tak terjadi apa-apa.


"Woah lihat ini, Liliana Grace yang cantik dan pintar telah kembali" ujar Elisa mendekat dan memberi pelukan serta mencium pipi kanan dan pipi kiri Lily.


Lily menerima perlakuan Elisa walau sebenarnya sedikit canggung, itu terlihat dengan senyumnya yang sangat tak enak dipandang.


"Apa kabarmu?" tanya Elisa.


"Baik, bagaimana denganmu?"


"Aku? Seperti yang kau lihat, aku sangat baik"


Elzay berusaha menutupi wajahnya yang mungkin sedang terkekeh melihat tingkah laku Elisa.


Elzay sangat tahu bagaimana Elisa membenci Lily sejak saat sekolah.


"Kau beruntung bisa menjadi sekretaris Zay, karena dia orang nya pemilih"


"Benarkah?"


"Ya, tapi aku yakin itu karena kau adalah orang yang cerdas"


"..."


"Aku masih ingat bagaimana cerdasnya dirimu ketika membuat artikel tentang Aya.."


"LISA"


Elisa menghentikan perkataan nya ketika Zay memanggil nama nya, terlihat ia menggigit bibir bawah nya, lalu tersenyum setelah nya.


"Maksudku saat kau membuat artikel tentang si pembunuh berantai waktu dulu, itu benar-benar keren, sampai-sampai aku merinding mendengarnya" ujar Elisa.

__ADS_1


"..."


Lily hanya diam, saat itu suasana nya langsung berubah menjadi lebih tegang, walau Elisa berbicara dengan raut wajah tersenyum dan seolah tak menampilkan apapun, tetapi penekanan dalam setiap kalimatnya itu membuat Lily takut.


Melihat wanita dihadapan nya itu diam layak nya idiot, Elisa tersenyum simpul.


"Ah, aku harus pergi, lain kali kita harus makan bersama" ujar Elisa berbalik dan melenggang pergi, ia melirik kearah Zay untuk beberapa saat lalu keluar dari ruangan itu.


"Hah"


Elzay menghela nafasnya, ia melirik kearah Lily, wanita itu terlihat bingung sambil terus menatap pintu yang baru saja dilalui oleh Elisa itu.


"Jangan dipikirkan, kau tahu dia memang suka bercanda" ujar Zay mencoba memberi penjelasan pada Lily.


"Ah iya"


"Kau boleh keluar dan tolong buatkan laporan yang tadi kuminta"


"Baik"


Lily segera meninggalkan ruangan itu dengan raut wajah yang masih terlihat bingung.


Zay memilin-milin dahinya, satu tangan nya meraih bingkai foto yang terpajang di meja, sorot mata nya menatap bingkai foto itu, fotonya dan Lisa saat masih kecil yang berada dalam pelukan Ibu mereka.


"Hah, aku jadi rindu Ibu" gumam nya pelan.


***Flashback On


Elzay's pov***


Ibu sangat cantik hari itu, dia akan pergi mengunjungi Ayah, sebenarnya kami berdua harusnya ikut, tetapi karena ada pelajaran tambahan di sekolahku, terpaksa kami tak jadi ikut Ibu.


Ibuku itu memang lain daripada yang lain, ketika semua orang tua mengajak anak nya untuk jalan-jalan ketempat hiburan, Ibuku lebih memilih mengajak kami ke pemakaman Ayah, atau mungkin mengunjungi rumah Ayah yang dulu, tempat nya lumayan jauh, Ah disana juga ada kebun yang luas.


Aku dan Lisa sih senang-senang saja, apalagi melihat Ibuku yang merasa bahagia saat berada disana, ternyata sosok Ayahku itu adalah sosok penyemangat bagi Ibu, terkadang aku jadi sangat ingin bertemu dengan nya.


Aku duduk dengan tangan yang menopang pipiku.


Sebenarnya untuk apa pelajaran tambahan seperti ini, semua nya sudah kupelajari, bahkan aku sudah mengerti semua nya.


Menulis artikel tentang kisah seseorang, ya itu membuatku sedikit pusing sebenarnya.


Tapi, aku jadi sedikit bersemangat karena kelas tambahan ini adalah kelas berkumpul, maksudku semua anak baik kelas 1,2 dan 3 akan berkumpul bersama untuk mengikuti kelas yang satu ini.


Liliana Grace, dia lah satu-satu nya yang membuatku sedikit bersemangat mengikuti ini.


Adikku, Lisa. Dia selalu saja menggodaku setiap dia mendapati aku tengah menatap Lily.


Ah, dia berteman baik dengan Lily sejak aku dekat dengan nya.


Aku suka suasana itu, ketika orang yang kusukai terlihat akrab dengan saudara kembarku.


Lisa pun pernah bilang padaku bahwa Lily adalah anak yang baik, tapi pandangan nya terhadap Lily berubah seketika saat Lily maju menjelaskan isi artikel yang ia buat.

__ADS_1


Yohan Alcester Ronstar, si psikopat keji yang membunuh banyak orang tanpa alasan.


Itulah isi dari artikel nya.


Lily terlihat percaya diri saat itu, itu memang benar, isi artikelnya itu, setidak nya itu adalah perbuatan Ayahku, tapi Lily seakan menjabarkan kisah hidup Ayahku dengan sangat berlebihan, entah darimana dia mendapat semua informasi itu, dan Lisa sangat tidak menyukai hal itu.


Aku sendiri sebenarnya sedikit kesal ketika mendengarnya, maksudku dia tidak seharusnya menulis tentang Ayahku yang bahkan dia tak ketahui seluruh tentang nya, tapi sekali lagi aku berpikir kalau sebagian yang ia ceritakan itu adalah fakta, aku tak bisa membenci Lily, tapi aku juga tak bisa mengabaikan perasaan Lisa, itu adalah awal bermula nya kebencian Elisa terhadap Lily.


***Flashback Off


Author POV***


Zay melangkahkan kakinya, bersiap memasuki mobil mewah miliknya.


Namun, langkah nya terhenti ketika melihat Lily sedang berdiri sendirian.


"Hei, kau mau pulang juga? Mau kuantar?" ujar Zay menawarkan diri.


"Oh tidak Zay, aku sedang menunggu suamiku, kata nya dia sudah dijalan"


"..."


Zay tak menjawab nya, ia hanya menatap Lily dengan tatapan nya yang datar, lalu netra hitam nya beralih kesebuah mobil sedan berwarna hitam yang berhenti tepat di hadapan mereka. Seorang pria tampan keluar dari mobil tersebut, dan terlihat Lily tersenyum menyambutnya.


"Sayang, apa kau sudah lama menunggu" ujar pria itu.


"Tidak, aku baru saja tiba disini, oh iya perkenalkan ini teman sekaligus atasanku, Elzay" ujar Lily memperkenalkan pria itu pada Elzay.


Zay hanya menyunggingkan senyumnya pada pria itu.


"Zay, ini suamiku Daniel" ujar Lily.


"Hai Zay" sapa Daniel.


"Hallo" jawab Zay tersenyum simpul.


Untuk beberapa saat, Zay hanya diam memandangi sepasang suami istri yang terlihat mesra di hadapan nya itu, terlebih sang suami yang sangat protektif pada istrinya, seakan ia begitu mencintai sang istri.


Zay hanya menghela nafasnya melihat pemandangan menggelikan di hadapan nya itu, rasanya ia ingin cepat-cepat pergi dari sana.


"Ah rasanya wajahmu sedikit familiar, seperti pernah melihatmu, tapi aku tidak ingat dimana" ujar Daniel.


"Benarkah?"


"Ya, apa mungkin kau punya saudara?"


"Ya bisa jadi itu saudaraku, kalau begitu aku pergi dulu karena ada hal yang harus kukerjakan" ujar Zay.


"Ya, hati-hati dijalan, mungkin kita bisa makan malam bersama nantinya" ujar Daniel.


"Boleh-boleh saja" jawab Zay tersenyum kemudian melenggang pergi meninggalkan mereka yang mungkin sudah masuk terlebih dulu kemobil mereka.


Zay membuka jasnya dan merenggangkan dasinya, ia memacu mobilnya sambil mendengarkan musik kesukaan Ibunya, lagu dari Queen.

__ADS_1


Lagu yang selalu di putar Ibunya itu membuat Zay menjadi menyukainya.


"Hah, aku tahu itu hanyalah akting" gumam Zay kemudian.


__ADS_2